Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Suami Tampanku


__ADS_3

Amel berjalan menuju meja rias dengan pelan, dia menatap wajahnya sejenak lalu menyisir rambut panjangnya. Amel kembali meraih ponselnya yang dia letakkan di meka rias tadi. Dia mulai membalas satu-persatu pesan dari temannya.


Rendi yang baru saja keluar kamar mandi menatap heran istrinya karena Amel tampak terseyum sendiri. Dia melangkah pelan tanpa menimbulkan suara. Rendi membungkuk lalu melingkarkan tangannya pada pinggang Amel dan meletakkan dagunya di pundak istrinya.


“Kamu sedang apa, Sayang?” tanya Rendi sambil memeluk Amel dari belakang.


Walaupun Amel tau kalau Rendi yang memeluknya, dia tetap terkejut karena gerakan tiba-tiba suaminya itu.


Amel menoleh sedikit pada Rendi. “Membalas pesan, Kak,” jawab Amel dengan senyum tipisnya. Dia melanjutkan membalas pesan teman-temannya.


“Kau sedang membalas pesan siapa sampai senyum-senyum sendiri?” Aku bisa cemburu kalau melihatmu membalas pesan sambil tersenyum begitu,” ucap Rendi sambil mengendus leher Amel.


Amel bergidik dan merasa geli saat Rendi menghembuskan napas halus di telinga dan seputaran leher. Amel lalu menghentikan aktifitasnya. “Aku membalas pesan temanku yang mengucapkan selamat atas pernikahan kita, Kak. Aku tersenyum karena perkataan aneh para sahabatku. Mereka terkadang konyol jika sudah membahas sesuatu.”


Rendi mulai menelusuri leher Amel dengan bibirnya. Amel memukul pelan tangan Rendi yang ada di perutnya. “Kak, berhenti. Ini masih pagi.” Amel bergerak untuk menghindari sentuhan bibir Rendi di lehernya.


Rendi tetap tidak menghentikan kegiatan baru yang disukainya. “Aku sangat suka wangi tubuhmu, Sayang.” Amel melepaskan tangan Rendi dari perutnya dan langsung merubah posisi tubuhnya menghadap Rendi.


Amel lalu memegang wajah Rendi, tersenyum kemudian mengecup singkat bibirnya. “Untuk pagi ini cukup sampai di sini. Tidak boleh lebih dari ini. Lebih baik Kakak memakai baju, nanti kakak bisa masuk angin.”


Rendi langsung menampilkan mimik wajah sedih untuj menarik simpati Amel. "Heem. Suamiku ini imut sekali," goda Amel sambil mencubit pelan pipi Rendi.


"Kau membuatku ingin lagi, Sayang!"


"Cukup Kak. Badanku masih sakit semua. Sepertinya badanku akan remuk sebentar lagi. Kita bisa melakukannya nanti lagi, Kak. Aku butuh istirahat."


Seketika wajah Rendi menjadi cerah. "Baiklah. Kau bisa menyimpan tenagamu untuk nanti malam. Aku tidak akan membiarkanmu tidur malam ini."


"Kakak, jangan menakutiku," pekik Amel dengan wajah kesal.


Rendi tersenyum nakal lalu berkata, "Aku ingin membagiakanmu, Sayang, bukan menyakitimu."


Wajah Amel seketika memerah. Bayangan saat mereka melakukan pergulatan panas kembali terlintas di pikirannya. "Sudah pakai baju sana! jangan menggodaku terus."


"Baiklah, berikan aku satu ciuman lagi.” Rendi mendekatkan wajahnya pada Amel.


"Cuuup." Amel mengecup singkat bibir Rendi.


Belum sempat Amel menjauhkan wajahnya, Rendi sudah menarik tengkuk Amel. Dengan cepat dia ******* bibir istrinya. Amel hanya diam membiarkan Rendi terus menyesap dan melu-mat bibirnya.

__ADS_1


“Aku akan menyimpan sisanya untuk nanti malam.” Rendi kemudian berjalan menuju lemari untuk memakai bajunya.


Amel terdiam sesaat kemudian menatap Rendi yang sedang berjalan.


Astaga, jantungku berdetak kencang sekali. Ini tidak baik untuk kesehatan jantungku kalau melihatnya tidak memakai baju terus. Aku harus bisa mengendalikan diriku.


Lama-lama aku bisa tergoda. Dia bisa meruntuhkan pertahananku kalau begini terus. Melihatnya tidak memakai baju seperti itu menggoyahkan imanku. Aku ingin sekali memeluknya, tapi aku takut tidak bisa menahan diri nanti.


Aduuuh, kenapa otakku jadi kotor begini? Ini pasti gara-gara dia sering menggodaku dengan kata-kata mesumnya itu, tapi aku sedang tidak bermimpikan? Dia sungguh sudah menjadi suami, kan?


Amel mencubit pipinya. Sakit ternyata. Berarti dia benar suamiku. Suamiku memang tampan dilihat dari manapun.


Amel terus menatap ke arah Rendi yang sedang berjalan ke arahnya.


“Apa yang sedang kau pikirkan Sayang sehingga kau menatapku seperti itu?” Lamunan Amel langsung buyar saat mendengar pertanyaanRendi. Amel mendadak gugup seketika.


“Mana bajuku, Kak.” Amel berusaha mengalihkan pembicaraan mereka.


Rendi lalu berjongkok di depan Amel. “Pake bajuku saja, Sayang. Kita tidak akan keluar kemana-mana. Tidak akan yang melihat tubuhmu selain aku.”


Baju yang dipakai Amel saat ini adalah kaos polos Rendi yang kebesaran di tubuhnya. Dia seperti orang-orangan sawah saat memakai baju Rendi. Perbedaan tinggi badan mereka membuat baju yang dipakai Amel menutupi tubuhnya sampai bagian pahanya.


“Tapi aku tidak nyaman, Kak,” ucap Amel menunduk dan meremas tangannya. Saat ini Amel hanya memakai baju Rendi dan dalam saja.


“Aku belum terbiasa, Kak,” jawab Amel pelan, “bukankah kakak selalu marah dulu kalau aku memakai pakaian pendek dan terbuka?” lanjut Amel lagi.


Rendi tersenyum lalu meraih tangan Amel kemudian mengecupnya. “Karena dulu kau belum menjadi milikku. Aku tidak bisa menahan diri kalau kau memakai pakaian terbuka. Aku juga tidak rela orang lain melihat tubuhmu. Mulai saat ini, kau hanya boleh memakai baju seperti ini saat berdua denganku di rumah. Kau tidak boleh memperlihatkan pada orang lain karena kau hanya milikku. Hanya aku yang boleh melihat dan menyentuhmu.” Rendi berucap dengan wajah serius seraya menatap istrinya.


“Iyaa, Kak.”


"Kau tidak boleh ke mana-mana selama 2 hari ke depan. Kita harus bekerja keras membuat cucu untuk mama. Mungkin kau tidak akan bisa tidur nyenyak 2 hari ini."


Mata Amel terbelalak. Dia tidak bisa membayangkan kalau Rendi melakukannya terus menerus. Saat ini saja dia masih merasakan sakit. Dia sudah tidak memiliki tenaga lagi.


"Aku hanya bercanda, Sayang," lanjut Rendi lagi saat mendapatkan tatapan tajam dari istrinya. "Tapi kita memang tidak akan ke mana-mana selama 2 hari. Aku ingin menghabiskan waktu berdua denganmu."


"Kak, Bolehkah kapan-kapan aku menemui Raka dan Devan?"


Rendi terdiam sesaat kemudian mengusap pipi Amel dengan lembut. "Kau boleh menemui Raka kapanpun itu selagi kau meminta ijinku, tapi untuk Devan, kau boleh menemuinya jika bersamaku. Kau harus menjaga jarak dengannya, bagaimanapun kita sudah menikah. Aku tidak mau kau terlalu dekat dengannya. Aku tahu kalau dia adalah orang yang selama ini melindungimu, tapi aku adalah pria pecemburu, Mel. Aku hanya takut kalau dia tidak bisa melepasmu kalau kau masih dekat dengannya. Aku harap kau bisa mengerti dengan sikapku ini."

__ADS_1


"Iyaa aku mengerti, Kak"


"Bukan hanya kau Mel, aku juga akan menjaga jarak dengan Friska. Aku tidak mau kita bertengkar hanya karena salah satu orang dari masalalu kita. Begitu banyak rintangan yang harus aku lalui untuk mendapatkanmu. Aku tidak mau kalau sampai kita terpisah lagi."


"Iyaa Kak, aku tahu. Aku tidak akan meninggalkanmu. Aku sangat mencintaimu, Kak."


"Aku juga sangat mencintaimu Mel, sangat... sangaat mencintaimu," ucap Rendi sambil terus mengecup punggung tangan Amel, "lebih baik kita sarapan dulu," lanjut Rendi saat mendengar bunyi perut Amel.


Amel mengangguk. "Iyaa Kak. Aku juga sudah lapar."


Rendi tersenyum kemudian menggendong Amel. “Turunkan aku, Kak.” Amel mengalungkan tangannya pada leher Rendi karena takut terjatuh.


“Jangan bergerak, Sayang, kau bisa jatuh nanti.” Seketika Amel langsung menghentikan gerakannya. Dia menuruti perkataan Rendi untuk tetap diam.


Rendi kemudian menurunkan Amel dengan hati-hati. “Duduklah, kita sarapan dulu.” Rendi menarik kursi di depannya.


"Baiklah," jawab Amel seraya mengangguk.


Mereka mulai sarapannya tanpa mengeluarkan suara apapun.


“Kak, bolehkah aku bertemu dengan Lisa dan Olive sebelum mereka kembali ke Bali?” tanya Amel setelah dia menyelesaikan sarapannya.


Rendi mengelap tisu di sudut bibirnya setelah mengahabiskan sarapannya. “Kapan kau akan menemui mereka?”


“Mungkin besok, Kak.”


“Tapi apa kau sudah bisa berjalan? Bukankah masih sakit?”


“Sudah lebih baik, Kak. Hanya sakit sedikit.”


“Bagaimana kalau kita bulan madu ke Bali saja? kita memakai privete jet papa saja ke sana. Kau juga bisa mengajak mereka untuk ikut dengan kita,” saran Rendi.


Amel langsung tersenyum bahagia mendengar ususlan suaminya. “Bolehkah kita mengajak yang lain juga?”


Rendi tampak berpikir sejenak. “Baiklah. Kita akan mengajak semuanya.” Rendi berencana mengajak keluarga Amel dan dan keluarganya untuk ikut serta ke Bali. "Kau juga boleh mengajak Raka dan Devan. Anggap saja sebagai ucapan terima kasihku pada mereka karena sudah menjagamu selama ini."


Seketika wajah Amel menjadi cerah. “Benarkah??”


Rendi mengangguk. "Hhhmmm," gumam Rendi

__ADS_1


Amel langsung memeluk erat Rendi. "Terima kasih, Kak. Kau memang suamiku yang paling baik." Amel kemudia mengecup pipi Rendi.


Bersambung..


__ADS_2