
Amel tampak menghembuskan napas panjang sebelum masuk ke dalam rumah Raka. Rendi terus menggenggam erat tangan Amel. Setelah dirasa cukup tenang Amel memutuskan untuk langsung masuk ke dalam rumah Raka.
Saat dalam perjalanan, Amel sudah menelpon Raka menggunakan ponsel Rendi untuk mengabarkan kalau dirinya akan pulang. Dia meminta Raka untuk mengatakan kepada mamanya kalau ada yang ingin disampaikan olehnya.
Raka mengangkat wajahnya saat mendengar langkah kaki memasuki ruangan keluarga. Raka menatap Rendi dan Amel secara bergantian. “Mama di mana, Kak?” tanya Amel setelah dia duduk bersebelahan dengan Rendi.
“Ada di kamar, mau aku panggilin?” tanya Raka sambil meletakkan ponselnya di meja.
Amel menggeleng pelan. “Nanti saja, Amel yang akan pergi ke sana.”
“Mel, bisa nggak kamu tinggalin kami berdua? Ada yang ingin aku bicarakan dengan Raka,” ucap Rendi sambil menoleh pada Amel.
Dahi Amel mengerut. Dalam hati dia bertanya, apa yang akan Rendi bicarakan pada Raka sehingga dia tidak boleh mendengarnya. “Pergilah Mel, temui mama di kamar. Kami nggak akan berkelahi.” ucap Raka saat melihat keraguan di wajah Amel.
Amel menatap Raka dan Rendi secara bergantian. Wajah mereka terlihat serius. “Baiklah kalau begitu,” Meski ragu, Amel tetap menuruti perkataan Raka. “Kak, aku ke kamar mama dulu,” ucap Amel sambil menoleh pada Rendi.
Rendi mengangguk kemudian Amel pergi meninggalkan mereka berdua. “Sebelum aku menjelaskan maksud kedatanganku ke sini. Aku akan memberitahukan apa yang terjadi pada Amel beberapa hari ini.” Rendi membuka suara setelah Amel tidak terlihat lagi.
Raka mengangguk, dia juga penasaran mengenai hal itu. Rendi menceritakan semuanya sampai dia bisa membawa Amel pulang untuk menemui orang tuanya hingga akhirnya dia akan menikahi Amel. Raka tampak terdiam setelah Rendi menyelesaikan ceritanya.
“Aku ke sini untuk meminta ijin padamu. Bagaimanapun dia menganggapmu sebagai kakaknya, waulupun aku tahu kalau kau menyukainya. Aku akan tetap merahasiakan tentang perasaanmu pada Amel. Aku hanya minta padamu, lepaskan dia. Aku akan menikahinya. Setuju atau tidak itu terserah padamu. Aku tahu kau sangat menyayangi Amel, tapi dia akan menjadi istriku. Lebih baik kau buang perasaan cintamu padannya,” ucap Rendi dengan wajah serius.
Raka tampak masih diam. Dia sedang berpikir keras. "Aku bisa melepaskan dia selagi dia bisa bahagia denganmu, tapi untuk membuang perasanku padanya tidak akan semudah membalikkan tangan, mudah untuk diucapkan tapi sulit untuk dilakukan. Aku butuh waktu untuk melupakannya. Aku sudah pernah mencobanya, dan itu cukup sulit untukku. Aku menyukai dirinya lebih dulu dari pada dirimu, kurasa jika kau jadi aku, belum tentu kau bisa melepasnya," ucap Raka dengan tenang.
Rendi mengangguk pelan. "Aku mengerti, aku akan mencoba memaklumimu, asalkan kau tidak mempunyai pikiran untuk merebutnya dariku. Hanya saja saranku, jangan terlalu larut dalam perasaanmu, kau yang akan rugi sendiri nantinya," ujar Rendi.
"Aku juga ingin berterima kasih padamu karena selama aku tidak ada, kau sudah menjaganya dengan baik. Aku tahu peranmu sangat penting dalam hidup Amel oleh karena itu aku tidak akan melarang Amel untuk bertemu denganmu. Aku harap kita bisa berhubungan baik ke depannya. Lebih baik kita lupakan semua yang sudah pernah terjadi di antara kita di masa lalu," sambung Rendi lagi.
"Aku akan berusaha melupakan Amel perlahan. Walaupun aku mencintainya, aku tidak mungkin merebut dia jika sudah menjadi istrimu, tetapi kalau kau menyakitinya dan membuat dia menderita, aku akan membawanya pergi," ucap Raka sambil menatap lurus pada Rendi.
"Aku berjanji tidak akan pernah membuatnya menderita. Aku akan membuatnya bahagia jika hidup bersamaku. Aku sangat mencintainya. Aku bahkan rela melakukan apapun untuknya,” ucap Rendi tegas.
Raka mengangguk. “Baiklah, aku pegang janjimu. Kapan kalian akan menikah?” tanyanya.
__ADS_1
“Tiga hari lagi.”
“Di mana acaranya akan berlangsung?”
“Di Indonesia, tapi aku belum tahu tepatnya di mana. Semua sudah diurusi oleh Jhon dan Kak Bianca. Amel yang mengetahui detail persiapan pernikahan kami. Untuk resepsi kedua akan dilakukan di Jerman.”
“Lalu kalian akan tinggal di mana setelah menikah? Apa kau akan membawanya pulang ke Jerman dan menetap di sana?”
“Semua terserah pada Amel. Aku akan mengikuti kemauannya. Aku tidak akan memaksanya. Kalau dia bersedia ikut denganku ke Jerman, kami akan tinggal di sana,karena semua keluargaku ada di sana, perusahaanku juga ada di sana, tetapi jika dia ingin tetap tinggal di Indonesia, maka aku akan merubah kewarganegaraanku dan menetap di sini.”
Raka mengangguk. “Apa kau sudah bertemu dengan keluarga Amel?”
Rendi menggeleng pelan. “Belum. Tadinya aku beserta keluargaku akan ke sana besok untuk langsung melamar sekaligus menjemput mereka, tetapi Devan sudah ke sana terlebih dahulu untuk menjemput ibu dan adiknya. Kami akan bertemu besok, sementara mereka akan tinggal di apartemenku yang tidak jauh dari hotelku,” jelas Rendi.
“Kabari aku besok kalau orang tua Amel sudah berada di apartemenmu. Aku dan Mama akan ke sana untuk bertemu dengan mereka.”
Rendi mengangguk cepat. “Baiklah.”
“Kau tenang saja. Kau akan melihatnya sendiri nanti,” ucap Rendi cepat.
Raka berdiri. “Baiklah. Aku akan memanggilkan Amel. Kau tunggu di sini dulu.” Raka kemudian berjalan menuju kamar ibunya.
Sebelum masuk Raka mengetuk pintu terlebih dahulu. Saat Raka masuk mereka tampak sedang berbincang. “Ma, Mel. Lebih baik kita keluar, Rendi sedang menunggu di luar.”
Mereka berdiri bersama kemudian mengikuti langkah Raka menuju ruang keluarga. Rendi tampak sedang fokus pada ponselnya. Rendi mengangkat kepalanya lalu berdiri saat Amel, Raka, dan Tamara sedang berjalan ke arahnya. Amel memegang lengan Rendi.
“Ma, ini calon suami Amel,” ucap Amel setelah dia berdiri di sampingnya. Rendi tersenyum dan mengulurkan tangan. “Rendi, Tante,” ucap Rendi cepat.
Tamara membalas uluran tangan Rendi. “Mamanya Raka,” ucap Tamara lembut. “Ayo duduk. Jangan sungkan,” sambung Tamara lagi.
Amel dan Rendi duduk bersebelahan dan Raka bersama ibunya di sebrang mereka. Tamara meneliti wajah Rendi sebentar.
“Tampan sekali calon suamimu, Mel,” ucap Tamara dengan senyum lebar. “Tapi wajahnya seperti tidak asing,” ucap Tamara dengan alis bertautan.
__ADS_1
Amel tersenyum. “Dia kakaknya Sofi, Ma. Wajah mereka memang mirip,” jelas Amel saat melihat wajah penasaran mama Raka.
Seketika wajah Tamara menjadi cerah. “Sofi yang pernah ke sini? Pacarnya Raka yang cantik itu?” tanya Tamara menggebu-gebu.
Raka melirik malas pada mamanya. “Sofi bukan pacar Raka, Ma.”
Kening Rendi mengerut. Dia heran dengan perkataan mamanya Raka. Dia berpikir semenjak kapan Raka dan adiknya bisa dekat. Yang Rendi tahu, dari dulu mereka tidak pernah akur. Mereka akan bertengkar jika bertemu, apalagi sampai ibu Raka menyebut adiknya sebagai pacar Raka. Rendi berpikir kalau mama Raka menyukai adiknya melihat bagaimana respon mama Raka saat dia mendengar nama Sofi.
“Iya, Sofi yang pernah ke sini, Ma. Dia adik satu-satunya kak Rendi.”
Amel tampak membisikkan sesuatu pada Rendi setelah melihat wajah heran Rendi. Dia memberitahukan kalau dia pernah mengajak Sofi ke ruman Raka saat dirinya masih tertidur di hotel karena mabuk. Amel juga menceritakan kalau Tamara sangat menyukai Sofi.
“Duuuh, sepertinya bibit kalian unggul sekali. Pantas saja Sofi sangat cantik, ternyata kakaknya juga sangat tampan,” lontar Mama Raka dengan senyuman lebar.
Rendi tersenyum kaku saat mendengar pujian dari mama Raka. Sementara Raka tampak jengah mendengarnya. “Bang Raka juga tampan, Ma,” ucap Amel spontan.
Rendi langsung melirik tajam pada Amel. Dia merasa tidak suka saat Amel memuji laki-laki lain di depannya. “Percuma tampan tapi kalau tidak laku,” ejek mama Raka.
Raka melirik mamanya sebentar lalu beralih menatap Amel yang tampak terkekeh saat mendengar ucapan mamanya. “Raka bukannya nggak laku, Ma. Raka cuma belum menemukan seseorang yang pas untuk Raka,” ucap Raka dengan wajah kesal.
“Mama tidak mau mendengar alasanmu. Kalau tahun ini kamu belum juga mengenalkan pacarmu, terpaksa mama akan menjodohkan kamu dengan anak teman mama,” ucap Tamara dengan tegas.
“Raka tidak mau di jodohkan, Ma. Raka bisa mencari sendiri,” tolak Raka. Dia tidak terima kalau harus dijodohkan. Dia baru saja patah hati, dia belum bisa membuka hatinya untuk orang lain.
“Mama beri kamu waktu sampai akhir tahun ini untuk mengenalkan pacarmu pada Mama.” Tamara berdiri. “Mama ke dapur dulu, Mama akan meminta bibi untuk menyiapkan makanan dan minum,” ucap Tamara sambil berlalu meninggalkan mereka saat melihat anaknya tampak akan memprotes keputusannya. Tamara tidak memberikan kesempatan untuk Raka membela diri.
Raka menghela napas panjang dan mengusap wajahnya dengan kasar. Dia merasa suasana hatinya berubah jadi buruk saat mendengar ucapan mamanya sementara Amel menahan senyumanya saat mendengar Raka akan di jodohkan.
“Sepertinya ibumu menyukai adikku, tapi sayangnya adikku sudah mempunyai pacar, sepertinya sulit untukmu untuk mendapatkan hatinya karena dia sangat mencintai pacarnya,” ucap Rendi saat Tamara tidak terlihat lagi.
Raka mengangkat kepalanya menatap Rendi. “Maksudmu Willy? Bajingan seperti itu tidak layak untuk dicintai. Dia tidak pantas untuk adikmu,” ucap Raka dengan wajah tidak suka.
Bersambung...
__ADS_1