Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Lagi dan Lagi


__ADS_3

Amel langsung memeluk tubuh Rendi dengan erat. Rendi tampak terkejut dengan tindakan tiba-tiba Amel. “Jangan tinggalkan aku, Kak,” ucap Amel lirih.


Seketika bayangannya melayang ketika Friska mencoba untuk bunuh diri pertama kali. Saat itu Rendi meninggalkannya dengan wajah panik untuk menemui Friska. Bahkan Rendi mengabaikan larangan Amel untuk tidak menemui Friska.


Amel takut kalau Rendi akan pergi meninggalkannya lagi, seperti yang pernah dia lakukan dulu. “Aku tidak akan pernah meninggalkanmu sayang. Kau adalah hidupku.”


Rendi berusaha untuk melepaskan pelukan Amel, tetapi Amel memperat pelukannya. “Janji?” Amel masih trauma dengan kejadian dulu.


Rendi mengangguk. “Iya sayang.”


“Sekarang katakan padaku. Bagaimana keadaan Ellen?” 


“Dia baik-baik saja. Kak Evans bilang dia sedang menenangkan dirinya.”


“Baguslah. Setidaknya ada Devan yang bisa mengawasinya.”


“Sepertinya cinta pada Lakak sangat dalam. Dia bahkan tidak sayang dengan nyawanya sendiri.”


Ada kekhawatiran dalam hati Amel. Bagaimana kalau suatu saat Friska kembali dan berniat untuk merebut Rendi darinya.


“Kami tumbuh bersama. Dia sudah terbiasa denganku. Dia mungkin merasa aku miliknya karena selama ini aku selalu bersamanya.”


“Tapi sekarang kau milikku kak!” Rendi tersenyum senang. Baru kali ini Amel mengatakan hal itu.


“Iyaa sayang. Aku hanya milikmu seorang. Aku tidak membagi hatiku” Rendi mengelus kepala Amel. “Mana ponselmu?”


Amel melepaskan pelukannya, lalu meraih ponselnya dan memberikan kepada Rendi. “Ponselmu tidak pernah mati?” tanya Rendi ketika melihat ponsel Amel dalam keadaan menyala.


Amel menggeleng kuat. “Aku baru saja menghidupkannya. Ada apa, Kak?”


Dahi Rendi tiba-tiba mengerut. “Kapan kau mengambil foto ini?” Rendi menunjukkan walpaper baru di ponsel Amel.


Rendi tahu kalau selama ini Amel menggunakan fotonya untuk menjadi walpaper ponselnya, tetapi foto itu berbeda dengan foto yang dulu Amel ambil. Foto itu adalah foto yang diambil tadi saat Rendi sedang tidur. Amel langsung menjadikannya walpaper sebelum memasukkannya ke saku celananya.


Amel tersenyum lebar. “Aku memotret Kakak tadi saat sedang tidur.”


Rendi meletakkan ponsel Amel di atas nakas. “Kenapa kau suka sekali memotretku saat sedang tidur?”


“Karena Lakak sangat tampan ketika sedang tidur,” jawab Amel seadanya.


“Apa aku harus selalu tidur agar aku selalu terlihat tampan?”


Amel terkekeh. Dia mendongakkan kepalanya, lalu mengalungkan tangannya di leher suaminya. “Kau selalu terlihat tampan, Kak. Kau bahkan sangat.. sangat tampan.”


“Apa kau sedang menggodaku sayang?”


“Aku hanya berkata yang sebenarnya. Suamiku ini adalah laki-laki paling tampan yang pernah hadir di dalam hidupku.” Amel mengecup singkat pipi Rendi.


“Antara aku dan Devan, siapa yang lebih tampan?” Amel menghela napas pelan. Dia pikir bisa mengalihkan topik Devan dari Rendi, ternyata Rendi malah mengungkitnya lagi.


“Tentu saja, Kakak. Apa Kakak tidak menyadarinya?”


“Apa kau akan berkata seperti itu juga, jika Devan bertanya padamu? Kau bahkan nyaris menjadi istrinya.”

__ADS_1


Rendi memalingkan wajahnya. Dia masih tidak percaya dengan ucapan istrinya. Dia merasa tidak percaya diri jika dibandingkan dengan Devan.


Amel menangkup wajah suaminya. Dia harus segera mengakhiri topik ini. “Kak, dengarkan aku. Bahkan kak Evans saja tahu kalau aku sangat mencintai Kakak. Kakak tidak perlu meragukan aku. Aku ini hanya wanita biasa kak. Tidak ada yang istimewa dalam diriku. Yang seharusnya takut itu aku. Kakak memiliki segalanya. Sangat mudah bagi kakak untuk mendapatkan wanita sepertiku.”


“Maafkan aku sayang. Aku hanya belum bisa sepenuhnya menghilangkan rasa cemburuku padanya.”


Amel tersenyum. “Kalau aku tidak mencintai Kakak. Untuk apa aku menunggumu bertahun-tahun selama ini. Aku bahkan tidak pernah memiliki kekasih lagi setelah putus dengan Kakak.”


“Hidupmu sebagian besar kau habiskan dengannya. Aku hanya merasa iri padanya.”


“Tetapi, mulai saat ini dan seterusnya aku akan menghabiskan hidupku denganmu kak.. Dengan anak-anak kita nanti.”


Rendi membelai wajah istrinya. “Tapi, kenapa kau belum hamil juga sayang? Bagaimana kalau kita membuatnya lagi?” Rendi menampilkan wajah genitnya.


“Dasar Kakak mesum.” Amel memukul pelan dada suaminya. Rendi menangkap tangan Amel.


Dia langsung melu-mat bibir istrinya. Amel berusaha untuk mendorong tubuh Rendi tetapi tidak bisa. Rendi melepaskan ciumannya. “Sayang. Kita harus sering membuatnya. Kasihan mama sudah lama menginginkan cucu.”


Wajah Amel tampak memerah lagi. “Itu adalah kemauan Kakak, bukan mama.”


Rendi tidak menggubris ucapanya istrinya. Dia mulai memberikan kecupan di leher istrinya. “Kak, bukankah kita sudah melakukannya tadi pagi?” ujar Amel.


“Tapi aku ingin lagi, sayang,” ucap Rendi dengan suara berat.


Tanpa menunggu lama, tangan Rendi langsung membuka pakaian Amel dan pakaiannya. Setelah mereka polos Rendi mulai memberikan rangsangan pada titik tertentu sehingga membuat Amel mengeluarkan suara lenguhannya. Setelah dirasa cukup melakukan pemanasan. Rendi langsung melakukan penyatuan dan terdengar lagi lengu-han Amel dengan suara pelan.


“Kau membuatku ketagihan sayang.”


Rendi menepati perkataannya untuk mengurung Amel seharian di kamar. Rendi tidak hentinya menjamah tubuh istrinya. Tidak ada kata lelah sedikitpun. Setelah melakukan pelepasan beberapa kali, mereka pun tertidur dengan posisi Amel yang berada dipelukan Rendi.


****


Devan berjalan masuk ke dalam kamarnya. “Makanlah.”


Devan meletakkan makanan di atas nakas. Dia menatap Friska yang tampak hanya duduk diam sambil menatap keluar jendela. Setelah kejadian ingin bunuh diri itu, dia hanya berdiam diri di kamar sambil menangis.


“Aku tidak lapar,” ucap Friska dengan suara kecil.


“Kau belum makan dari pagi. Setidak kau harus makan walaupun sedikit.” Devan berdiri di belakang Friska.


Tubuh kurus, wajah tirus, mata cekung, dan wajah sembab. Sungguh berbeda dengan Friska yang dulu. Friska yang selalu tampak cantik dan percaya diri.


“Aku bilang tidak lapar, Van,” ucap Friska tanpa menoleh sedikitpun.


Devan mengambil sebuah gelas jus lalu menyodorkan pada Friska. “Kalau begitu minumlah jus ini.”


Friska menatap tajam Devan. “Aku tidak mau. Aku tidak lapar!” ucap Friska dengan nada tinggi.


“Minumlah,”


Devan tidak menghiraukan kemarahan Friska dan kembali membujuknya, tetapi Friska langsung menepis tangan Devan sehingga gelas jus tersebut terjatuh dan gelasnya pecah di lantai. Jus dan beberapa pecahan gelas itu tampak bertmbaran di lantai.


Devan menatap lantai sejenak kemudian berjalan menuju nakas dan mengambilkan bubur ayam. “Kalau kau tidak mau jus, makanlah bubur ini.” Devan kembali menyodorkan mangkok bubur pada Friska. Friska menepisnya kembali, hingga mangkok itu terjatuh.

__ADS_1


Devan berusaha keras untuk menahan emosinya. Dia berbalik keluar kamar dengan membawa nampan makanan yang dia bawa tadi. Tidak lama kemudian dia kembali dengan membawa nampan yang baru berisi makanan dan jus. Dia kembali meletakkan di atas nakas. Dia berjalan membawa mangkuk yang berisi sup ayam.


“Makanlah sup ini.” Devan belum juga menyerah. Dia berusaha untuk membujuk Friska agar dia mau makan. Baru kali ini dia menemukan wanita keras kepala seperti Friska.


Friska memberikan tatapan menyala pada Devan. “Sudah aku bilang aku tidak lapar.” Friska kembali menepis tangan Devan dan lagi-lagi mangkuk itu pecah berhamburan di lantai.


Belum juga menyerah, Devan masih menyerahkan gelas yang berisi jual alpukat. “Minumlah sedikit.”


Friska menatap marah pada Devana lalu berkata dengan marah. “Apa kau tuli? aku sudah bilang aku tidak lapar!” Friska mengambil gelas itu lalu melemparkannya ke tembok hingga gelas itu hancur berkeping-keping dan menumpahlan semua isinya ke lantai.


"Aku akan memgambilkanmu makanan lagi nanti. Kau bisa sakit kalau kau terus-terusan tidak mau makan."


"Aku tidak peduli," jawab Friska ketus.


“Bi Asihh.. Bii tolong ke sini,” teriak Devan dengan suara lantang.


Seorang wanita paruh baya berlari masuk ke dalam kamar Devan. “Iya Den, ada apa?”


“Bi Asih, tolong bersihkan lantai ini lalu bawa kembali makanan itu,” tujuk Devan pada nampan yang berisi 2 piring yang berisi nasi dan lauk.


Bi Asih mengangguk.” Baik, Den.”


“Bi, singkarkan barang-barang yang bisa pecah dari kamar ini.” Devan takut kalau Friska akan melakukan hal seperti tadi.


“Baik, Den.” Dengan cepat bi Asih mengerjakan semua perintah Devan.


“Sudah selesai, Den. Saya permisi dulu.”


“Terima kasih, Bi.”


“Ya, Den.” Bi Asih berjalan keluar kamar lalu menutup pintunya.


“Kau tunggu di sini, aku akan mengambilkanmu teh hangat.” Devan mulai melangkah, tapi terhenti saat mendengar ucapan Friska.


“Kau ini tuli atau bodoh?? Apa kau tidak mengerti dengan perkataanku tadi?”


Devan menarik napas dalam-dalam lalu berkata, “Kau jangan keras kepala Friska. Tidak ada gunanya kau bersikap seperti ini! Rendi tidak akan kembali padamu walaupun kau melakukan ini. Dia tidak mencintaimu.”


“Aaaaaaaaarrhh!!" Friska berteriak histeris sambil memegang kedua kepalanya. Dia seketika berteriak histeris sambil menagis. Friska seperti terguncang ketika mendengar nama Rendi, “aku tidak ingin hidup lagi..! Aaaarrggh.”


Friska mulai hilang kendali, dia berteriam histeris dan menghancurkan bingkai foto yang berada di depannya. Dia mengambil pecahan kaca dan ingin menyayat tepat di urat nadinya.


Devan berjalan cepat menghampiri Friska lalu menahan tangannya. “Apa kau sudah gila..?? Apa nyawamu tidak ada harganya sama sekali?” Devan membentak Friska lalu mengambil pecahan kaca yang ada di tangan Friska dan membuangnya. Seketika Devan langsung emosi ketika melihat tindakan spontan Friska.


“Lepaskan aku! Biarkan saja aku mati!” ucap Friska ketika Devan memeluknya dengan erat. Friska terus memberontak.


“Lepaskan aku Devan,” teriak Friska lagi. Dia masih terus memberontak sambil berteriak.


“Aku bilang lepaskan aku!” teriak Friska lagi.


“Aku tidak akan melepaskanmu jika kau masih ingin berbuat nekat.”


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2