Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Menawarkan Bantuan


__ADS_3

"Apa yang ayahmu katakan?"


Devan nampak penasaran ketika melihat wajah lesu Friska ketika dia baru saja memasuki mobilnya. Devan baru saja tiba di depan hotel milik Rendi untuk menjemput Friska. Friska dan orang tuanya memang menginap di sana. Sementara Devan menginap di apartemen miliknya sendiri.


Friska memasang sabuk pengaman setelah menutup pintu mobil Devan. "Ayahku memintaku untuk kembali ke Jerman setelah pernikahan Sofi selesai." Friska menunduk dengan wajah sedih.


Devan sedikit memutar tubuhnya menghadap Friska sambil mengeryit ketika melihat wajahnya. "Lalu kenapa wajahnya nampak tidak senang?"


Friska mengangkat kepalanya lalu menatap ke samping kirinya sambil melihat pemandangan luar. "Ayahku ingin menjodohkanku dengan Kenan."


Bulu mata Devan terangkat dengan cepat. "Jadi kau setuju?"


Friska menghela napas panjang lalu beralih menatap ke arah Devan. "Aku tidak punya pilihan lain selain mengikuti keinginan ayahku. Aku sudah membuat keluargaku malu dengan batalnya pernikahanku dengan Rendi. Keluargaku menjadi bahan olokan karena aku. Aku tidak mau membuat mereka kehilangan muka untuk kedua kalinya."


Sebenarnya hubungannya dengan Kenan juga dekat sama seperti Rendi. Hanya saja selama ini tidak ada perasaan khusus terhadap Kenan. Dia sudah menganggap Kenan sebagai sahabatnya sendiri.


Mendengar jawaban dari Friska, tanpa sadar Devan memegang kuat setir mobilnya. "Jangan memaksakan dirimu jika kau tidak mau. Kau bisa bicarakan dengan orang tuamu baik-baik. Aku rasa mereka pasti akan mengerti."


"Ayahku tidak akan mendengarkanku. Dia tidak pernah peduli dengan perasaanku. Yang dia pikirkan hanyalah kepentingan dan nama baiknya," ucap Friska dengan kepala tertunduk.


Devan terdiam sesaat lalu berkata, "Aku akan berbicara dengan ayahmu."


Friska mengangkat kepalanya sambil menggeleng. "Tidak perlu. Aku tidak mau melibatkanmu dalam masalah keluargaku. Aku juga sudah lelah. Aku tidak mau terus berdebat dengan ayahku. Lebih baik aku kembali ke Jerman."


Tatapan Devan berubah menjadi semakin dalam, tangannya kembali memegang kuat stir mobilnya. Beberapa menit kemudian dia melajukan mobilnya menuju rumah Rendi. Mereka memang berencana ke rumah Rendi untuk bertemu dengan Rendi dan Amel.


Setibanya kemarin di Indonesia, Amel menghubunginya untuk segera mengunjunginya. Oleh karena itu, Devan berencana untuk ke tempat Amel hari ini bersama dengan Friska setelah beristirahat selama satu hari di apartemennya.


Selama dalam perjalanan, tidak ada obrolan sama sekali diantara mereka berdua hingga tiba rumah Rendi. Friska hanya melihat keluar jendela nampak sedang memikirkan sesuatu, sementara Devan menatap lurus jalan di depannya. Sesekali dia menoleh pada Frsika sejenak.


Setibanya di rumah Rendi, mereka langsung masuk setelah pintu dibuka. "Friska, Kak Devan, akhirnya kalian datang. Aku sudah menunggumu dari tadi." Amel tersenyum senang ketika melihat Devan dan Friska datang.


Devan ikut membalas senyuman Amel yang menyambutnya dengan wajah bahagia. "Bagaimana kabarmu?"


"Baik Kak. Aku sangat merindukanmu."


Wajah Rendi terlihat masam mendengar perkataan istrinya. "Sayang, lebih baik kita duduk." Rendi menarik tangan Amel hingga Amel mundur beberapa langkah ke belakang ketika Amel ingin mengapit lengan Devan untuk masuk ke dalam rumahnya.


Amel menoleh sejenak pada suaminya dengan wajah bingung. "Kau sedang hamil sayang, tidak baik untukmu jika terlalu lama berdiri," imbuh Rendi lagi.


Tujuannya Rendi mengatakan hal itu untuk memberitahu pada Devan kalau Amel sedang hamil dan anaknya sekaligus menjelaskan pada istrinya alasannya dia menarik tangan istrinya untuk segera duduk.


Devan yang menyadari sesuatu seketika berkata, "Benar kata suamimu, lebih baik kita duduk." Devan yakin kalau Rendi masih cemburu padanya. Dia bisa dengan mudah. menebaknya saat melihat tatapan Rendi padanya.


Amel akhirnya setuju dan mengajak Friska dan Devan untuk duduk di ruang tamu. Setelah semua duduk, Friska yang pertama berbicara. "Amel, aku ucapkan atas kehamilanmu. Maaf kami tidak membawa apa-apa ke sini," ucap Friska dengan tulus,

__ADS_1


Tidak nampak lagi sorot mata permusuhan dari Friska yang pernah dilayangkan untuk Amel. Nampaknya dia benar-benar sudah bisa menerima kenyataan yang ada.


Rendi duduk bersebelahan dengan Amel sambil merangkul pinggang istrinya. Sikap posesifnya mulai muncul ketika melihat wajah Devan terus menatap ke arah Amel.


"Terima kasih. Kami tidak mengharapkan apapun kecuali doa dari kalian berdua," kata Amel sambil tersenyum bahagia.


"Bagaimana kabarmu, apa Kak Devan memperlakukanmu dengan baik selama kau tinggal dengannya?" tanya Amel dengan lembut.


Devan hanya dia mendengar Amel menyebut namanya. "Baik. Dia memperlakukan aku dengan sangat baik. Aku bahkan merasa diperlakukan seperti keluarganya sehingga membuatku nyaman tinggal bersamanya. Sebenarnya aku merasa malu karena sudah merepotkan dia selama aku tinggal bersamanya," ungkap Friska dengan wajah malu.


Devan melirik Friska melalui sudut matanya tanpa ekspresi. "Kalau kalu merasa nyaman tinggal dengannya, kenapa kalian tidak menjalin hubungan saja?" sela Rendi tanpa basa-basi.


Friska nampak kikuk ditanya seperti itu oleh Rendi. Dia menoleh sekilas pada Devan sebelum menjawab, "Hubungan kami tidak seperti yang kau pikirkan, Ren. Kami dekat karena kami memiliki nasib yang sama."


Sebenarnya dia juga tidak yakin dengan perkataanya sendiri. Membayangkan kalau dirinya tidak akan bertemu lagi dengan Devan setelah kembali ke Jerman membuat hatinya merasa sedikit gelisah.


"Maafkan aku, Friska." Amel nampak merasa sangat bersalah karena sudah 2 orang terluka demi kebahagiannya sendiri.


"Bukan itu maksudku, Mel. Aku tidak menyalahkanku," ucap Friska cepat. Sebenarnya dia tidak bermaksud untuk menyinggung masa lalu mereka.


"Mel, ini bukan kesalahan siapa-siapa. Jangan pernah menyalahkan dirimu lagi Kami sudah bisa menerima semuanya. Tidak perlu ada yang disesali atas yang terjadi di masa lalu."


Rendi menoleh pada istrinya sambil mengusap lembut pipinya. "Iyaa sayang, jangan pernah membahas masa lalu lagi."


"Sebenarnya aku ke sini sekalian ingin berpamitan pada kalian, aku akan kembali ke Jerman setelah pernikahan Sofi selesai," ucap Friska.


Dulu Rendi memang pernah menanyakan pada Friska kapan dia akan kembali Jerman, dan saat itu Rendi menjawab kalau dia masih betah di Singapore dan belum ada niat untuk kembali ke Jerman.


"Ayahku menyuruhku untuk segera pulang. Dia ingin aku memperlajari mengelola perusahaan dan juga...." Friska ingin bilang kalau dia akan dijodohkan dengan Kenan tetapi dia ragu untuk mengatakannnya.


"Ayahnya berniat menjodohkannya dengan Kenan," sambung Devan.


Rendi dan Amel nampak sedikit terkejut mendengar berita tersebut. "Apa kau tidak mau dijodohkan dengan Kenan?" tanya Rendi ketika melihat wajah Friska berubah menjadi muram, "aku yakin kau pasti tahu kalau Kenan selama ini menyukaimu," tambah Rendi lagi saat melihat Friska hanya diam.


"Bukankah tau juga kalau aku tidak pernah memiliki perasaan lebih padanya. Aku tahu Kenan pria yang baik, maka dari itu, aku tidak mau menyakitinya." Tentu saja Rendi juga tahu hal itu.


"Apa kau tidak mau mencoba menjalani dulu dengan Kenan? Mungkin saja benih-benih cinta akan tumbuh seiring berjalannya waktu."


Friska menatap ke bawah sejenak sambil memainkan jari kukunya. "Aku takut tidak bisa mencintainya dan pada akhirnya akan menyakitinya."


Rendi menghela napas halusnya. "Jadi kau akan menolak perjodohan tersebut?" tanya Rendi lagi.


"Aku akan berbicara dengan Kenan nanti, tetapi yang pasti aku akan pulang ke Jerman bersama ayahku."


Rendi manggut-manggut. "Apapun pilihanmu aku akan selalu mendukungmu. Hubungi aku jika kau membutuhkan bantuanku."

__ADS_1


Friska mengangguk. "Aku bisa membantumu jika kau mau," timpal Devan.


"Maksudmu?" tanya Friska dengan tatapan bingung.


"Bilang saja pada ayahmu kalau kita sudah menjalin hubungan dan tidak mau di jodohkan dengan Kenan."


Friska menatap serius pada Devan. "Tapi aku tidak mau...."


"Apa kau punya pilihan lain selain itu?" potong Devan cepat sebelum Friska menyelesaikan ucapannya.


Rendi dan Amel saling menatap sesaat setelah itu mereka diam-diam tersenyum tipis. "Aku tidak tahu harus berbuat apa." Friska kembali menunduk dengan wajah lesu.


"Pikiran lagi tawaranku. Aku bersedia membantumu kalau kau mau."


"Aku akan memikirkannya lagi nanti," ucap Friska.


Melihat suasana hening, Rendi kemudian membuka suaranya, "Untuk malam ini, kau tinggal saja di sini. Kau akan pulang ke Jerman sebentar lagi. Kau juga belum bertemu mama dan kau juga harus berpamitan dengan Sofi," ujar Rendi.


Ibu Rendi dan Sofi sedang pergi saat Friska dan Devan datang. Ibu Rendi sedang menemani Sofi untuk ke salon untuk melakukan perawatan tubuh.


"Iyaa benar Friska. Menginaplah malam ini di sini," timpal Amel sambil tersenyum.


Friska nampak ragu. Dia takut kalau kehadirannya akan membuat suasana menjadi canggung diantara mereka. Bagaimana pun dia pernah sangat menyukai Rendi, apalagi hubungannya dengan Amel tidak baik sebelumnya.


Devan ikut menimpali, "Menginaplah di sini. Dari pada kau sendirian di hotel." Devan hanya takut kalau Friska akan kembali frustasi setelah dijodohkan dan dipaksa kembali oleh ayahnya.


"Baiklah."


Tidak terasa waktu sudah beralalu selama 5 jam. Amel dan Friska sedang berada di taman belakang bersama dengan Sofi dan ibu Rendi. Mereka nampak sedang mengobrol santai.


Di ruangan lain, Devan dan Rendi nampak sedang berbincang juga. "Apa kau yakin tidak memiliki perasaan apapun terhadap Ellen?" Rendi meneliti wajah Devan yang sedang menatapnya dengan heran.


"Apa maksudmu?"


"Kau tahu maksudku. Ellen mungkin sedikit bodoh dan tidak bisa menyadari perasaannya sendiri, tapi aku yakin kau lebih peka dari pada dia."


Bukan tanpa alasan Rendi mengatakan hal itu. Dia bisa menangkap ada tatapan lain setiap Devan menatap Friska tadi. Begitu ketika melihat gerak-gerik Friska.


Devan mencibir. "Jangan berbicara yang tidak-tidak. Aku hanya ingin menolongnya. Tidak ada maksud lain saat aku menawarkan bantuan padanya."


Devan kembali teringat dengan perkataanya saat dia menawarkan bantuan pada Friska tadi, nampaknya Rendi salah paham padanya.


"Baiklah kalau begitu, aku akan membantu Kenan untuk mendapatkan Ellen jika kau memang tidak memiliki perasaan apapun padanya. Setidaknya aku tahu bagaimana caranya meluluhkan hatinya."


Sebenarnya Rendi tidak sungguh-sungguh dengan perkataanya. Dia hanya ingin melihat bagaimana reaksi dari Devan saat dia mengatakan hal itu.

__ADS_1


Bersambung..


__ADS_2