Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Tidak boleh


__ADS_3

"Kamu nggak boleh ketemu sama dia!" Rendi merebut ponsel Amel itu dari tangannya. Amel terkejut saat melihat ponselnya sudah berpindah ke tangan Rendi.


Amel berusaha mengambil ponselnya yang sembunyikan di belakang tubuhnya. "Sini Kak ponselnya. Amel mau bales pesan Raka dulu." Amel berusaha menggapai ponselnya.


"Nggak mau, kamu nggak boleh nemuin dia." Rendi berusaha menjauhkan ponsel itu dari jangkauan Amel.


Setelah berusaha beberapa saat, dia berhenti mengambil ponselnya. Amel merasa lelah, kemudian dia bersandar di sofa, napasnya naik turun dan wajahnya sedikit berkeringat.


"Sini Kak, Amel mau bales dulu, nanti Raka marah." Amel menyodorkan tangannya kepada Rendi.


"Dia nggak ada hak marah sama kamu," ujar Rendi tidak suka.


"Ya uda, Amel pulang aja." Amel kemudian berdiri.


"Kamu nggak boleh ke mana-mana." Rendi menarik tangan Amel dengan kuat.


Amel kaget saat dia tiba-tiba ditarik dan terduduk di pangkuan Rendi. Rendi melingkarkan tangannya ke perut Amel, menahan agar Amel tidak bisa kemana-mana.


"Kak Rendi, lepasin nanti ada yang lihat."


Amel menoleh sedikit ke Rendi karena merasa risih saat Rendi memeluknya dari belakang, apalagi dia sedang duduk di pangkuan Rendi. Masalahnya mereka sedang di ruang keluarga, bisa saja tiba-tiba ada yang melihat.


"Nggak akan, sebelum kamu bilang nggak akan nemuin Raka." Rendi masih menahan tubuh Amel.


"Iyaa... Iyaa. Amel janji, sekarang lepasin Amel."


"Okee, tapi cium dulu, baru aku lepasin." Rendi menunjuk ke pipi sebelah kirinya.


Mata Amel membesar. "Amel nggak mau." Amel membuang mukanya.


Kenapa dia bertingkah seperti anak kecil.


"Ya sudah nggak akan kakak lepasin, biar aja nanti Sofi sama papa lihat," ucap Rendi dengan wajah acuh tak acuh.


Amel yang merasa takut lalu berkata, "Yaa sudaah, tapi tutup mata Kakak, jangan lihat, Amel malu," ucap Amel pasrah.


Rendi tersenyum lalu menutup matanya.


Amel pun mendekatkan wajahnya, dengan cepat dia mencium pipi Rendi, tanpa dia sadari Rendi membuka matanya saat Amel mencium pipinya.


"Udaah Kak, sekarang lepasin," pinta Amel.


Rendi melepaskan kedua tanganya dari tubuh Amel dan seketika Amel pindah menjauh dari Rendi. Dia harus menjaga jarak aman dengannya.

__ADS_1


"Mana Kak ponsel Amel?" Amel menyodorkan tangannya ke hadapan Rendi.


"Tunggu." Rendi mengetik sesuatu di ponsel Amel lalu melakukan panggilan.


"Kakak nelpon siapa?" tanya Amel panik.


Rendi tak menjawab. Ponsel Rendi berbunyi lalu Rendi mengakhiri panggilan tersebut.


Rendi kemudian menyerahkan ponsel pada Amel. "Itu nomer aku, jangan sampai dihapus dan dirubah."


Amel mengambil ponselnya lalu melihat nama yang tertera di ponselnya. "Pacarku Sayang" Amel langsung mengangkat wajahnya dan menatap tidak percaya pada Rendi.


Astaga, apa-apaan ini, yang suka sama dia kan aku, kenapa dia yang jadi begini.


"Ingat, jangan pernah dirubah." Rendi menekankan kembali.


Amel menghela napas berat. Dia hanya bisa pasrah dengan kelakuan aneh Rendi. Ke depannya nama di kontak ini akan menjadi masalah untuk dirinya.


Rendi tersenyum saat melihat Amel tidak merubah namanya kontak di ponselnya. Amel terlihat mengetik pesan kepada Raka. Dia memberitahunya untuk bertemu dengannya besok di sekolah.


Setelah membalas Raka, Amel mengangkat kepalanya dan melihat Rendi sedang bersandar di sofa sambil meringis menahan sakit dan memegang bagian perutnya dengan tangan kiri.


"Kakak kenapa?" Amel mendekati Rendi dengan wajah cemas.


"Maaf Kak, pasti gara-gara Amel tadi nggak sengaja nyenggol luka Kakak ya?" Amel seketika merasa bersalah.


"Nggak apa-apa, itu bukan salah kamu."


"Mendingan Kakak istirahat kamar," bujuk Amel.


"Iyaa, aku anter kamu sekalian ke kamar tamu." Rendi menarik tangan Amel dan berjalan menaiki tangga menuju kamar Rendi di lantai dua.


Saat sampai lantai dua, Amel dapat melihat ada enam ruangan sepertinya kamar tidur.


Selain kamar tidur di lantai atas juga terdapat suatu ruangan untuk berkumpul seeprti ruangan keluarga, dan terdapat pula teras untuk bersantai dan menikmati pemandangan. Di sudut pojok terdapat suatu ruangan yang khusus bertuliskan "Ruangan Kerja."


Rendi berhenti di depan kamar yang tak jauh dari tangga, kemudian membuka pintu dan mengajak Amel masuk. Kamar tidur berukuran besar nuansa putih dan gold dengan ranjang king size lengkap dengan kamar mandi di dalamnya.


"Kamu istirahat aja dulu, kamu pasti capek." Rendi berhenti di depan tempat tidur.


"Kakak juga istirahat," ucap Amel sambil menatap Rendi.


"Kalau perlu sesuatu, kamu ke kamar paling ujung sebelah kanan, itu kamar aku, atau kamu bisa telpon aku," jelas Rendi.

__ADS_1


"Kamar Sofi yang mana, Kak?" tanya Amel.


"Kamu mau ke kamar Sofi?" Rendi menatap Amel.


"Iyaa, Amel mau ngobrol sebentar."


"Aku anter aja, tapi habis itu kamu istirahat ya?" ujar Rendi.


Amel mengangguk lalu mereka berjalan keluar kamar dan berjalan ke kamar Sofi yang berada tepat di depan kamar Rendi.


Rendi mengetuk pintu kamar Sofi, tidak lama pintu terbuka. "Kenapa kak?" tanya Sofi menatap heran kakaknya.


"Amel mau ngobrol sama kamu katanya." Rendi memegang pintu kamar Sofi.


Sofi langsung tersenyum senang dan membuka pintunya lebar-lebar. "Masuk Kak Amel."


"Kak Amel ganggu nggak Sofi?" tanya Amel sambil berjalan masuk ke kamar Sofi yang di dominasi warna ungu.


"Nggak kok, Sofi malah seneng ada temennya."  Sofi mengajak Amel duduk di tempat tidurnya. Amel pun duduk di tepi tempat tidur, diikuti Sofi yang merebahkan tubuhnya.


Sofi mengalihkan pandangannya pada Rendi saat menyadari kalau kakaknya masih berada di depan pintu kamarnya. "Kakak ngapain lagi di sini?"


"Kamu ngusir Kakak?" Rendi menatap kesal adiknya.


"Iyaaa, ini obrolan perempuan cantik, nggak boleh ada yang ganggu."


"Amel itu pacar Kakak, wajar Kakak di sini."


"Tapi ini kamar Sofi, bukan kamar Kakak. Balik sana!"


"Dasar anak kecil." Rendi keluar dengan wajah yang kesal.


Setelah Rendi tidak terlihat, Sofi beranjak dari tempat tidur berjalan untuk menutup pintu kamarnya.


"Kak Amel kok bisa tahan sih sama kak Rendi?" Sofi kembali ke tempat tidur merebahkan tubuhnya di kasur dengan memeluk guling.


"Emang kenapa dengan kakak kamu?" Amel merubah duduknya menjadi tegak.


"Ya kayak tadi, nyebelin, udah gitu kaku, cuek, posesif, cemburuan, galak, nggak peka lagi." Sofi memandang Amel yang juga sedang menatapnya.


Amel tertawa mendengar penuturan Sofi. "Mungkin dia cuma nggak bisa mengekspresikan dirinya Sofi jadi kelihatan begitu. Sejauh ini sih, sikapnya sama kakak baik," jelas Amel yang tampak membayangkan sesuatu.


"Itu kan kalau sama Kakak," ucap Sofi dengan wajah cemberut, "tapi beneran kak Amel pacaran sama kak Rendi?" Sofi menggulingkan badannya mendekati Amel.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2