Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Perpisahan


__ADS_3

Rendi berusaha mengontrol emosinya. Rendi mulai bingung, kalau Amel tahu dia pergi dengan Friska ke Bali, dia takut Amel akan salah paham dengannya. "Baiklah, aku akan pergi denganmu, tapi ingaat Ellen, ini terakhir kalinya aku pergi denganmu, kau tidak boleh berbuat macam-macam kali ini."


"Baiklah," ucap Friska singkat.


Rendi melajukan mobilnya menuju Bandara. Mereka menempuh waktu 1 jam untuk sampai di sana. Friska dan Rendi terlihat sudah memasuki Private Jet, tidak lama kemudian peswat yang mereka tumpangi lepas landas. Mereka tiba pukul 2 siang di Bali, mengingat ada perbedaan waktu 1 jam antara Jakarta dan Bali. Friska sudah mempersiapkan semuanya di Bali, termasuk mobil yang akan membawa mereka kemanapun mereka akan pergi.


"Apa kau ingat Ren? ini adalah tempat yang kita datangi pertama kali saat kita tiba di Indonesia," ucap Friska sambil menoleh pada Rendi ketika mereka sudah duduk bersebelahan. Mereka saat ini sedang duduk di hamparan pasir putih yang ada di pantai Laguna Bali. "Di sini dulu kau berjanji untuk selalu menjagaku. Kau bilang tidak akan pernah meninggalkanku," ucap Friska dengan suara bergetar.


"Aku tahu kalau kau mengatakan itu karena kau mengira aku adalah Kila, tapi walaupun begitu aku sangat senang saat itu. Aku berpikir kalau kau benar-benar akan menjadi milikku setelah pertunangan kita diresmikan, tetapi kenyataannya kau akan menikah dengan orang lain. Apa kau tahu sehancur apa hatikku saat mendengar kau akan segera menikah dengan Amel?" tanya Friska dengan mata berkaca-kaca.


"Ellen, aku mohon lepaskan aku. Aku hanya akan bahagia bila hidup dengan Amel. Sekeras apapun kau barusaha, aku tetap tidak bisa mencintaimu. Harusnya kau sadar, kita sudah saling mengenal dari kecil, jika aku bisa menyukaimu, pasti dari dulu aku sudah memilihmu."


"Apa yang akan kau lakukan jika aku tidak mau melepasmu?"


"Ellen, tolong jangan mempersulitku. Kau tahu sendiri saat Amel memutuskan aku waktu itu, aku sangat terpuruk. Aku hampir gila Ellen. Apa kau mau aku seperti dulu?" tanya Rendi, "kalau kau berniat untuk membuat pernikahanku batal, kau sama saja menghancurkan hidupku. Kalau kau mencintaiku, tolong relakan aku."


“Tapi aku sangat mencintaimu Ren, tidak mudah bagiku untuk melepasmu. Aku sudah menyukaimu dari dulu. Kenapa kau tidak pernah melihatku sekalipun,” ujar Friska dengan air mata yang sudah mengalir.


“Ellen, bukankah kita sudah pernah membahasnya. Kau tahu kalau aku menyayangimu. Aku tidak bisa lebih dari itu. Aku tidak akan menjauh kalau saja kau tidak memaksaku. Aku juga tidak ingin menyakitimu,” ucap Rendi dengan wajah tak berdaya.


Friska mulai terisak. “Tapi kau sudah menyakitiku Ren. Aku sudah terbiasa dengan adanya dirimu. Dari dulu kita selalu bersama. Kalau kau menikah dengan Amel, siapa yang akan menjagaku! Kau tahu aku selulu bergantung padamu,” Air mata Friska semakin deras mengalir di pipinya.


Rendi mendekat lalu memeluk Friska. “Maafkan aku Ellen, ini semua salahku. Maafkan aku karena sudah menyakitimu. Maaf juga karena tidak bisa membalas cintamu. Kau tahukan aku tidak bisa melihatmu menangis,” ucap Rendi sambil mengelus kepala Friska.


“Berhenti menangis, melihatmu seperti ini membuatku hatiku juga sakit. Kau adalah orang berarti dalam hidupku Ellen. Aku seperti ini juga karena bantuanmu, tapi hanya ini yang bisa aku lakukan untukmu. Aku tidak bisa memberikan hatiku untukmu. Aku benar-benar minta maaf Ellen,” lanjut Rendi lagi dengan raut wajah sedih.


Friska hanya diam sambil menangis dalam pelukan Rendi. “Aku sangat mencintaimu Ren. Dari dulu hanya kau yang aku cintai. Aku tidak tahu bagaimana melanjutkan hidupku bila tidak ada kau.”

__ADS_1


“Aku mohon lepaskan aku Ellen. Aku yakin kau akan menemukan laki-laki yang baik nanti. Tolong biarkan aku hidup bahagia dengan Amel,” mohon Rendi dengan wajah sendu.


“Masih ada Kenan yang menyayangimu. Aku juga akan menjagamu Ellen, tapi aku tidak bisa selalu berada di sisimu. Ada Amel yang harus aku prioritaskan. Kemana Ellen yang dulu! Aku rindu kau yang dulu. Aku seperti tidak mengenal dirimu yang sekarang. Dulu kau tidak pernah menyakiti orang.”


Friska melepaskan pelukan Rendi. “Kalau aku berubah seperti dulu apa kau tidak akan menjauhiku?” ucap Friska sambil menghapus air matanya.


“Aku tidak akan menjauhimu, tetapi kita juga tidak bisa dekat seperti dulu. Setidaknya kita tidak saling membenci Ellen. Aku hanya tidak ingin Amel salah paham dengan kedekatan kita. Walaupun kau pernah menyikiti Amel, tetapi dia tidak membencimu. Amel bahkan membujukku untuk bisa menemuimu hari ini. Kau seharusnya bisa bersikap dewasa seperti dia.”


“Aku juga sebenarnya tidak pernah ada niat untuk menyakiti Amel Ren. Aku terpaksa melakukannya karena kau lebih memilihnya dari pada aku yang lebih dulu mencintamu.”


Friska menatap Rendi yang duduk di depannya. “Aku akan setuju kau menikah dengan Amel, asalkan aku masih bisa bertemu denganmu. Aku tidak minta apa-apa Ren. Aku hanya ingin melihatmu dari dekat. Walaupun aku tidak bisa memilikimu setidaknya kau tidak menjauhiku,” pinta Friska dengan wajah penuh harap.


“Aku harus bicara dengan Amel terlebih dahulu, jika dia setuju, aku juga tidak akan keberatan.”


Friska mengangguk lalu berdiri dan mengulurkan tangannya pada Rendi. “Kalau begitu temani aku jalan-jalan di Bali sampai waktunya habis. Aku harus membuat kenangan manis denganmu. Aku mohon padamu ijinkan aku menganggapmu sebagai pacarku hari ini,” pinta Friska.


Friska tersenyum senang. “Aku janji. Aku hanya akan memegang lenganmu saja.”


Walaupun dalam hati Rendi keberatan tapi tidak punya pilihan lain. Bagaiamanapun juga Friska sudah berjasa dalam hidupnya, tidak ada salahnya untuk kali ini dia membuat Friska senang.


“Baiklah, hanya untuk hari ini saja.”


Friska mengangguk senang dengan senyum lebarnya. Mereka meninggalkan pantai Laguna. Friska mengajak Rendi ke daerah Kuta. Friska terlihat sangat bahagia saat berjalan bersama Rendi. Mereka jalan-jalan di sekitar Kuta. Mereka tampak berwisata kuliner, berbelanja, dan berakhir di pantai kuta Bali.


Friska terus saja mengajak Rendi berjalan kaki menyusuri pantai Kuta sambil bertelanjang kaki. Sesekali Friska mendorong Rendi ke tepi bibir pantai. Rendi tersenyum saat melihat wajah bahagia Friska. Bari kali ini melihat Friska tersenyum lebar semenjak kejadian kecelakaan dulu. Rasa bersalahnya tiba-tiba muncul saat membayangkan sikap acuhnya pada Friska dulu.


“Friska!" panggil Rendi saat melihat Friska sedang bermain air. Rendi sedang duduk di tepi pantai sambil memandang Friska.

__ADS_1


Friska menoleh. “Apa?” tanya Friska.


“Kita harus pulang, ini sudah jam 5 sore. Di jakarta sudah jam 4, Amel hanya menginjinkan aku pergi denganmu sampai sore.”


Friska menghampiri Rendi lalu duduk di depannya. “Tidak bisakah kita pulang satu jam lagi. Aku masih ingin bersamamu sebentar lagi. Aku janji kita akan pulang setelah itu. Aku akan berbicara dengan Amel dan meminta ijin padanya, kau bisa menelponnya sekarang.” Friska menampilkan wajah penuh harap. Rendi tidak tega menolak permintaan Friska.


“Ponselku mati. Aku tidak bisa menghubungi Amel. Aku takut dia mencariku nanti.”


“Aku akan ikut denganmu saat kita tiba di Jakarta. Aku akan menjelaskan langsung pada Amel. Aku yang akan bertanggung jawab kalau dia marah denganmu!”


Rendi menghela napas. “Baiklah.”


Friska langsung tersenyum senang. Friska dan Rendi berjalan menuju cafe di yang berada di pinggir pantai Kuta untuk menikmati sunset. Setelah puas berada di pantai Kuta. Akhirnya mereka memutuskan untuk pulang. Rendi tampak gelisah. Dia takut kalau Amel akan marah padanya. Mereka tiba di Bandara Jakarta pukul 9 malam. Rendi melajukan mobilnya menuju apartemen Friska. Rendi turun dari mobil untuk mengantar Friska sampai pintu depan apartemennya.


“Ren, bolehkah aku memelukmu untuk yang terakhir kalinya,” pinta Friska saat mereka sudah tiba di depan pintu apartemennya.


Friska langsung memeluk erat Rendi setelah mendapatkan persetujuan dari Rendi. Air matanya menetes lagi mengingat kalau Rendi akan menikah.


“Maafkan aku Ellen. Aku sungguh minta maaf karena selalu menyakitimu,” ucap Rendi pelan, “dan terima kasih untuk semua pengorbanan yang kau lakukan untukku selama ini.”


Friska mengangguk kemudian melepaskan pelukannya. “Apa benar aku tidak perlu ikut denganmu untuk menjelaskan pada Amel?” tanya Friska dengan wajah ragu.


“Tidak perlu. Aku saja yang menjelaskan padanya,” tolak Rendi, “lebih baik kau istirahat, ini sudah malam. Aku pulang,” pamit Rendi.


Saat dalam pejalanan menuju apartemen Friska, Rendi terlihat cemas. Friska tahu kalau Rendi takut Amel akan marah sehingga dia menawarkan diri untuk menjelaskan pada Amel tadi, tapi ditolak oleh Rendi. Dia tidak ingin memperkeruh masalah dengan kedatangan Friska ke sana. Apalagi di sana ada keluarga Amel. 


Flashback Off

__ADS_1


Bersambung.


__ADS_2