
Devan tampak masih diam. Dia menatap Rendi yang terlihat sedang menatap tajam pada dirinya.
Tuan Marco beralih menatap Rendi dan Kenan. "Dan ini adalah Devan dan tunangannya Amelia. Mereka adalah pasangan muda yang akan segera menikah," ucap Marco tersenyum lebar.
Dia tidak menyadari kalau di antara mereka sama sekali tidak ada yang mengulurkan tangan, bahkan tidak ada yang mau membuka suara.
Kenan melirik Rendi yang terlihat menatap tajam terus pada Devan. Dia sebenarnya datang ke sini untuk menemani Rendi menghadiri undangan rekan bisnisnya. Tidak disangka kalau mereka akan bertemu dengan Devan dan Amel di pesta tersebut.
Rendi maju selangkah. "Rendi, senang berkenalan dengan anda tuan Devan," ucap Rendi sambil mengulurkan tangnnya pada Devan. Rendi sengaja berpura-pura tidak mengenal Devan.
Devan menyambut tangan Rendi dengan senyum kaku. “Devan dan ini tunanganku Amelia," ucap Devan sambil merapatkan tubuhnya pada Amel dengan tangan yang semakin erat memeluk pinggang Amel.
Rendi beralih pada Amel. "Apa benar kau adalah tunangannya?" tanya Rendi sambil mengulurkan tangannya pada Amel.
Tuan Marco merasa sedikit aneh dengan dengan suasana di sekitanya, yang tiba-tiba terasa dingin. Dia memutuskan untuk memperhatikan dari interaksi mereka bertiga.
Amel tampak ragu untuk menyambut uluran tangan Rendi. "Tentu saja, kami akan segera menikah. Aku harap anda bisa datang ke acara pernikahan kami nanti," sela Devan saat melihat Amel hanya mengulurkan tangannya tanpa menjawab pertanyaan Rendi.
Rendi tersenyum miris saat melihat cincin di jari manis Amel. Dia menduga kalau itu adalah cincin pertunangan mereka. "Tentu saja aku akan datang kalau kau tidak takut aku akan merebut calon pengantin nanti," ucap Rendi penuh penekanan. Mereka sedikit terkejut mendengar perkataan Rendi.
"Maksudku aku akan datang, jika kalian mengundangku nanti," ralat Rendi lalu menatap dingin pada Devan setelah itu beralih pada Amel yang tampak diam mematung dengan wajah pucat. Lidah Amel terasa kelu saat ingin menjelaskan pada Rendi.
Rendi kemudian beralih pada tuan Marco. "Maaf tuan Marco, tapi saya masih ada urusan lain. Saya permisi dulu," pamit Rendi pada tuan Marco.
Rendi menoleh pada Amel dan Devan. "Aku ucapkan selamat untuk kalian, semoga kalian bahagia." Rendi lansung pergi setelah itu diikuti oleh Kenan di belakangnya, setelah dia berpamitan dengan Amel, Devan, dan juga tuan Marco.
Amel langsung lemas, saat melihat Rendi sudah pergi, tubuhnya ditangkap oleh Devan ketika dia tidak bisa lagi menopang bobot tubunya. Amel tampak menatap kosong di depannya. Devan memapah Amel menuju tempat duduk.
Devan membantu Amel untuk duduk di salah satu kursi, setelah itu dia mengambilkan air putih untuk Amel. "Apa kau baik-baik saja?" tanya Devan setelah Amel meminum air putihnya. Ada perasaan kecewa dan sedih saat melihat keadaan Amel seperti itu. Devan kemudian duduk di samping Amel.
Amel mengangguk lemah. "Aku baik-baik saja, Kak."
"Baiklah, kita makan dulu, setelah itu baru kita pulang. Nanti kamu bisa sakit kalau perutmu masih kosong," ucap Devan lembut. "Kamu tunggu di sini, aku akan mengambilkan kau makanan." Devan melangkah cepat untuk mengambilkan makanan untuk Amel.
Setelah Amel makan, Devan langsung mengantar Amel pulang. Dia tidak bisa lagi berlama-lama di pesta itu. Amel hanya diam saja, setelah berada di dalam mobil menuju jalan pulang ke rumah Raka.
Devan mengantar Amel sampai ke depan pintu rumah Raka untuk memastikan Amel baik-baik saja. Devan berjalan menuju mobilnya setelah melihat Amel masuk ke dalam rumah Raka.
Amel berjalan dengan lemah menuju kamarnya. Dia menoleh sejenak pada jam pada dinding, jam sudah menunjukkan pukul 10 malam. Dia masih memikirkan tentang kejadian tadi. Setelah Amel membersihkan tubuhnya, Amel merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Amel mencoba untuk menghubungi Kenan. Berharap dia masih bersama Rendi.
Amel menunggu dengan cemas kabar dari Rendi dan Kenan. Matanya tidak mau juga terpejam, untung saja besok adalah hari sabtu, kantornya libur jadi dia tidak perlu khawatir akan kesiangan.
__ADS_1
Pada pukul 1 pagi dini hari, Amel terbangun saat mendengar bunyi telpon masuk. Dia buru-bru meraih telponnya saat melihat Kenan yang menelpon.
“Halo Ken...." Ucapan Amel terpotong saat mendengar teriakan Kenan dengan suara keras, suara Kenan bercampur dengan suara bising di belakangnya.
“Mel, apakah kau bisa ke sini? Rendi... Rendi....”
Amel langsung berdiri saat mendengar nama Rendi. “Kak Rendi kenapa??” tanya Amel panik.
Masih terdengar suara bising dari belakang Kenan. “Kau harus ke sini, Mel. Dia membuat kekacauan di sini. Dia mabuk berat dan tidak mau berhenti minum, bahkan dia mulai berkelahi dengan pengunjung club lain. Dia terus memanggil namamu, Mel,” teriak Kenan dengan keras.
Mata Amel membelalak. Dia terkejut saat mendengar penuturan Kenan. Masalahnya selama ini Rendi tidak pernah menyentuh minuman keras sekalipun. Dia tidak pernah merusak dirinya dengan hal yang seperti itu.
“Kalian di club mana? Aku akan segera ke sana. Berikan alamat clubnya,” ucap Amel cepat. Dia sudah berjalan menuju lemari pakaian untuk mengganti pakaian. Amel tampak panik sekali.
Amel berlari cepat ke luar kamar dan mengetuk pintu kamar Raka dengan keras. “Bang, anterin Amel bang, ke Club Jenja sekarang,” pinta Amel dengan panik saat melihat Raka membuka pintu kamarnya dengan setengah sadar. Raka mengucek matanya dan tampak menguap. Dia masih belum bisa mencerna ucapan Amel.
“Ayoo Bang cepetan,” ucap Amel lagi saat melihat Raka masih belum merepson kata-katanya.
“Kamu mau ngapain ke sana jam segini?” tanya Raka dengan dahi menyatu setelah dia sadar sepenuhnya.
“Rendi mabuk Bang di sana. Dia bikin kekacauan di club dan berkelahi dengan pengunjung lain. Tolong anterin Amel bang,” ucap Amel dengan panik.
Raka berjalan masuk lagi ke kamarnya setelah melihat anggukan dari Amel. Raka sebenarnya kesal dengan Rendi. Rendi adalah saingannya tetapi dia harus direpotkan saingannya dalam keadaan seperti ini. Dia bahkan tidak bisa menikmati tidur nyenyaknya karena perbuatan saingannya itu.
Raka berjalan keluar kamar setelah mengambil kunci mobil. Sebenarnya Amel sudah bisa mengendari mobil, tapi Raka dan Tamara selalu melarangnya untuk membawa mobil jika jaraknya jauh. Mereka khawatir terjadi apa-apa dengan Amel.
“Ayoo,” ajak Raka setelah dia membuka pintu depan mobilnya. Amel juga langsung membuka pintu depan dan masuk ke dalam mobil.
“Ada apa lagi dengannya? Kalian bertengkar?” tanya Raka sambil menoleh pada Amel yang terlihat sangat cemas.
“Nggak Bang, kak Rendi cuma salah paham aja,” jawab Amel sambil sesekali melirik ke layar ponselnya.
“Halo, iyaa ... ini Amel sedang ke sana,” ucap Amel saat dia sedang menerima telpon masuk.
Terdengar suara putus asa Kenan di sebrang telpon sana. “Baiklah, aku sudah tidak bisa menghentikannya lagi Mel. Dia sudah terluka karena berkelahi dengan beberapa pengunjung lain. Dia bisa saja mati karena berkelahi, atau karena meminum alkohol, dia tidak mau berhenti minum,” teriak Kenan lagi dengan nada frustasi.
Amel semakin panik saat mendengar Kenan. “Yaa, sebentar lagi akan sampai, tolong tahan kak Rendi sebentar,” pinta Amel dengan wajah pucat dan panik. Amel sangat mengkhawatirkan keadaan Rendi saat ini.
“Kenapa?” tanya Raka setelah Amel menyudahi pembicaraanya di telpon.
Amel langsung menoleh pada Raka. “Kita harus cepat Nang. Rendi sudah terluka. Dia juga sudah mabuk berat,” ucap Amel cemas.
__ADS_1
Mobil melaju dengan cepat, untung saja jalanan sepi karena memang sudah waktunya untuk beristirahat. Mobil Raka sudah memasuki area clubalam Jenja. Amel dan Raka langsung berlari masuk setelah Raka memarkirkan mobilnya.
Amel dan Raka berusaha mencari keberadaan Rendi dan Kenan. Amel sedikit menutup telinganya karena terdengar suara hingar bingar musik yang memekakkan telinga. Amel mencoba menghubungi Kenan lagi sambil terus berjalan masuk mencari keberadaan mereka.
“Aku sudah sampai, kau di mana?” tanya Amel saat telponnya sudah terhubung dengan Kenan.
“Kau tunggu saja di dekat pintu masuk khusus VIP Room. Aku akan menunggu di sana,” jawab Kenan cepat.
“Iyaa.” Amel menyudahi permbicaraannya dengan Kenan. “Kita tunggu di dekat pintu masuk khusus VIP Room Bang, Kenan akan menunggu di sana,” terang Amel pada Raka.
Mereka mencoba bertanya kepada salah satu pelayan yang yang melintas di depan mereka. Mereka akhirnya berjalan dengan diantar oleh pelayan tersebut sampai di depan pintu masuk ke ruangan khusus VIP Room.
“Mel, Rakax” panggil Kenan saat dia membuka pintu masuk khusus VIP Room.
Amel dan Raka seketika menoleh ke belakang. “Kak Rendi di mana?” tanya Amel dengan wajah cemas.
“Dia ada di dalam. Aku sudah tadi sudah menitipkan kepada salah satu pelayan di dalam untuk menjaganya. Ayoo ikut aku.”
Kenan melangkah cepat masuk ke dalam, diikuti Amel dan Raka dari belakang. Saat berada di dalam, mata Amel terbelalak saat melihat keadaan Rendi. Terlihat Rendi sudah mau berkelahi lagi dengan pengujung lain. Tidak ada yang mencoba untuk menghentikan perkelahian mereka. Mungkin karena mereka juga tidak mau terkena masalah.
Club itu adalah milik teman Rendi. Dulu saat akan membuka club itu Rendi yang memberikan bantuan biaya kepada temannya sehingga semua orang yang bekerja di sana mengenal Rendi.
“Kau ini, kenapa berkelahi lagi? Bukankah sudah kubilang untuk duduk tenang?" Kenan menahan tubuh Rendi saat dia akan menghajar pria yang sedang berkelahi dengannya tadi.
Raka maju dengan langkah cepat dan menghajar dengan kuat pria tinggi yang berniat memukul kepala Rendi dengan botol minum. Kenan dan Rendi menoleh pada pria yang sudah tersungkur di lantai akibat dari pukulan Raka.
Rendi yang masih setengah sadar menoleh pada Raka yang terlihat maju mendekati pria yang tersungkur itu. Raka membungkuk dan mencengkram kerah baju pria itu.
“Pergi dari sini atau kalau tidak, akan kubuat kau tidak bisa bangun lagi!” ancam Raka lalu menghempaskan tubuh pria itu ke lantai dengan kuat.
Raka berjalan menghampiri Amel, saat melihat pria itu sudah keluar dari ruangan itu dengan membanting botol minuman itu ke lantai.
Amel terlihat diam mematung sambil menatap Rendi dengan tatapan terkejut dan mata berkaca-kaca. Keadaa Rendi saat ini sangat menyedihkan, kemejanya sudah kusut dengan kancing dua atas yang sudah terbuka, rambut yang berantakan, mata memerah, sudut bibirnya pecah dan mengeluarkan darah.
Rendi yang masih ditahan oleh Kenan, mencoba melepaskan diri saat tatapannya menangkap sosok Amel. Dia mulai berjalan dengan tubuh yang tidak seimbang.
“Ameeel... Amel... Amel... wanitaku....” racau Rendi sambil terus berjalan menghampiri Amel.
Rendi menggeleng-gelengkan kepalanya sambil berkata, “Bukan... bukan. Dia bukan wanitaku lagi. Dia sudah menjadi milik Devan, hahaha,” racau Rendi sambil tertawa seperti orang gila. Raka, Kenan, dan Amel hanya bisa diam saat melihat Rendi terus saja berjalan sambil berbicara tidak jelas.
Bersambung...
__ADS_1