Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Memperingatkan


__ADS_3

Rendi menarik tangan Amel dengan cepat, memasuki rumahnya. Suasana rumah terlihat sepi, hanya terdengar suara yang berasal dari dapur, kemungkinan bi Minah sedang berkutat dengan pekerjaannya.


Rendi terlihat menaiki tangga lalu berjalan menuju kamarnya. tTdak ada kata yang keluar dari mulutnya, Amel juga tidak berani mengeluarkan suara saat Rendi menariknya.


"Eeh, ada Kak Amel," sapa Sofi yang baru saja keluar dari kamarnya. Dia berhenti setelah melihat kakaknya yang baru saja tiba di depan kamarnya. "Iya Sofi, Kakak baru aja dateng" jawab Amel cepat.


Rendi tidak menggubris pertanyaan adiknya, melainkan dia membuka pintu lalu menarik Amel masuk ke kamarnya. Sofi yang melihat kakaknya masuk ke kamar tanpa menoleh, seketika mengerutkan keningnya, seperti berpikir kalau terjadi sesuatu dengan mereka. Sofi bisa menebaknya hanya dengan melihat ekspresi Rendi yang menegang.


Rendi berhenti di dekat tempat tidurnya. Dia melepaskan tangan Amel. "Siapa dia??" tanya Rendi tanpa basa-basi. Aura Rendi masih memancarkan kemarahan.


Amel memandang tubuh Rendi yang membelakanginya. "Aku nggak kenal, Kak. Aku nggak sengaja nabrak dia tadi."


"Kalau kamu nggak kenal, kenapa laki-laki itu kayak kenal sama kamu? Malah dia sempat mematiskan dulu, apa benar aku adalah pacar kamu." Rendi menoleh belakang dengan tatapan curiga.


Amel meremas kedua tangannya ketika melihat Rendi tidak percaya dengan ucapannya. "Aku benaran nggak kenal sama dia, Kak. Aku cuma pernah ketemu sama dia beberap kali." Amel baru saja mengingat pertemuannya dengan orang tersebut.


Rendi membalikkan tubuhnya lalu berjalan ke arah Amel. "Akhirnya kamu ngaku juga. Berani banget kamu ketemu sama dia belakangku. Kamu bahkan sudah ketemu sama dia beberapa kali. Apa kamu lupa kalau aku udah pernah peringatin kamu, jangan main-main denganku dan jangan coba-coba nguji kesabaranku." Mata Rendi memancarkan api kemarahan di dalam sorot matanya.


Amel mendekat pada Rendi yang sudah menggelap, kemudian dia meraih tangan Rendi. "Bukan seperti itu, Kak. Kakak salah paham." Amel mulai panik saat melihat tangannya dihempaskan oleh Rendi.


"Apa kamu mau terus membodohi aku terus? Aku yakin kamu nggak akan jujur sama aku mengenai laki-laki kalau aku nggak mergokin kamu tadi." Rendi menatap penuh kemarahan kepada Amel. Dia sudah tidak bisa menyembunyikan kemarahannya.


Amel bahkan belum menjelaskan semuanya, tetapi Rendi sudah menuduhnya macam-macam. Dia bingung kenapa Rendi bisa berpikir seperti itu. "Kak, dengar dulu. Aku memang ketemu sama dia beberapa kali, tapi itu nggak sengaja."


Rendi tertawa sinis. "Untuk ukuran orang yang nggak saling kenal, apa kamu pikir wajar kalau sampai dia memastikan langsung kepada kamu, apa benar aku ini pacarmu, apalagi tepat di depanku?" tanya Rendi.


Sebelum Amel menjawab, Rendi kembali berbicara, "Aku nggak bodoh Mel, laki-laki itu pasti sudah kenal sama kamu. Aku bisa lihat dari cara dia menatap kamu. Apalagi waktu aku lihat ekspresi terkejut, sekaligus tatapan kecewanya saat tahu kalau aku pacar kamu. Aku pastikan dia kalau dia menyukaimu."


"Tapi kenyataannya aku memang nggak kenalnya sama dia, Kak. Aku cuma pernah nggak sengaja nabrak dia di sekolah. Aku juga nggak sengaja ketemu sama dia di cafe saat makan sama Raka. Setelah itu, aku uda nggak pernah ketemu sama dia lagi. Jadi, nggak mungkin kalau dia suka sama aku, Kak."

__ADS_1


Rendi mencibir. "Kamu bahkan nggak tahu kalau orang terdekat kamu suka sama kamu. Gimana bisa, kaum seyakin itu kalau orang itu nggak suka sama kamu?"


"Orang terdekat aku? Siapa yang Kakak maksud?"


"Harusnya kamu yang lebih tau, Mel. Sekarang aku tanya, apa kamu tahu, kapan aku suka sama kamu?" Rendi menaikkan alisnya sebelah. Sebenarnya Rendi sudah tahu jawabannya, tapi dia hanya ingin memastikan saja.


"Aku... Aku nggak tahu. Aku nggak pernah berpikir kalau Kakak suka sama aku."


Dulu dia berpikir kalau Rendi membencinya karena dia selalu bersikap dingin jika bertemu dengannya. Amel bahkan dibuat terkejut saat Rendi menyatakan perasaannya waktu itu.


"Aku sudah lama menyukaimu, Mel. Sudah hampir 2 tahun, kalau kamu mau tahu."


Mata Amel terbelalak saat mendengar penuturan Rendi yang tiba-tiba. "Ngeliat dari ekpresi kamu. Kau bahkan nggak nyangka kalau selama itu, 'kan?" sambung Rendi lagi.


"Maaf Kak, aku kira dulu Kakak benci sama aku. Aku cuma nggak berani mikir terlalu jauh."


"Maka dari itu, aku selalu melarang kamu untuk dekat dengan laki-laki lain karena kamu bahkan nggak tahu kalau ada yang suka sama kamu. Aku nggak mau mereka berpikir kalau kamu ngasih mereka peluang untuk mendekati kamu."


Rendi membungkuk sambil memegang kedua bahu Amel. "Dengar Mel, aku nggak suka kamu dekat sama orang itu. Jadi, jangan memancing aku seperti tadi. Kalau aku ngeliat kamu berdekatan sama dia dengan jarak sedekat tadi, aku nggak akan berpikir panjang. Jangan salahkan aku kalau langsung menghajarnya."


Amel memegang tangan Rendi. "Iya Kak, Amel minta maaf. Amel nakal jaga jarak sama orang itu. Kakak nggak boleh ngehajar orang sembarangan cuma karena masalah sepele. Aku bakal lebih berhati-hati ke depannya. Aku nggak mau ngeliat Kakak terluka lagi." Karena dia sudah memutuskan untuk menjadi kekasih Rendi, dia harus bisa memahami sikap Rendi yang posesif.


Rendi menatap serius Amel. "Aku nggak bakal diam saja kalau ada yang berniat merebut kamu dari aku."


"Nggak ada juga yang mau ngerebut aku, Kak. lagian, aku cuma cinta sama Kakak. Selamanya akan seperti itu. Kakak harus yakin sama perasaanku." Amel mencoba meyakinkan Rendi yang terlihat seperti tidak percaya kepadanya.


"Kau harus tahu kalau aku begini karena aku sangat mencintai kamu. Aku nggak bisa ngeliat kamu berdekataan sama orang lain. Entah kenapa, terkadang, aku nggak bisa ngendaliin kemarahanku kalau melihat kamu lagi sama laki-laki lain."


Amel majun, melingkarkan tanganya ke tubuh Rendi lalu memeluknya. "Iyaa Kak, aku mengerti. Makasih karena sudah mencintai aku sebesar ini dan makasih juga sudah mau menjadi pacar aku. Aku minta maaf karena sering membuat Kakak marah. Kedepannya, aku usahain untuk nggak buat Kakak kecewa. Aku bakal nurutin permintaan, Kakak" Seketika amarah Rendi mulai padam dan wajahnya melunak.

__ADS_1


"Aku cuma takut kamu ninggalin aku kalau kamu ketemu sama laki-laki yang lebih baik dari aku."


Terasa Rendi menumpahkan perasaan yang mengganjal di hatinya. Baru kali ini dia merasakan perasaan seperti ini. Rendi menunduk dan menatap Amel. "Aku ngerasa kalau kamu nggak terlalu cinta sama aku," sambung Rendi dengan wajah sendu.


Amel masih memeluk Rendi. "Asal kakak tahu ya, Kakak adalah cinta pertama aku. Selama ini, aku belum pernah menyukai orang lain, selain Kakak. Aku sangat mencintai Kakak, jadi jangan pernah raguin perasan aku. Selama Kakak mencintai aku, Aku nggak akan pernah ninggalin Kakak, apalagi demi orang lain."


Amel sebenarnya juga bingung kenapa Rendi selalu bersikap berlebihan kepadanya. Dia harus lebih sabar menghadapi sikap Rendi suka cemburu berlebihan.


Raut wajah Rendi seketika berubah. Dia melepaskan pelukan Amel dan memegang kedua bahunya. "Benaran, kau tidak bohong?" Rendi menatap dalam mata Amel. Dia sangat senang mendengar perkataan Amel.


Amel mengangkat kepalanya sembari mengangguk. "Iya, Kak" ujar Amel tersenyum.


Rendi meraih tubuh Amel dalam pelukannya. "Makasih Mel, aku nggak akan sia-siain kamu. Aku cinta banget sama kamu, Mel" Rendi melepaskan pelukannya lalu mengecup singkat bibir Amel.


"Kenapa Kakak cium aku lagi?" tanya Amel dengan wajah cemberut.


Rendi tersenyum lalu mencubit hidung Amel. "Bibir kamu manis, kayak gula," goda Rendi. Rendi terlihat sudah bisa tersenyum. Sepertinya dia, sudah tidak marah lagi kepada Amel.


"Sudahlah, lebih baik Kakak ganti baju sana!" Amel mendorong tubuh Rendi dengan pelan.


"Kamu ini, masih aja malu. Wajah kamu itu, sangat menggemaskan kalau merah seperti itu." Rendi berjalan menuju lemari untuk mengganti pakaiannya.


Amel memegang wajahnya yang memanas. Dia merasa malu dengan perkataan Rendi. Amel memutuskan untuk duduk bersandar di sofa sambil menunggu Rendi mengganti pakaiannya. Kejadian tadi membuatnya sedikit tegang. Dia benar-benar harus bersikap lembut kepada Rendi kedepannya.


"Kenapa kamu ngelamun? Spa yang lagi kamu pikirin?"


Rendi berjalan mendekati Amel setelah selesai mengganti pakaiannya. Amel menoleh ke Rendi yang terlihat mengenakan kaos polos putih dengan celana santai berwarna hitam yang terlihat pas di tubuhnya.


"Nggak ada, Kak." Amel menggeleng kuat. "Oia, gimana hasil pemeriksaan Kakak tadi?" tanya Amel ketika melihat Rendi sudah duduk di dekatnya sambil menyandarkan tubuhnya ke sofa.

__ADS_1


Rendi merubah posisinya lalu duduk tegak menghadap Amel. "Mel, kalau suatu saat terjadi sesuatu sama aku? Apa kamu bakal berpaling sama laki-laki lain?" Rendi tidak menjawab pertanyaan Amel, melainkan melayangkan pertanyaan yang lain.


Bersambung...


__ADS_2