Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Menunggu Amel


__ADS_3

Rendi melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, dia ingin segera sampai di kos Amel karena dia tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan pada Amel. Rendi merasa sedikit khawatir karena dari tadi Amel tidak mengangkat telponnya. Amel juga tidak membalas pesan yang dia kirim.


Rendi terus mencoba menghubungi Amel sambil menyetir mobil. Dia sudah tidak memikirkan lagi hal lain, yang di kepalanya hanya ada Amel, bagaimana caranya dia meminta maaf dan menjelaskan semuanya pada Amel agar dia tidak salah paham.


Tiba di depan kos Amel, Rendi langsung berlari sesudah memarkirkan mobilnya. Rendi mencoba menghubungi Amel dan mengirimkan pesan yang memberitahukan pada Amel bahwa dia sudah berada di depan kosnya dan berniat untuk menjelaskan semuanya.


Rendi sudah berdiri selama satu jam di depan kos Amel, tetapi tidak tanda-tanda kalau Amel akan keluar. Rendi tidak bisa menerobos masuk karena ini adalah kos putri. Dia mengirimkan pesan lagi pada Amel, memberitahukan padanya kalau Rendi akan menunggu sampai Amel keluar dan dia tidak akan pulang sebelum Amel mau menemuinya.


Tidak ada balasan apapun dari Amel. Rendi masih setia menunggu Amel di depan kosnya. Dari tadi dia hanya berdiri menunggu Amel keluar, berjalan bolak-balik. Rendi menatap ke langit yang mulai gelap, terlihat awan hitam memenuhi langit sore itu.


Rendi bergeming saat hujan mulai turun. Dia tetap setia berdiri untuk menunggu Amel keluar. Dia sudah menunggu selama 3 jam. Dia terus menatap ke arah pintu masuk kos Amel.


Berharap pintu itu bergerak dan memunculkan sosok yang dia tunggu dari tadi. Badannya mulai basah oleh guyuran air hujan. Tubuhnya mulai bergetar karena dinginnya udara, terlihat tangannya mulai keriput, bibirnya memucat, sorot matanya sendu.


*****


Amel terbangun dari tidurnya, saat mendengar ponselnya berbunyi terus menerus. Dia meraih dan melihat banyak panggil dan pesan yang masuk yang berasal dari Rendi, ada juga yang berasal dari Raka. Amel bangun dari tidurnya, dia mulai bangun dari ranjang.


Dia kemudian berjalan menuju ke kamar mandi dan membasuh wajahnya. Setelah itu berjalan keluar dan duduk di depan meja rias. Dia menatap wajahnya sejenak, mata yang bengkak karena terlalu banyak menangis, wajah dab hidungnya memerah.

__ADS_1


Amel berdiri kemudian keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuruni tangga, Amel berhenti sejenak di pijakan anak tangga terakhir untuk menarik napas dalam-dalam. Dia berjalan pelan di lorong kosnya menuju pintu keluar. Amel hanya berdiri di depan pintu, tanpa niat untuk keluar, dia mengintip dari celah pintu.


Air matanya kembali mengalir saat dia melihat Rendi sedang menunggunya sambil berdiri. Hatinya terasa sakit saat melihat keadaan Rendi yang terlihat pucat. Ingin sekali dirinya keluar dan memeluk tubuh laki-laki yang dicintainya itu, tapi egonya melunturkan keinginannya, saat mengingat kenyataan pahit yang baru saja dia ketahui.


Amel dan Rendi sama-sama hanya berdiri dalam diam. Amel tetap dengan pendiriannya kalau dia tidak akan menemui Rendi lagi. Dia berpikir kalau Rendi akan pulang dengan sendirinya jika dia sudah lelah menunggunya. Sampai saat hujan mulai turun, Amel mulai panik, karena saat ini kondisi Rendi belum pulih. Dia takut kalau Rendi akan jatuh pingsan lagi. Amel terus meremas tangannya saat melihat Rendi tidak juga bergerak sedikitpun dari tempatnya berdiri. Amel mencoba untuk tetap bertahan untuk tetap tidak menemui Rendi.


****


“Mel, akhirnya kamu keluar juga,” ucap Rendi saat melihat pintu terbuka dan menampilkan sosok gadis yang sangat dia cintai sedang berdiri membuka pintu. Rendi terdiam sesaat di tempatnya menatap wajah Amel. Ada rasa bersalah saat guratan kesedihan dan kekecewaan terpancar jelas dari wajah Amel.


Rendi kemudian berjalan perlahan mendekati Amel, supaya Amel tidak maju mendekatinya. Dia takut kalau Amel akan basah terkena air hujan. Langkah Rendi kalah cepat, Amel sudah berlari dan berdiri di hadapannya. Tubuh Amel sudah basah kuyup karena derasnya hujan yang turun saat itu.


Dengan isak tangis yang sudah pecah, Amel berjalan mendekati Rendi dan memukul-mukul dada Rendi menggunakan kedua tanggannya secara bergantian dengan sisa tenaganya. Tidak ada kata yang keluar dari mulutnya. hanya suara tangis yang terdengar dari mulut Amel.


Rendi meraih tubuh Amel dalam pelukannya, saat melihat Amel terdiam dan tidak lagi memukulnya. Rendi memeluk erat tubuh Amel dan mengelus rambut Amel dengan pelan. Hanya suara tangis Amel yang terdengar saat berada di pelukan Rendi.


Amel berkali-kali mencoba untuk melepaskan pelukan Rendi, tetapi semakin Amel meronta, semakin erat Rendi memeluknya. Setelah suara tangis Amel tidak terdengar lagi dan Amel mulai tenang, Rendi baru melepaskan pelukannya.


“Aku harap ini pertemuan terakhir kita. Mulai saat ini kita sudah tidak ada hubungan lagi. Pergilah.”

__ADS_1


Rendi maju mendekati Amel saat mendegar perkataannya, dengan panik Rendi memegang kedua lengan Amel. “Dengar dulu penjelasanku Mel, semuanya hanya salah paham,” ucap Rendi sambil menunduk menatap wajah dingin Amel.


Amel sambil berusaha melepaskan tangan Rendi dari lengannya. "Lepaskan aku. Aku harap kau tidak pernah datang lagi ke sini.”


Rendi meraih tangan Amel, menunduk menatap wajah Amel. “Aku mohon Mel dengarkan penjelasanku kali ini saja! aku akan menceritakan yang sebenarnya! Kamu salah paham Mel,” ucap Rendi saat melihat Amel memalingkan wajahnya ke samping.


“Mel, kamu kenapa?” Amel dan Rendi menoleh saat mendengar suara Raka dari belakang Rendi dan berjalan cepat menuju Amel.


Raka berdiri di antara Amel dan Rendi. Raka menatap wajah Amel sejenak, kemudian Raka menoleh ke Rendi berjalan mendekati Rendi saat Amel tidak merespon perkataannya.


“Apa yang lo lakuin sama Amel? kenapa dia sampai nangis kayak gini?” ucap Raka dengan emosi, Rendi hanya diam saat Raka mencengkram kuat bajunya.


Amel berjalan cepat dan menahan tubuh Raka. “Jangan bang. Amel mohon,” teriak Amel dengan suara serak saat melihat Raka sudah mengayunkan tangannya berniat untuk menghajar Rendi.


Terlihat kilatan kemarahan dari sorot mata Raka. Amel teringat perkataan dokter Jhon kalau Rendi tidak boleh berkelahi lagi. Amel takut pukulan Raka kali ini berskibat fatal untuk Rendi.


Raka menghentikan gerakannya saat mendengar perkataan Amel. “Gue uda pernah bilang kalau sampai lo nyakitin Amel, gue pastiin kalau lo nggak pernah bisa ketemu lagi sama dia,” ucap Raka dengan suara lantang dan tatapan penuh kemarahan pada Rendi.


“Bang, tolong bawa Amel pergi dari sini,” pinta Amel saat merasa sudah tidak sanggup lagi menahan bobot tubuhnya.

__ADS_1


Raka melepaskan cengkramannya pada baju Rendi. “Ayo kita pergi,” ucap Raka sambil merangkul pundak Amel.


Rendi berbalik mengejar Amel. “Tunggu. Lo nggak bisa bawa Amel begitu aja. Gue belum selesai bicara sama dia.” Rendi mencengkram kuat tangan Raka yang ada di pundak Amel lalu mengehempaskannya.


__ADS_2