Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Kehidupan Baru (Sesion 2)


__ADS_3

5 tahun kemudian.


Amel keluar rumah dengan langkah yang cepat. Amel memasuki mobil yang sudah menunggunya sejak tadi. Amel menoleh pada pria di sampingnya sambil tersenyum lebar. "Kak, ngebut ya, Aku takut telat soalnya."


Pria itu membalas senyum Amel. "Makanya, kamu itu jangan sering begadang, biar nggak kesiangan terus," ucap pria itu sambil menjalankan mobilnya membelah keramaian kota Jakarta.


Amel turun dari mobil dengan terburu-buru setelah sampai di tempat tujuan. Dia menoleh ke dalam mobil. "Kak, nanti jangan lupa jemput jam 5 ya, jangan sampai telat," teriak Amel pada pria itu sambil melambaikan tangan.


Pria itu mengangguk sambil tersenyum. Pria itu terus menatap punggung Amel yang terlihat sedang berjalan dengan cepat. Setelah Amel tidak terlihat lagi, pria itu melajukan mobilnya meninggalkan tempat itu.


Amel berjalan cepat menuju ruangannya. “Kamu udah dateng Mel? tanya wanita yang duduk di sebelah meja Amel saat melihat Amel tampak baru saja datang, sementara waktu sudah menunjukkan 8 pagi.


Amel tersenyum lebar. Dia meletakkan tasnya di meja kerjanya. “Iyaa Bel, soalnya semalem gue habis begadang,” jelas Amel pada Bela. Teman kantor sekaligus sahabatnya waktu SMA.


“Kak Fadil uda dateng?” tanya Amel saat melihat Bela sudah sibuk mengetik di depan komputernya.


Bela menoleh pada Amel yang terlihat sedang menghidupkan komputernya. “Sudaah, dia kan kalau dateng selalu pagi Mel.”


“Bel, bahan untuk kita prenstasi uda selesai belum? Besokkan kita mau meeting.”


Bela menepuk jidatnya sambil menoleh pada Amel. “Astagaa, gue lupa.” Bela menepuk dahinya dengan telapak tangannya.


Amel menggelengkan-gelengkan kepalanya. “Lo ini kebiasaan deh, Bel.”


Bela tersenyum lebar menampilkan deretan gigi putihnya. “Nanti bantuin ya? Takutnya nggak keburu! Kan harus diprint juga,” ucap Bela menampilkan wajah memohon pada Amel. “Nanti gue traktir deh,” bujuk Bela lagi.


Amel menghela napas. “Iyaa deh, tapi gue mau nyelesaiin tugas gue dulu,” ucap Amel yang sambil membolak-balikkan kertas yang ada di mejanya.


“Lo emang temen gue yang paling baik,” ucap Bela tersenyum senang.


“Kapan kita jalan bareng sama Olive sama Lisa? Uda lama kita nggak ketemu mereka,” tanya Amel sambil terus menatap layar komputernya.


“Mereka masih sibuk, katanya mereka nyuruh kita maen ke Bali. Kerjaan mereka lagi banyak banget, nggak bisa ditinggal,” ucap Bela menoleh pada Amel. “Minggu depan mau ke Bali nggak? Sekalian liburan, kan ada tanggal merah tuh hari jumat, lumayan 3 hari di Bali,” lanjut Bela lagi.


Amel tampak menatap langit-langit sebentar, lalu menoleh pada Bela. “Nanti gue pikir-pikir dulu deh, ntar gue kabarin lo jadi apa nggak.”

__ADS_1


Bela mengacungkan jempolnya. “Oke.”


Semenjak lulus SMA Amel dan Bela berkuliah di kampus yang sama di singapore, sementara Lisa Dan Olive berkuliah di kampus di Indonesia. Bela merupakan dari kalangan berada sehingga tidak sulit untuknya berkuliah di luar negri, sementara Amel masuk lewat jalur beasiswa.


Semenjak mereka kuliah di luar negri, mereka jarang bertemu dengan Lisa dan Olive, karena Amel dan Bela jarang pulang ke Indonesia. Setelah Amel dan Bela menyesaikan kuliahnya, Mereka kemudian pulang ke indonesia. Mereka bekerja di satu perusahaan yang sama. Sementara Lisa dan Olive bekerja di Bali.


Setelah pekerjaan selesai, Bela dan Amel berjalan keluar kantor. “Kalian uda mau pulang?”


Amel dan Bela menoleh saat mendengar suara pria di belakang mereka. “Iyaa, Kak,” jawab Amel cepat sambil menyenggol tangan Bela yang terlihat diam saja.


Fadil terseyum sambil menatap Bela dan Amel secara bergantian. “Kalian mau bareng nggak?” tawar Fadil saat melihat Bela dan Amel tampak berdiri di depan pintu kantor.


Fadil adalah kakak kelas Bela dan Amel ayng pernah menjabat ketua osis di sekolahnya, dia juga teman sekelas Rendi waktu di SMA.


”Nggak usah kak, Amel lagi nunggu di jemput. Kalau nggak keberatan tolong anterin Bela aja,” ucap Amel tersenyum sambil mendorong Bela ke depan.


Bela sudah menyukai Fadil semenjak SMA, tapi dia hanya memendam perasaannya saja. Dia tidak pernah berani untuk mendekati Fadil. Bela memutuskan untuk bekerja di perusahaan ini saat tahu kalau Fadil bekerja di perusahaan.


Bela juga merasa heran saat itu tiba-tiba HRD perusahaan ini menghubunginya untuk interview kerja, padahal dia tidak pernah memasukkan lamaran kerja pada perusahaan ini.


Bela menatap Fadil. “Mau kok Kak, yaa kan Bel?” ujar Amel sebelum Bela membuka suara lagi untuk menolak tawaran Fadil. Amel tahu kalau Bela pasti akan menolaknya karena dia malu.


Fadil tersenyum. “Yaa udaah, ayyook Bel, gue anterin sekalian.”


“Tapi Kak, Bela takut ngerepotin.”


“Nggak kok, lagian gue juga nggak buru-buru juga, ayook,” ajak Fadil saat melihat wajah keraguan dari Bela.


“Iya deh,” jawab Bela pasrah. Bela menoleh pada Amel. “Mel, gue duluan ya,” ucap Bela sambil melambaikan tangannya pada Amel.


“Mel, gue duluan,” ucap Fadil tersenyum. Bela dan Fadil berjalan menuju parkiran kantor setelah melihat anggukan dari Amel.


“Ttiiin.. Tiinns.” Bunyi suara klakson mobil membuyarkan lamunan Amel. Dia menoleh lalu tersenyum setelah melihat mobil yang terparkir tidak jauh darinya.


Amek berjalan cepat menghampiri mobil itu. “Kamu uda lama nunggunya?” tanya pria itu, saat Amel baru saja duduk dan menutup pintu mobil depan.

__ADS_1


Ame menoleh. “Belum, Kak,” ucap Amel sambil memasang seatbeltnya.


“Kita mau makan dulu apa langsung pulang?” tanya pria itu sambil melajukan mobilnya, menjauh dari kantor Amel.


Amel tampak berpikir sebentar. “Heemm, Makan dulu deh, Kak Evans belum makankan?” tanya Amel sambil menoleh pada Devan.


“Belum, kalau gitu kita kita makan di restoran yang biasanya aja,” usul Devan.


“Iyaa, Kak.”


Tidak ada obrolan lagi selama perjalanan, Amel tampak sibuk dengan ponselnya, dan Devan fokus mengendarai mobilnya. Setelah menepuh perjalanan selama 45 menit mereka akhirnya tiba di restoran jepang yang biasa mereka datangi.


Amel dan Devan tampak turun dari mobil dan berjalan masuk ke dalam restoran itu.


“Bagaimana perkerjaanmu hari ini?” tanya Devan saat mereka sudah duduk di sudut restoran itu, sesudah memesan makanan terlebih dahulu.


Amel menghela napas. “Hari ini banyak sekali perkerjaan yang aku kerjakan, kerjaanku menumpuk,” jelas Amel sambil bertopang dagu.


Devan tersenyum tipis saat melihat wajah Amel yang tampak lelah. “Kalau kau tidak betah bekerja di sana, kau bisa bekerja di perusahaanku.”


Amel menggeleng kuat. “Aku hanya perlu menyesuaikan diri saja kak, mungkin karena aku baru saja bekerja 6 bulan di sana sehingga membutuhkan waktu untuk aku beradaptasi."


“Kalau kau sudah tidak sanggup lagi bekerja di sana, kau tinggal bilang padaku.” ucap Devan menatap Amel yang tampak sedang menatap layar ponselnya saat mendengar suara pesan masuk.


Amel mengalihkan pandangannya kepada Devan sambil mengangguk. “Kak, besok antar aku ke kantor jam 6 pagi y” pinta Amel


Kening Devan berkerut. “Tumben kamu berangkat pagi sekali, ada apa?”


“Besok aku ada meeting Kak, apalagi CEO perusahaanku akan ikut dalam meeting kali ini! Aku harus mempersiapkan segala sesuatunya agar berjalan lancar.”


Devan mengangguk. “Aku dengar CEO perusahaanmu masih muda dan tampan,” ucap Devan sambil melirik pada Amel


“Dari mana kakak tahu? Aku bahkan belum pernah bertemu dengannya selama bekerja di sana,” tanya Amel menatap penuh tanya pada Devan.


“Aku hanya mendengarnya saja dari beberapa temanku.”

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2