Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Hati yang tersakiti


__ADS_3

Devan merasa kalau sikap Amel yang sekarang sangat berbeda dengan yang dulu. Devan bertanya-tanya di dalam hatinya. Apa yang sudah dilalui Amel selama dia tidak ada di sampingnya. Kenapa dia berubah jadi seperti orang yang tidak dikenalnya.


Devan melepaskan tangan Amel. “Aku kira kamu bakl senang waktu bertemu denganku lagi, tapi ternyata begini perlakuanmu kepadaku setelah lama tidak bertemu. Kamu bahkan mengabaikanku berkali-kali. Awalnya aku merasa bersalah karena telah meninggalkanmu tanpa berpamitan terlebih dahulu. Aku sangat tertekan saat itu karena aku juga nggak punya pilihan lain. Aku pikir kau nggakk akan pernah ngelupain aku. Kau sendiri yang pernah bilang kalau aku nggak boleh ngelupain kamu, tapi ternyata sebaliknya." Devan kembali mengungkit masa lalu mereka berdua.


“Kalau aku tahu kamu bakal bersikap seperti ini kepadaku, lebih baik aku nggak pernah muncul di hadapanmu. Ternyata tidak ada gunanya selama ini mengkhawatirkanmu. Aku dengan bodohnya selalu memikirkan bagaimana keadaanmu di saat aku nggak ada. Aku selalu memikirkan bagaimana kau melewati hari-harimu tanpa aku. Apa kau menderita karena dihina orang lain? Apa ada yang akan membelamu saat aku nggak ada? Aku takut nggak ada yang menjagamu lagi seperti aku menjagamu dulu. Aku takut orang lain masih memperlakukanmu dengan buruk saat aku nggak ada. Aku selalu memikirkan bagaimana kamu melanjutkan hidupmu? Apa kamu hidup dengan bahagia? Apa tidurmu cukup? Apa ku makan dengan benar? Apa kamu masih mengingatku? Tidak ada satu haripun yang aku lewatkan tanpa memikirkanmu. Semua tentangmu melekat kuat di dalam ingatanku." Wajah Devan mengisyaratkan kekecewaan yang mendalam.


Amel diam mematung. Wda perasaan tidak nyaman saat menatap wajah sendu Devan, apalagi setelah mendengar semua perkataan Devan. “Ak-aku ... aku nggak berniat ngelupain siapapun yang aku kenal, tapi aku benar-benar nggak ingat denganmu, tolong beritahu aku siapa kau sebenarnya?” tanya Amel dengan wajah bersalah


“Apa aku selama ini memang nggak berarti untukmu sehingga dengan mudahnya kau melupakanku? Atau aku memang nggak pantas untuk diingat olehmu?” Devan mengangkat sudut bibirnya dan tersenyum sinis.


Entah mengapa Amel merasa hatinya terasa sakit dan perih saat mendegar semua perkataan Devan dari awal. “Bukan seperti itu ... Ak-aku....” Amel tidak bisa mengeluarkan suara, seolah tenggorokannya tercekat sesuatu.


“Aku hanya manusia biasa. Aku juga punya batas kesabaran. Kalau kamu terus bersikap seperti ini terus kepadaku, nggak ada alasan lagi untukku terus berada di sampingmu. Yang harus kau ingat, kali ini bukan aku yang tidak ingin kembali kepadamu, tetapi kau sendiri yang tidak mau aku datang lagi di kehidupanmu.”


Amel masih terdiam di tempatnya. Dia masih mencoba mencerna semua ucapan Devan.


“Baiklah, aku minta maaf kalau aku melupakanmu. Hanya saja di dalam ingatanku, aku tidak bisa mengingat memori kenangan bersamamu. Mungkin karena perubahan fisikmu membuatku tidak mengenalimu, tetapi kalau kamu sebutkan peristiwa penting yang pernah terjadi di antara kita, mungkin aku akan langsung bisa mengenalimu.”

__ADS_1


“Walaupun kita sudah lama tidak bertemu, tapi aku masih mengingatmu. Perubahan fisik yang kamu katakan tadi, tidak bisa menjadi alasan untukmu tidak mengenaliku. Harusnya dari sorot mata dan kata-kata yang kuucapkan selama ini kepadamu sudah menjadi petunjuk siapa aku. Bahkan kamu sudah tahu namaku. Seharusnya tidak sulit untukmu mengetahui aku.”


Amel menghela napas. “Kalau kamu nggak mau memberitahuku siapa kamu, setidaknya beritahu aku petunjuk. Aku janji kalau ku sudah menyebutkan sesuatu pentunjuk yang hanya diketahui kamu dan aku, tetapi aku nggak bisa juga bisa mengingat kamu juga, aku nggak akan pernah bertanya lagi kepadamu. Aku anggap kita nggak saling mengenal satu sama lain. Aku juga lelah bermain petak umpet denganmu. Masih banyak yang harus aku pikirkan."


Amel yang mulai merasa jengah dengan sikap Devan yang terus saja tidak mau memberitahunya siapa dia sebenarnya.


Devan memandang Amel dengan sorot mata tajam. “Kalau kamu lelah maka lupakan saja. Aku juga lelah dengan sikapmu yang seolah nggak mau dekat denganku. Baiklah, anggap saja kita nggak saling mengenal. Aku nggak akan mengganggumu lagi. Aku juga nggak akan memaksamu untuk mengingatku. Seperti katamu, anggap saja kita nggak saling kenal. Lebih baik kita bersikap seperti orang asing. Tetapi, kalau aku sudah pergi nanti, kuharap kau nggak akan menyesal karena kamu sendiri yang melanggar janjimu, bukan aku.”


Devan berjalan keluar dari perpustakaan tanpa menoleh sedikitpun kepada Amel.


Tubuh Amel terasa kaku setelah mendengar perkataan Devan. Matanya terasa panas, matanya mulai berkaca-kaca. Entah apa sebabnya, Amel merasakan sedih saat melihat tatapan kecewa Devan pada Amel. Amel terkejut saat menyadari bulliran air mata lolos jatuh di pipi sebelah kirinya.


Amel memutuskan untuk kembali ke kelasnya untuk menemui ketiga sahabatnya. Dia tidak bisa berlama-lama berdiam diri di perpustakaan. Dia memutuskan untuk melupakan sejenak semua perkataan Devan tadi.


Sepulang sekolah Amel langsung menuju kosnya untuk berganti pakaian. Dia berencana ke rumah sakit untuk menemui Rendi dengan diantar oleh Raka. Amel sudah menceritakan kepada Raka, semua kejadian yang terjadi pada Rendi, termasuk efek dari dari perkelahian mereka waktu itu.


Ada rasa sedikit bersalah di hati Raka saat mendengar cerita Amel. Amel meminta Raka untuk merahasiakan dari Rendi kalau dia sudah mengetahui semua yang terjadi kepadanya. Rakapun menyetujuinya.

__ADS_1


Setelah Amel berganti pakaian, Raka dan Amel menuju ke rumah sakit menggunakan mobil Raka.


“Abang beneran mau nemenin Amel jenguk kak Rendi?” tanya Amel dengan wajah sangsi setelah melihat Raka tampak ikut turun dari mobil saat mereka tiba di depan pintu masuk rumah sakit.


Raka mengangguk pada Amel. “Abang nggak punya niat berkelahi dengan kak Rendi lagikan waktu bertemu dengannya nanti?” tanya Amel dengan tatapan menyelidik.


Raka melirik Amel yang sedang menatap ragu padanya. “Kamu nggak percaya sama abang? Jangan berpikir negatif dulu. Abang cuma mau tahu keadaannya saja. Bagaimanapun abang juga pernah melukainya, tapi jangan berharap abang akan meminta maaf padanya, karena waktu itu dia juga salah karena nggak menjelaskan dengan benar.”


“Iyaa ... iya bang Amel cuma takut nanti abang berkelahi lagi. Abang harus bersikap baik nanti jika bertemu dengan kak Rendi.”


“Jangan berpikir yang aneh-aneh denganku. Aku sudah berbaik hati untuk menjenguknya, karena dia itu pacarmu kalau bukan karena kamu, abang juga nggak akan mau ke sini.”


Amel tersenyum senang. “Kamu memang yang paling mengerti aku bang. Tidak sia-sia kamu menjadi Abangku. Ayook kita masuk,” ajak Amel sambil berjalan masuk ke dalam rumah sakit.


“Kau sudah datang?” tanya Rendi dengan senyuman lebar saat melihat Amel memegang handle pintu dan berdiri di belakangnya.


“Iyaa Kak. Aku datang dengan Bang Raka." Amel masuk diikuti oleh Raka di belakangnya.

__ADS_1


Senyum yang semula mengembang di wajah tampan Rendi mendadak hilang saat melihat kehadiran Raka. Dia berusaha merubah mimik wajahnya. Dia tidak mau kalau Amel menyadari tatapan tidak sukanya pada Raka.


Bersambung...


__ADS_2