
Amel seketika merasa lemas. "Kenapa Kakak bilang sama Raka. Pasti dia mikir macem-macem."
Rendi terdiam, dia sedang tidak mempunyai mood bagus hari ini.
Ponsel Amel bergetar saat ada yang menelponnya. Melihat Raka yang menelpon, dia pun langsung mengangkatnya. Wajah Amel seketika berubah. Rendi yang melihat perubahan di wajah Amel bertanya dengan wajah penasaran.
"Kenapa?"
"Katanya Raka ada di loby bawah, kayaknya dia lagi marah." Amel menoleh ke Rendi lalu bersiap untuk berdiri.
Rendi juga berdiri untuk menghentikan Amel. "Kamu disini aja, biar aku yang temuin Raka."
Amel menggelengkan kepalanya dengan kuat. "Jangan Kak, biar Amel aja yang nemuin Raka. Takutnya Raka salah paham, apalagi sekarang kayaknya lagi marah."
Amel berjalan keluar menuju pintu tanpa menunggu persetujuan Rendi.
"Jangan, kita temuin dia berdua. Aku nggak mau nanti dia marah sama kamu." Rendi menyusul langkah Amel yang sudah membuka pintu kamarnya.
Sofi yang tak mengerti arah pembicaraan mereka hanya bisa diam menatap mereka bergantian. Amel dan Rendi turun ke loby, diikuti oleh Sofi dari belakang.
Raka yang sudah emosi dari tadi, hanya berjalan bolak-balik menunggu Amel turun. Saat melihat Amel dan Rendi keluar dari lift, Raka berjalan cepat ke arah Rendi. Kemudian berkata, "Brengsek."
Bbuugghh
Raka menghajar wajah Rendi dengan kuat. Rendi yang tidak siap seketika terjungkal ke belakang. Raka berjalan menghampiri Rendi, menarik kerah bajunya dan kembali menghajarnya. Terlihat darah segar keluar dari sudut bibir Rendi.
Raka seperti sudah dikuasai oleh amarah dan tidak memperdulikan lagi sekitarnya. Amel dan Sofi yang melihat kejadian itu menutup mulut mereka dengan tangan. Mata mereka membesar karena terkejut.
Beberapa tamu dihotel pun terlihat mulai berdatangan dan hanya menonton perkelahian mereka. Ketika Raka berniat menghajar Rendi lagi, dengan cepat Rendi mendorong Raka dan membuatnya terjatuh ke belakang.
"Raka berhenti!" teriak Amel.
Rendi berdiri dan mengusap darah di sudut bibirnya, kemudian dia beralih menatap Raka. Terlihat api kemarahan di matanya. Raka yang baru saja berdiri pun mendapat pukulan keras dari Rendi di wajahnya.
Terdengar Amel dan Sofi berteriak memanggil mereka untuk berhenti, tapi Raka dan Rendi tidak menghiraukan mereka. Amel sudah menangis melihat mereka berdua saling pukul. Sementara Sofi terlihat marah kepada Raka karena memukul kakaknya.
Bagian resepsionis pun sudah menelpon bagian keamanan supaya cepat datang. Karena ini masih pagi sekali, hanya ada satu sekuriti yang berjaga di depan.
__ADS_1
"Bang Raka, udaah bang berhenti. Amel mohon!" teriak Amel sambil menangis. Raka terlihat tidak mendengarkan ucapan Amel.
"Kak Rendi, udaaah Kak. Tolong berhenti."
Amel mencoba memanggil Rendi, berharap dia mendengarkan kata-katanya, tetali hasilnya nihil. Amel berdiri tidak jauh dari tempat mereka berkelahi, dengan wajah yang sudah dibanjiri air mata. Suasana di loby semakin ramai. Mereka berkumpul melihat perkelahian tersebut tanpa ada niat untuk memisahkannya.
Raka dan Rendi tak henti saling pukul. Wajah mereka berdua sudah babak belur, darah segar pun sudah mengalir di bibir mereka berdua. Pakaian mereka sudah berantakan. Amel yang melihat Raka akan memukul Rendi lagi langsung berlari memeluk pinggang Raka dari belakang untuk menahannya.
"Udaah Bang, berhenti! Jangan pukul lagi, Amel mohon." Amel terus menahan Raka agar tidak memukul Rendi lagi. Dia tidak bisa melihat mereka berdua saling pukul.
Raka yang menyadari ditahan oleh Amel sedikit menoleh ke belakang. "Lepasin Mel, dia memang pantas untuk dihajar." Raka mengalihkan pandangannya ke Rendi dengan amarah yang belum juga reda.
"Jangan Bang, udaah cukup, Amel mohon." Amel menggeleng dan masih tidak melepas pelukannya.
Rendi yang melihat Amel memeluk Raka, dengan cepat berjalan ke arah mereka. "Mel, minggir! Jangan ikut campur."
Dia tidak Rela melihat Amel memeluk laki-laki lain, apalagi sampai membelanya. Melihat Rendi berjalan ke arahnya, dengan cepat Raka melepaskan tangan Amel dan hendak memukul Rendi lagi.
Amel yang menyadari tangannya terlepas, berlari mengejar Raka dan menahannya seperti tadi. Raka yang sudah hilang kendali tidak sengaja mendorong Amel hingga terjatuh dan membuat Amel terduduk dilantai. Amel meringis menahan sakit saat siku dan bokongnya menghantam lantai.
Saat Raka terjatuh, dia melihat Amel yang sedang dibantu oleh seorang gadis untuk berdiri. Dia baru menyadari kalau Amel yang terjatuh karenanya. Raka langsung merasa bersalah.
"Maaf Mel abang nggak sengaja."
Raka berdiri dan ingin menghampiri Amel, tapi tangan kanan dan kiri sudah dipegang oleh beberapa sekuriti. Amel hanya menatap iba pada Raka saat dia mencoba untuk memberontak. Setelah keadaan tenang, Sofi membawa Amel untuk duduk di sofa yang ada di loby.
"Seret dia keluar. Jangan sampe dia balik lagi ke sini," perintah Rendi kepada sekuriti.
Mereka pun mengangguk dan membawa Raka keluar dari hotel tersebut. Raka mencoba melepaskan diri, tapi tidak bisa. Dia hanya bisa berteriak memaki-maki Rendi. Setelah melihat Raka yang sudah dibawa keluar.
Rendi berjalan lemah ke tempat Amel berada. Terlihat Amel sedang duduk menunduk sambil menagis dengan Sofi berdiri di belakangnya. Rendi kemudian duduk di sebelah Amel, memegang kedua pundaknya lalu memutar badan Amel supaya berhadapan dengannya.
"Sudaaah, jangan nangis. Maafin aku." Rendi memeluk Amel seraya membelai rambutnya dengan lembut. Dia merasa bersalah karena tidak bisa mengontrol kemarahannya.
Amel hanya diam dan menangis dipelukan Rendi. Terlihat dia masih syok dengan kejadian tadi. Rendi masih terus menenangkan Amel dalam pelukannya. Sementara Sofi hanya duduk memandangi mereka berdua dengan prihatin.
Rendi bahkan tidam memperdulikan keadaannya yang sudah babak belur. Dia justru khawatir karena melihat Amel terus menangis, padahal, terdapat banyak luka di wajah dan tubuh Rendi.
__ADS_1
Setelah merasa Amel sudah tenang. Rendi melepaskan pelukannya. "Kita ke atas ya? Kamu juga belum makan, 'kan?" Rendi membujuk Amel seraya menarik tangan Amel untuk berdiri. Mereka berjalan menuju lift untuk kembali ke kamar Rendi bersama dengan Sofi.
Saat tiba di depan kamar Rendi, Amel berhenti. Dia mendekati Rendi dan berdiri di depannya. Amel memegang kedua lengan Rendi sambil menatapnya. "Kak Rendi masuk aja dulu, habis itu panggil dokter untuk dateng ke sini, terus Kakak jangan lupa makan yaa."
Rendi mengerutkan keningnya mendengar perkataan Amel. "Kamu mau kemana?" Rendi menatap Amel dengan heran.
"Amel mau nyusul Raka Kak. Kasian dia terluka. Amel juga perlu bicara sama Raka," jelas Amel berharap Rendi mengerti.
"Aku nggak ijinin kamu buat pergi ketemu Raka." Rendi menahan kemarahannya saat mendengar penuturan Amel.
"Amel mohon Kak, sekali ini aja. Bolehin Amel pergi. Amel harus nemuin Raka." Amel menatap Rendi dengan wajah penuh harap.
"Kamu lebih milih dia dari pada aku?" Rendi menatap Amel dengan tatapan kecewa sekaligus marah.
"Bukan gitu Kak, tapi Amel bener-bener harus pergi." Amel terlihat kesulitan menjelaskan kepada Rendi. Dia hanya ingin menemui Raka sebentar.
Raka menatap Amel dengan tatapan tidak terbaca. Amel nampak sengaja menghindari tatapan Rendi, dia kemudian menoleh pada Sofi.
"Sofi, kak Amel minta tolong, jagain kak Rendi. Pastiin lukanya diobatin sama dokter. Kak Amel harus pergi dulu." Selesai berbicara, Amel langsung pergi.
"Kalau kamu pergi, aku nggak mau diobatin sama Dokter!" teriak Rendi sambil menatap Amel yang sedang berjalan meninggalkan dirinya. Ada guratan kesedihan dan kecewa di matanya.
Amel seketika berhenti, dia menoleh dan berjalan mendekati Rendi lagi. "Luka Kakak bisa infeksi kalau nggak diobatin sama Dokter, Kak" Amel menatap penuh khawatir.
"Terserah, kalau kamu milih pergi, lebih baik aku nggak diobati sama sekali." Rendi membuang muka dan tidak mau mendengar alasan apapun dari mulut Amel.
"Maaf Kak, Amel harus pergi."
Amel pasrah, dia berbalik dan berjalan dengan cepat meninggalkan mereka berdua. Bagaimana pun dia harus menemui Raka terlebih dahulu. Dia takut Raka akan datang lagi untuk berkelahi dengan Rendi.
Rendi yang melihat Amel pergi, merasa sangat kecewa. Hatinya terasa sakit karena Amel lebih memilih Raka dari pada dia.
Rendi berjalan ke kamarnya dan membanting pintu dengan keras.
Sofi terkejut dan mencoba menggedor pintu, tapi tidak dibuka oleh Rendi. Sofi pun memutuskan untuk ke kamar orang tuanya untuk memberitahu mengenai keadaan Rendi dan menceritakan kejadian tadi.
Bersambung....
__ADS_1