
Rendi mengusap lembut kepala Amel. "Aku juga nggak tahu kenapa mereka semua nyapa aku. Nggak usah kamu peduliin mereka," kata Rendi sambil terus berjalan ke ruangan Dokter Jhon. Saat tiba di depan ruangan Dokter Jhon, Rendi mengetuk kemudian membuka pintunya.
Dokter Jhon mendongakkan kepalanya saat melihat kedatangan Rendi. "Kau sudah datang?" Dokter Jhon mengalihkan pandangannya dari layar komputer setelah Rendi dan Amel sudah duduk di depannya.
Rendi mengangguk. "Kenapa di depan ruanganmu sepi sekali?"
Rendi sudah terbiasa berbicara santai dengan Dokter Jhon karena mereka sebenarnya sudah akrab dari Rendi masih kecil. Disamping menjadi Dokter pribadi keluarga Rendi, Rendi juga sudah seperti keluarga baginya.
"Aku sengaja mengosongkan jadwalku hari ini hanya untuk memeriksamu. Untungnya ibumu tidak memberitahuku tiba-tiba mengenai pemeriksaanmu," jelas Dokter Jhon, "berbaringlah, aku akan memeriksamu sebentar," sambung Dokter Jhon lagi.
"Kamu tunggu di sini sebentar."
Rendi mengelus pipi Amel kemudian berjalan mengikuti Dokter Jhon menuju ranjang pasien setelah melihat Amel mengangguk dan tersenyumnya.
Dokter Jhon mulai pemeriksaan pada tubuh Rendi. Setelah selesai, dia membuka perban yang ada di tangan Rendi lalu membersihkan lukanya, memberikan obat lalu kembali membalut lukanya dengan perban.
"Kau harus lebih hati-hati ke depannya. Kenapa belakangan ini kau sering sekali terluka? Aku tidak pernah liat kau seperti ini sebelumnya," ucap Dokter Jhon setelah selesai merapikan perban tangannya.
Rendi memegang tangannya yang sudah terbalut perban. "Aku nggak sengaja ngelukai tanganku. Kalau untuk luka memar ini, kau pasti sudah mendengarnya dari mama," terang Rendi sambil melirik Dokter Jhon.
Sudut mulut Dokter Jhon terangkat. "Siapa yang bisa kamu bodohi di sini? Aku ini Dokter, jelas aku tahu jenis luka apa yang ada di tangan kamu. Kau tidak bisa membohongiku seperti kamu membohongi ibumu."
Rendi menghela napas. "Baiklah, kamu menang. Aku hanya tidak mau mama tahu. Dia bisa marah dengannku nanti."
"Setelah ini kita akan melakukan CT Scan. Sebelumnya aku mau bertanya dan kau harus menjawab jujur. Tidak boleh ada yang kamu sembunyikan dariku karena ini akan berpengaruh terhadap diagnosis awalku." Tatap Dokter Jhon dengan wajah serius. Rendi pun mengangguk.
"Setelah perkelahian itu, apa kau merasakan ada gelala yang timbul?" tanya Dokter Jhon dengan tatapan menyelidik.
"Aku cuma ngerasa sedikit pusing. Beberapa kali aku kesulitan untuk tidur, sempat penglihatanku sedikit buram," papar Rendi.
"Apa kepalamu terbentur saat kau berkelahi atau kau terkena pukulan keras di bagian kepalamu?" tanya Dokter Jhon.
Rendi menatap langit-langit sebentar. "Aku tidak terlalu ingat karena kerjadiannya sangat cepat, tapi aku sempat jatuh beberapa kali dengan posisi terlentang. Dia juga beberapa memukul bagian wajahku cukup keras."
__ADS_1
Dokter Jhon menghela napas berat. "Kau harusnya tahu kalau kau tidak boleh terlibat perkelahian. Masalahnya akan lebih serius kalau kepalamu terluka lagi."
"Apa ini berarti ada masalah serius sama aku?" Rendi bertanya dengan cepat.
"Aku tidak tahu. Ini cuma diagnosis awalku aja. Kau berdoa saja kalau diagnosisku ini salah."
"Apa maksudnya?"
"Kau harusnya lebih tahu mengenai kondisi kamu dari pada aku. Aku akan meminta rekam medismu pada rumah sakit yang menanganimu saat diluar negri."
"Bukannya Bianca udah ngasih semuanya kepada kamu waktu dia ke Indonesia dulu?"
"Dokter Bianca hanya memberikan data pemeriksaan terakhir kali. Tidak semua dia bawa ke sini."
"Memangnya ada yang hal serius sampe kau harus memintanya lagi?"
"Hanya untuk berjaga-jaga. Kau tidak perlu khawatir, semua baik-baik aja. Lebih baik kita lakulan pemeriksaan CT Scan sekarang."
"Semua sudah siap, ayo kita langsung ke unit Radiologi." Dokter Jhon berjalan keluar ruangannya diikuti Amel dan Rendi.
Setelah tiba di depan ruang Radiologi, Amel menarik tangan Rendi. "Kenapa harus CT Scan? Apa ada hal serius setelah Raka mukul Kakak waktu itu?" tanya Amel dengan wajah penasaran.
Melihat wajah Amel yang tampak khawatir, Rendi membungkuk dan mensejajarkan wajahnya dengan wajah Amel. "Aku nggak apa-apa. Kau nggak usah khawatir, ini cuma pemeriksaan biasa." Rendi mengelus lembut pipi Amel kemudian beralih mengusap kepalanya.
Amel menatap Rendi dengan intens. "Benaran Kakak nggak bohong sama aku?"
"Hhhmm," gumam Rendi sambil mengangguk, "tunggu aku di sini. Aku masuk dulu." Kemudian Rendi berlalu meninggalkan Amel yang berdiri di depan pintu Radiologi.
Ada perasaan tidak nyaman di hatinya saat melihat Rendi masuk ke dalam ruangan itu. Dia terlihat duduk sambil meremas kedua tangannya. Setelah menunggu selama 45 menit, pintu ruangan Radiologi terbuka. Amel langsung menghampiri Rendi yang terlihat sedang berjalan keluar dari ruangan itu.
"Udah selesai, Kak? Kenapa lama banget?" cecar Amel sambil menatap wajah Rendi.
"Udah, tadi ada sedikit kendala di dalam," jelas Rendi tersenyum pada Amel.
__ADS_1
"Lebih baik kamu istirahat dulu di ruang perawatan sambil menunggu hasilnya keluar. Aku sudah mengatur ruangan VVIP untukmu," ucap Dokter Jhon yang baru saja keluar dari ruangan tersebut.
Rendi mengangguk. "Aku akan ke ruanganmu setelah hasilnya keluar. Kamu harus minum air putih yang banyak setelah ini," sambung Dokter Jhon lagi. Dia berjalan meninggalkan mereka setelah melihat Rendi mengangguk.
"Mari saya antar ke ruang perawatan."
Terdengar suara perawat yang berada di dekat Rendi. Mereka bertiga meninggalkan ruangan tersebut menuju ruang perawatan. Setiba di ruangan perawatan, Rendi diminta untuk berbaring dan perawat itu memasang infus di tangan kanan Rendi dan keluar setelah perawat itu selesai memasangnya.
Ruangan VVIP itu tidak terlihat seperti kamar pasien, lebih seperti kamar yang ada di hotel.Dilengkapi dengan outlet oxygen, satu bed pasien, ditambah dengan extra bed single size di sampingnya, kulkas, sofa set panjang, meja dan kursi tamu, TV LED berukuran besar, kitchen set lengkap dengan tea maker, meja dan kursi rias, peralatan mandi, dan kamar mandi yang luas.
Setelah mengamai kamar tersebut, Amel duduk di depan ranjang Rendi. "Kenapa Kakak harus dirawat di sini? Apa Kakak sakit?" Amel menatap khawatir kepada Rendi.
Rendi tersenyum sambil menggenggam tangan Amel. "Aku nggak apa-apa, cuma butuh istirahat sebentar."
Amel berdiri dan menuangkan air. "Dokter itu bilang, Kakak harus banyak minum air putih setelah selesai pemeriksaan tadi." Amel menyodorkan air minum kepada Rendi.
Rendi mengambil gelasnya lalu meminum habis air tersebut. "Kamu bisa istirahat di tempat tidur di itu kalau kau capek," tunjuk Rendi ke tempat tidur yang berada di sebelahnya.
Amel menggeleng kuat. "Nggak, aku mau nunggu Kakak di sini," jawab Amel masih dengan menatap Rendi.
Rendi tersenyum. "Gimana kalau kamu tiduran di sini aja, temenin aku." Rendi menepuk sisi ranjangnya yang kosong.
"Nggak, nanti Kakak bakal nggak nyaman kalau aku tidur disitu, sempit untuk berdua," tolak Amel cepat.
Rendi turun dari ranjang pasien kemudian berjalan menuju tempat tidur di sebelahnya.
"Sini, aku nggak bakal macam-macam. Aku cuma lelah setelah pemeriksaan tadi. Aku mau tidur sebentar."
Rendi yang sudah merebahkan tubuhnya di kasur sebelah ranjang pasien memanggil Amel untuk berbaring dengannya.
"Yaa udah kalau gitu." Amel berjalan ke sisi sebelah Rendi dan naek ke tempat tidur, setelah itu dia memejamkan matanya sambil menggengam tangan Amel.
Bersambung...
__ADS_1