Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Rencana Devan.


__ADS_3

“Aku tidak akan melepaskanmu jika kau masih ingin berbuat nekat.” Devan menatap Friska dengan tajam tanpa melepaskan tangannya.


“Untuk apa kau peduli denganku. Kita tidak saling mengenal, biarkan aku pergi!”


Friska kembali marah mendengar ucapan Devan. Jika saja Devan tidak menolongnya waktu itu, mungkin saja hidupnya tidak akan semenderita seperti saat ini.


“Mulai saat ini kau adalah tanggung jawabku Friska. Aku tidak bisa melepaskanmu begitu saja. Kau bisa saja membahayakan dirimu dan orang lain nantinya.”


“Aku bilang lepaskan aku! Apa kau berusaha mencari kesempatan dengan cara memelukku?” tuduh Friska. Dia merasa marah karena Devan tidak melepaskan pelukannya juga.


“Terserah kau mau berpikir apa, jika kau berjanji untuk tidak melakukan hal seperti tadi lagi aku akan melepaskan pelukanku.”


“Lepaskan aku!” Friska terus memberontak dalam pelukan Devan.


Devan tetap pada keputusannya. Dia tahu kalau kondisi Friska masih labil. Dia tidak bisa berpikir jernih, maka dari itu dia berusaha menahan Friska.


“Berteriaklah sepuasmu.”


"Aaaaarhh," teriak Friska dengan suara tinggi. Devan tampak masih memeluk erat Friska agar dia tidak bisa lolos.


“Baiklah aku janji. Aku tidak akan melakukannya lagi,” ucap Friska dengan suara lemah. Dia akhirnya menyerah karena kehabisan tenaga.


Devan melepaskan pelukannya kemudian meraih dagu Friska lalu menatap tajam padanya. “Ingat Friska kau berhutang nyawa padaku. Aku yang menyelamatkanmu. Kau tidak boleh mati sebelum kau bisa membalas budi padaku. Jika kau masih berbuat nekat seperti tadi, aku akan menghubungi orang tuamu dan menceritakan semuanya.”


Tatapan Devan membuat nyali Friska menciut. Belum pernah ada yang berani berkata dengan tegas seperti Devan, kecuali ayahnya.


“Jangan! Jangan beritahu orang tuaku,” ucap Friska cepat.


Dia tidak ingin membani orang tuanya lagi. Harapan mereka saat ini tinggal dirinya. Kila sudah tidak ada. Dai tidak ingin membuat orang tuanya sedih.


“Mulai saat ini kau harus menuruti perkataanku. Seharusnya kau sudah mati waktu itu, jadi aku anggap saat ini hidupmu adalah milikku. Jangan sekali-kali kau berbuat seperti tadi. Jangan menguji kesabaranku, Friska. Jangan harap kau bisa keluar dari sini tanpa seijinku.” 


Devan meninggalkan kamar lalu menutup pintunya dengan keras. Devan lepas kontrol karena sikap Friska yang tiba-tiba menggila. Baru kali ini ada wanita yang bisa membuatnya lepas kendali selain Amel.


“Aaaaaaarrhh,” teriak Friska lagi.


Terdengar suara tangisan dari dalam. Devan masih berada di depan pintu yang sudah tertutup. Dia sedang bersandar pada tembok sambil memejamkan matanya sejenak. Tidak mudah baginya untuk mengontrol Friska karena dia memang samgay keras kepala.


Di dalam masih terdengar suara tangisan Frisika. Sebenarnya Devan tidak tega melihat Frisika menangis. Dia sudah bersikap lunak padanya tetapi sia-sia. Devan memutuskan untuk bersikap tegas padanya, terbukti Friska tidak lagi membantah ucapannya.


Tengah malam Devan kembali masuk ke dalam kamar yang di tempati Friska. Dia melihat Friska tampak tertidur di atas sofa panjang. Devan kemudian mengangkat tubuh Friska ke tempat tidur. Devan menarik selimut kemudian duduk di tepi tempat tidur. Wajah Friska tampak memerah dan sembab karena terlalu banyak menangis.


Maafkan aku Friska. Aku terpaksa melakukannya agar kau tidak betindak bodoh lagi.


Devan memandang wajah Friska sejenak. Sebenarnya dia merasa iba pada Friska. Cintanya yang begitu dalam membuanya hilang akal. Devan meraih remot AC untuk mengatur suhu kamar yang pas untuk Friska. Setelah itu dia keluar dari kamar itu.


******


"Kau sudah bangun?" Devan menghampiri Friska yang sedang duduk bersandar di tempat tidur.


"Iyaa," jawab Friska pelan.


Devan menghampiri Friska dan berdiri di samping tempat tidurnya. "Mandilah, pakaianmu ada di lemari."


Friska tampak masih diam. Dia hanya menatap lurus ke depan. Devan membungkuk dan meraih dagu Friska, lalu menatap lekat bola matanya.


"Apa kau menunggu aku untuk memandikanmu?"


Mata mereka bertatapan. "Aku.. aku.. aku akan mandi sendiri," ucap Friska gugup.

__ADS_1


Dia memalingkan wajahnya ke samping karena wajahnya memanas dikarenakan jarak wajah mereka cukup dekat. Dia bahkan bisa merasakan hembusan napas Devan di wajahnya.


Devan menjauhkan wajahnya. Dia berdiri dengan tangan yang berada di saku celananya. "Setelah mandi keluarlah.. Aku akan menunggumu di meja makan! Kita sarapan bersama!"


Devan melangkah menuju pintu. "Jangan lama-lama. Jangan berpikir untuk melalukan hal bodoh seperti kemarin," ucap Devan ketika dia sudah meraih gagang pintu.


"Ya." Friska berjakan menuju kamar mandi setelah Devan keluar dari kamarnya.


Setelah selesai mandi. Friska keluar dari kamarnya. Dia berjalan menuju meja makan. "Duduklah" Devan menarik kursi di sebelahnya.


"Terima kasih," ucap Friska pelan sambil duduk.


Dia sebenarnya merasa malu pada Devan. Setelah perlakuan kasarnya selama ini. Devan masih bersikap baik padanya. Walaupun dia terlihat lebih tegas dari sebelumnya.


Devan menyungging sudut bibirnya. "Ternyata kau bisa mengucapkan terima kasih juga," ucap Devan enteng. Dia memasukkan roti yang sudah di olesi selai coklat ke dalam mulutnya.


Friska tampak merasa tidak suka mendengar ucapan Devan. "Kalau kau cuma mau mengejekku, lebih baik aku kembali ke kamar."


Devan menahan tangan Friska. "Aku hanya bercanda. Makanlah!"


Devan menyodorkan roti dan nasi goreng di depan Friska. Dia tidak tahu makanan apa yang Friska suka. Jadi, dia hanya meminta bi Asih untuk membuat nasi goreng dan bubur ayam untuk Friska. Friska kembali duduk. Friska mengambil piring yang berisi nasi goreng. Dia mulai menyendokkan makananan ke dalam mulutnya.


"Besok aku akan kembali ke Singapore. Untuk sementara aku akan menetap di sana. Kau harus ikut denganku! Kau bisa menenangkan dirimu di sana sementara waktu!" ucap Devan ketika dia sudah selesai makan.


"Untuk apa kau ke Singapore?"


Devan mengelap sudut bibirnya. "Rumah orang tuaku berada di sana. Aku juga ingin mengurusi perusahaan papaku."


Friska tidak mengerti kenapa Devan malah mengajaknya ke rumah orang tuanya. Itu terdengar seperti ajakan untuk menemui calon mertuanya.


"Maksudmu kau menyuruhku tinggal di rumah orang tuamu?"


"Apakah keluargamu tidak keberatan dengan kehadiranku? Kita bahkan tidak memiliki hubungan apa-apa. Lagi pula aku tidak nyaman tinggal di rumah orang lain."


"Jadi maksudmu, kau hanya ingin tinggal berdua saja denganku seperti saat ini? Aku tidak keberatan kalau itu memang maumu. Kita bisa tinggal di apartemenku, jika kau tidak ingin tinggal di rumah orang tuaku."


Friska menggeleng cepat. "Bukan seperti itu maksudku."


Devan menatap Friska dengan wajah serius. "Jadi, apa maksudmu?"


"Kau tidak perlu melakukan hal itu. Aku bisa mengurusi hidupku sendiri. Aku akan menenangkan diri sementara di indonesia sebelum pulang ke Jerman."


Devan menatap tajam pada Friska. "Kau harus ikut denganku. Apa kau lupa? Kau bahkan masih berhutang padaku? Aku tidak mengijinkanmu untuk pergi begitu saja." Devan hanya takut kalau Friska kembali membuat ulah lagi.


Emosinya belum stabil. Dia bisa saja bertindak sesuka hatinya jika tidak ada yang mengawasainya. "Berapa yang kau inginkan agar kau melepaskanku?"


Devan menyeringai. "Uangku sudah banyak. Aku tidak memerlukan uangmu."


"Lalu apa yang kau inginkan dariku?"


"Ikut denganku ke Singapore."


"Kenapa kau bersikeras memintaku untuk ikut denganmu?" Friska masih tidak mengerti dengan jalan pikiran Devan.


"Aku tidak ingin kau mengacaukan rumah tangga Amel. Kau bisa saja menghancurkan hubungan mereka."


Friska tampak terdiam. "Aku memang sangat mencintai Rendi, tetapi dia aku masih tahu batasanku. Aku tidak akan merebut suami orang lain."


"Kalau begitu ikut denganku! Tidak ada salahnya kau menenangkan dirimu di sana!"

__ADS_1


"Kalau saja aku tidak tahu, kalau kau itu mencintai Amel. Aku bisa salah paham denganmu!"


"Terserah kau mau berpikiran apa terhadapku."


"Kau harus meminta ijin kepada orang tuanku kalau kau ingin membawaku ke Singapore." Friska sengaja mengajukan syarat tersebut agar Devan berpikir 2 kali untuk mengajaknya ke Singapore.


"Baiklah. Aku akan menelpon orang tuamu nanti." Devan berdiri sambil merapikan bajunya.


"Apa kau serius ingin meminta ijin kepada keluargaku?"


Devan menatap Friska sejenak. "Apa perlu aku menemui mereka?" tanya Devan dengan alis yang terangkat sebelah.


"Kenapa tidak sekalian saja kau melamarku?" ujar Friska asal.


"Baiklah, kalau itu memang maumu."


"Devan, jangan bercanda denganku!" pekik Friska.


Devan menatap tajam pada Friska. "Bukankah seharusnya kau tidak memanggil namaku langsung? Usia kita terpaut 4 tahun. Aku lebih tua darimu, kau harus memanggilku dengan benar Friska!"


"Aku... Aku tidak mau." Friska mengalihkan pandangannya ke samping.


"Sepertinya aku harus mengajarimu sopan santun."


"Kau mau apa?" tanya Friska ketika melihat Devan tampak mulai mendekatkan tubuhnya. "Kau jangan macam-macam denganku, aku bisa berteriak."


Devan menyeringai. "Silahkan. Tidak akan ada yang mendengarnya."


"Menjauh dariku!" pekik Friska dengan panik.


Devan berhenti ketika jarak diantara mereka hanya tersisa sedikit. Dia mendekatkan wajahnya pada Friska. "Kenapa wajahmu memerah?"


Friska langsung mendorong tubuh Devan. "Kau.. wajahku memang seperti ini," elak Friska dengan cepat.


"Benarkah itu alasannya, bukan karena kau sedang gugup? Jangan-jangan kau sudah mulai menaruh hati padaku?"


"Kau jangan berkata sembarangan. Orang yang aku suka itu hanya Rendi. Selamanya hanya dia yang ada di hatiku," ucap Friska dengan nada tinggi.


Devan tersenyum sinis. "Kau tidak perlu berteriak. Aku bisa mendengarnya dengan jelas. Aku tidak tuli."


"Itu salahmu sendiri karena berbicara omong kosong."


"Omong kosong atau tidak, kita akan lihat nanti." Devan berhenti sejenak. "Aku akan terlambat. Aku akan pergi dulu. Nanti bicara lagi."


Devan berjalan menjauhi Friska. "Tunggu dulu. Kau mau ke mana?"


"Aku ingin pergi ke suatu tempat." Devan tampak heran kenapa Friska bertanya hal itu.


"Aku ikut denganmu, aku bosan di sini."


Devan menatap Friska dengan tatapan menyelidik. "Aku tahu yang ada di kepalamu. Jangan sekali-kali berusaha kabur dariku," ucap Devan dengan tegas.


"Aku hanya ingin jalan-jalan."


Friska sudah lama tidak keluar. Dia selalu mengurung dirinya. Hari ini suasana hatinya sedang bagus. Jadi, dia ingin keluar sebentar.


"Baiklah, ganti bajumu dulu." Devan berjalan keluar dari kamarnya.


Setelah berganti baju, Friska terburu-buru menyusul Devan. Setelah itu mereka berjalan menuju loby apartemen.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2