Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Nasehat Ibu


__ADS_3

Amel baru saja terbangun saat ponselnya berbunyi, suara panggilan masuk dari Rendi terdengar nyaring di telinganya. Amel buru-buru mengangkat telponnya karena takut Sofi terbangun. Amel melangkahkan kakinya keluar dari kamar menuju ruangan santai.


Setelah mengakihiri telponnya, Amel berjalan ke dapur. Dia melihat jam pada ponselnya yang menunjukkan pukul 5 pagi, kemudian dia mengambil segelas air di dalam kulkas, menuangkan ke dalam gelas lalu meneguknya. Setelah minum dia kembali ke kamarnya untuk mandi karena Rendi akan ke apartemennya sebelum pergi dengan Friska.


Setelah mandi Amel berjalan menuju kamar ibunya. “Ibu sudah bangun?” tanya Amel ketika melihat ibunya sedang duduk di tepi tempat tidur. Ibu Amel tersenyum.


“Iyaa dari jam 4 pagi tadi," jawab Ibu Amel lembut.


Amel duduk di samping ibunya lalu memegang tangannya. “Bu, apa ibu terpaksa menyetujui pernikahan Amel dengan kak Rendi?” tanya Amel hati-hati.


Dia sengaja menanyakan hal itu karena melihat respon ibunya kemarin hanya diam. Dia takut kalau ibunya tidak menyukai Rendi.


Ibu Amel menggeleng pelan. “Awalnya ibu memang ragu, tapi kata Devan dia laki-laki yang baik, dia juga laki-laki yang kamu sukai. Setelah ibu melihatnya kemarin ibu rasa dikatakan Devan benar. Ibu rasa dia bisa menjagamu," jawab Ibu Amel.


"Lalu kenapa ibu terlihat lebih banyak diam kemarin malam?"


"Kita berasal dari keluarga yang sangat sederhana bahkan kita dari kampung, ibu hanya merasa malu, sedangkan mereka berasal dari keluarga kaya dan terpandang. Ibu hanya takut mereka memandang rendah kita,” ucap Ibu Amel pelan.


Amel mengeratkan tangannya. “Bu, keluarga Rendi tidak seperti keluarga kaya lainnya yang sombong dan arogan. Mereka sangat baik dengan Amel. Mereka tidak pernah memperlakukan Amel dengan buruk, bahkan saat pertama kali bertemu, sikap mereka sudah baik pada Amel. Mereka tidak pernah memandang orang lain dari status sosialnya, jadi ibu tidak perlu khawatir,” ucap Amel menenangkan.


Ibu Amel mengangguk. “Setelah menikah kamu akan tinggal di mana?” tanya Ibu Amel.


Amel tampak berpikir sebentar. “Amel juga belum tahu, Bu.”


Ibu mengelus tangan Amel dengan lembut. “Kamu harus ikut kemana suamimu pergi. Setelah menikah kamu juga harus menuruti semua perkataan suamimu selama masih di jalur yang benar, jangan pernah membantahnya.”


“Kalau Amel ikut dengan kak Rendi ke Jerman. Bagaimana Ibu dengan Bagas? Aku tidak mau berpisah dengan kalian." Wajah Amel nampak sedih.


“Bagaimanapun kalau kamu sudah menikah, kewajibanmu untuk ikut dengan suamimu. Kamu harus membicarakan dengan Rendi nanti, jangan sampai ada pertengkaran karena masalah ini.”


Amel mengangguk lalu memeluk ibunya. “Amel kangen banget sama Ibu,” ucap Amel sambil memeluk erat ibunya.


“Ibu juga kangen banget sama kamu.”


Amel melepaskan pelukannya lalu tidur di pangkuan ibunya. “Bu, setelah Bagas lulu SMA, Ibu temani Bagas kuliah di Singapore ya, di tempat Amel kuliah dulu,” ucap Amel sambil memandang wajah ibunya.

__ADS_1


“Tapi biaya kuliahnya mahal Mel, ibu takut tidak bisa membiayai kuliah adik kamu sampai selesai nanti.”


“Ibu tenang saja, Ibu tidak perlu memikirkan soal biaya kuliah serta biaya hidup selama di sana. Ibu hanya perlu menemani Bagas selama di sana. Amel tidak mau Ibu sendirian di kampung nanti kalau Bagas kuliah.”


Ibu Amel sedikit terkejut saat mendengar perkataan anaknya. Mereka memang sudah tidak kesulitan lagi seperti dulu. Hidup mereka sudah berkecukupan, apalagi setelah adanya bantuan diam-diam Rendi. Ibu Amel bahkan belum mengetahui perlihal bantuan Rendi tersebut. Amel juga sudah bekerja, setiap bulan dia memberikan uang yang cukup banyak untuk ibu dan adiknya.


“Memangnya kamu dapet uang dari mana?” tanya Ibu Amel dengan wajah heran. “Ibu tidak mau kalau uang itu dari calon suami kamu,” sambung Amel lagi.


“Ibu tenang saja, itu uang Amel sendiri. Amel juga sudah mempunyai hotel dan resort di Jepang, jadi Ibu dan Bagas tidak akan kekurangan uang nantinya.”


Mata ibu Amel terbelalak mendengar perkataan putrinya. “Bagaimana bisa kamu mempunyai hotel itu?”


“Rendi memberikan pada Amel, Bu.”


Ibu Amel langsung menggeleng. “Tidak, kamu harus kembalikan. Kamu tidak boleh menerimanya. Mereka nanti mengira kalau kamu memanfaatkkan anaknya. Ibu takut mereka berpikir kalau kamu hanya mengincar harta mereka saja.”


“Bu, hotel itu peninggalan oma Rendi, tidak ada hubungan dengan orang tuanya. Waktu Amel menolaknya, Rendi bilang kalau Amel tidak bisa mengembalikannya lagi karena itu sudah beralih kepemilikan menjadi punya Amel. Amel juga tidak tahu awalnya, Rendi melakukannya diam-diam tanpa sepengetahuan Amel. Itu juga dilakukan Rendi sudah lama. Beberapa tahun lalu, Bu,” ungkap Amel.


Ibu Amel menghela napas dan mulai berpikir kalau Rendi memang sangat mencintai anaknya. Dia memberikan sesuatu pada anaknya tanpa Amel tahu sebelumnya.


Amel langsung bangun dari tidurnya. “Jadi ibu sekarang memihak pada kak Rendi?” tanya Amel dengan wajah cemberut.


“Kamu sepeti anak kecil saja. Ingat, sebentar lagi kamu akan menikah, kamu tidak boleh bersikap seperti anak kceil lagi.”


“Amel bersikap seperti ini hanya dengan, Ibu,” ucap Amel masih dengan wajah cemberut.


Tidak lama kemudian terdengar bunyi bel. Amel dan Ibu memutuskan untuk keluar bersama. Amel langsung berlari cepat untuk membuka pintu.


“Kamu sedang apa?” tanya Rendi sambil berjalan masuk ke dalam.


“Sedang mengobrol dengan ibu.”


Amel mengikuti langkah Rendi menuju meja makan untuk meletakkan makanan yang dia bawa. Dia memesan banyak makanan hari ini. Setelah meletakkan makanan, Rendi melihat ibu Amel sedang berada di dapur, dia kemudian mendekati dan menyapa ibu Amel dengan sopan. Ibu Amel kemudian menyiapkan semua makan dan menata makanannya di atas meja makan, ementara Rendi mengajak Amel untuk duduk di balkon.


“Kakak akan pergi jam berapa nanti?” tanya Amel ketika mereka sudah duduk di balkon luar.

__ADS_1


“Jam 10,” jawab Rendi singkat. “Apa kamu tidak mau ikut aku?” tanya Rendi saat melihat Amel sedang menatap lurus ke depan.


Amel menoleh sebentar pada Rendi lalh kembali menatap ke depan. “Tidak Kak, Friska ingin menghabiskan waktu dengamu, bukan denganku.”


Rendi menghela napas. “Tapi, aku akan sangat merindukanmu nanti.”


Amel tertawa kecil. “Nanti sore juga kita akan bertemu lagi, Kak.”


“Aku tidak bisa tenang sebelum kamu menjadi istriku, Mel.” Wajah Rendi seketika berubah menjadi serius.


“Sebentar lagi aku akan menjadi istrimu, Kak. Aku tidak akan kemana-mana,” ucap Amel menenangkan.


“Peluk aku dulu, baru aku tenang.”


Amel berdiri dan menghampiri Rendi lalu memelukkunya erat. “Cepat pulang ya, Kak? aku akan menunggumu di sini.” Amel ingin melepaskan pelukannya tapi ditahan oleh Rendi.


“Mendengarmu berbicara seperti itu, membuatku jadi tidak ingin pergi,” Rendi tiba-tiba melepaskan pelukannya. “Apa aku batalkan saja pertemuanku dengan Friska?” ujar Rendi sambil menatap Amel.


“Jangan, Kak. Friska akan marah nanti.”


“Aku tidak peduli.”


“Lebih baik kita masuk ke dalam, Kak, mungkin semuanya sudah berkumpul semua.”


Amel sengaja mengalihkan pembicaraan. Dia tidak mau kalau sampe Rendi membatalkan pertemuanya dengan Friska. Amel menarik tangan Rendi dengan cepat.


“Tapi aku masih merindukanmu,” ucap Rendi sambil menahan tangan Amel.


Amel menoleh pada Rendi, mendekatinya lalu mencium pipi Rendi dengan cepat. Rendi belum sempat merespon, tetapi Amel sudah menarik tangannya ke dalam. Rendi yang terkejut hanya bisa mengikuti langkah Amel saat tangannya ditarik. Benar saja ucapan Amel, mereka sudah sudah berkumpul semua ruang keluarga. Mereka terlihat sedang mengobrol, kecuali Raka dan Sofi, mereka tampak hanya diam.


“Heemm, calon pengantin nempel terus kayak perangko,” celetuk Tamara saat melihat Amel dan Rendi memasuki ruang keluarga. Rendi tersenyum kaku, sementara Amel menunduk dengan wajah memerah.


“Lebih baik kita sarapan sekarang,” sela Ibu Amel ketika melihat Amel dan Rendi tampak salah tingkah.


Mereka semua berjalan menuju ruang makan. Setelah makan Tamara pamit untuk pulang diantar oleh Raka. Tidak lama kemudian Rendi juga pamit. Dia harus menemui Friska.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2