
Rendi meraih ponselnya di atas meja dan mencoba menghubungi Amel lagi. Rendi langsung berdiri saat ponselnya tersambung. “Mel, kau di mana? Apa kau tidak tahu aku sangat mengkhawatirkanmu?” ucap Rendi saat panggilanya sudah diterima.
“Kau salah sangka, ini bukan Amel, tetapi ini aku,” ucap Devan dengan santai.
“Brengsek. Kau sembunyikan di mana Amel?” teriak Rendi dengan suara tinggi.
“Dia sedang tidur di kamarku. Sepertinya dia kelelahan.”
“Apa yang sudah kau lakukan padanya? Kau jangan macam-macam dengan Amel. Dia itu calon istriku Aku tidak akan melepaskanmu Devan, jika terjadi apa-apa dengan Amel. Aku akan memb*nuhmu kalau sampai kau berani menyentuhnya,” ujar Rendi dengan nada tinggi. Tangannya mengepal dan matanya memerah karena marah.
“Kau terlambat, dia sudah menjadi milikku. Aku sudah menyentuhnya. Kau mengabaikannya demi wanita lain, jadi aku mengambilnya kembali. Kau seharusnya tahu kalau dari awal dia memang adalah milikku. Kau tenang saja, aku akan membahagiakannya. Aku tidak akan pernah menyakitinya seperti yang kau lakukan padanya selama ini. Aku akan bertanggung jawab padanya dan kami akan menikah 2 hari lagi, jadi jangan pernah mencarinya lagi. Lebih baik kau urus saja wanitamu yang ingin b*nuh diri itu,” ucap Devan dengan nada meremehkan.
“Brengsek! Aku akan benar-benar memb*nuhmu Devan! Kau tunggu saja, aku akan menemukanmu hari ini juga. Karena kau sudah berani menyentuh Amel, maka aku tidak akan mengampunimu kali ini,” ancam Rendi dengan suara tinggi.
Devan tertawa mendengar ancaman Rendi. “Tidak ada gunanya kau mencariku. Dia sudah menjadi mulikku, Ren. Aku tidak pernah memaksanya. Dia dalam keadaan sadar saat melakukannya denganku. Kami sudah sering melakukannya, mungkin saja benihku sudah tumbuh di dalam rahimnya. Kalau kau tidak percaya kau bisa menanyakan langsung padanya nanti. Lebih baik kau lepaskan dia.”
“Bajingan!” umpat Rendi, “aku tidak peduli, walaupun kau sudah menyentuhnya. Aku akan tetap mengambil Amel darimu. Sebelum itu, aku akan memb*nuhmu terlebih dahulu!”
“Bagaimana kalau Amel tidak mau kembali padamu? Kau membuatnya sakit hati dan aku yang menyembuhkan luka di hatinya. Dia sudah memutuskan untuk menikah denganku. Dia tidak mau menjadi penghalang untuk hubunganmu dengan Friska. Apa kau mau mendengar langsung dari mulut Amel? ” tanya Devan sambil berjalan ke kamar dan memberikan telponnya pada Amel.
“Maakan aku, Kak.” Terdengar suara tangis Amel ditelpon.
“Mel apa kau baik-baik saja? Tunggu aku, aku akan menjemputmu,” ucap Rendi panik saat mendengar suara Amel.
__ADS_1
“Dia tidak mendengarmu. Aku sudah mengambil alih telponnya.”
“Devan kalau kau berani menyakiti Amel. Aku akan memburu keluargamu!”
“Lakukanlah. Maka, kau tidak akan pernah bertemu dengan Amel lagi.” Devan langsung mematikan telponnya.
“Devan... Devan...!” teriak Rendi saat telponnya sudah terputus. “Brengsek!” teriak Rendi dengan amarah yang memuncak. Rendi membanting semua barang yang ada di dekatnya. “Aaarrgg dasar brengsek!” teriak Rendi frustasi.
“Apa yang terjadi?” tanya Kenan saat melihat Rendi meninju tembok. Wajah Rendi sudah menggelap dan matanya menyala.
Rendi menoleh pada Kenan. “Cari sekarang juga di mana Devan berada. Aku tidak peduli dengan cara apapun. Kalau perlu kau sewa pembunuh bayaran. Kau harus menemukannya hari ini. Aku akan membunuhnya kalau sampai yang dikatakannya benar.”
“Kau tenanglah dulu Ren, kau tidak boleh gegabah,” ucap Kenan menenangkan Rendi yang terlihat menunduk sambil memegang kepalanya.
“Aku tidak peduli jika harus mengotori tanganku sendiri. Aku akan mengancurkan hidupnya juga. Aku akan meminta bantuan teman papa agar mengerahkan semua anak buahnya untuk menemukan Amel dan memintanya mencari ke semua wilayah.”
“Kau tidak akan lolos dengan mudah jika membunuhnya di sini. Kau jangan samakan dengan negaramu! Di sana keluarga besarmu mempunyai pengaruh, tetapi jangan lupa, ini bukan negaramu. Walaupun keluargamu disegani di sini, tetapi kau tetap tidak bisa berbuat sesukamu di negara ini Ren,” ucap Kenan dengan nada putus asa.
Kenan hanya takut kalau Rendi akan benar-benar membunuh Devan. Tatapan berapi-api dari Rendi membuatnya takut kalau Rendi akan nekat.
Rendi tidak mendengarkan ucapan Kenan, dia berjalan ke pojok kamarnya dan menghubungi seseorang. Kenan menghela napasnya. Dia harus mencegah Rendi untuk berbuat nekat. Dia mencoba menghubungi beberapa temannya yang memiliki koneksi luas untuk membantu pencarian Amel.
Dia juga meminta bantuan koneksi papanya untuk mencari Amel. Dia harus menemukan Amel terlebih dahulu sebelum Rendi menemukannya. Dia tidak mau kalau sampai Rendi hilang kendali saat menemukan Amel bersama dengan Devan.
__ADS_1
Rendi menghubungi beberapa orang. Sekitar setengah jam kemudian baru melangkah dan duduk di sofa lagi. “Aku sudah meminta orang tuaku untuk ke Indonesia. Mereka akan sampai besok. Aku akan menikahi Amel saat aku menemukannya.”
Saat menelpon orang tuannya, Rendi mengatakan kalau dia akan menikahi Amel dan membawanya pergi dari Indonesia. Dia tidak akan kembali ke Jerman jika orang tuannya tidak menyetujui pernikahannya dengan Amel. Rendi bahkan sudah mencari keberadaan Ibu dan adik Amel dan berencana untuk membawa mereka juga. Rendi menyewa banyak orang untuk pencarian Amel dan keluarganya.
Mata Kenan membelalak. “Apa kau sudah gila? Dia sudah menjadi milik Devan. Kau tidak bisa menikahinya lagi, Ren.”
“Aku tidak peduli. Aku akan tetap menikahinya apapun yang terjadi. Aku tidak bisa menunda lagi. Kau harus merahasiakan tentang kondisi Amel dari orang tuaku. Selagi Devan dan Amel belum resmi menjadi pasangan suami istri. Aku akan tetap akan merebutnya dari Devan, apapun kondisi Amel.”
Kenan menggeleng-gelengkan kepala karena berpikir kalau Rendi benar-benar sudah gila. “Aku tidak mengerti jalan pikiranmu Ren. Bagaimana kalau nanti Amel benar-benar hamil anak Devan?”
“Aku yang akan menjadi ayahnya dan akan membesarkannnya. Aku memang membenci Devan, tapi aku tidak akan menyakiti anak itu. Bagaimanapun itu darah daging Amel juga. Aku rela melakukan apapun selama Amel mau hidup denganku.”
Kenan menatap iba pada Rendi. Dia tidak menyangka kalau Rendi mempunyai pikiran seperti itu. “Orang tuamu tidak akan setuju Ren kalau mereka tahu.”
“Kau harus menutup mulutmu. Tidak akan ada yang tahu jika kau tidak menyebarkan berita ini. Aku akan langsung menikahinya setelah menemukannya, tidak akan ada yang tahu kalau itu bukan anakku. Aku akan membawa Amel pergi dari Indonesia setelah menemukannya.”
Rendi sudah merencanakan semuanya jika dia berhasil menemukan Amel. Dia bahkan sudah meminta orang untuk membuat paspor baru dan mengubah data diri Amel.
“Kau harus menenangkan pikiranmu dulu. Kau tidak boleh melakukan apapun dalam keadaan emosi Ren.”
Rendi hanya diam, tidak menanggapi ucapan Kenan. Saat ini pikirannya sangat kacau. Hanya Amel yang ada di pikirannya. “Di mana kamu Mel?” gumam Rendi sambil mengacak rambutnya. Dia tidak hentinya menatap ke layar ponsel, berharap dia akan segera mendapatkan kabar tentang keberadaan Amel.
Kenan menatap Rendi yang tampak Frustasi. “Aku akan menginap di sini. Aku tidak akan membiarkanmu bertindak gegabah,” ucap Kenan dengan wajah serius. Kenan tidak mau kalau Rendi mengambil langkah yang salah.
__ADS_1
Bersambung...