
Rendi menghela napas lega. “Aku hampir saja membunuhnya,Mel. Aku sudah hilang kendali saat mendengar kalau dia sudah menyentuhmu,” ucap Rendi setelah mengetahui kejadian yang sebenarnya.
“Maaf, Kak. Aku juga tidak tahu kalau kak Evans akan akan mengatakan itu padamu, apalagi sampai bilang aku sedang mengandung anaknya.”
Rendi mengusap lembut wajah Amel. “Semua itu tidak penting lagi. Yang terpenting adalah kita akan menikah tiga hari lagi. Aku akan meminta maaf pada Devan nanti. Aku juga akan mengucapkan terima kasih padanya karena sudah menjagamu.”
“Tapi bagaimana kalau orang tua Kaka tahu kalau aku tidak hamil? Aku takut mereka akan marah lagi,” ucap Amel dengan wajah cemas.
Rendi menatap Amel. “Mama pasti kecewa karena cucu yang dinantinya ternyata belum ada. Bagaimana kalau kita membuatnya sekarang?” goda Rendi sambil menampilkan seny nakalnya.
Wajah dan telinga Amel langsung memerah. “Jangan bercanda, Kak. Apa Kakak mau ditampar lagi?” tanya Amel dengan suara pelan.
“Mama sudah menamparku karena mengira aku sudah menghamilimu, jadi lebih baik aku melakukannya sekalian. Aku sudah rugi karena berbohong,” ucap Rendi dengan enteng. “Tidak ada yang akan tahu kalau kita melakukannya sekarang. Bukankah sama saja kalau kita melakukannya sekarang atau nanti?" Rendi terus saja menggoda Amel.
“Kakaaaak! Pergi sana. Jangan mengangguku!” teriak Amel.
Dia merasa malu sekali mendengarkan perkataan Rendi. Dia bergidik ngeri saat membayangkannnya.
“Aku hanya becanda sayang, tapi kalau kau mau, aku tidak akan menolaknya,” ucap Rendi dengan senyum usilnya.
Amel menatap tajam Rendi. “Sepertinya Kakak masih ingin ditampar oleh mama Kakak? Apa perlu aku adukan kepada mama Kakak?” ancam Amel saat Rendi tidak henti untuk menggodanya.
Rendi menampilkan wajah polos. “Apa kamu tega melihat calon suamimu ini ditampar lagi? Apa kamu tidak lihat wajahku sudah babak belur setelah berkelahi dengan Devan, ditambah lagi di tampar mama tadi. Apa kamu mau wajahku berubah menjadi jelek?”
Amel memajukan tubuhnya mendekati Rendi kemudian memegang wajahnya Rendi sambil meneliti wajahnya dari dekat. “Sepertinya Lakak lebih tampan kalau babar belur seperti ini?” ejek Amel terkekeh. “Aku akan mengobati luka Kakak. Tunggu sebentar.”
Amel berdiri untuk mencari kotak P3K. Dari tadi pikiran Amel terpecah menjadi beberapa bagian, sehingga dia lupa untuk mengobati luka Rendi.
“Kotaknya ada di lemari bawah sebelah kiri."
Rendi menunjuk lemari yang dimaksud saat Amel tidak menemukan kotak yang dicarinya. Amel kemudian berjalan menghampiri Rendi lagi setelah menemukan kotak yang dia cari.
“Kedepannya, aku tidak ingin melihat kau berkelahi lagi, Kak,” ucap Amel saat dia sudah berada di samping Rendi sambil membuka kotak obatnya.
Rendi menatap lekat wajah Amel. “Asalkan kau selalu ada di sampingku Mel,” ucap Rendi pelan.
Amel mulai mengobati luka di wajah Rendi. Setelah selesai Amel meletakkan kotak obat itu lagi di tempatnya. “Berbaringlah Kak di tempat tidur. Kau terlihat seperti kelelahan.”
Amel duduk kembali di samping Rendi. “Aku tidak bisa tidur beberapa hari ini karena memikirkanmu,” ucap Rendi dengan suara lemah.
Amel menarik tangan Rendi ke tempat tidur. “Kalau begitu tidurlah. Aku akan menemanimu.” Rendi menuruti perkataan Amel. Dia naik ke tempat tidur.
“Kamu jangan kemana-mana. Aku akan tidur sebentar,” ucap Rendi sambil membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Dia memegang tangan Amel lalu memejamkan matanya setelah melihat Amel mengangguk.
Amel terus memandang wajah Rendi. Amel membelai wajah tampan calon suaminya. Dia masih belum percaya kalau dia akan menikah dengan lelaki yang sangat dicintainya tiga hari lagi. Amel menoleh ke arah pintu saat mendengar bel berbunyi. Amel berjalan lalu membuka pintunya. Amel tersenyum saat melihat Sofi sudah berada di depan pintu kamar Rendi.
“Kak Rendi mana, Kak?” tanya Sofi sambil melirik ke dalam.
“Lagi tidur, masuk Sofi,” ucap Amel sembil membuka pintu dengan lebar.
Amel dan Sofi berjalan menuju sofa panjang. “Bagaimana pemeriksaan kandungannya, Kak?” tanya Sofi setelah mereka duduk berdampingan.
Amel nampak bingung menjawab pertanyaaan Sofi karema takut salah dalam menjawab. Untum sejenak, Amel menatap ragu pada Sofi. “Sebenarnya Kakak nggak hamil Sofi,” ungkap Amel dengan wajah bersalah.
Sofi sedikit terkejut saat mendengar pernyataan Amel. “Terus? Kak Rendi berbohong?”
Amel mengangguk lemah. “Kak Rendi belum pernah menyentuh, Kakak Sofi.”
Sofi menghela napas. “Sebenarnya Sofi juga ragu saat kak Rendi bilang Lakak lagi hamil anaknya. Sofi sangat yakin kalau kak Rendi nggak mungkin melakukan itu pada Kakak,” ucap sofi lemah. “Setelah kepergian Kakak tadi, .ama terus saja berbicara tentang anak yang ada di perut Kakak. Mama bahkan sudah mulai mencari nama bayi dan baju bayi di ponselnya. Walaupun mama sangat marah pada kak Rendi, tetapi mama tidak akan mengabaikan cucunya, walaupun dia ada karena kesalahan orang tuanya. Mama sangat menyukai anak kecil, Kak.”
__ADS_1
Bertambah lagi rasa bersalah Amel setelah mendengar perkataan Amel. “Kakak juga nggak nyangka kalau kak Rendi bakal ngomong kayak gitu Sofi,” ucap Amel dengan wajah muram. “Lebih baik Kakak jujur dengan mama, walaupun nantinya dia akan kecewa, tetapi setidaknya dia tahu kalau sebenarnya kak Rendi tidak pernah merusak anak orang lain.”
Amel menghela napas panjang. “Kakak takut orang tua kamu akan marah lagi Sofi”
Sofi memegang tangan Amel. “Kakak tenang saja. Mama dan papa tidak akan marah dengan Kakak. Percaya dengan Sofi,” ucap Sofi meyakinkan Amel.
Amel mengangguk. “Kalau masalah anak. Kakak bisa memberikannya langsung setelah kakak menikah dengan kak Rendi. Kalian harus berusaha keras supaya Kakak cepat memberikan cucu kepada mama sebagai permintaan maaf karena kak Rendi sudah memberikan harapan palsu pada mama.”
Wajah Amel merona merah saat Sofi membahas soal anak. Sofi pamit pergi ke kamarnya setelah dia selesai berbicang dengan Amel.
Rendi terbangun setelah tidur selama dua jam. Dia mengedarkan pandanganya keseluruh kamar saat tidak melihat keberadaan Amel. Dia langsung berjalan menuju kamar mandi untuk mengecek keberadaan Amel, tetapi kosong. Rendi langsung panik, Amel tidak memegang ponsel jadi dia tidak bisa menghubunginya.
Rendi lalu mengacak kasar rambutnya setelah itu keluar dari kamarnya menuju kamar Sofi, tetapi setelah menunggu selama lima menit, Sofi tidak juga membuka pintu kamarnya. Rendi kemudian memutuskan untuk ke kamar orang tuanya.
Rendi langsung mencari keberadaan Amel setelah mamanya membuka pintu. Dahi Lilian mengerut saat melihat anaknya tampak panik. Rendi terduduk lemas di sofa saat melihat hanya dan papa dan mamanya di kamar itu. “Maaa, Amel hilang, Ma. Dia meninggalkan Rendi,” ucap Rendi frustasi.
Lilian menggeleng saat melihat anaknya tampak panik. Lilian duduk di samping Rendi dengan santai. “Amel sedang keluar dengan Sofi.”
Rendi langsung menoleh pada mamanya. “Kenapa mama ijinkan Amel keluar? Bagaimana kalau dia pergi dan tidak kembali lagi?” Rendi nampak kesal pada mamanya.
Lilian langsung memukul anaknya dengan bantal sofa. “Kau ini ... mana mungkin dia meninggalkanmu. Di perutnya ada anakmu."
Rendi berusaha menghindari pukul mamanya. “Maaa. Rendi hanya takut kalau Amel akan pergi dengan laki-laki lain dan meninggalkan Rendi. Rendi sangat mencintai Amel Ma.”
“Dia hanya pergi ke rumah Bianca untuk membicarakan tentang persiapan pernikahan kalian. Di sana juga sudah ada Jhon. Kamu tidak perlu cemas, sebentar lagi mungkin dia akan kembali.”
Rendi menghembuskan napas lega dan langsung merebahkan tubuhnya. Dia mau merilekskan dulu tubuhnya. Dia sudah berpikir kalau Amel berubah pikiran dan pergi meninggalakannya dengan Devan.
Lilian melirik malas pada anaknya yang tampak memejamkan matanya. Ibu Rendi memutuskan untuk menghampiri suamimya yang masih terlelap. Tidak lama kemudian Amel dan Sofi datang ke kamar mamanya.
“Kau kemana saja. Aku sudah menunggumu dari tadi,” ucap Rendi sambil memeluk Amel saat dia sudah berada di dalam kamar.
Rendi melepaskan pelukannya dan mengajak Amel untuk duduk. Sofi nampak sudah merebahkan tubuhnya di sofa sementara Lilian dan Roy baru saja duduk di samping Sofi dan berhadapan dengan Amel dan Rendi.
“Bagaimana persiapan pernikahan kalian?” tanya mama Sofi pada Amel. “Kak Bianca sudah mengatur semuanya, Ma. Amel setuju dengan pilihan kak Bianca.”
Lilian mengangguk. “Kalau begitu besok kalian ke butik teman mama. Dia adalah perancang terbaik di indonesia. Kamu pilih sendiri gaun pernikahan yang kamu inginkan Mel,” ucap Mama Rendi.
“Iyaa Maa,” jawab Amel cepat.
Rendi terlihat hanya diam sambil terus memegang tangan Amel.
“Bagaimana permeriksaan tadi? Apa semua baik-baik saja?” Lilian menatap Rendi dan Amel secara bergantian.
Rendi langsung melirik pada Amel. “Ma, ada yang ingin Amel katakan,” ucap Amel dengan wajah serius.
Rendi langsung menoleh pada Amel. Dia mempunyai firasat buruk saat melihat mimik wajah Amel.
“Apa?” tanyanya. Lilian tampak penasaran dengan apa yang ingin Amel bicarakan padanya.
Rendi mencoba untuk memberikan kode pada Amel. Dia ingin tahu apa yang Amel akan katakan pada mamanya.
Amel meremas kedua tangannya untuk mengumpulkan keberanian terlebih dahulu. “Sebenarnya Amel tidak hamil, Ma. Amel juga belum pernah disentuh oleh kak Rendi. Kami belum pernah melakukan hubungan suami istri,” ucap Amel pelan sambil menunduk.
Rendi langsung menoleh pada Amel. Dia sudah menduga kalau Amel akan mengatakan yang sebenarnya pada orang tuanya.
Roy dan Lilian diam, tergambar jelas di wajah mereka kalau perkataan Amel membuat mereka terkejut. “Apa maksud semua ini?” tanya Lilian menoleh pada Rendi. “Kamu berbohong pada kami Ren?” sambung Lilian lagi.
“Maaf Ma. Rendi cuma takut Mama dan Papa tidak merestui kami. Makanya, Rendi berbohong,” ucap Rendi pelan.
__ADS_1
Roy hanya geleng-geleng kepala saat mendengar alasan bodoh anaknya. Lilian langsung bangun dan berjalan menuju Rendi. Dia meraih bantal sofa. “Kamu memang anak kurang ajar. Berani-beraninya kamu mempermainkan Mama dan Papa,” ucap Lilian sambil terus memukul-mukul badan Rendi dengan bantal sofa.
Rendi mencoba untuk menghindari pukulan mamanya. “Sakit Ma,” pekik Rendi. Rendi terus mencoba menghalau pukulan mamanya dengan kedua tangannya.
Amel dan Sofi nampak hanya diam. Meskipun merasa kasihan pada Rendi, tapi mereka tidak bisa berbuat apa-apa karena memang itu salah Rendi. Lilian berhenti memukul anaknya dan mengatur napasnya yang mulai tidak beraturan setelah merasa lelah.
“Kamu hampir saja membuat mama kena serangan jatung saat mendengar Amel sedang mengandung anak kamu.”
“Maaa, sudah Maa. Bukankah ini bagus. Itu artinya Rendi tidak merusak anak gadis orang. Dia tidak mencoreng nama baik keluarga kita,” ucap Roy menenangkan istrinya.
Lilian menjewer kuping Rendi dengan kuat. “Sakiit Ma,” pekik Rendi saat Lilian menarik telinganya dengan keras.
Rendi mengusap-usap telinganya yang memerah setelah ibunya melepaskan telinganya. “Anak ini sudah mempermainkan kita, Pa.” Rendi menghadap mamanya.
"Maafkan Rendi Ma. Tolong jangan marah Ma,” ucap Rendi dengan wajah memohon.
Dia takut kalau mamanya akan berubah pikiran dan membatalkan pernikahannya dengan Amel.
“Sudahlah, Ma. Pada akhirnya tidak ada yang dirugikan di sini. Kita jadi lebih percaya diri untuk mengadakan resepsi pernikahan mereka. Pasti akan ada gosip yang menyebar nantinya karena penikahan ini terkesan mendadak dan terburu-buru,” jelas Papa Rendi tenang.
Lilian menoleh pada suaminya. “Anak ini tetap harus diberi pelajaran karena sudah membuat kita terkejut hari ini. Mama kira kita benar-benar akan segera memiliki cucu,” ucap Lilian yang masih menampilkan wajah kesalnya.
“Maafkan Rendi, Ma. Rendi janji tidak akan membuat berbohong lagi,” ucap Rendi memohon. “Kalau soal cucu, Rendi bisa memberikan pada mama secepatnya. Asalkan mama tidak membatalkan pernikahan kami. Rendi bisa membuatnya sekarang kalau Mama sangat menginginkan cucu yang lucu,” ucap Rendi dengan enteng.
Emosi Lilian yang semula sudah mulai mereda, kembali naik setelah mendengar perkataan anaknya. Lilian kembali meraih bantal sofa dan memukul-mukul anaknya. Lilian tidak memperdulikan jeritan Rendi yang memintanya untuk berhenti memukulnya. Amel tampak kasihan sekaligus kesal dengan Rendi karena masih saja bisa bercanda. Sementara Sofi terkekeh melihat kakaknya di pukul seperti anak kecil.
“Cukup Ma. Kau bisa terkena darah tinggi nanti kalau kau memarahinya terus,” ucap Papa Rendi.
Lilian berhenti ketika napasnya mulai terengah-engah. Dia kembali duduk di samping suaminya. Rendi menampilkan wajah memelas pada Amel untuk mendapatkan perhatiannya.
Setelah amarah sedikit reda, Lilian menunjuk ke arah Rendi. “Kau ... jangan menampilkan wajahmu dulu padaku. Kau membuat kesal setiap melihat wajahmu,” ucap Lilian dengan kesal.
“Mel, setelah ini hubungi Ibumu. Kami akan langsung datang ke rumahmu untuk melamarmu dan membicarakan tentang pernikahan kalian. Besok setelah kamu memilih gaun pengantin bersamanya, ikut kami untuk menemui orang tuamu,” ucap Lilian lembut. Berbeda sekali saat berbicara dengan anaknya.
“Tidak perlu, Ma. Ibuku akan datang ke sini. Kakakku sedang menjemputnya,” jelas Amel cepat.
“Baiklah. Untuk sementara waktu ibumu bisa tinggal di apartemen Rendi yang tidak jauh dari sini agar lebih mudah kalau kita akan membicarakan tentang pernikahan kalian.”
“Iyaa, Ma.”
Lilian kemudian menoleh pada anaknya. “Dan kau ... antarkan Amel nanti ke apartemenmu.”
“Kenapa Amel tidak tinggal di kamar Rendi saja, Ma?” tanya Rendi.
“Baiklah, tapi kau harus tidur di jalanan,” jawab Lilian kesal.
“Maa, aku ini anakmu. Kenapa kau jahat sekali padaku?” tanya Rendi dengan mimik yang dibuat sedih.
“Aku tidak percaya denganmu lagi. Kau sudah membohongi mama dua kali hari ini.”
“Aku bisa tidur di kamar lain Ma, Amel bisa menempati kamarku.”
“Apa yang dikatakan ibunya nanti kalau Amel menempati kamarmu. Kamu hanya akan terpisah dengannya selama tiga hari. Kau harus sabar. Amel tidak akan pergi ke mana-mana,” ucap Lilian.
Amel memegang lengan Rendi. “Kak, sudah. Apa belum cukup kakak dipukuli? Kita masih bisa bertemu,” ucap Amel pelan.
“Baiklah, kalau begitu,” ucap Rendi pasrah.
Setelah perbincangan mereka selesai. Rendi, Amel dan Sofi keluar dari kamar orang tua Rendi. Sofi menuju kamarnya, sementara Rendi mengantar Amel ke rumah Raka untuk membicarakan tentang pernikahannya dengan Rendi, sambil menunggu ibu, adik dan Devan sampai di Jakarta.
__ADS_1
Bersambung...