
Flashback Saat Pesta Berlangsung
Sofi berjalan ingin menghampir Bagas, tetapi tidak sengaja berpapasan dengan Raka dan Nita. Nita berjalan sambil mengapit tangan Raka, dia terlihat sangat senang, senyum tipis terukir di wajah mungilnya.
Saat Sofi akan menyapanya, Raka tampak membuang mukanya. Dia hanya berjalan melewatinya. Sofi berbalik melihat Raka yang tampak acuh tak acuh, bahkan dia tidak mau meliriknya sedikitpun. Raka memperlakukannya seperti orang asing.
Hatinya terasa tidak nyaman saat Raka memperlakukannya seperti itu. Setelah melihat Raka tampak mulai hilang dalam kerumanan, Sofi memutuskan untuk melangkahkan kakinya menuju tempat duduk Bagas yang terlihat sedang sendiri.
“Gas, kamu ngapain sendiri di sini?”
Sofi duduk di samping Bagas yang sedang bermain ponselnya. Dia memang laki-laki pemalu. Dia jarang sekali bicara, apalagi jika tidak dia terlalu dekat dengan orang tersebut. Saat ini Bagas duduk di bangku SMA.
Bagas menoleh pada Sofi lalu menjawab, “Iya Kak, soalnya enakan di sini."
“Lebib baik kamu ikut kakak aja, Gas,” saran Sofi sambil berdiri.
Bagas mendongakkan kepalanya. “Ke mana kak?”
“Nyari kak Kenan dan kak Bianca.”
Bagas mengangguk. Dia mengikut Sofi dari belakang. Saat sedang berjalan mencari dokter Bianca dan Kenan. Tiba-tiba ada yang menarik tangan Sofi.
“Aku mau bicara sama kamu,” ucap Willy sambil menarik Sofi.
Sofi berusaha melepaskan tangannya. “Lepas Will, aku nggak mau pergi sama kamu!" ujar Sofi dengan nada tinggi.
Sementara Bagas yang melihat itu, langsung berjalan cepat untuk mencari bantuan.
Willy terus menarik tangan Sofi keluar dari ballroom. “Will, aku tidak mau ikut denganmu!” teriak Sofi lagi saat mereka sudah berada di luar Ballroom.
Willy menarik tangan Sofi sampai ke parkiran mobil yang ada di depan hotel. Dia berencana untuk membawa Sofi pergi. “Aku hanya ingin berbicara denganmu Sofi,” ucap Willy lembut.
Sofi terus memberontak tetapi karena Willy memegang erat tangannya, sehingga Sofi tidak bisa melepaskan diri. “Willy, sakit!” pekik Sofi.
Willy langsung menghentikan langkahnya, dia kemudian menoleh pada Sofi. “Maafkan aku Sofi, aku tidak bermaksud untuk menyakitimu,” sesal Willy. Dia mencoba meniup dan mengusap lembut tangan Sofi.
Sofi menarik tangannya dari peganganya Willy. “Will, tolong jangan ganggu aku lagi. Hubungan kita sudah berakhir,” ucap Sofi.
Willy memegang bahu Sofi lalu berkata, “Sofi, tolong dengarkan penjelasanku sekali ini saja,” mohon Willy dengan wajah penuh harap, “aku sungguh tidak tidur dengannya Sofi. Itu bukan anakku,” jelas Willy dengan gusar.
Dia sudah tidak tahu lagi bagaimana caranya untuk meyakinkan Sofi. Selama ini dia selalu berusaha untuk menemui Sofi, tetapi selalu gagal. Sofi selalu menghindarinya. Nomor ponselnya juga diblokir oleh Sofi. Dia sudah kehabisan cara untuk menemui Sofi. Saat dia tahu kalau Rendi akan menikah, Willy memutuskan untuk menemui Sofi saat acara pernikahan Rendi berlangsung.
Sofi menepis tangan Willy yang ada di bahunya. “Will, tolong berhenti menggangguku. Hubungan kita sudah berakhir. Tidak ada lagi perlu kau jelaskan.”
Willy meraih tangan Sofi untuk membujuknya. “Sofi, tolong beri aku kesempatan untuk memperbaiki semuanya. Aku tidak bisa melepasmu. Aku sangat mencintaimu Sofi.”
“Pergilah Will. Kembalilah ke Jerman."
Willy menggeleng kuat. “Aku tidak mau. Aku tidak akan pergi jika kau tidak ikut denganku,” tolak Willy, “ikutlah denganku. Aku akan meminta orang tuaku untuk langsung melamarmu. Kita akan segera menikah, bagaimana?”
__ADS_1
Sofi melepaskan tangan Willy lalu menatapnya. “Will, pernikahan bukanlah mainan. Aku masih muda, aku belum mau menikah. Lebih baik kau menikahi Evelyn.”
“Apa kau tidak mengerti. Aku sudah pernah bilang aku tidak mau menikahinya. Aku tidak mencintainya Sofi!" ujat Willy dengan suara tinggi.
Sofi sangat terkejut saat mendengar suara tinggi Willy. “Maaflkan aku Sofi. Aku tidak bermaksud membentakmu,” ucap Willy dengan suara lembut.
“Will, tolong jangan mempersulitku. Aku tidak ingin menyakiti Evelyn,” ucap Sofi.
“Baiklah. Aku akan melakukan tes DNA pada kandungan Evelyn. Kalau terbukti itu bukan anakku, kau harus kembali padaku,” ucap Willy tegas.
Sofi tampak terdiam. “Maaf Will, Aku tidak bisa kembali padamu lagi,” ucap Sofi dengan suara bergetar, matanya sudah berkaca-kaca.
Willy mensejajarkan wajahnya dengan Sofi. “Kenapa? Apa kau sudah mendapatkan penggantiku?”
Sofi mengalihkan pandangannya. Dia tidak berani untuk menatap Willy. “Jadi benar dugaanku selama ini, kau tidak mau kembali padaku karena kau sudah mencintai laki-laki lain?” Willy memegang bahu Sofi dengan kuat lalu menatapnya, “katakan padaku? Siapa laki-laki yang berani merebutmu dariku?” ucap Willy dengan tatapan berapi-api.
Melihat Sofi hanya diam sambil menagis, Willy mulai tidak sabar. Dia menarik tangan Sofi dengan kuat lalu memasukkannya ke dalam mobil. Sebelum Sofi sempat keluar dari mobil, Willy sudah terlebih dahulu mengunci semua pintunya. Dia melajukan mobil dengan kecepatan tinggi.
“Willy, berhenti!” teriak Sofi ketika mobil Willy tampak menjauh dari hotelnya.
“Aku tidak akan melepaskanmu Sofi. Aku tidak akan membiarkan kau pergi dariku. Kau harus menjadi milikku,” ucap Willy dengan suara berat. Terlihat kalau Willy sudah dipenuhi oleh amarah. Tatapan matanya menyala.
“Kau gila Will!”
Willy menyeringai lalu berkata, “Yaa.. Aku memang sudah gila.”
“Will, tolong jangan begini, kita bisa bicara baik-baik.”
Willy menoleh pada Sofi. “Terlambat Sofi, seharusnya kau menurutiku dari tadi.”
“Kita mau ke mana Will, tolong berhenti!”
Sofi mulai mengedarkan pandangannya ke depan dan jendela samping. Sepertinya Willy berniat membawa Sofi ke tempat orang lain tidak bisa menemukannya.
Willy tampak tidak menjawab pertanyaan Sofi. Dia meraih ponsel yang ada di saku jas, kemudian dia menghubungi seseorang. Setelah itu dia memasukkan lagi ponselnya.
“Willy tolong lepaskan aku! Ayo kita bicara baik-baik. Jangan seperti ini.” Sofi masih terus berusaha untuk membujuk Williy. Wajah Sofi sudah pucat. Dia sangat takut dengan Willy saat ini.
Mobil Willy memasuki halam sebuah hotel, dia memarkirkan mobilnya di depan hotel. Dia kemudian menoleh pada Sofi. “Baiklah. Kau ikut aku. Kita bicara di dalam.” Willy turun dari mobil lalu membuka pintu depan, “turunlah, jangan coba kabur dariku,” ucap Willy dengan tatapan tajam.
Sofi terpaksa menuruti Willy. Sofi kemudian ditarik oleh Willy. Mereka memasuki hotel langsung masuk ke dalam lift. Sofi tampak cemas dia mencoba berpikir bagaimana cara dia bisa kabur dari Willy.
“Masuk!” perintah Willy ketika dia sudah membuka pintu kamar hotel.
Sofi menuruti Willy. Dia tampak menoleh saat Willy sudah menutup pintunya. Sofi menelan ludahnya. Dia berusaha untuk tetap tenang. Willy berjalan ke tempat tidur.
“Duduklah.” Willy tampak meraih sebatang rokok dan menyalakannya. Dia menghembuskan asap putih tebal ke udara.
Sofi berjalan menuju soda single. Dia duduk tanpa berkata apa-apa. “Untuk apa kita ke sini Will?” Sofi berusaha untuk mengatasi ketakutannya.
__ADS_1
Willy menoleh pada Sofi. “Bukankah kau ingin mendengar penjelasan dariku?” Willy kembali menghembuskan asap putih dari mulutnya.
Sofi meremas tangannya. Dia mencoba untuk tetap tenang. “Cepatlah katakan, kakak dan orang tuaku pasti sedang mencariku saat ini.”
Willy mematikan rokoknya lalu mengampiri Sofi. Dia membungkuk kemudian menatap mata Sofi. “Kita akan pulang setelah urusan kita selesai,” ucap Willy dengan tatapan penuh arti.
Willy menjauhkan tubuhnya kemudian berjalan menuju tempat tidur. “Apa kau tahu Sofi. Aku meninggalkan semua yang kupunya hanya untuk menyusulmu ke sini! Aku bahkan menentang orang tuaku karena mereka menyuruhku pulang!” Willy berhenti sejenak.
“Tapi apa yang aku dapat darimu?” Willy menoleh pada Sofi, “kau mengabaikan aku Sofi. Aku sudah berusaha untuk menjelaskan padamu, tetapi kau tidak pernah mau mendengarkan penjelasanku,” lanjut Willy lagi. “Kau menjauhiku Sofi, kau bahkan terus menghindari aku. Kau menutup semua akses untuk bisa menghubungimu.”
“Will, kau tahu aku butuh waktu untuk mencerna semuanya. Kau bilang mencintaiku dan akan menikahiku, lalu tiba-tiba Evelyn datang dan bilang padaku kalau dia hamil anakmu. Dia memintaku untuk melepaskanmu, karena kau tidak ingin bertanggung jawab. Kau pikir aku harus bagaimana lagi. Kau menghancurkan kepercayaanku Will.”
Willy mendekati Sofi. “Sudah aku bilang dia menjebakku Sofi. Aku tidak pernah menidurinya. Kau tahu sendiri kalau dia dari dulu sudah menyukaiku. Dia akan menghalalkan segala cara agar aku menjadi miliknya.”
“Lalu bagaimana dengan foto kalian berdua yang berada di dalam hotel?”
“Itu adalah foto rekayasa Sofi. Aku memang berada dalam satu hotel dengannya saat itu. Setelah bertengkar denganmu waktu itu aku mabuk. Dia kemudian membawaku ke hotel itu dan mencoba untuk memancingku, tetapi aku tidak pernah melakukannya dengan Evelyn. Setelah membuka semua bajunya, dia kemudian membuka bajuku lalu meraba tubuh bagian bawahku, saat itulah aku tersadar dan langsung keluar dari hotel itu. Aku bersumpah belum pernah melakukan dengan siapapun Sofi, termasuk dengan Evelyn.”
Willy memegang tangan Sofi. “Tolong percaya padaku Sofi. Aku sudah menemukan laki-laki yang sudah meniduri Evelyn. Laki-laki yang memotretku saat aku bersama dengan Evelyn di dalam hotel adalah ayah dari bayi yang dikandung Evelyn. Dia bisa menjadi saksi kalau aku memang tidak bersalah," jelas Willy dengan cepat, "ikutlah aku pulang Sofi. Agar kau tahu semua kebenarannya,” pinta Willy dengan wajah memohon.
Sofi menunduk. “Maaf Will, aku belum bisa memutuskan untuk saat ini. Aku butuh waktu untuk memikirkannya lagi.”
“Apa kau masih belum percaya dengan ucapanku?”
Sofi menggeleng. “Bukan seperti itu Will, tapi....”
“Apa karen laki-laki itu sehingga kau tidak ingin kembali kepadaku?” tanya Willy dengan wajah dingin.
“Siapa yang kau maksud?”
“Laki-laki yang pernah berkelahi denganku di depan hotelmu.”
“Diaa.. aku...”
Melihat Sofi tampak ragu, Willy kemudian berkata, “Sepertinya benar dugaanku. Aku memang sudah curiga dari awal, melihat kau bersikeras tidak ingin kembali padaku. Pasti ada alasan lain dibalik penolakanmu.”
“Kau salah paham Will, dia tidak ada hubungannya dengan keputusanku.”
“Dengar Sofi, aku tidak akan melepaskanmu. Kau harus tahu kalau aku sangat mencintaimu. Aku akan melakukan apapun agar kau tidak meninggalkan aku,” ucap Willy dengan suara berat.
“Apa.. apa maksudmu?” tanya Sofi gugup.
“Kalau kau tidak mau kembali padaku. Terpaksa aku menjadikanmu milikku.”
“Will, kau jangan macam-macam. Lebih baik kau antarkan aku pulang. Kalau kak Rendi tahu kau mengurungku di sini, dia tidak akan melepaskamu Will,” ucap Sofi dengan wajah pucat.
“Aku tidak peduli Sofi, selama kau menjadi milikku, aku tidak keberatan.” Willy kemudian menarik tangan Sofi berjalan ke tempat tidur.
Bersambung...
__ADS_1