
"Dia masih sering mengirimkan bunga untukmu?" Kenan memang tahu kalau Aefar menyukai Amel dan sering mengirimkanya bunga.
Wajah Rendi terlihat acuh tak acuh. "Iya Pak. Padahal sudah sering di tolak sama Amel," sahut Bela.
Kenan menyungging sudut bibirnnya. "Sepertinya dia masih belum menyerah padamu, Mel."
Sebelum Amel menanggapi ucapan Kenan, Rendi lebih dulu menyela. "Cepatlah. Aku sudah lapar." Dia berjalan lebih dulu dengan wajah dinginnya.
Kenan tersenyum tipis melihat Rendi yang nampak kesal. "Sepertinya dia cemburu padamu, Mel," ucap Kenan pada Amel dengan suara pelan.
Wajah Amel nampak malu, sementara Bela tersenyum menggoda ke arah Amel. "Dia memang lupa padamu, Mel, tapi hatinya masih mengingatmu." Kenan berlalu setelah mengatakan itu.
Sore harinya saat akan pulang bekerja, Amel masuk ke dalam ruangan Kenan untuk mengambil berkas yang sudah ditanda tangani oleh Kenan. "Mel, besok kita akan meeting di luar. Datanglah lebih pagi," ucap Kenan sebelum Amel keluar dari ruangannya.
"Baik Pak. Kalau begitu saya permisi."
Kenan mengangguk lalu Amel berbalik.
"Tunggu dulu." Rendi menghentikan langkah Amel ketika dia sudah berjalan ke arah pintu. "Kemari." Rendi yang sedang duduk di sofa menggerakkan tangannya dengan malas ke arah Amel agar mendekatinya.
Amel berjalan ke arah Rendi dan berhenti tepat di sampingnya sambil memasang senyuman manis padanya. "Ada apa, Kak?"
"Buang semua bunga yang tadi kau terima. Mulai besok aku tidak mau melihat ada bunga lagi di lantai ini, terutama di mejamu."
Amel mengernyit sesaat sebelum mengulum senyumnya. "Baik Kak. Aku akan membuangnya."
"Kau tidak berhak menyuruh Amel membuang bunga miliknya. Lagi pula, kenapa harus dibuang? Bunga itu sangat indah." Kenan ikut menanggapi perkataan Rendi.
"Aku alergi serbuk bunga. Dan aku tidak suka melihat bunga warna-warni. Melihatnya saja bisa membuat mataku sakit serta merusak pemandangan yang ada," jawab Rendi acuh tak acuh.
Kenan mencibir. Tentu saja dia tahu kalau itu hanya alasan Rendi karena tidak suka ada pria lain yang mengirimkan bunga pada Amel. Rendi memang beberapa kali melihat bunga di meja Amel, tetapi dia kira itu bunga dari rekan bisnis atau dari client yang diberikan untuk perusahaan. Karena biasanya mereka suka mengirim bunga untuk perusahaan. Tapi, saat tahu kalau bunga itu dikirim secara pribadi untuk Amel, Rendi seketika merasa kesal.
"Semenjak kapan kau alergi serbuk bunga? Kenapa aku baru tahu?" Kenan belum bisa menerima alasan konyol Rendi yang terkesan mengada-ada. "Bilang saja kau cemburu karena ada pria yang sering mengirim bunga pada Amel."
"Apa kau istriku yang harus tahu semua hal mengenai hal pribadiku?"
"Bahkan kalau aku wanita, aku tidak mau jadi istrimu." Kenan kemudian beralih pada Amel, "Mel, lebih baik kau taruh saja bunganya di meja resepsionis kalau Aeraf mengirimkan bunga untukmu lagi," usul Kenan.
Rendi kemudian melemparkan tatapan tajam pada Kenan. "Mulai besok aku melarang ada bunga di gedung ini dengan alasan apapun. Beritahu pada semua karyawan kalau aku yang membuat peraturan itu. Siapapun yang melanggarnya akan aku berikan sangsi," ucap Rendi dengan tegas.
Kenan terkekeh mendengar atutaran gila Rendi. "Kau sudah tidak waras. Ren. Rasa cemburumu sudah menghilangkan akal sehatmu."
Rendi mengabaikan cemoohan Kenan dan beralih menatap Amel. "Jangan sampai kau melanggar peraturan itu atau aku sendiri yang menghukummu."
Amel sangat senang ketika melihat Rendi secara terang-terangan menunjukkan rasa cemburunya. Dulu saat mereka masih berpacaran, sikap cemburu Rendi yang berlebihan menjadi hal yang paling tidak di sukai oleh Amel.
"Iyaa Kak. Aku akan langsung membuangnya langsung kalau ada yang mengirimkan bunga lagi."
Rendi tersenyum puas saat mendengar jawaban dari Amel. "Apa dia sudah lama mengejarmu?"
Pertanyaan Rendi membuat Amel mengerutkan kening karena merasa bingung siapa yang dimaksud oleh Rendi. "Maksudku pria yang suka mengirimkan bunga padamu."
Mulut Amel membentuk huruf O setelah mendengar penjelasan dari Rendi. "Tidak tahu, Kak. Aku hanya beberapa kali bertemu dengannya saat meeting jadi aku tidak begitu ingat," jelas Amel.
"Mulai besok kau tidak perlu ikut meeting lagi dengan client atau rekan bisnis kita. Biarkan Bela yang ikut bersama dengan Kenan."
"Kenapa? Itu adalah tugasku, Kak."
Rendi tidak menanggapi ucapan Amel, melainkan menoleh ke belakang. "Kenan, untuk meeting diluar bersama dengan rekan bisnis atau dengan yang lainnya, jangan pernah ajak Amel lagi. Biarkan Bela ikut bersamamu."
Kenan mengangkat kepalanya setelah meletakkan ponselnya di atas meja. "Apa lagi ini? Kenapa Amel tidak boleh ikut aku meeting di luar?"
"Tidak ada alasan khusus. Aku hanya tidak suka dia ikut meeting bersamamu dan bertemu dengan orang lain," jawab Rendi acuh tak acuh.
Kenan mengambil ponselnya lalu berjalan ke arah Rendi. "Lama-lama kau bisa membuatku stres dengan aturan gilamu itu. Jangan membuat malu diriku dan merusak citraku di perusahaan ini dengan permintaan konyolmu itu."
Rendi terlihat acuh tak acuh. "Turuti saja perkataanku. Aku tidak sedang bernegoisasi denganmu, Kenan."
Kenan mengumpat Rendi dengan kesal sampai membuat Amel tersenyum. "Baru kali ini aku melihatmu tersenyum lebar," ucap Rendi tanpa sadar.
"Kenapa? Kau terpesona juga dengan Amel?" cibir Kenan.
"Lebih baik kau pulang sana! Jangan menggangguku dengan Amel."
"Mel, jangan pedulikan dia. Lebih baik kau pulang. Ini sudah lewat jam kantor," ujar Kenan sambil menoleh pada Amel.
__ADS_1
"Baik Pak," ucap Amel sambil mengangguk.
"Tunggu. Aku akan mengantarmu." Rendi berdiri kemudian beralih menatap Kenan. "Aku pulang duluan."
"Hey, Ren, kau bilang akan pergi bersamaku?"
Rendi menghentikan langkah kakinya lalu menoleh pada Kenan. "Tidak jadi."
Rendi kemudian keluar bersama dengan Amel dan tentu saja diiringi dengan umpatan kekesalan dari Kenan.
Saat dalam perjalannan pulang, Rendi mengajak Amel lebih dulu makan di restoran. "Kalau aku tidak mengantarmu pulang, biasanya kau pulang dengan siapa?" tanya Rendi ketika mereka sudah duduk di dalam restoran.
Amel terlihat ragu saat akan menjawab pertanyaa Rendi. "Kak Devan, tapi kalau dia tidak bisa, biasanya bang Raka yang menjemput aku."
"Kau pasti senang dikelilingi oleh pria-pria tampan. Dari dulu apa kau memang menyukai pria-pria tampan?"
Amel tersenyum mendengar ucapan Rendi. "Aku tidak menyukai pria tampan, tapi aku menyukaimu, Kak."
Rendi terlihat terkejut. Dia sepertinya tidak menyangka kalau Amel akan menjawab seperti itu. "Apa kau sering berkata seperti ini pada pria lainnya?" Meskipun terkesan acuh tak acuh saat dia berbicara, tapi Rendi sedikit salah tingkah setelah mendengar pengakuan Amel.
"Aku hanya pernah mengatakan hal itu padamu, Kak."
Bersambung...
*******
Esok harinya, ketika Amel akan pulang bekerja, seseorang menghampirinya. "Amelia, bisa kita bicara sebentar?"
Wanita yang menghampiri Amel adalah Friska. Dia sengaja memakai kacamata hitam agar tidak ada yang mengenalinya. "Baiklah."
"Ikut aku."
Sore itu Amel tidak pulang bersama dengan Bela. Amel memang pulang sedikit terlambat karena ada pekerjaan mendesak yang harus dia selesaikan hari itu juga.
Friska mengajak Amel ke salah satu cafe dekat kantor Amel. "Apa yang ingin kau bicarakan padaku?" tanya Amel tanpa basa-basi.
"Aku minta jauhi Rendi. Dia adalah tunanganku. Kau adalah wanita seharusnya kau tahu tidak boleh mengganggu pria yang sudah memiliki tunangan, apalagi sebentar lagi kami akan menikah," ucap Friska.
"Aku tidak bisa. Kau sudah memanfaatkan Rendi untuk mendapatkannya."
Friska mengernyit sebentar. "Apa maksudmu?" Sebenarnya dia sedikit tahu arah pembicaraan Amel, tetapi dia berpura-pura tidak tahu.
Mendegar itu, Friska terlihat biasa saja. Dia sebenarnya juga sudah menduga kalau Amel sepertinya tahu siapa dirinya. "Itu artinya dia memang ditakdirkan untuk menjadi milikku. Seharusnya kau tahu diri. Kau hanya mantan kekasihnya. Jangan bermimpi terlalu tinggi kalau kau tidak mau terluka nantinya."
"Aku akan berusaha untuk membuat Rendi mengingatku," kata Amel dengan tegas.
Friska tertawa kecil. "Aku akan memastikan ingatan Rendi tidak pernah kembali lagi."
******
"Ren, aku kemarin melihat Kila pergi dengan Amel." Kenan yang baru saja datang langsung mengajak Rendi berbicara. Saat dia akan pulang, dia melihay Friska menghampiri Amel dan pergi setelah berbicara sebentar.
"Benarkah? Ke mana?" Rendi memang tidak tahu perihal pertemuan Friska dengan Amel kemarin sore.
"Aku tidak tahu," jawab Kenan.
"Mungkin kau salah lihat. Kila sedang tidak enak badan kemarin. Tidak mungkin dia pergi keluar, apalagi menemui Amel. Mereka tidak saling kenal, jadi tidak ada alasan mereka bertemu."
Kenan menghela napas, tentu aja dia tidak bisa menjelaskan kalau yang menjadi tunangannya saat ini adalah Friska bukan Kila. Seandainya Dokter Jhon dan kakaknya tidak memperingatkan dirinya untuk tidak merangsang ingatan lama Rendi, sudah dari awal dia memberitahu semuanya pada Rendi.
"Lebih baik kau jauhi Amel. Kau hanya akan menyulitkannya."
Rendi memicingkan matanya pada Kenan karena merasa tidak suka dengan ucapan Kenan. "Kenapa kau selalu memintaku untuk menjauhinya? Apa jangan-jangan kau menyukai Amel?" tebak Rendi.
"Tidak, aku hanya tidak ingin kau menyakitinya."
"Aku tidak mau menjauhinya," tolak Rendi dengan tegas.
“Kau sudah memiliki tunangan Ren. Kau akan menikah dengan Kila. Kau hanya akan menyakiti Amel jika kau memberikan harapan palsu padanya dan tidak mau melepaskannnya!” ucap Kenan dengan nada tinggi.
Rendi tampak diam setelah mendengar perkataan Kenan. “Kau harus memilih antar Kila dan Amel sebelum terlambat,” lanjut Kenan lagi saat melihat Rendi tidak merespon perkataannya.
“Aku tidak mungkin membatalkan pertunanganku dengan Kila. Aku menyayanginya,” jawab Rendi pelan.
“Kalau begitu jauhi Amel. Kalau kau menyakitinya kali ini, bukan hanya aku yang akan menjauhkannya darimu, tapi Raka dan Devan yang akan lebih dulu melakukannya. Mereka akan membawa Amel pergi jauh dari hidupmu,” ucap Kenan dengan tegas.
__ADS_1
“Aku tidak rela dia bahagia dengan laki-laki lain," ucap Rendi spontan.
“Apa kau gila..!! Kau tidak mau melepaskan mereka berdua??” teriak Kenan kesal.
Rendi menoleh pada Kenan saat mendengar teriakan Kenan. “Aku hanya bingung dengan perasaanku. Aku menyangi Kila, tapi aku juga tidak suka melihat Amel dekat dengan pria lain.”
Kenan berjalan meninggalkan Rendi menuju kursinya. “Kau harus secepatnya memutuskan sebelum kamu menyesal nantinya."
"Aku tidak bisa melepas Kila. Aku mencintainya."
"Kalau begitu jauhi Amel."
Rendi tidak merespon ucapan Kenan. Dia duduk termenung sambil berpikir. Tanpa mereka berdua tahu kalau ada seseorang yang mendengar pembicaraan mereka berdua. Air mata yang jatuh ke pipi orang tersebut menjadi saksi bisu hancurnya hati dan perasaannya.
*********
Pada hari libur Amel dan Bela pergi ke salah satu mall untuk berbalanja keperluan uang akan di bawa ke Bali nanti. Mereka mengelilingi Mall selama seharian. Sudah lama mereka tidak berbelanja bersama, maka dari itu, mereka berdua pergi bersama saat libur.
"Bel, kita mau beli apa lagi?" tanya Amel setelah mereka baru saja membeli baju pantai yang akan digunakan saat di Bali.
Bela tampak berpikir. "Kita makan aja dulu deh, soalnya belanjaan kita juga udah banyak," ucap Bela seraya mengangkat paper bag yang ada di tangannya.
"Oke, gue juga uda laper," ucap Amel sambil mengaitkan tangan Amel pada lengan Bela.
Mereka berjalan menuju lantai 4, dimana tempat footcourt berada. Setelah mereka mendapat tempat duduk, mereka tampak berbincang sambil menunggu makanan mereka datang.
"Bel, lo uda ijin sama orang tua lo belum soal kita mau pergi ke Bali?" tanya Amel sambil menopang dagunya di atas meja.
Bela menggeleng kuat. "Belom, lagian mereka pasti ngijinin kalau perginya sama lo," jawab Bela enteng.
Amel memang sudah dekat dengan keluarga Bela dari dulu, sehingga mudah untuk Bela meminta ijin jika ingin pergi ke mana-mana dengan Amel.
"Lo uda bilang belom sama Raka dan tante Tamara?"
"Rencana nanti pulang kerja gue mau bilang, gue lupa terus Bel mau bilangnya."
"Kalau Raka nggak ngijinin gimana?" tanya Bela lagi.
"Nggak mungkinlah, kan perginya sama lo"
Obrolan mereka terhenti saat makanan mereka datang. Mereka memutuskan untuk langsung menikmati makanan mereka.
"Nanti lo pulang sama siapa Mel? tanya Bela setelah mereka selesai makan. "Gue minta jemput bang Raka, soalnya kak Devan lagi ada meeting, jadi dia nggak bisa jemput gue."
Bela berdiri dan mengambil paper bag yang di letakkan di atas meja. "Yaa udaa yuk, kita pulan, uda jam 7 juga."
Bela bersama dengan Amel berjalan setelahbAmel mengambil belanjaannya juga. Mereka tampak berjalan beriringan sambil sesekali menunjuk toko yang mereka lewati saat akan menuju loby hotel.
"Kak Amel."
Langkah Amel dan Bela berhanti saat mendengar seseorang yang memanggil nama Amel. Mereka kemudian menoleh bersama.
"Sofi," ucap Amel saat melihat adik Rendi sedang berjalan ke arahnya.
"Sofi kangen banget sama kak Amel," ucap Sofi sambil memeluk tubuh Amel dengan erat.
"Kak Amel juga kangen banget sama kamu," ucap Amel setelah Sofi melepaskan pelukannya, "kamu lagi ngapain di sini?" tanya Amel lagi saat melihat Sofi tampak sendirian.
Sofi tertawa lebar. "Sofi lagi jalan-jalan, Kak. Sofi bosen di hotel terus, nggak punya temen."
Bela memandang Amel seolah bertanya siapa wanita di depannya. "Bel, kenalin, ini adiknya kak Rendi," ucap Amel sambil menoleh pada Bela.
Bela tersenyum lalu mengulurkan tangan. "Bela," ucapnya.
"Sofi Kak," ucap Sofi menyambut uluran tangan Bela.
"Gue pulang duluan ya. Soalnya supir gue uda di depan," ucap Bela sambil memasukkan ponselnya ke dalam tasnya.
"Iyaa Bel, hati-hati ya," ucap Amel sambil melambaikan tangan pada Bela.
"Iyaaa." Amel melambaikan tangan ke arah Bela lalu mengalihkan pandangannya setelah Bela sudah jauh. "Kamu mau ke mana habis ini Sofi?" tanyanya.
Sofi menoleh pada Amel." Sofi juga nggak punya tujuan kak, dari tadi Sofi cuma muter-muter aja. Kakak mau pulang?"
Amel mengangguk. "Iyaa, kakak uda selesai belanja soalnya. Kamu sekarang tinggal dimana?" Amel sengaja bertanya, karena dia tahu rumah yang waktu itu mereka tempati sudah dijual.
__ADS_1
"Sementara di hotel, Kak. Kak Amel mau nggak ikut Sofi ke hotel? Kita uda lama nggak ketemu. Sofi masih pengen ngobrol sama Kakak," ucap Sofi penuh harap. "Mau yaa kak?" lanjut Sofi lagi saat melihat Amel tampak berpikir.
Bersambung