Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Belajar Merelakan


__ADS_3

Devan menghentikan langkahnya saat melihat Friska belum juga bangun dari duduknya. “Apa kau ingin duduk di situ sampai toko ini tutup?”


Friska mengangkat kepalanya. “Kau pikir aku tidak punya kerjaan?” ucap Friska dengan wajah kesal.


Devan menaikkan sudut bibirnya. “Bukankah kau memang tidak memiliki pekerjaan. Satu-satunya kerjaanmu hanya mengejar cintamu yang tidak terbalas itu,” ucap Devan sinis.


Friska bangun dari duduknya kemudian menyusul langkah Devan menuju kasir. Friska tersenyum mengejek. “Bukankah kau sama saja denganku? Mengejar cinta yang sia-sia?”


“Setidaknya aku masih memiliki pekerjaan lain selain mengejar cintaku, tidak sepertimu.”


Friska mensejajarkan langkahnya dengan Devan. “Uangku banyak. Aku tidak perlu bekerja lagi. Uangku tidak akan habis, walaupun aku tidak bekerja. Aku tidak akan jatuh miskin msekipun, aku selalu menghambur-hamburkan uangku setiap hari," ucap Friska dengan wajah sombong


Mereka tiba di depan kasir. “Totalnya Rp.123.653.000,00 Tuan,” ucap pegawai kasir itu sopan.


Devan memberikan kartu debitnya. “Kenapa kau yang bayar? Biar aku saja,” ucap Friska sambil menahan tangan Devan ketika akan memberikan kartunya.


Devan menepis tangan Friska kemudian berkata, “Pakai ini saja.”


Dengan ragu pegawai kasir itu mengambil kartu yang ada di tangan Devan kemudian melakukan transaksi pembayaran.


“Haaah..? Aku lupa membawa dompet.” Friska sedang merogoh ke dalam tasnya untuk mencari dompetnya. Ini pertama kalinya dia lupa mebawa dompetnya.


Devan tampak acuh ketika mendengar perkataan Friska. “Silahkan, Tuan. Ini kartu dan barangnya.” Pegawai itu menyerahkan kartu dan beberapa paper bag berkuruan besar di atas meja kasir.


Devan mengambil kartu dan meraih belanjaannya. “Aku anggap ini sebagai hutang. Aku akan membayarmu kembali nanti. Berikan saja nomor rekeningmu.” Friska tidak ingin berhutang budi lagi pada Devan.


“Cepatlah.” Devan melangkah keluar store itu tanpa menghiraukan perkatan Friska.


Friska tampak menepuk jidaknya berkali-kali. Dia merasa ceroboh pergi tanpa membawa dompetnya. “Apa kau ingin bertambah bodoh dengan memukul kepalamu berkali-kali,” ejek Devan tanpa menghentikan langkahnya.


“Siapa yang kau bilang bodoh!” Friska merasa kesal dengan Devan yang selalu saja mengatakannya bodoh.


“Tentu saja kau.”


Friska benar-benar dibuat emosi dengan sikap Devan. “Tunggu dulu.” Friska menahan lengan Devan.


“Ada apa?” tanya Devan sambil menoleh pada Friska.


“Karena aku sudah terlanjur berhutang padamu. Bisakah kau membelikan aku sesuatu? Aku akan menggantinya nanti.”


Devan menatap Friska dengan datar. “Belikan aku ponsel.”


Saat ini Friska tidak memegang ponsel karena ponselnya ikut hanyut ketika dia mencoba untuk bunuh diri di pantai waktu itu. Itulah sebabnya tidak ada yang bisa menghubungi Friska. Selama ini, Kenan selalu menghubungi Devan untuk berkomunikasi dengan Friska.


Devan tampak berpikir keras. “Aku tidak bisa menghubungi keluargaku karena ponselku hilang,” jelas Friska ketika melihat Devan hanya diam saja.


“Aku akan menyuruh orang untuk membelikannya nanti. Ini sudah sore, lebih baik kita pulang sekarang.” Devan kembali melangkah menuju parkiran.


Wajah Friska tampak cemberut. Dia merasa kesal karena Devan tidak langsung membelikannya ponsel. Padahal dia ingin menghubungi seseorang.


“Kita mampir dulu ke restoran. Aku belum makan.” Devan melajukan mobilnya ke restoran yang dekat dengan apartemennya.

__ADS_1


Friska tidak menggubris ucapan Devan. Dia hanya menatap keluar sambil memikirkan sesuatu. Setibanya di restoran, mereka langsung masuk.


“Kau mau makan apa?” Devan menatap Friska sambil memegang buku menu. Dia melihat Friska tampak sedang melamun.


“Friska ” panggil Devan lagi ketika melihat Friska masih saja diam.


“Ada apa?” Lamunan Friska seketika buyar.


Devan tampak menghela napas. “Kau mau makan apa?” Devan mengulangi lagi pertanyaan yang belum sempat dijawab oleh Friska.


“Apa saja. Aku makan segalanya. Aku bukan pemilih.” Devan kemudian memanggil pelayan lalu memesan 2 menu supreme serloin steak dan 2 minuman dingin.


Friska menatap Devan sambil menopang dagunya dengan tangan yang bertumpu di atas meja. “Devan, apa selain dengan Amel kau pernah jatuh cinta dengan orang lain?”


Friska seketika penasaran dengan kisah cinta Devan. Friska merasa kalau Devan memiliki tempramen yang bagus, walaupun terkadang tempramennya sering kali berubah secara tiba-tiba.


“Tidak pernah,” jawab Devan singkat.


“Benarkah? Kenapa?” Friska tampak tidak percaya dengan ucapan Devan.


Devan yang sedang memeriksa isi ponselnya, seketika menghentikan kegiatannya. Dia mengangkat kepalanya dengan alis yang terangkat sebelah.


“Kenapa kau tiba-tiba penasaran dengan kisah cintaku? Apa kau sudah mulai tertarik padaku?” tanya Devan dengan senyuman miring.


Friska menaikkan sudut bibir atasnya. “Kau jangan terlalu percaya diri. Aku hanya penasaran saja. Menurutku wajahmu cukup tampan. Aku rasa pasti banyak yang menyukaimu.”


Devan meletakkan ponselnya di meja. “Apa kau baru saja memujiku tampan?”


“Apa kau melihat wajahku sedang tersenyum bahagia? Perkataan seperti itu tidak berpengaruh apapun padaku.”


Friska membenarkan posisi duduknya. “Sudahlah lupakan. Kembali ke topik yang tadi. Kenapa kau tidak pernah mencintai wanita lain selain Amel? Memangnya apa istimewanya dia?”


Devan tertawa kecil. “Apa kau serius bertanya seperti itu kepadaku? Apa kau tidak salah?” Devan merasa pertanyaan Friska sangat konyol. Pertanyaan itu sebenarnya Friska sudah tahu jawabannya.


Friska menatap sinis pada Devan. “Memang apa yang salah dengan pertanyaanku?”


Devan menggelengkan kepalanya. “Apa patah hati membuatmu jadi bodoh?”


“Berhenti mengatakan aku bodoh!” pekik Friska dengan suara tinggi.


Beberapa pengunjung tampak menoleh padanya. “Pelankan suaramu. Ini bukan rumahmu. Kita berada di tempat umum.”


Friska menutup mulutnya seketika. “Itu karena kau membuatku kesal.” Friska merasa tidak terima karena Devan yang membuatnya kesal dari tadi.


“Itu karena kau bodoh.” Devan menatap serius wajah Friska. “Apa kau pernah menyukai laki-laki selain Rendi?”


“Tentu saja tidak. Aku cinta mati padanya,” jawab Friska mantap.


“Kenapa kau hanya mencintai dia? Aku rasa kau bisa mendapatkan pengganti Rendi dengan mudah.”


Friska tampak terdiam. Pertanyaan yang ditujukan pada Devan menjadi boomerang untuknya. “Mencintai tidak butuh alasan Friska. Jika kita mencintai seseorang tanpa alasan, maka tidak akan ada alasan juga untuk berhenti mencintainya.” Friska tampak terkesima mendengar ucapan Devan.

__ADS_1


“Tapi sebaliknya, jika kita mencintai seseorang karena suatu hal yang ada di dalam dirinya, maka suatu saat, jika sesuatu itu hilang dari dirinya, maka itu akan menjadi alasan untuk berhenti mencintainya," ucap Devan dengan wajah serius.


"Contonya saja kalau mencintai seseorang karena kecantikannya, suatu saat kalau orang tersebut sudah tidak cantik lagi, maka, itu bisa menjadi suatu alasan untuk berhenti mencintainya. Mencintai karena sifat baikknya, kalau suatu saat dia berubah, itu akan menjadi alasan juga untuk tidak mencintainya lagi.”


Friska tampak mencerna kata-kata Devan. Dia sedang berpikir selama ini yang dia rasakan kepada Rendi cinta atau obsesi semata? Dia sendiri terkadang bingung dengan perasaannya sendiri.


“Permisi ” Lamunan Friska buyar karena kedatangan seorang pelayan mengantarkan makanan. “Apakah ada yang lagi yang bisa saya bantu?” tanya pelayan tersebut sopan ketika dia selesai meletakkan semua pesanan mereka berdua.


“Tidak ada. Terima kasih.” Pelayan itu undur diri.


Setelah kepergian pelayan itu, Friska kembali teringat dengan kata-kata Devan.


Devan menatap Friska yang tampak kembali melamun. Dia mulai mengiris daging steak yang ada di depannya, setelah itu memberikannya pada Frsika. Dia menukar milik Friska dengan miliknya yang sudah diiris dengan ukuran sedang.


“Cepat habiskan makananmu. Sebentar lagi gelap.”


Friska kembali tersadar ketika mendengar suara Devan. Dia menatap pada piring yang ada di depannya. Dia sedikit terkejut saat melihat kalau steaknya sudah diiris dengan ukuran yang menurutnya pas untuk mulutnya.


“Apa kau yang mengirisnya untukku?” tanya Friska dengan wajah polos.


Devan baru saja memasukkan satu suapan steak ke dalam mulutnya. “Apa menurutmu ada orang lain di meja ini selain aku? Apa kau berharap ada pria tampan yang melakukannya untukmu?”


Baru saja dia merasa kalau perlakuan Devan sangat romantis. Kekagumannya seketika lenyap saat mendengar ucapan Devan.


Friska menampilkan wajah kesalnya. “Sudahlah. Aku malas berdebat denganmu." Friska mulai memasukkan iris steak ke dalam mulutnya.


Setelah selesai makan mereka kembali ke apartemen Devan. Besok mereka akan pergi ke Singapura, sebab itu Devan memintanya untuk berkemas..


********


"Masuklah lebih dulu." Devan memberikan kartu apartemennya pada Friska ketika mereka sampai di loby apartemennya.


"Kai mau ke mana?" tanya Friska dengan raut wajah heran.


"Aku ingin bertemu dengan seorang."


Ketika Devan aka melangkah Friska kembali bertanya, "Wanita atau pria?"


Devan menatap Friska dengan tatapan heran. Semenjak kapan dia mulai peduli dengan kehidupan pribadinya. "Wanita, dia sahabatku."


"Bolehkah aku ikut denganmu?" Saat melihat Devan mengernyit, Friska kembali berkata, "aku bosan kalau sendirian di dalam apartemenmu. Aku ingin berjalan-jalan sebentar."


Setelah menimang sesaat, Devan kemudian mengagguk. Mereka bedua kembali memasuki mobil menuju salah satu cafe yang berada di dekat apartemen Devan.


Setibanya di cafe, sudah ada wanita cantik yang menunggu Devan. Wanita itu adalah wanita yang Friska lihat saat dia ke kampus Devan.


"Stef, apa kau sudah menunggu lama?" Devan dan Friska duduk bersebalahan, sementara wanita itu duduk sendirian di sebrang Devan." Wanita itu adalah Stefani, teman kuliah sekaligus teman dekat Devan.


"Tidak, aku baru saja tiba." Tatapan Stefani beralih pada Friska dengan tatapan heran. "Kenapa kau ada di sini?"


"Kami memang dekat. Ke mana pun Devan pergi dia pasti mengajakku. Kami memiliki hubungan khusus yang kau pasti tidak tahu."

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2