
Sofi kembali dengan ibunya dan berdiri di depan pintu kamar Rendi. Mereka langsung bergegas ke kamar Rendi setelah mendengar cerita dari Sofi. Ibunya yang terkejut langsung mengajak Sofi ke kamar Rendi.
"Ren, buka Rendi, ini mama," panggil Lilian seraya menggedor-gedor pintu. Tidak ada sahutan dari dalam, Lilian pun memutuskan memanggilnya lagi.
"Ren, buka dulu pintunya, mama mau bicara." Lilian mencoba memanggil lagi sambil menatap pintu yang masih tertutup. Tetap tidak ada jawaban dari dalam.
"Kak buka, kakak harus diobatin dulu." Sofi ikut memanggil kakaknya. Dia sangat khawatir dengan keadaan kakaknya.
"Ren, tolong dong buka!" Lilian mencoba terus membujuk Rendi agar dia mau membuka pintu.
"Rendi butuh waktu sendiri, Maa. Tolong tinggalin Rendi. Rendi nggak mau diganggu" teriak Rendi dari dalam. Terdengar suara gaduh dari dalam. Mereka pun hanya bisa menghela napas.
*****
Amel terus berjalan keluar dari hotel mencari-cari Raka. Dia mencoba menelpon, tapi tidak diangkat. Amel berjalan ke sana-kemari sambil mengedarkan pandangannya melihat ke sekeliling sampai akhinya Amel melihat mobil Raka yang terparkir tidak jauh dari hotel.
Amel berlari menghampiri mobil Raka dan mengetuk kaca depan mobil Raka.
Raka kemudian menurunkan kaca mobilnya dan meminta Amel masuk.
Amel mengangguk dan membuka pintu lalu duduk di depan, tepat di samping Raka. "Bang Raka harus ke Dokter. Luka Abang bisa infeksi nanti." Amel memandang Raka dengan tatapan khawatir. Raka hanya diam sambil memandang ke arah depan.
"Kamu harus jelasin semuanya. Kenapa bisa kamu ada di hotel sama Rendi?" Raka menoleh pada Amel dengan tatapan tajam untuk meminta penjelasan.
"Iyaa, Amel janji nanti bakal Amel jelasin semua, tapi Abang harus ke Dokter dulu." Amel mencoba membujuk Raka agar mau menuruti perkataannya.
"Tapi kamu harus janji jangan ada yang kamu tutupin dari abang."
Amel mengangguk. "Iyaa, Amel janji. Nanti malam Amel jelasin semua. Abang harus ke dokter dulu sekarang."
"Iyaaa, abang anter kamu pulang sekalian." Raka mengalihkan pandangannya, berniat untuk melajukan mobil.
"Amel nggak bisa pulang sama Abang sekarang. Kalau urusan Amel uda selesai, Amel langsung pulang."
"Kamu masih mau nemuin Rendi?" Raka menoleh lagi ke Amel dengan wajahnya kesal.
Amel mengangguk. "Iyaa Bang. Amel harus bicara dulu sama dia. Amel nggak bisa pergi gitu aja setelah Abang mukul Rendi. Amel mohon Bang." Amel terus menatap Raka untuk meminta persetujuan.
__ADS_1
"Kamu harus jelasin dulu semua." Raka menatap tajam Amel dan dia tidak mau membiarkan Amel pergi begitu saja.
"Iyaaa, Amel janji akan jelasin semua Bang, tapi nggak sekarang. Tolong Bang," ucap Amel dengan wajah memohon.
"Tapi....."
"Amel mohon Bang, sekali ini aja."
Raka nampak tidak berdaya melihat wajah Amel. "Okee, tapi kalau urusan kamu uda selesai langsung pulang." Raka akhirnya menyetujui permintaan Amel.
"Iyaaa, tapi Abang juga harus janji sama Amel kalau Abang harus langsung ke Dokter obatin lukanya," pinta Amel.
"Iyaa, abang janji."
Amel bernapas lega. "Yaa udaah, Abang hati-hati di jalan. Jangan ngebut bawa mobilnya."
Raka mengangguk, kemudian Amel turun dari mobil Raka dan mobil pun melaju pelan. Setelah mobil jauh, Amel berbalik dan berjalan menuju hotel lagi.
Amel sudah memasuki loby hotel dan tidak bisa naek ke atas karena lift harus mengunakan kartu akses untuk menuju lantai yang dituju. Amel nampak bingung bagaimana dia naek ke atas. Sementara dia tidak mempunyai nomer telpon Sofi maupun Rendi.
Sebenarnya bagian reseptionis tahu kalau Amel tadi bersama Rendi saat terjadi keributan, tapi tetap saja Amel tidak bisa memberikan kartu tersebut karena nama Amel tidak ada di daftar tamu yang menginap di hotel tersebut.
Mereka tetap harus melakukan sesuai prosedur yang ada, apalagi lantai yang akan dia naiki adalah lantai kamar khusus Presedential Suite yang tidak sembarangan orang bisa naek ke sana.
Resepsionis mengatakan dia bisa mendapatkan kartu akses jika memesan salah satu kamar lantai 30 jika ingin naik ke sana karena ditiap lantai mempunyai kartu akses yang berbeda.
Amel seketika lemas. Dia tidak mempunyai uang untuk menyewa kamar di sana, apalagi kamar di lantai 30 sangat mahal. Dia kemudian memikirkan cara lain. Kemudian dia seketika mendapatkan ide. Dia meminta bagian reseptionis untuk menghubungi Sofi atau Lilian lalu mengatakan bahwa Amel berada di bawah dan ingin bertemu dengan Rendi.
Akhirnya bagian Reseptionis pun menghubungi Sofi dan melakukan sesuai perkataan Amel. Tidak lama kemudian bagian reseptionis selesai bicara dan memberikan satu kartu akses untuk Amel untuk naek ke atas. Tidak lupa, resepsionis itu meminta maaf kepada Amel karena sudah menahannya di bawah dan tidak membiarkannya naik ke atas.
Amel menerima kartu itu dan berlari masuk ke lift dan naek ke lantai 30. setelah sampai Amel berjalan dengan cepat menuju kamar Rendi. Terlihat dari kejauhan sudah ada Sofi dan ibunya yang menunggu di depan kamar Sofi.
"Amel, akhirnya kamu datang juga." Lilian bergerak maju menghampiri Amel dengan wajah khawatir.
"Maaf Tante, Amel dari tadi menunggu di bawah tidak bisa naek ke sini karena tidak punya kartu akses," jelas Amel kepada Lilian dengan napas tidak beraturan.
"Kenapa Kak Amel balik lagi? Bukannya kata Kak Amel mau pergi tadi?" Sofi menatap Amel heran.
__ADS_1
Amel berdiri menghadap Sofi. "Iyaa, kak Amel hanya pergi sebentar ke depan hotel untuk bicara sama teman kak Amel yang tadi."
"Aku kirain, Kakak nggak akan balik ke sini lagi."
"Nggak mungkin kakak ninggalin kak Rendi dalam keadaan seperti itu." Amel menatap Sofi dengan khawatir. "Bagaimana keadaan kak Rendi?"
"Semenjak Kakak pergi, kak Rendi langsung masuk ke dalam dan menutup pintu. Dia nggak mau keluar sama sekali. Aku dan mama juga nggam dibolehkan masuk. Aku dan mama udah manggil kak Rendi dari tadi, tapi dia bilang nggak mau diganggu. Bahkan Mama sudah melakukan berbagai cara untuk bisa masuk, tapi tetap tidak bisa." Sofi menatap Amel dengan wajah khawatir.
"Ya sudaah, ayo kita coba lagi ke depan kamar Rendi." Lilian menarik Amel dan di ikuti Sofi dari belakang.
Kamar Sofi tidak jauh dari kamar Rendi jadi mereka hanya berjalan sebentar saja. Ketika mereka bertiga sudah berdiri di depan kamar Rendi, Lilian lebih membuka suaranya, "Rendi, ini mama nak. Mama mohon buka pintunya, mama mau bicara sebentar," teriak Lilian sambil memencet bel kamar.
Tidak ada sahutan dari dalam, kemudian Sofi pun mencoba hal yang sama. mencoba membujuk kakaknya agar mau membuka pintu. Sofi juga mengetuk dengan kuat kamar Rendi. "Kak Rendi buka dulu Kak, sebentar aja."
Amel mulai khawatir melihat ada ada respon sama sekali dari Rendi.
"Ren, jangan gini dong, tolong buka sebentar. Rendi, buka Ren." Lilian menatap pintu yang belum juga terbuka sambil terus memencet bel.
"Rendi lagi pengen sendiri, Maaa. Rendi ngga mau diganggu!" teriak Rendi dari dalam kamar. Suara seraknya terdengar dari luar.
"Sebentar aja Ren, buka pintunya dulu." Lilian mencoba kembali membujuk Rendi.
"Rendi lagi nggak mau di ganggu, Maaa!" Terdengar suaranya yang sedikit tinggi dari dalam.
Mama Rendi menoleh ke Amel. "Tante minta tolong Mel, tolong bujuk Rendi. Siapa tahu kalau kamu yang bicara, dia mau membuka pintu. Tante khawatir sekali sama Rendi," mohon Lilian dengan wajah khawatir.
Mamanya aja nggak mau dibukain, apalagi aku.
Amel mengangguk. "Iyaaa Tante, Amel coba, tapi Amel nggak janji bisa bujuk Rendi." Lilian pun mengangguk dengan cepat.
Amel berjalan mendekat ke pintu kamar Rendi. "Kak Rendi, ini Amel Kak, tolong buka pintunya sebentar." Amel menggedor pintu sambil berteriak.
Tidak ada sahutan dari dalam. Mereka pun saling pandang.
Amel kemudian mengalihkan lagi pandangannya pada pintu kamar Rendi. "Kalau Kakak nggak mau buka pintunya sekarang, Amel akan pulang dan nggak akan pernah nemuin Kakak lagi." Amel berteriak dengan suara yang keras supaya Rendi mendengarnya.
Bersambung....
__ADS_1