
Bianca menyadari kekhawatiran Rendi yang selama ini dia rasakan. Dia akui tidak banyak orang yang bisa menerima masalalu pasangannya. Dengan masalalu Rendi yang seperti itu, apalagi sampai saat ini, Rendi masih belum bisa melupakan kecelakaan yang merenggut nyawa orang yang dia sayangi tepat di depan matanya. Ditambah lagi dengan penyakit Rendi yang tergolong berat. Wajar kalau dia menyembunyikannya dari Amel.
Banyak pasien yang dia temui dengan penyakit parah berakhir ditinggalkan pasangannya dengan berbagai alasan. Ada yang tidak ingin direpotkan, ada yang tidak sanggup melihat pasangannya menderita, ada yang malu, ada yang merasa terbebani, ada yang orang tuanya tidak setuju punya menantu yang penyakitan, berbagai macam alasan yang memicu perpisahaan di antara mereka.
“Dengar Ren, kau tidak bisa menyembunyikan selamanya dari Amel Ren! Bagaimanapun dia harus tahu. Jika dia benar-benar mencintaimu, dia akan menerima apapun keadaanmu, termasuk soal sakit dan masalalumu itu.”
“Iyaa kak, Aku akan menjelaskan pada Amel, maka dari itu, biarkan aku pergi untuk menjelaskan semua padanya, agar dia tidak salah paham lagi dengannku. Aku hanya takut dia tidak mau memaafkanku!” ucap Rendi dengan suara pelan, saat dia teringat dengan perkataan Amel yang mengakhiri hubungan mereka begitu saja. Dia merasa menyesal tidak menceritakan dari awal.
“Kau harus bertanya pada Jhon dulu, bagaimanapun dia mewakili orantuamu saat ini,” ucap Bianca menoleh pada Jhon yang dari tadi hanya diam menjadi pendengar yang baik.
Jhon tidak langsung menjawab. Dia tampak berpikir, dia mengetuk-ngetukkan jarinya pada map yang sedang dia letakkan di pangkuannya.
“Jhon, biarkan aku pergi untuk menemui Amel. Aku benar-benar harus pergi sekarang,” mohon Rendi pada dokter Jhon, saat melihat dia tampak terdiam.
“Aku mohon Jhon, kali ini saja. Aku harus menjelaskan kesalahpahaman ini pada Amel. Kau bisa ikut denganku, kalau kau takut aku akan kabur,” sambung Rendi lagi saat dia melihat dokter Jhon masih diam saja.
Dokter Jhon menatap Rendi sejenak, lalu berkata, “Aku ijinkan kau pergi menemui Amel, tetapi kau harus janji, setelah itu, kau tidak boleh menolak lagi untuk ke Amerika.”
Rendi langsung mengangguk cepat saat mendapat ijin dari dokter Jhon. “Baik, aku akan menyelesaikan urusanku dengan Amel. Setelah itu, aku akan ikut dengan kalian," janji Rendi
"Sebelum itu, suruh sekuriti sialan itu untuk tidak menghalangi aku lagi. Mereka bahkan berani melawan perintahku sekarang. Aku akan langsung memecat mereka, saat aku menjadi pemilik sah rumah sakit ini,” seru Rendi marah sambil menatap ke arah pintu.
__ADS_1
Saat Rendi bangun tadi, dia langsung menuju pintu keluar untuk pergi menemui Amel, tapi dihalangi oleh beberapa sekuriti. Mereka bahkan memegang tubuh Rendi saat dia berusaha untuk meloloskan diri.
Mereka tidak memperdulikan ucapan Rendi untuk melepaskan dirinya. Kondisi Rendi yang belum stabil membuatnya tiba-tiba pingsan. Mereka kemudian menggotong tubuhnya ke ranjang pasien, kemudian pergi melapor kepada dokter Jhon dan dokter Bianca.
Dokter Jhon menghela napasnya. “Kau tidak bisa menyalahkan mereka karena mereka hanya menjalankan tugasnya. Ini semua perintah Ibumu," jelas dokter Jhon pelan.
"Mereka pasti lebih mematuhi perintah ibumu dari pada perintahmu. Aku akan bicara dengan mereka untuk membiarkanmu pergi, tapi kau harus berjanji padaku, setelah itu kita harus langsung pergi ke Amerika. Kau tidak boleh menundanya lagi,” ucap dokter Jhon menatap tajam pada Rendi.
Rendi mengangguk. “Aku janji,” ucap Rendi senang setelah mendengar perkataan dokter Jhon.
“Tunggu dulu!” ucap dokter Jhon, saat dia melihat Rendi tampak bergerak turun dari tempat tidur.
“Kau harus makan terlebih dahulu, setelah itu tunggu cairan infusnya habis. Kau bisa pingsan lagi, jika kau langsung pergi sekarang,” ujar dokter Jhon sambil menatap makanan yang ada di meja sampingnya. Dia kemudian beralih menatap kantung transparan berisikan cairan bening yang tergantung pada tiang tepat di sebelah Rendi.
“Aku bisa makan nanti. Aku tidak punya banyak waktu Jhon!” ucap Rendi yang tampak tidak sabar ketika dokter Jhon menahannya.
“Kalau begitu aku tidak mengijinkan kau pergi, sebelum kau melakukan yang aku katakan tadi,” ucap dokter Jhon tegas.
“Kau jangan keras kepala Ren!” timpal Bianca dengan suara keras, saat melihat Rendi tampak kesal saat mendengar perkataan dokter Jhon.
Rendi menghela napasnya. “Baiklah, aku akan makan dan menghabiskan cairan infus sialan ini!” ujar Rendi kesal karena harus menunda kepergiannya.
__ADS_1
Dokter Jhon menatap tajam pada Rendi. Rendi tampak acuh dan mulai memakan makanannya. “Ingat Ren..! Kau harus kembali lagi ke sini, sebelum ibumu datang. Aku akan berusaha menutup mulut orang-orang itu sampai ibumu datang ke sini. Kalau ibumu tahu kau keluar tanpa ijin darinya dengan kondisi seperti ini, kau tidak akan diperbolehkan pergi kemanapun. Kau tidak akan bisa bertemu dengan Amel lagi,” ucap Jhon memperingatkan Rendi.
“Iya aku tahu, yang penting kau urus orang-orang itu supaya bisa menjaga mulutnya.”
Bianca berdiri dari duduknya. “Kalau begitu kakak tinggal dulu Ren. Kakak masih ada urusan.” Dokter Bianca berjalan meninggalkan ruangan saat melihat anggukan dari Rendi.
Rendi menatap kepergian dokter Bianca bersamaan dengan dokter Jhon yang sudah mengalihkan pandanganya, setelah menatap kepergian dokter Bianca sejenak. “Sampai kapan kau berencana untuk memendam perasaanmu pada kak Bianca, Jhon?” tanya Rendi melirik Jhon saat dokter Bianca sudah tidak terlihat lagi.
Dokter Jhon tampak terkejut dengan pertanyaan Rendi. Dia berusaha bersikap tenang dan menyenderkan tubunya ke kursi setelah merasa keadaan sudah tenang kembali. “Aku tidak mengerti maksudmu,” ujar dokter Jhon mengalihkan pandangannya pada map yang sedang dibukanya. Dia berusaha membolak-balikkan kertas putih yang ada di tangannya.
“Kau jangan berpura-pura bodoh Jhon. Aku tahu kalau kau juga menyukai kak Bianca,” ujar Rendi saat dokter Jhon berpura-pura tidak tahu maksud perkataannya.
“Jangan sampai kau ke duluan orang lain karena sikap cuekmu itu. Sekarang mungkin dia masih menyukaimu, tetapi bagaimana jika dia lelah menunggumu. Bukankah kalian mempunyai perasaan yang sama? Lalu kau menunggu apalagi?” desak Rendi saat melihat dokter Jhon tampak tidak peduli dengan perkataan Rendi.
Dokter Jhon menatap Rendi sekilas. “Kau tidak perlu repot-repot mengurusi urusanku. Urusi saja masalahmu yang tidak ada habisnya itu," ucap dokter Jhon yang malas.
"Aku justru kasihan dengan jalan hidupmu padahal kau tidak kekurangan apapun, tetapi kau memiliki kisah hidup yang tragis seperti drama yang ada di televisi.”
"Kisah hidupmu juga akan tragis, saat kak Bianca bisa hidup bahagia dengan orang lain, sementara kau tidak pernah bisa melupakannya. Kau akan menyesal setelah kehilangan dia karena kebodohanmu yang masih saja diam dan tidak bertindak apapun," balas Rendi.
Bersambung....
__ADS_1