
Hari ini Amel berencana untuk menemui Devan.
Dia ingin memastikan siapa Devan sebenarnya. Amel berjalan keluar kelasnya setelah bel istirahat berbunyi.
“Mel, mau ke mana?” tanya Bela saat melihat Amel sedang mengedarkan pandangannya ke setiap sudut sekolah.
“Ada perlu Bel. Kalian ke kantin duluan aja, nanti gue nyusul,” teriak Amel saat melihat ketiga temannya menatap heran padanya.
Amel berjalan ke sana kemari mencari sosok Devan, tapi dia tidak menemukannya juga. Amel melangkah cepat menuju perpustakaan, ketika teringat kalau Devan sering berada di perpustakaan sekolah.
Saat tiba di perpustakaan, sosok yang dia cari tidak dia temukan juga. Hanya terlihat beberapa siswa yang sedang membaca buku dan mengerjakan tugas sekolah. Amel berjalan meninggalkan perpustakaan dan kembali mencari sosok Devan.
Amel merasa sedikit kesal karena saat dia berusaha menghindarinya, Devan selalu muncul di hadapanya, tetapi saat Amel sedang mencarinya, dia seolah hilang ditelan bumi. Setelah mencarinya cukup lama, Amel akhirnya memutuskan untuk mencarinya sepulang sekolah. Dia berjalan ke kantin untuk menemui ketiga sahabatnya.
Setelah bel pulang sekolah berbunyi, Amel sengaja tidak langsung keluar dari kelasnya karena ingin menemui Devan. Biasanya Devan tidak langsung pergi sepulang sekolah. Amel hanya sendirian di kelasnya, teman-temannya sudah pulang terlebih dahulu. Amel berjalan keluar setelah menunggu beberapa saat.
Dia berjalan menuju perpustakaan, tetapi belum sampai perpustakaan, langkah Amel terhenti saat melihat Devan tampak dikelilingi beberapa siswi kelas 12. Mereka tampak sedang membicarakan sesuatu. Amel tidak berani menghampiri mereka karena semua siswi itu adalah kakak kelas yang sering menindas adik-adik kelasnya. Amel tidak mau mencari masalah dengan mereka.
Amel memutuskan untuk duduk tidak jauh dari tempatnya berdiri saat ini. Dia akan menunggu sampai mereka selesai berbicara dengan Devan. Amel terlihat berdiri saat melihat Devan berjalan meninggalkan kerumunan siswi tadi. Amel kemudian melangkah cepat menyusul Devan.
“Pak saya mau bicara sebentar dengan bapak,” ucap Amel saat sudah berhasil menyusul langkah Devan.
Devan menoleh sekilas pada Amel tanpa menghentikan langkahnya. “Bicara apa?”
“Ada yang mau saya tanyakan kepada Bapak,” ucap Amel yang terus berjalan mengikuti Devan.
“Apa?”
“Bisa nggak Pak kita cari tempat lain, jangan di sini.”
Langkah Devan terhenti saat mendengar perkataan Amel. “Bicara saja di sini. Bukannya kamu nggak suka kalau dekat-dekat dengan saya?” tanya Devan dengan wajah datar.
“Saya takut ada yang salah paham Pak kalau kita mengobrol di sini.”
Devan menghadap ke Amel. “Kamu takut pacar kamu salah paham?” Alis Devan terangkat sebelah.
“Bukan begitu Pak, tapi ....”
“Saya nggakpunya banyak waktu. Kalau kau mau bicara langsung saja di sini. Kalau nggak saya akan pergi,” ucap Devan dengan nada dingin.
“Saya nggak bisa bicara di sini, Pak. Saya janji cuma bicara sebentar.”
“Kalau begitu lupain saja. Saya nggak berniat menghabiskan waktu saya dengan orang yang tidak mengenal saya." Devan berbalik dan melangkah meninggalkan Amel.
Amel merasa kalau Devan masih marah dengannya karena insiden kemarin. Amel berusaha mengejar Devan lagi.
“Pak tunggu!” teriak Amel.
Devan tidak menghiraukan panggilan Amel.
Amel berjalan cepat menyusul Devan.
__ADS_1
“Tunggu, Pak.” Langkah Devan terhenti saat melihat Amel sudah berdiri di depannya.
Dengan wajah malas Devan berkata, “Berhenti mengangguku. Aku sedang tidak ingin melihat wajahmu.”
“Kita harus meluruskan kesalahpahaman kemarin,” ucap Amel dengan napas yang terengah-engah.
“Tidak ada yang perlu di luruskan lagi. Wemua sudah jelas.” Devan lalu melewati tubuh Amel yang tadi menghalangi jalannya.
Amel berbalik saat melihat Devan sudah berjalan lagi. “Pak tunggu. Kalau Bapak benar-benar pergi. Aku nggak akan pernah mau bicara dengan Bapak lagi mengenai masalah ini. Aku akan benar-benar menganggap kalau kita nggak saling mengenal,” ujar Amel dengan suara keras.
Devan berhenti sejenak lalu menoleh pada Amel dengan wajah datar. “Terserah. Aku nggak peduli.” Devan berbalik dan melangkahkan kakinya lagi meninggalkan Amel yang terlihat terkejut saat mendengar perkataan Amel.
Melihat Devan yang tidak mengihiraukannya lagi, tiba-tiba emosi Amel naik. Dia mengatur napasnya terlebih dahulu kemudian berteriak, “Pak Devan tunggu!”
Terlihat Devan tidak menggubris panggilannya.
Amel mulai berjalan lagi, menyusul langkah Devan.
“Tunggu, Pak,” ujar Amel kesal.
“Pak berhenti!” teriaknya lagi.
“Pak Devan!” Devan masih terus saja berjalan.
“Kak Evans!” Tidak ada reaksi apapun dari Devan.
“Kak Irga, aku bilang berhenti!”
“Apa Kakak berencana pergi meninggalkan aku lagi seperti dulu?” tanya Amel saat melihat Devan belum juga bereaksi dan hanya berdiri.
Amel berjalan mendekati Devan dan berdiri di belakangnya. “Aku nggak mengerti maksud kamu,” ujar Devan tanpa membalikkan tubuhnya.
“Aku sudah tahu, Kak. Apa kakak masih marah denganku karena selama ini aku terus mengabaikan, Kakak?”
Devan membalikkan tubuhnya menghadap Amel. “Sepertinya kau salah orang. Namaku Devan, bukan Evans ataupun Irga seperti yang kau sebutkan tadi.”
“Apa kamu menganggap aku bodoh? Lalu kenapa kau berhenti saat aku memangilmu dengan nama Irga, bukankah itu nama kecilmu? Kakak jangan lupa, hanya aku dan keluargamu yang memanggilmu dengan nama itu karena orang lain sering memanggilmu dengan sebutan Evans yang diambil dari nama Devan. Aku sudah tahu Kak, Kakak tidak bisa mengelak lagi,” ucap Amel dengan wajah serius.
Devan melangkah mendekati Amel. Dia menatap sejenak mata Amel. “Kenapa lama sekali kamu baru mengingatku?” tanya Devan sambil menatap lekat mata Amel.
“Aaaww, sakit, Kak,” ucap Amel saat Devan menyentil dahinya. Dia kemudian menatap tajam pada Devan sambil mengusap-usap dahinya.
“Kamu sudah membuatku kecewa. Siapa suruh kamu tidak mengenaliku. Kamu masih saja lamban dalam berpikir.”
“Itu bukan salahku. Itu karena wajah Kakak sangat berbeda dengan dulu.”
“Benarkah? Apa karena wajahku bertambah tampan sehingga kau tidak mengenaliku?” tanya Devan dengan senyuman jahilnya.
Amel menampilkan wajah cemberut. “Bukan hanya wajah Kakak, tapi termasuk pribadi Kakak berbeda dengan dulu. Aku akui wajah Kakak memang sedikit berbeda. Wajah Kakak dulu lebih lembut, lebih ramah, dan sedikit berisi, sorot mata Kakak juga berbeda, tidak dingin seperti sekarang.”
“Banyak hal yang terjadi kepadaku setelah berpisah denganmu. Sedikit banyaknya itu merubah karakterku sekarang,” jelas Devan sambil tersenyum.
__ADS_1
“Aku masih marah dengan Kakak karena meninggalkan aku tanpa berpamitan dulu.” Amel menatap Devan dengan wajah cemberut.
“Maafkan aku. Aku juga sebenarnya ingin berpamitan denganmu, tapi tidak bisa.”
“Kenapa? Setelah kepergian Kakak, aku dengar semua urusan pabrik dan perkebunan asisten papa Kakak yang mengurusnya hingga sekarang. Apa yang terjadi sebenarnya?” tanya Amel dengan penasaran.
“Mama meninggal setelah menjalani operasi. Papa nggak mengetahui tentang sakit mama. Penyakit mama baru diketahui saat mama tiba-tiba pingsan dan koma. Saat itulah papa baru tahu kalau mama menderita tumor ganas. Kepergian mama yang mendadak membuat kami semua terpuruk. Papa memutuskan untuk pindah ke Singapore dan menyerahkan urusan di sini kepada asistennya."
Wajah Devan terlihat muram, ada kesedihan mendalam dalam sorotmatanya.
“Maaf, Kak. Aku nggak tahu soal kejadian yang menimpa mama, Kakak.” Seketika Amel merasa bersalah.
“Nggak apa-apa, itu juga sudah lama berlalu.”
“Kenapa Kakak nggak memberitahuku lewat surat waktu itu?”
“Sempat terpikir olehku, tetapi aku urungkan. Aku berniat mengunjungimu terlebih dahulu untuk berpamitan, sebelum aku pindah keluar negeri, tetapi papa tidak mengijinkanku untuk kemana-mana. Dia takut aku akan kabur karena aku sempat menolak untuk ikut saat papa mengajak aku pindah. Aku nggak punya pilihan lain saat itu. Papa memaksaku. Bahkan setelah sampai di sana semua dokumenku ditahan oleh papa agar aku tidak kabur ke sini. Aku sangat tertekan saat itu, aku sudah kehilangan mama dan juga harus berjauhan denganmu.”
Amel maju dan memeluk tubuh Devan saat melihat mata Devan berkaca-kaca. “Maafkan aku, Kak. Aku nggak tahu kalau Kakak menderita saat itu. Aku dengan bodohnya membenci Kakak karena sudah menghilang begitu saja. Padahal, dulu Kakak selalu berada di sampingku setiap aku ada masalah.”
Tanpa mereka sadari ada sepasang mata yang memperhatikan mereka dari kejauhan bahkan menangkap gambar mereka saat sedang berpelukan.
Amel kemudian melepaskan pelukannya. “Kalau begitu aku akan bersikap baik dengan Kakak mulai sekarang,” ucap Amel tersenyum lebar.
“Kau bahkan mengabaikan aku berkali-kali.”
“Aku minta maaf, Lak, itu karena aku tidak tahu Kakak siapa. Kalau aku tahu dari awal, aku nggak akan bersikap seperti itu kepadamu.”
“Apakah karena kamu takut pacarmu cemburu?”
“Itu salah satunya, tapi aku memang ngg suka berdekatan dengan orang yang tidak begitu aku kenal,” ujar Amel menjelaskan.
“Kau sudah melanggar janji yang kau buat sendiri Mel,” ujar Devan menatap Amel dengan wajah serius.
“Janji apa?”
"Kau bilang, kita tidak boleh mempunyai pacar sampai dewasa. Kau melarangku untuk dekat oranglain selain dirimu, begitupun sebaliknya. Dulu kau takut aku pergi meninggalkanmu, jika aku dekat dengan orang lain. Mungkin kau sudah lupa karena itu sudah lama sekali kejadiannya."
“Benarkah? Kenapa aku nggak ingat?”
"Kau bahkan berjanji akan menikah denganku suatu saat nanti. Kau melarangku untuk menikah dengan orang lain, selain dirimu.”
"Kakak pasti bohong, kan?" tanya Amel dengan wajah terkejut.
“Kalau kamu tidak percaya, kamu bisa tanyakan kepada keluargamu karena pada saat ku mengatakan itu saat keluargamu dan keluargaku sedang berkumpul di vilaku. Mereka semua mendengarnya, bahkan mamaku mendukungmu saat itu untuk menjodohkanmu denganku. Kamu sendiri yang membuat janji itu Mel, bukan aku." Devan tersenyum penuh arti.
“Kakak nggak mungkin menganggap serius perkataanku saat itu, kan?” Amel tersenyum kaku.
“Justru aku datang sekarang untuk menagih janjimu,” ujar Devan dengan wajah serius.
Bersambung.
__ADS_1