
Raka mengangkat kepalanya menatap Rendi. “Maksudmu Willy? Bajingan seperti itu tidak layak untuk dicintai. Dia tidak pantas untuk adikmu,” ucap Raka dengan wajah tidak suka.
Dahi Rendi mengerut, dia heran bagaimana Raka bisa mengenal pacar adiknya. Apalahi Raka emosi saat membicarkaan pacar adiknya. “Kau mengenalnya? Di mana kau bertemu dengannya?”
“Tidak, tapi aku pernah berkelahi dengannya di depan hotelmu. Kalau saja Sofi tidak menghentikanku. Mungkin saja dia sudah babak belur. Lebih baik kau suruh bajingan itu untuk menjauhi Sofi, jika tidak, aku tidak akan melepaskan dia kalau berani mencari gara-gara denganku lagi."
Rendi menatap heran pada Raka. “Jangan bilang kau sudah menyukai adikku?” tanya Rendi sambil meneliti wajah Raka.
Raka mengalihkan padangannya ke samping. “Tidak. Aku hanya berusaha melindungi adikmu dari bajingan itu. Dia bukan laki-laki yang baik untuk Sofi.”
Rendi meneliti wajah Raka. “Lalu kenapa kau bisa berkelahi dengannya?”
Raka menatap acuh Rendi. “Lebih baik kau tanyakan langsung pada adikmu. Sebelum kau merestui hubungan mereka, lebih baik kau cari tahu dulu apakah dia laki-laki yang baik untuk adikmu atau tidak."
Rendi tersenyum miring. “Kalau kau ingin mendekati adikku, Aku sarankan untuk berusaha lebih keras lagi. Tidak mudah untuk meluluhkan hatinya. Sepertinya cintamu akan bertepuk sebelah tangan lagi, aku tebak kisah cintamu akan berakhir tragis lagi kali ini,” ejek Rendi pada akhir kalimatnya.
Raka menatap tajam pada Rendi. “Bagaimana, kalau kali ini aku bisa menaklukkan hati adikmu?” tantang Raka dengan wajah penuh keyakinan.
“Silahkan saja kalau kau bisa, tapi ingat, kalau sampai kau mempermainkan adikku. Aku akan membuatmu berakhir di rumah sakit,” ancam Rendi dengan wajah serius.
“Kakak,” tegur Amel sambil menatap Rendi tajam saat dia memperingatkan Raka.
Rendi kemudian menoleh pada Amel. “Aku hanya tidak ingin ada yang menyakiti Sofi Mel,” ucap Rendi sambil mengelus pipi Amel.
Amel menatap wajah Rendi. “Aku sangat tahu bagaimana sifat bang Raka Kak. Dia nggak akan pernah mempermainkan wanita. Dia itu setia. Gosip yang mengatakan kalau dia playboy itu tidak benar,” bela Amel.
__ADS_1
“Sudahlah Mel. Kau tidak perlu membelaku di depannya. Biarkan saja dia mau beranggapan apa terhadapku.”
Rendi beralih menatap Raka. “Aku tidak keberatan kalau kau mendekatiku adikku, tetapi jika kau hanya main-main lebih baik kau urungkan niatmu itu.”
“Kau pikir aku laki-laki brengsek seperti Willy? Seharunya kau memperingatkan bajingan itu untuk tidak menyakiti adikmu.”
“Kenapa sepertinya kau kesal sekali dengannya? Apa kau cemburu dengan Willy?” tanya Rendi dengan wajah heran.
“Tentu saja tidak. Aku hanya tidak menyukai si brengsek itu.”
Tamara datang membawa makanan dan minuman di tangannya. “Looh kok Mama yang bawa? Bibi kemana?” tanya Amel saat Tamara sudah meletakkan makanan dan minuman di atas meja.
Tamara duduk di samping Raka. “Nggak apa-apa, Mel. Bibi lagi ada kerjaan di belakang.” Amel mengangguk-angguk. “Ayo diminum?" ucap Tamara sambil menatap Rendi. Rendi mengangguk dan mengambil minuman yang ada di depannya.
Sebelum mengantar Amel ke apartemennya, Rendi mengajak Amel untuk mampir ke Mall untuk membeli ponsel karena ponsel Amel masih di pegang oleh Devan. Rendi juga membelikan beberapa pakaian untuk Amel. Setelah mereka selesai berbelanja, Rendi emaljukan mobilnya menuju apartemen miliknya yang tidak jauh dari hotelnya.
Setelah memarkirkan mobilnya, mereka berjalan bersama menuju lift dan langsung menuju ke lantai apartemen milik Rendi. Rendi mengajak Amel masuk ke dalam apartemennya setelah membuka pintu. Apartemen itu termasuk apartemen termewah di Jakarta.
Apartemen itu juga merupakaan apartemen paling mahal yang dimiliki Rendi karena seluruh lantai itu adalah miliknya, Rendi sengaja membeli satu lantai agar bisa dibuat seperti bentuk rumah. Karena satu lantai itu dijadikan satu jadi sangat luas seperti layaknya sebuah rumah mewah yang besar.
Apartemen itu memilki lima kamar tidur besar di tambah dengan satu kamar tidur utama. Memiliki kamar mandi di setiap kamar dan satu kamar mandi di luar. Kamar utama adalah kamar yang paling luas. Alasan Rendi tidak pernah menempati apartemen itu adalah terlalu luas untuk di tinggalinya berdua dengan Sofi.
Menurutnya juga lebih praktis untuk tinggal di hotel saat ini karena semua sudah ada yang melayani segala keperluannya. segala sesuatu yang dia perlukan tersedia di hotel, seperti makanan restoran, laundry, layanan kamar untuk membersihkan kamar dan lainnya.
Amel dibuat kagum saat memasuki apartemen mewah Rendi. Rendi mengajak Amel untuk berkeliling sebentar. “Kau bisa menempati kamar ini,” ucap Rendi ketika dia baru saja membuka pintu kamar utama. Amel mengangguk, kemudian meletakkan belanjaan yang dibelikan oleh Rendi tadi.
__ADS_1
Amel duduk di tepi ranjang. “Apa kamu menyukainya?” tanya Rendi saat melihat Amel tampak mengedarkan ke sekeliling kamar yang akan di tempatinya. Amel mengangguk.
“Aku sangat menyukainya, Kak,” ucap Amel sambil tersenyum lebar. “Bagaimana kalau kita menghabiskan malam pertama kita di sini?” goda Rendi sambil menampilkan wajah jahilnya.
Wajah Amel langsung bersemu merah, telinganya juga ikut memerah saat mendengar ucapan frontal Rendi. “Kenapa wajahmu merah sekali? Kau tidak perlu malu, sebentar lagi kita akan menikah. Itu adalah hal yang biasa untuk pengantin baru,” ucap Rendi sambil meraih dagu Amel ketika Amel berusaha untuk menghindari tatapannya.
“Berhenti menggodaku, Kak. Jangan membahas masalah itu. Apa kau tidak malu membahas hal seperti itu,” ucap Amel dengan wajah cemberut sambil mengerucutkan bibirnya.
Rendi langsung meraih tengkuk Amel dan mencium bibir merahnya yang tampak sangat menggoda. Rendi ******* bibir Amel dengan lembut. Amel tampak terkejut, dia hanya diam saat Rendi mencium bibirnya. Baru saja Amel membalas ciumannya, Rendi buru-buru mengakhirinya setelah merasakan tubuhnya memanas saat Amel mulai membalas ciumannya tadi.
Rendi menjauhkan tubuhnya. “Lebih baik aku pulang. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku kalau berlama-lama bersamamu di sini,” ujar Rendi sambil berdiri. Amel mengangguk dengan wajah merah. Dia merasa malu.
Amel berjalan mengikuti Rendi. “Setelah sampai hotel nanti aku akan menelponmu
Kamu jangan tidur dulu,” ucap Rendi setelah mereka sampai di depan pintu. “Jangan biarkan siapapun untuk masuk ke sini! siapapun itu,” sambung Rendi lagi.
“Iya, Kak,” ucap Amel sambil tersenyum. “Kakak hati-hati di jalan.”
Rendi memeluk Amel. “Aku tidak tega meningglakanmu sendiri di sini.” Rendi melepaskan pelukannya. “Kalau ada apa-apa langsung telpon aku kalau ku takut aku akan langsung ke sini atau aku minta Sofi saja menemanimu di sini?” saran Rendi sambil menatap Amel dengan wajah khawatir.
Dia tampak enggan untuk meninggalkan Amel sendiriam di apartemennya. “Nggak perlu, Kak. Aku berani sendiri. Pulanglah Kak ini sudah jam 10 malam.”
Rendi mengangguk. “Aku akan menjemputmu besok pagi. Aku pulang dulu.” Rendi mengecup kening Amel setelah itu dia meraih pintu dan meninggalkan apartementnya.
Bersambung...
__ADS_1