Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Hanya pura-pura


__ADS_3

"Itu kan kalau sama Kakak," ucap Sofi dengan wajah cemberut, "tapi beneran kak Amel pacaran sama kak Rendi?" Sofi menggulingkan badannya mendekati Amel.


Mendengar pertanyaan Sofi, mimik wajah Amel tampak sedikit berubah. "Kenapa tanya kayak gitu?"


"Beberapa hari lalu aku pernah lihat Kak Amel jalan sama cowok yang mukulin kak Rendi." Sofi tampak sedikit kesal mengingat cowok yang memukuli kakaknya itu.


"Kamu lihat di mana?" Mekispun terkejut Amel berusaha terlihat tetap tenang.


"Di mall saat Kakak sedang makan sama cowok itu. Waktu itu kak Rendi terus ngeliatan ke meja Kakak terus. Karena penasaran terus Sofi tanya. Kata kak Rendi kalian berdua pacaran," jelas Sofi.


Jadi waktu itu Rendi melihat aku, tapi kenapa dia nggak pernah ngomong sama aku ya?


"Itu cuma salah paham. Kak Amel nggak pacaran sama Raka. Kakak emang deket sama Raka, tapi hanya sebagai kakak-adik, nggak lebih. Kak Amel juga udah jelasin sama kak Rendi." Amel mulai merebahkan tubuhnya juga bersebelahan dengan tubuh Sofi.


"Terus kenapa Kakak tiba-tiba bisa jadi pacar kak Rendi? Kak Rendi nggak mungkin langsung ngenalin pacarnya kalau baru aja jadian, apalagi kalian nggak dekat sebelumnya," cecar Sofi.


Amel nampak bingung sesaat bagaimana dia harus menjelaskan kepada Sofi. "Sebenarnya kakak cuma pura-pura pacaran sama kak Rendi," aku Amel jujur.


"Kenapa bisa?" Sofi menoleh sedikit pada Amel.


"Ceritanya panjang. Sebenarnya itu nggak disengaja." Amel tidak ingin menjelaskan secara gamblang karena bagaimana pun itu perjanjian dirinya dengan Rendi.


"Yaaah, sayang banget, padahal aku uda suka sama Kakak. Mama juga kelihatan senang sama Kak Amel." Raut wajah Sofi berubah kecewa.


"Tapi kakak kamu nggak suka sama kak Amel," jawab Amel dengan wajah sedih.


Sofi melirik sekilaspada Amel. "Kalau Sofi lihat, kak Rendi justru sayang banget sama Kakak."


Amel meraih bantal di samping tangannya dan memeluknya. "Nggak mungkin Sofi. Kak Rendi sengaja bersikap begitu supaya orang lain percaya kalau kami itu beneran pacaran."


"Tujuan kalian pura-pura pacaran apa, Kak?"


"Kak Rendi yang minta aku pura-pura jadi pacarnya sampai Friska balik ke luar negri. Kak Amel juga nggak tahu apa alasan sebenarnya apa," jawab Amel pasrah.


"Kak Rendi mau buat kak Friska cemburu?" Sofi tampak berpikir sejenak, "atau kak Rendi belum bisa melupakan masa lalunya?" gumam Sofi pelan.


Amel yang mendengar itu lalu bertanya, "Apa mereka pernah punya hubungan?"


Sofi yang menyadari kalau dia tidak sengaja keceplosan, buru-buru berkata, "Eemmhh... Maaf kak, Sofi nggak bisa jelasin ke Kakak, tapi Kakak jangan pernah tanya sama kak Rendi ya, takutnya dia marah."


Apa yang sebenarnya yang disembunyikan oleh Rendi? Kenapa setiap membahas Friska dia selalu terlihat tidak suka?

__ADS_1


"Iyaa, kakak juga nggak punya hak untuk tanya hal pribadi kak Rendi,' ucap Amel dengan wajah murung.


Melihat wajah sendu Amel, Sofi bisa menangkap sekilas kalau Amel mempunyai perasaan terhadap kakaknya.


"Apa kak Rendi tahu kalau Kakak suka sama dia?" Sofi langsung bertanya berdasarkan tebakannya tadi.


Amel tampak diam karena tidam tahu harus menjawab apa. Dia ingin jujur, tapi dia malu mengatakan pada Sofi.


Melihat Amel tampak diam, Sofi lalu berkata lagi, "Kalau Kakak suka sama kak Rendi, Kakak harus tunjukin perhatian Kakak ke kak Rendi. Kalau kakak diem aja, kak Rendi nggak bakal tahu kalau kakak suka sama dia. Kak Rendi itu nggak peka," ujar Sofi dengan wajah gemas.


"Tapi kakak malu Sofi," ucap Amel pelan.


"Nanti Sofi bantuin. Kakak harus pelan-pelan deketin kak Rendi."


Wajah Amel mulai sedikit cerah. "Iyaa, tapi ini rahasia kita berdua ya? Jangan sampai ada yang tau kalau Kakak suka sama kakak kamu." Amel mengangkat jari kelingkingnya ke arah Sofi untuk membuat perjanjian dengannya.


Sofi mengaitkan jari kelingking mereka, tanda menyetujui perjanjian itu. "Sofi janji," ujar Sofi tersenyum.


Mereka pun meneruskan obrolan mereka, saling menceritakan pribadi masing-masing. Sofi merasa sangat bahagia karena akhirnya dia mempunyai teman untuk berbagi cerita.


Dia menceritakan banyak hal tentang dirinya, begitu juga Amel sebaliknya. Mereka memiliki banyak kecocokan. Tanpa terasa waktu terus berputar, mereka terlelap karena lelah bercerita.


Rendi melangkah masuk dan duduk di tepi tempat tidur dekat Amel. Dipandanginya wajah Amel, kemudian tangannya terulur menyingkirkan rambut-rambut kecil yang menutupi wajah Amel dan mengusap wajahnya dengan lembut. Rendi tersenyum lalu keluar dari kamar Sofi menuju dapur untuk mengisi perutnya.


Sekitar jam 4 sore mereka terbangun dan keluar dari kamar menuju ruang keluarga. Di sana sudah ada Rendi yang sedang duduk menonton telebisi. Rendi mengalihkan pandangannya ke samping saat melihat Amel dan adiknya yang sedang berjalan ke arahnya.


"Kalian baru bangun?" Rendi kembali menatap televisi sambil mengganti chanelnya.


Mereka mengagguk dan duduk di sebelah Rendi. "Kakak uda minum obat?" tanya Amel.


"Belum."


Amel memalingkan wajahnya ke Rendi. "Kenapa?"


"Males," jawab Rendi singkat.


"Kalau gitu Kakak mandi dulu, nanti habis mandi minum obat, terus oles salep untuk luka di badan Kakak biar cepat sembuh."


"Iyaa, kakak mandi dulu." Rendi berdiri menghadap Sofi. "Sofi, kamu ajak Amel makan setelah itu kalian mandi," perintah Rendi sambil berlalu.


"iyaa, Kak." Sofi dan Amel berjalan beriringan menuju ruang makan. Selesai makan, mereka menuju kamar Sofi untuk mandi dan berganti pakaian.

__ADS_1


Sementara Rendi sudah selesai mandi dan sudah berganti pakaian. Dia sedang duduk di sofa kamarnya sambil memainkan ponselnya.


Amel dan Sofi yang sudah selsai mandi dan berganti pakaian, kemudian keluar dari kamar. Karena pintu kamar Rendi tidak tertutup sempurna sehingga dia bisa mendengar suara pintu kamar Sofi yang baru saja tertutup. Rendi berjalan keluar dari kamarnya, menyusul adiknya dan Amel.


Saat Rendi baru saja kekuar dari kamarnya, dia melihat Amel dan adiknya sedang menuruni tangga. Rendi mengikuti dari belakang menuju ruang keluarga. Mereka duduk di ruangan keluarga bersama-sama.


"Kamu uda makan?" tanya Rendi kepada Amel.


"Udah Kak. Kakak uda minum obatnya?"


"Belum, obatnya nggak tahu dimana," jawab Rendi acuh tak acuh.


Amel langsung teringat saat ibu Rendi memberikan obat itu kepadanya sebelum pergi.


"Maaf Kak, Amel lupa. Tadi obatnya Amel tinggalin di kamar tamu. Bentar aku ambil dulu." Amel segera berjalan menuju kamar tamu dan di susul Rendi dari belakang.


Amel berbalik menuju pintu untuk keluar, setelah mengambil obat Rendi yang di letakan di atas nakas, di samping tempat tidur. Sebelum Amel sempat memegang handle pintu, tiba-tiba pintu terbuka dan mengenai kepala Amel.


"Aawwh." Amel merintih dan mengusap-usap kepalanya yang membentur pintu.


Mendengar suara benturan, dengan cepat Rendi menghampiri Amel yang terlihat sedang kesakitan. "Maaf Mel... Maaf, aku nggak segaja." Rendi berdiri di depan Amel sambil mengusap-usap kepala Amel dengan wajah bersalah.


Amel menatap heran saat melihat Rendi ada di depannya, padahal tadi Rendi masih ada di bawah. "Kakak ngapain ke sini?"


"Nyusul kamu, takut kamu nyasar." Itu sebenarnya hanya alasan Rendi saja.


"Amel bukan anak kecil yang bisa nyasar, Kak."


"Siapa tahu aja kamu nyasar ke kamar aku nanti," gurau Rendi.


Amel menyodorkan plastik yang berisi obat-obat Rendi. "Ini obatnya. Kakak oles salepnya dulu, baru minum obat," ucap Amel.


"Kalau kamu nggak keberatan, aku minta tolong kamu yang oleskan. Tangan aku masih sakit kalau terlalu banyak bergerak, tapi kalau kamu nggak mau nggak apa-apa, kakak minum obatnya saja."


Amel diam sejenak dengan wajah ragu. Bagaimanpun, dia malu kalau harus mengoleskan salep lagi ke tubuh Rendi, tapi dia juga tidak tega dengan Rendi.


Melihat dan menyentuh tubuh Rendi lagi adalah cobaan terberat untuk Amel. Walaupun hanya sekedar mengoleskan salep saja, tapi tetap bisa membuatnya gugup. Bagaimana bisa dia tenang tanpa mempunyai pikiran aneh di kepalanya.


Setelah berpikir beberapa saat, Amel akhirnya berjalan dan duduk di tepi tempat tidur sambil tersenyum ke arah Rendi. "Buka baju Kakak, Amel bantu olesin."


Bersambung....

__ADS_1


__ADS_2