Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Jodoh Gue


__ADS_3

Amel menampilkan wajah bingung sekaligus terkejut. "Mau bicara apa, Pak?"


"Jangan di sini, ikut saya." Devan menarik tangan Amel dengan cepat, Amel yang masih belum sepenuhnya sadar hanya bisa mengikuti langkah Devan.


Kenapa mereka suka sekali menarik tanganku sih


Devan berhenti dan menoleh ke Amel, saat tanganya dihempaskan Amel. "Saya bisa jalan sendiri."


Devan menatap Amel sejenak lalu berjalan mendahuluinya. Devan masuk ke ruang perpustakaan diikuti oleh Amel di belakangnya.


"Ini nanti kamu bagikan ke teman-teman kamu, untuk dikerjakan di rumah." Devan menyerahkan tumpukan kertas putih kepada Amel"


Amel menatap sejenak tumpukan kertas itu, kemudian menerimanya. "Kenapa Bapak nggak bagiin sekalian di kelas tadi? Lenapa harus meminta Amel membagikannya sekarang?" tanya Amel dengan ketus.


Dahi Devan mengerut. "Kamu nggak suka kalau saya meminta bantuan kamu?"


"Bukannya begitu Pak. Harusnya Bapak tadi memberikan tugas ini di depan teman-teman saya. Nggak perlu memberikanya di sini, apalagi sampai menarik tangan saya di depan mereka. Saya takut nanti akan menimbulkan kesalah pahaman dengan mereka," jelas Amel panjang lebar.


"Lagian kalau di lingkungan sekolah guru dan murid dilarang terlalu dekat." Amel langsung membentengi diri agar Devan bisa menjaga jarak dengannya. Dia tidak mau nanti Rendi akan salah paham dengannya.


"Sepertinya kamu tidak suka sama saya. Apa saya pernah buat salah sama kamu?" Devan sedikit kecewa saat Amel terlihat tergganggu, ketika berada di dekatnya.


"Nggam Pak. Kita bahkan tidak saling mengenal." Amel memalingkan wajahnya kw samping.


Devan tampak menepuk-nepuk ponselnya ke telapak tangan satunya sambil berkata, "Nggak saling kenal ... Nggak saling kenal. Sepertinya aku datang di waktu yang tidak tepat."


Dahi Amel mengeryit, dia tidak paham dengan maksud perkataan Devan. "Maksud Bapak?" Amel mencoba ingin memperjelas maksud dari ucapan Devan.


"Bukan apa-apa, lupain saja. Kalau begitu saya pergi dulu. Jangan lupa kamu bagikan kepada teman-temanmu." Devan menatap Amel sebelum berbalik meninggalkannya.


Amel tampak linglung melihat Devan pergi meninggalkannya. Ada perasaan aneh saat berdekatan dengan Devan. Amel menggelengkan kepala dengan cepat, untuk menepis perasaan anehnya itu. Dia kembali berjalan menuju teman-temannya berada. Mereka menuju kantin, dan menghabiskan waktu di sana sambil berbincang.


"Pak Devan ngomong apa sama lo tadi?" Olive menatap Amel yang berada di depannya, saat melihat Amel sedang memeriksa ponselnya.


"Iyaaa, ada hal penting apa sampe narik tangan lo tadi?" timpal Bela.


Amel menatap malas ke tumpukan kertas putih yang diberikan Devan tadi. "Dia cuma mau ngasih tugas ini. Dia nyuruh gue bagiin ke murid lainnya." Amel memegang tumpukan kertas putih itu.


"Mel, lo kenal sama pak Devan?" Olive bertanya lagi dengan tatapan serius.

__ADS_1


Amel menoleh ke Olive sambil meminum jus jeruknya. "Nggak."


"Terus kenapa pak Devan bisa tahu nama lo tadi? Sementara, dia aja belom ngabsen kita satu-satu," sambung Olive lagi.


"Gue juga nggak tahu, gue cuma beberapa kalo nggak sengaja ketemu sama dia," ucap Amel acuh. Dia tidak berminat untuk membahas Devan.


"Di mana?" Lisa menimpali.


"Gue pernah nggak sengaja nabrak dia di sekolah sama di rumah sakit, terus nggak sengaja ketemu di cafe waktu makan sama Raka"


"Waaah, jangan-jangan dia jodoh lo Mel, bisa gitu nggak sengaja ketemu berkali-kali," ucap Bela asal.


Amel menampilkan wajah cemberutnya. "Enak aja, gue maunya tuh, jodoh gue Rendi! kan kalian tahu, gue suka banget sama Rendi dari dulu "


"Tapi pak Devan nggak kalah ganteng loh Mel, menurut gue," ujar Lisa.


"Buat lo aja sana! Gue nggak tertarik sama dia" ucap Amel cuek.


"Enak aja, pak Devan punya gue! Kalian lupa, dulu.. pertama kali gue liat dia, waktu mau jadi guru magang, kalian bilang pada nggak ada yang mau sama Devan, kalian nggak minat sama dia" seru Olive tidak terima.


"Itu kan dulu Liv, sebelum liat pak Devan langsung. Gue berubah pikiran, waktu uda ketemu, ternyata ganteng banget" ujar Lisa tidak mau kalah.


"Jelas aja lo nggak ikut. Lo mah enak punya pacar yang perfect kayak Rendi. Laah kita apa kabar? Nggak ada yang mau," ujar Lisa.


"Kitaa? Lo aja Lis, gue mah banyak yang suka, tapi guenya aja yang nggak mau," ralat Olive membela diri.


"Gue juga banyak yang suka kali, cuma nggak ada yang klik aja " Lisa menatap tidak suka pada Olive.


"Kalian itu jangan kepedean semua. Bilang aja nggak laku. Pake banyak alasan" ujar Bela.


"Mendingan kalian jangan terlalu berharap sama pak Devan deh." Amel melirik temannya sambil menyesap habis minuman di tangannya.


"Kenapa?" tanya mereka serempak.


"Kayaknya, dia deket sama bu Stefani."


"Lo tau dari mana? Katanya lo nggak kenal sama pak Devan?" Olive menatap Amel dengan tatapan curiga.


"Feeling gue aja. Lagian, gue pernah liat mereka jalan bareng. Kelihatan deket banget gitu menurut gue "

__ADS_1


"Gue nggak percaya sama feeling lo Mel. Buktinya lo aja nggak tahu kalau selama ini Rendi juga suka sama lo," sahut Olive


"Iya Mel, gue setuju sama Olive. Feeling lo nggak tajem. Lagian, bisa aja mereka cuma deket kayak lo sama Raka," timpal Lisa.


"Gue cuma nggak mau kalian terlalu berharap aja.Takutnya nanti kecewa." Amel menatap serius ketiga temannya sambil merapikan rambut panjangnya.


"Sebelum janur kuning melengkung, siapapun boleh ngedektin pak Devan. Lagian, tadi pak Devan bilang masih lajang,kan? Berarti, pak Devan belom nikah dan nggak punya pacar," ujar Olive percaya diri.


"Terserah kalian aja," ucap Amel singkat.


"Balik ke kelas yuuk." Bela berdiri dan berjalan meninggalkan kantin bersama dengan ketiga sahabatnya. Amel tampak sibuk dengan ponselnya saat berjalan menuju kelasnya.


"Ameel tunggu." Amel dan ketiga sahabatnya berhenti di depan kelas mereka, saat seseorang memanggil nama Amel. Merekapun menoleh ke sumber suara.


Kenapa hari ini banyak banget orang yang manggil gue sih! berasa orang sibuk gue.


"Ada apa Nit?" Amel bertanya kepada Nita saat dia sudah berdiri di depannya. Nita adalah pacar Raka.


"Pulang sekolah bisa bicara sebentar nggak?" tanya Nita.


Amel heran melihat penampilan Nita yang tampak jauh berbeda dari biasanya, seperti tidak terurus. Rambut yang dibiarkan digerai, mata sembab, dan wajah pucat. Tidak ada lagi senyum manis yang terukir di wajahnya. "Boleh, mau bicara di mana?"


Nita tampak berpikir sebentar. "Gomana kalau kita ketemuan di cafe dekat kampus. Nanti gue kasih tau nama cafe dan alamatnya lewat pesan.


"Oke sip." Amel mengacungkan jempolnya.


"Maksih Mel. Gue balik ke kelas dulu." Nita berjalan meniggalkan Amel.


"Semenjak kapan lo akrab sama Nita Mel?" tanya Olive yang masih memandang Nita dari kejauhan.


"Ngobrol aja nggak pernah, gimana mau akrab," jawab Amel sambil berjalan masuk kelasnya di ikut para sahabatnya.


Lisa berhenti di bangkunya. "Terus ngapain dia ngajak lo ketemuan pulang sekolah?"


Amel menggangkat kedua bahunya. "Gue juga nggak tau."


"Tapi gue perhatiin tadi penampilan Nita berantakan ya? Nggak kayak biasanya. Kayaknya habis nangis," ujar Bela.


"Jangan-jangan dia putus sama Raka," celetuk Olive

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2