
Rendi mendorong dahi Amel dengan jari telunjuknya ketika melihat wajah Amel berada di dekat wajahnya. "Jauhkan wajahmu itu. Jangan terlalu dekat. Apa kamu mau aku cium lagi?"
Amel langsung menjauhkan wajah cemberutnya. "Amel cuma mau memastikan perkataan Kakak dengan jelas," Amel mengerucutkan bibirnya.
Rendi melirik Amel sekilas. "Ini masih sore, kamu jangan memancingku." Rendi meminum air yang dibawa Amel tadi.
Amel yang melihat itu langsung berteriak, "Kak Rendi, kenapa Kakak minum air itu?"
Rendi mengerutkan keningnya. "Memangnya kenapa?"
Amel menunjuk botol tersebut. "Itukan bekas Amel."
"Terus kenapa?" tanya Rendi enteng.
Amel tampak heran dengan Rendi yang tampak biasa saja. "Emangnya Kakak nggak jijik, minum bekas Amel?" Biasanya orang kalangan atas tidak suka berbagi apalagi kalau bekas orang lain.
"Nggak, kenapa aku harus jijik? Apa kamu ngeludahin minuman ini?" Rendi menatap Amel sambil mengangkat botolnya.
"Nggak sih, tapi Amel uda minum botol itu tadi."
"Kamu cuma menyentuh botol minuman ini dengan bibirmu, 'kan? Aku bahkan sudah mencium langsung bibirmu, kenapa harus jijik?" Rendi mengatakan dengan tenang, seolah itu percakapan biasa.
Wajah Amel bersemu merah. "Sudah aah. Terserah Kakak aja." Amel memalingkan wajahnya ke samping untuk menyembunyikan wajah malunya.
Rendi tersenyum melihat tingkah Amel. "Memangnya kamu nggak mau minum bekas aku?"
"Kalau Amel udah biasa berbagi makanan atau minuman sama teman Amel, nggak kayak Kakak," jawab Amel.
"Apa kamu juga berbagi sama Raka?" Rendi menatap Amel dengan tajam.
"Kayaknya nggak, cuma sama sahabat aku aja."
"Bagus, jangan pernah berbagi sama dia atau sama cowok lain, selain aku."
"Kakak selalu saja melarang aku ini itu, seperti orang pacaran aja."
"Kamu memang pacar aku, apa kamu lupa?"
__ADS_1
Amel membuang napasnya dengan kasar. Dia sudah lelah menjelaskan soalnya status mereka. Rendi terus saja mengulang topik yang sama. "Terserah Kakak aja." Amel malas meladeni perkataan Rendi. "Kakak mandi dulu sana! Ini sudah sore, sebentar lagi gelap."
"Iyaa, kakak mandi dulu." Rendi mengacak rambut Amel lalu masuk ke dalam kamarnya.
Amel merapikan rambutnya setelah kepergian Rendi. "Kenapa sih Raka dan kak Rendi suka sekali mengacak-acak rambutku," ucap Amel kesal.
Setelah merasa langit mulai gelap, Amel masuk ke dalam kamar Rendi dan duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Amel yang sedang menatap serius ke arah layar ponselnya, tidak sadar kalau Rendi sudah selesai mandi dan sedang berjalan ke arahnya.
Rendi kemudian merebut ponsel Amel dengan gerakan cepat. "Kamu lagi lihat apa?" Rendi memandang layar ponsel Amel.
Amel langsung bangun dari duduknya. "Kakak, bikin kaget aja. Kembaliin handphone Amel." Amel menyodorkan tangannya kepada Rendi.
"Habisnya kamu serius banget." Rendi masih memegang ponsel Amel dan tidak berniat untuk memberikannnya.
"Kakak, kenapa belum pakai baju?" Amel menutup matanya dengan telapak tangan karena baru menyadari kalau Rendi tidak memakai baju dan hanya memakai celana saja.
Rendi mengeringkan rambutnya dengan handuk sambil menampilkan wajah acuh tak acuhnya. "Apa kamu nggak suka melihat badanku?" tanya Rendi enteng.
Bukannya nggak suka, aku takut khilaf, apalagi kamu terlihat seksi saat tidak memakai baju. Astaga aku bisa gila dibuatnya.
"Cepat pakai baju Kakak. Jangan banyak tanya," ucap Amel.
Setelah itu, Rendi duduk di tepi tempat tidur. "Buka mata kamu, aku uda pake baju." Rendi sedang mengecek ponsel miliknya.
Amel duduk di sofa lagi. "Handphone Amel mana, Kak?" tanya Amel.
Rendi terlihat masih sibuk dengan ponselnya. "Nanti aku berikan kalau kamu udah mau pulang," ujar Rendi tanpa menoleh.
"Kenapa harus nanti?"
"Aku nggak suka kamu bermain handphone saat bersamaku," ucap Rendi acuh tak acuh.
"Nggak adil. Kakak saja sibuk main handphone sekarang."
"Aku cuma ngecek sebentar. Aku belum buka handphone dari tadi." Rendi berdiri lalu memasukkan ponselnya di saku celananya.
"Ayoo kita ke bawah," ajak Rendi.
__ADS_1
Saat mereka keluar, bertepatan dengan Sofi yang akan keluar juga dari kamarnya. "Sofi kira Kak Amel udah pulang?" tanya Sofi saat melihat Amel keluar dari kamar kakaknya.
Amel menunjuk Rendi. "Ini Kakak kamu nggak bolehin kakak pulang," jawan Amel dengan wajah cemberut.
Rendi berjalan dengan cuek menuruni tangga tidak memperdulikan Amel yang sedang kesal.
"Dasar Kak Rendi bucin!" teriak Sofi pada kakaknya.
Rendi nampak acuh tak acuh. Amel dan Sofi berjalan berbarengan menuruni tangga. Dia menuju ruangan keluarga dan berhenti sejenak saat melihat sudah ada Friska di situ dengan ibunya.
"Kamu ngapain di sini?" tanya Rendi.
Mereka menoleh mendengar suara Rendi. "Rendi kamu kok ngomongnya begitu sama Friska?" Lilian yang menjawab. Friska hanya diam saat ditanya oleh Rendi.
Rendi tidak menjawab, dia memilih berjalan ke sofa lalu duduk di depan Friska dan ibunya. Amel merasa heran saat melihat wajah Rendi terlihat tampak dingin. Dia bertanya-tanya ada apa dengannya. Saat Amel mendekat, dia terkejut ketika melihat ada Friska di situ bersama dengan ibu Rendi juga.
Lilian dan Friska menoleh saat melihat Sofi dan Amel mendekat. "Looh Ameel, kamu ada di sini juga?" tanya Lilian dengan wajah terkejut.
"Iyaa Tante," jawab Amel sambil berjalan dan duduk di sebelah Rendi diikuti oleh Sofi.
"Kamu dari kapan di sini, kok tante nggak lihat kamu dari tadi?" tanya Lilian heran.
"Dari siang, Tante," jawab Amel dengan senyum yang berusaha dia paksakan.
"Amel di kamar Kak Rendi, Ma. Kita juga habis nonton bareng tadi," sela Sofi.
"Pantesan mama nggak lihat."
Amel seketika bertemu pandang dengan Friska. Terlihat sekali kalau Friska tidak menyukainya.
"Ren, selama ini kamu nggak pernah bolehin aku masuk ke kamar kamu. Terus kenapa dia boleh?" protes Friska.
Wajah Rendi terlihat dingin dan terkesan acuh tak acuh. "Dia pacar aku."
"Iyaaa, tapi kan aku...."
Rendi langsung melayangkan tatapan dingin pada Friska. "Friska, jangan membahas masa lalu. Semua sudah beda."
__ADS_1
Suasana menjadi tegang dan menagangkan. "Sudah-sudah. Karena kita sudah berkumpul semua, sekalian kita makan malem bersama ya."
Bersambung...