Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Akhir Bahagia (END)


__ADS_3

Devan yang sedang duduk di kamarnya sambil memainkan ponselnya seketika mengerutkan keninga ketika melihat panggilan masuk dari Friska. Dia merasa heran untuk apa Friska menelponnya tengah malam.


Setelah tertegun sesaat, Devan akhirnya mengangkat telponnya. Dia kembali mengerutkan keningnya ketika mendengar suara Friska yang tidak jelas. Friska terdengar meracau dan tertawa.


Devan meraih jaket dan kunci mobil lalu keluar dari apartemennya setelah memutuskan panggilan telpon dari Friska. Dia melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi. Untung saja malem itu jalanan sudah sepi sehingga dia tidak membutuhkan waktu lama untuk sampai di tempat tujuannya.


Dengan langkah cepat, Devan berjalan masuk ke dalam bar tersebut. Dia mencari sosok Friska ketika baru saja memasuki area bar. Saat sudah menemukannya, Devan kemudian menghampiri Friska yang sedang duduk di depan meja bertender.


"Apa yang kau lakukan di sini?" Devan berdiri tepat di samping Friska yang sedang duduk sambil memegang gelas yang berisi minuman alkohol.


Friska menoleh ketika mendengar suara Devan. "Devan, terjadi kau sudah datang. Temani aku minum." Friska nampak tersenyum sambil memegang lengan Devan dengan kesadaran yang minim. Terlihat jelas kalau Friska sudah mabuk.


"Apa yang terjadi denganmu?" Devan duduk menghadap Friska yang tepat berada di sampingnya dengan wajah serius. Dia merasa ada yang aneh dengan sikap Friska.


Friska tersenyum lebar, senyum yang terkesan dipaksakan. "Kau memang hebat. Selalu saja bisa menebak pikiranku. Padahal, aku belum bilang apa-apa."


Friska kemudian memajukan tubuhnya ke depan dan menatap Devan beberapa saat. "Aku baru menyadari kalau wajahmu sangat tampan. Bagaimana kalau menjadi kekasihku saja?"


Friska menjulurkan tangannya menyentuh pipi Devan. "Kau memang tampan, kenapa aku baru menyadarinya?" Saat dia mabuk entah kenapa yang ada di kepalanya hanya Devan. Tanpa sadar dia menelpon Devan dan memintanya datang untuk menemaninya.


Devan mengehela napas halusnya melihat tingkah Friska. "Friska, jangan main-main! Lebih kita pulang." Devan kemudian berdiri lalu meraih lengan kiri Friska.


Melihat Devan mengalihkan pembicaraan, Friska kembali berkata, "Kenapa? Apa kau tidak menyukaiku? Apa karena aku tidak secantik Amel, sebab itu kau tidak mau menjadi kekasihku?"


Friska menatap Devan dengan mata yang terbuka setengah. Aroma alkohol yang kuat tercium dari mulutnya sehingga membuat Devan sedikit kesal. Baru kali ini dia melihat Friska sampai mabuk berat.


"Jangan bicara omong kosong. Kau sudah mabuk." Terlihat kalau Devan sedang berusaha untuk sabar menghadapi Friska.


Friska tertawa lebar seperti orang gila. "Aku memang tidak secantik dan sebaik Amel, makanya Rendi tidak mau denganku." Friska kembali meracau. Dia kemudian menepis tangan Devan dan meraih gelas di atas meja lalu meminumnya.


"Cukup Friska, cepat bangun!" Devan kembali menarik tangan Friska agar dia berdiri. "Aku akan megantarmu pulang ke hotel." Kesabaran Devan nampaknya mulai menipis.


Friska memberontak. "Aku tidak mau pulang. Aku masih mau di sini."


Devan tidak memperdulikan ucapan Friska, dengan gerakan cepat dia menarik tangan Friska keluar dari bar. Meskipun Friska terus meronta minta dilepaskan, Devan nampak terus menyeretnya sampai mobil. "Aku tidak mau pulang," pekik Friska dengan wajah memerah. Dia menatap Devan yang sedang fokus menyetir mobilnya dengan tatapan kesal.


"Orang tuamu akan mencarimu nanti," ucap Devan tanpa menoleh pada Friska.


"Sudah aku bilang aku tidak mau pulang!" Friska kembali berteriak.


Melihat Devan tidak mengubris ucapannya, dia kemudian berkata, "Aku akan melompat keluar jika kau membawaku kembali ke hotel."


Devan yang melihat Friska sudah membuka pintu seketika mengerem mendadak hingga mobil terhenti di tepi jalan. "Apa kau gila? Kau ingin mati?" bentak Devan tanpa sadar.


"Seharusnya kau tidak menyelematkan aku dulu."


Mendegar hal itu, Devan menghela napas lalu mengusap kasar wajahnya ketika melihat Friska mengeluarkan air matanya. "Maafkan aku," sesal Devan. Dia juga tidak tahu kenapa dia bisa lepas kendali. Selama ini tidak pernah semarah itu pada orang lain sampai hilang kontrol.


Akhirnya Devan mengalah pada Friska. "Aku tidak akan membawamu pulang."


Setelah kemarahannya mereda, Devan kembali melajukan mobilnya. Selama dalam perjalan Friska hanya diam, begitu pun juga dengan Devan.


Karena Friska menolak untuk pulang, Devan terpaksa membawanya ke apartemennya. Dia sebenarnya penasaran apa yang sebenarnya terjadi dengan Friska sehingga sampai membuatnya manuk dan tidak ingin kembali ke hotel tempatnya menginap.


Dengan susah payah Devan membawa Friska ke kamarnya. Dari parkiran hingga sampai di kamar Devan, Friska terus meracau tidak jelas. "Istirahatlah." Devan merebahkan tubuh Friska di tempat tidurnya lalu menutupi tubuhnya dengan selimut.

__ADS_1


Saat Devan akan melangkah keluar, Friska memegang tangannya. "Jangan pergi, aku tidak mau sendiri."


Devan berbalik dan duduk di samping tepi tempat tidur. "Lebih baik kau tidur. Kau sedang mabuk."


Friska tertawa. "Aku tidak mabuk Devan." Friska kemudian mendekatkan wajahnya pada Devan, "Apa kau sungguh tidak mau menjadi kekasihku?"


Devan menatap Friska dengan tatapan tidak terbaca. Dia hanya diam dan tidak menanggapi pertanyaan dari Friksa karena dia tahu kalau Friska sedang mabuk sehingga kata-katanya keluar begitu saja tanpa dia pikirkan.


"Apa kau sungguh tidak memiliki rasa suka sedikitpun padaku?" Friska menatap mata Devan dengan tatapan intens kemudian tertawa. Devan sebenarnya tidak mengerti dengan sikap Friska saat ini yang seperti memiliki masalah berat.


"Bagaimana kalau dengan ini?" Friska menempelkan bibirnya pada Devan


Awalnya hanya menempel, kemudian dia melu*mat bibir Devan dengan lembut.


Devan terdiam dengan wajah terkejut. Dia nampak tidak menyangka kalau Friska akan tiba-tiba menciumnya.


"Apa kau masih tidak merasakan perasaan apapun terhadapku?" tanya Friska setelah dia melepaskan pagutannya.


Devan menatap lekat bola mata Friska selama beberapa detik. "Sudah cukup Friska. Tidurlah." Devan ingin bangun, tetapi ditahan oleh Friska.


"Devan, bagaimana kalau kita menikah saja setelah ini? Aku janji akan menjadi istri yang baik untukmu." Friska dengan berani mengalungkan tangannya ke leher Devan lalu kembali menyatukan bibir mereka berdua.


Seketika Devan melepaskan pagutan mereka berdua. "Friska, jangan memancingku seperti ini. Aku adalah pria dewasa yang memiliki hasrat. Jangan berbuat sesuatu yang akan kau sesali nanti." Devan tetap berusaha tetap berpikiran jernih, meskipun Friska hampir membuatnya hilang akal.


"Aku tidak akan menyesalinya." Friska kembali menyatukan bibir mereka berdua.


Devan kembali menghentikan pagutan mereka lalu berkata, "Baiklah, jangan menyesalinya. Kau yang lebih dulu memancingku."


Kali ini Devanlah yang menyatukan bibir mereka bedua. Tanpa banyak berpikir Friska membalas ciuman Devan. Efek alkohol membuat Friska lebih berani dan tidak sepenuhnya sadar dengan sikap agresifnya.


Devan terus melu*mat dan menyesap bibir mungil Friska, setelah itu dia menggigit bibir bawah hingga mulut Friska terbuka dan lidah Devan berhasil masuk. Lidah mereka pun akhirnya saling beradu.


"Maaf, tidak seharusnya kita melakukan ini." Devan memundurkan tubuhnya memberikan jarak antara mereka berdua dengan wajah menyesal.


Friska tertunduk malu. "Kau tidak salah, aku yang memancingmu lebih dulu. Maafkan aku. Kau pasti berpikir kalau aku bukan wanita baik-baik."


Wajar saja Friska berpikir seperti itu. Dia sudah menggoda Devan lebih dulu, pasti Devan menganggap dirinya wanita murahan. Entah apa yang ada di pikirannya saat dia dengan berani mencium Devan lebih dulu.


"Friska, aku tidak pernah berpikir seperti itu terhadapmu," ucap Devan sambii menatapnya dengan tatapan yang tidak bisa dipahami oleh Friska.


"Maafkan aku, Devan. Aku sungguh tidak bisa berpikir jernih saat ini." Seketika air mata Friska langsung luruh.


"Aku sudah sepakat dengan Kenan untuk membatalkan perjodohan kami," jelas Friska.


"Lalu?"


"Ayahku menerima keputusan kami, tapi...." Friska terdiam sesaat setelah itu kembali berkata, "Ayahku memaksaku untuk menikah dengan pria lain." Friska kembali mengangkat kepalanya menatap Devan dengan wajah yang sudah basah dipenuhi air mata.


"Aku tidak mau dinikahkan dengan Jery. Dia pria yang suka tidur dengan banyak wanita. Aku tidak menyukainya." Friska kembali terisak. "Ayahku tidak peduli dengan penolakanku, meskipun aku sudah memberitahunya tentang kelakuan Jery. Ayahku tetap memksaku untuk menikah dengan Jery," sambung Friska lagi.


Jery adalah anak dari salah satu rekan bisnis ayah Friska. Dia memang berasal dari keluarga kaya, hanya saja gaya hidupnya terlalu bebas. Setiap malam dia keluar masuk klub malam, menghamburkan uang, main perempuan dan suka sekali tidur dengan wanita yang dia kencani.


Bahkan sudah banyak wanita yang dia tiduri, meskipum pada kenyataannyq wanita itu sendiri yang mengantarkan diri padanya. Alasan kenapa banyak wanita yang mendekati Jery karena selain tampan, dia juga termasuk pria royal.


Dia suka memberikan barang mewah bahkan memberikan uang dalam jumlah banyak setiap kali habis bermalam dengannya. Sebab itulah Friska tidak mau di jodohkan dengannya. Meskipun begitu, Jery juga menyaring wanita yang akan tidur dengannya. Hanya wanita pilihan yang akan berakhir di ranjangnya.

__ADS_1


Devan tidak bersuara dalam beberapa saat. Dia menatap ke bawah sejenak, setelah itu, mengangkat kepalanya dan berkata, "Aku akan menikahimu."


Mendengar hal itu, Friska langsung mengangkat kepalanya menatap tidak percaya pada Devan. "Aku akan menemui orang tuamu besok. Kau tenang saja, aku tidak akan membiarkan ayahmu menikahkanmu dengan pria itu," lanjut Devan lagi dengan wajah serius.


"Benarkah kau akan menolongku?"


"Yaa, tapi aku punya syarat," ucap Devan.


"Apa?" tanya Friska dengan cepat.


"Aku tidak mau ada perceraian setelah kita menikah nanti. Apapun yang terjadi, kau harus tetap menjadi istriku. Aku tahu kalau kau tidak mencintaiku, tapi aku tidak mau ada perpisahan meskipun pernikahan ini untuk menolongmu. Bagiku, penikahan bukanlah mainan. Aku ingin menikah sekali seumur hidup, jadi selama kau menyetujui syaratku, aku akan menikahimu."


Meskipun mabuk, Friska mengerti dengan jelas apa yang disampaikan oleh Devan. "Baiklah aku setuju." Tanpa pikir panjang Friska mennyetujui usulan Devan.


"Aku harap kau juga bisa belajarnya mencintaiku, setelah kita menikah nanti, begitu pun sebaliknya."


Friska mengangguk. "Selama kau berjanji tidak menyakitiku, selamanya aku akan tetap di sisimu."


"Tidurlah, besok kita menemui orang tuamu."


"Terima kasih Devan." Tanpa aba-aba Friska lansgung memeluk Devan dengan erat.


"Aku tidak dapat berjanji untuk bisa memperbaiki semua masalahmu, tetapi aku bisa berjanji kamu tidak akan menghadapi semuanya sendirian. Aku akan berada di samping selama kau percaya padaku." -Devan


*********


Raka kemudian meraih dagu istrinya lalu menempelkan bibir mereka berdua. Meskipun awalnya Sofi merasa tegang, tapi itu tidak berlangsung lama. Raka dengan mudah membuat Sofi larut dalam permainannya.


Tanpa sadar Sofi mulai membalas ciuman Raka dan mengalungkan tangannya leher suaminya ketika sudah berada di atas tubuhnya. Luma*tan demi luma*tan mulai teripta tatkala keduanya saling membalas.


Raka semakin gencar memberikan menyesap dan mencecap bibir istrinya. Luma*tan yang awalnya lembut berubah menjadi panas dan menuntut. Raka melu*mat bibir atas dan bawah istrinya secara berganti dengan tempo cepat.


Sesekali Raka memberikan gigitan kecil pada bibir istrinya dan berhenti sejenak lalu kembali memulainya lagi beberapa detik kemudain. Tidak hanya bibirnya yang bergerak, tangan Raka pun mulai bergerak liar dan mulai menanggalkan pakaiannya dan Sofi satu persatu hingga tubuh mereka polos.


Bibir Raka menekan semakin keras dan lidah mereka pun saling beradu hingga Raka tidak mampu lagi menahan gairahnya yang sudah memuncak. Raka kemudian melepaskan ciuman mereka dan menatap lembut mata sayu Sofi.


"Sayang, aku akan melakukannya. Aku akan mengatakan padamu sekali lagi." Raka menatap seraya membelai wajah istrinya yang ada di bawahnya. "Maaf kalau aku menyakitimu nanti. Aku takut tidak bisa mengendalikan diriku, jadi katakan padaku jika kau merasa kesakitan."


Sofi mengangguk. "Terima kasih sayang."


Raka mengecup kening dan bibir istrinya sebelum melanjutkan kembali apa yang sempat tertunda tadi. Tanpa menunggu lama. Raka pun mulai mendesak masuk dengan hati-hati dan kemudian terdengar lenguhan nyaring dan rintihan kesakitan dari Sofi saat Raka berhasil melakukan penyatuan.


Meskipun menyakitkan Sofi berusaha menahanya saat Raka mulai bergerak. Lambat laun rasa sakit Sofi pun menghilang dan tergantikan dengan kenikmatan yang belum pernah dia rasakan sebelumnya.


Malam semakin larut dan suara lenguhan dan makin sering terdengar di kamar pengantin baru tersebut. Napas mereka saling bersahutan dan bulir-bulir keringat mulai mengalir dari tubuh dan wajah Raka setelah melakukannya dalam waktu yang lama.


Beberapa jam sudah berlalu, energi Sofi seperti sudah terkuras sehingga membuatnya kelihatan sangat lelah. Raka pun akhirnya berhenti setelah mendapatkan pelepasan untuk kesekian kalinya.


"Aku sangat mencintaimu sayang. Terima kasih karena sudah mau menjadi istriku dan aku minta padamu, teruslah mencintaiku." Raka memeluk tubuh istrinya dengan erat.


Suatu kebahagiaan bisa memelukmu seperti ini dan betapa senangnya ketika aku bisa menyebutmu sebagai milikku.


"Akhirnya aku mengerti indahnya cinta setelah bertemu denganmu. Jangan pernah berhenti mencintaiku karena aku ingin menghabiskan sisa waktu hidupku hanya bersama dirimu. Berada di sampingmu adalah kebahagiaan terbesarku." -Raka


...END...

__ADS_1


\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=\=


Ceritanya sudah End ya. Terima kasih untuk semua yang sudah membaca dan mendukung novel Auhtor yang ini. Sekali lagi terima kasih. Silahkan baca karya Author yang lainnya. Bisa dilihat di profil Author.


__ADS_2