
“Iyaa Kak. Aku datang dengan Bang Raka." Amel masuk diikuti oleh Raka di belakangnya.
Senyum yang semula mengembang di wajah tampan Rendi mendadak hilang saat melihat kehadiran Raka. Dia berusaha merubah mimik wajahnya. Dia tidak mau kalau Amel menyadari tatapan tidak sukanya pada Raka.
“Duduklah.” Rendi terlihat tenang, padahal di dalam hatinya bergejolak rasa cemburu.
“Aku ke sini cuma mau menemani Amel untuk menjengukmu. Aku nggak mau dia kelelahan kalau pergi sendiri ke sini,” jelas Raka sambil duduk di kursi samping Amel tanpa ditanya oleh Rendi.
“Hhhmm, aku tahu. Dia adalah adikmu. Pasti kamu nggak mau dia juga sakit karena lelah menjaga pacarnya,” ucap Rendi dengan senyuman miring. Dia berusaha memperjelas tentang status mereka masing-masing.
“Tentu aja ... kami dekat banget. Aku sangat menyayangi adikku ini. Aku nggak mau terjadi apa-apa dengannya,” ucap Raka penuh penekanan pada setiap katanya. Ada makna lain tersirat dalam ucapan Raka.
Rendi bukan orang bodoh, dia bisa langsung tahu maksud dari perkataan Raka. Dia berusaha menekan kemarahannya. Kemarahannya mulai naik saat Raka secara tidak langsung mengakui perasaanya terhadap Amel di depannya. Walaupun Amel sendiri tidak menyadari arti dari perkataan Raka tadi.
Rendi menaikkan sudut bibirnya. Dia menatap Raka dengan ekspresi setenang mungkin. “Kamu tenang aja. Aku nggak akan membuat pacarku ini sakit. Aku akan menjaganya dengan baik.”
“Kalian ini bicara apa sih? Aku nggak yangka kalau kalian bisa seakur ini?” Amel melirik mereka beruda secara bergantian.
“Dia itukan k-a-k-a-k-m-u. Aku cuma berusaha untuk menyambutnya dengan baik di sini.”
“Iyaa, aku senang kalau kalian bisa akrab,” ucap Amel tersenyum senang. “Apa Kakak sudah makan?” tanya Amel menatap Rendi yang terlihat membenarkan posisi duduknya.
“Belum.”
“Apa makanan dari rumah sakit belum datang?” Amel merasa heran karena ini sudah lewat dari jam makan siang.
“Sudah, tapi aku nggak bisa memakannya karena selera makan.”
“Bagaimana kalau aku belikan sesuatu untuk Kakak?” usul Amel.
Rendi menggeleng. “Nggak usah. Sebentar lagi Sofi bakal ke sini bawa makanan. Aku sudah minta dia membelikan makanan dari luar.”
“Apa Kakak dari pagi di sini sendiri? nggak ada yang nemenin?”
“Sofi yang menemaniku. Dia ijin nggak masuk sekolah karena mama masih ada urusan jadi nggamk bisa menjagaku di sini.”
Amel mangut-mangut. Dia kemudian menoleh ke Raka yang terlihat diam saja, sambil mendengarkan pembicaraan mereka.
“Abang kalau capek duduk aja di sofa itu. Pasti nggak nyaman kalau Abang duduk di kursi inix” saran Amel saat melihat wajah malas Raka.
Amel mengira Raka merasa tidak nyaman duduk di kursi itu, padahal sebenarnya dia tidak nyaman saat melihat interaksi antara Rendi dan Amel.
Raka berdiri. “Iyaac Abang akan duduk di situ,” ucap Raka sambil tersenyum tipis pada Amel.
Raka kemudian berjalan ke sofa setelah melihat Amel mengangguk. Raka juga berpikir lebih baik kalau dia duduk di sofa daripada harus melihat pemandangan yang membuat hatinya panas.
Semua menoleh saat pintu terbuka. Muncul Sofi yang sedang membawa beberapa plastik yang berisi makanan. “Sedang apa kamu di sini?” tanya Sofi dengan wajah terkejut saat melihat Raka yang baru saja duduk di sofa sambil menatap malas padanya.
“Kamu nggak lihat aku sedang duduk?” tanya Raka ketus saat melihat tatapan tidak suka dari sorot mata Sofi.
Sofi memutar bola matanya. Dia berjalan menuju sofa dan meletakkan semua makanan di meja, kemudian duduk berhadapan dengan Raka.
“Aku tahu kamu sedang duduk. Aku nggak buta! Aku bisa melihatnya. Maksudku untuk apa kamu datang ke sini?”
“Tentu saja menjenguk Kakakmu. Apa kamu pikir aku ke sini karena merindukanmu?” balas Raka tidak kalah sinis.
__ADS_1
Sofi melemparkan tatapan tajam pada Raka. “Heey, buang jauh-jauh pikiran gilamu itu. Mana mungkin aku berpikir seperti itu. Kamu itu bukan tipeku. Jangan terlalu pede,” jawab Sofi dengan nada tinggi.
Raka menyeringai. “Kamu nggak perlu marah. Kenapa reaksimu berlebihan seperti itu? Aku bisa saja salah paham dan berpikir kalau kamu itu benar-benar menyukaiku.”
Rendi dan Amel saling berpandangan sesaat, lalu mereka berpaling menatap Sofi dan Raka yang tampak sedang berdebat.
Sofi menaikkan sudut bibirnya, lalu menatap tajam pada Raka. “Ku kira aku sudah gila bisa suka denganmu? Kamu itu terlalu tinggi menilai dirimu Di luar sana masih banyak laki-laki tampan sepertimu. Bahkan bertebaran di mana-mana jadi jangan berpikiran yang tidak-tidak.”
“Apa kamu baru saja memujiku tampan?”
“Kamu ini gila ya? Kapan aku memujimu tampan? Apa kepalamu habis terbentur sehingga pikiranmu jadi nggak waras!”
“Jelas-jelas kamu yang mengatakankalau di luar sana masih banyak laki-laki tampan sepertiku. Kalau bukan memuji lalu apa namanya?”
Wajah Sofi memerah, dia bernapas dengan cepat. “Maksudku bukan seperti itu!” ucap Sofi dengan suara tinggi.
Raka memajukan badannya. Dia menatap langsung mata hitam Sofi. “Lalu apa maksudmu?”
Sofi yang ditatap lekat oleh Raka, tiba-tiba salah tingkah. Dia kemudian mengalihkan pandangannya. “Sudahlah, lupain aja. Aku malas berdebat dengamu.”
“Dari awal yang mengajak berdebat itu kamu, bukan aku.” Raka menyandarkan tubuhnya di sofa.
“Kalian itu kenapa? Orang lain bisa salahpaham dan berpikiran kalau kalian itu sepasang kekasih yang sedang bertengkar,” ucap Amel menengahi perdebatan mereka.
Sofi menoleh pada Amel. “Kak Amel, jangan bicara sembarangan. Mana mungkin aku mau pacaran dengan orang seperti dia,” tunjuk Sofi pada Raka dengan wajah cemberut.
“Kamu pikir aku suka denganmu? Wanita bar-bar sepertimu tidak cocok denganku. Kau sangat jauh dari tipe idealku,” ucap Raka acuh.
“Heh, dengar ya! Aku juga nggak mau jadi tipe idealmu!"
Amel menoleh pada Rendi. “Aku siapan makanan Kakak makanan dulu.”
Rendi mengangguk. Dia tersenyum saat melihat Amel berjalan menuju sofa untuk mengambilkan makanan untuknya.
Sementara Sofi dan Raka tampak memalingkan wajah mereka masing-masing. Amel meminta Sofi dan Raka untuk makan dan tidak bertengkar lagi. Sofi dan Raka makan dalam diam, sementara Rendi dan Amel makan sambil sesekali mengobrol.
“Kak Amel mau pulang jam berapa?” tanya Sofi saat dia sudah selesai makan.
“Belum tau, kenapa?”
“Sofi mau pulang dulu ke rumah, Kak. Sofi mau mandi dan istirahat di rumah sebentar, nanti Sofi balik lagi.”
“Ya udah. Kamu pulang aja Sofi, biar kakak yang jaga Kak Rendi di sini.”
“Mel, Abang juga mau pulang. Abang masih ada urusan. Nanti kalau kamu mau pulang kabarin abang aja, nanti abang jemput kamu,” ucap Raka sambil berdiri.
Amel langsung menoleh ke Raka dan berdiri mendekati Raka. “Bisa nggak Abang sekalian antar Sofi pulang. Kasian dia kalau pulang sendiri,” ucap Amel memohon pada Raka.
“Aku nggak mau diantar sama dia!” tolak Sofi.
“Kamu dengar sendiri kan Mel, dia nggak mau diantar sama abang. Kalau gitu abang pulang ya?” ucap Raka mengacak rambut Amel.
Amel menahan tangan Raka. “Tunggu Nang. Tolong ya bang anterin Sofi.”
Rendi melihat itu seketika langsung dibakar api cemburu. Wajahnya mengeras dan tatapannya dingin.
__ADS_1
“Dia aja nggak mau, gimana abang bisa ngaterin dia pulang Mel,” ucap Raka malas.
Amel menoleh pada Sofi. “Sofi, mendingan kamu diantar bang Raka, dari pada kamu naik taksi atau nunggu dijemput sama supir, takut kelamaan. Tenang aja, bang Raka nggak akan macam-macam sama kamu, Mau ya?” Amel terus membujuk Sofi agar mau diantar oleh Raka.
Sofi menghela napas panjang. Dia merasa tidak enak menolak permintaan Amel. “Baiklah, aku mau diantar sama dia karena Kakak yang minta. Jangan sampai dia berpikir kalau aku yang memohon-mohon untuk ikut pulang dengannya,” ucwp Sofi. Dia tidak mau Raka salah paham dengannya.
Raka terlihat malas menanggapi ocehan Sofi, dia hanya melirik sekilas pada Sofi. Akhirnya Sofi dan Raka keluar dari ruangan Rendi sesudah berpamitan pada mereka. Setelah memastikan Sofi dan Raka sudah pergi, Amel berbalik mendekati Rendi.
“Kamu makin berani sekarang Mel,” ucap Rendi saat Amel sudah duduk di sampingnya.
Amel menatap heran saat melihat tatapan tajam dari Rendi. “Aku nggak ngerti maksud Kakak?” tanya Amel hati-hati.
Dia berusaha tidak memancing emosi Rendi karena dia tahu saat ini Rendi sedang marah, tetapi Amel tidak tahu apa alasannya.
“Aku nggqk mempermasalahkan saat kau datang dengan Raka ke sini, tapi kau nggak seharusnya tersenyum manis dan memegang tangannya di depanku. Apa kamu berencana melihatku berkelahi lagi dengannya?”
Amel menggeser kursinya agar berdekatan dengan Rendi. Amel meraih tangan Rendi. “Kakak jangan salah paham. Aku cuma membujuk Raka supaya mau mengantarkan Sofi, tidak ada maksud lain. Aku juga cumq tersenyum biasa dengannya,” ucap Amel pelan. Amel ingat dengan pesan dari dokter Jhon berusaha untuk tidak membuat konflik yang dengan Rendi.
“Tapi, aku ngggak suka melihatnya.”
“Baiklah, aku nggak akan memegang tangan Raka lagi dan aku hanya akan tersenyum manis pada pada pacarku yang tampan ini,” ucap Amel sambil memegang wajah Rendi.
Ekspresi Rendi melunak. “Semenjak kapan kamu pintar menggombal? Apa Raka yang mengajarimu?” Rendi menatap penuh selidik.
“Bukan Kak. Lebih baik kita jangan bahas Raka lagi. Aku nggak mau bertengkar dengan Kakak karena dia. Aku ke sini karena kangen dengan Kakak." Amel berusaha mengalihkan pembicaraan agar Rendi tidak marah lagi
Benar saja, tatapan Rendi jadi lembut saat mendengar perkataan terakhir Amel. “Kalau begitu cium aku dulu,” tunjuk Rendi pada pipi sebelah kirinya.
Amel berusaha sesabar mungkin menghadapi Rendi. Amel mengecup singkat pipi Rendi dan seketika Rendi memeluk tubuh Amel. “Kamu tahukan kalau aku sangat menyayangimu Mel.”
“Iyaa, aku tahu, Kak. Qkupun begitu. Makanya, Kakak jangan berpikiran yang tidak-tidak,” ucap Amel sambil melepaskan pelukannya.
“Ada yang ingin aku ceritakan kepada Kakak.”
“Apa?”
“Ini mengenai Devan.”
“Ada apa lagi?
“Kakak janji jangan marah?”
“Ya ”
Amel menceritakan semua kejadian antara dia dan Devan, termasuk alasan Devan memanggilnya ke perpustakaan. Setelah selesai menceritakannya. Amel memperhatikan mimik wajah Rendi. tidak terlihat perubahan yang signifikan. Raut wajah Rendi terlihat tampak tenang.
“Kali ini hanya kamu yang bisa menyelesaikannya. Aku beri kamu 1 kesempatan untuk memastikan apakah dia itu benar Evans atau bukan. Kalau terbukti dia bukan Evans, kamu harus menjauhinya. Kamu nggak boleh berdekatan lagi dengannya.”
“Bagaimana kalau ternyata dia memang kak Evans?” tanya Amel dengan hati-hati.
“Semua terserah padamu. Aku nggak bisa melarangmu untuk menjauhinya karena sebelum aku mengenalmu, kalian sudah dekat. Apalagi dia yang selalu melindungimu dulu. Bagaimanapun dia pernah menyelamatkan nyawamu sehingga aku bisa bertemu denganmu sekarang.”
“Kalau benar dia kak Evans, aku akan berusaha untuk tidak melewati batasanku. Hubunganku dengan kak Evans hanya sebatas kakak-adik. Kakak nggak perlu khawatir dengannya. Aku nggak punya perasaan apa-apa selain perasaan kakak-adik. Aku menyayanginya sebagai kakakku, tidak lebih. Di hatiku hanya ada kakak seorang, selamanya akan tetap seperti itu,” ucap Amel menenangkan Rendi.
“Kita akan tahu nanti, apa kau masih bisa memegang kata-katamu itu saat kau sudah bertemu dengan Evans,” ucap Rendi dengan wajah datar
__ADS_1
Bersambung...