Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pesan Devan


__ADS_3

Rendi membuka pintu dan menyeret Kenan keluar. "Tentu saja ke vilamu. Jangan pernah berpikir untuk mengacaukan bulan maduku!"


Rendi melepaskan tangannya dari baju Kenan, lalu berjalan mendahuluinya. "Aku menyesal menyusulmu ke sini," gerutu Kenan.


Rendi terus berjalan sambil memasukkan satu tangannya ke saku celananya. "Aku juga tidak mengaharapkanmu untuk datang ke sini."


Rendi langsung memencet bel. "Ada siapa di dalam?" tanya Kenan penasaran.


"Raka," jawab Rendi tanpa menoleh pada Kenan.


Mata Kenan terbelalak. "Jadi, aku akan tidur dengannya?"


"Yaa.."


"Heh Ren, aku ini masih normal, aku masih menyukai wanita."


"Di dalam ada 2 kamar."


"Kau tega sekali pada kami, kenapa kau menyatukan jomblo tampan seperti kami? Apa salahku Ren?" ucap Kenan sambil memegang lengan Rendi.


Rendi menatatap jijik pada Kenan. "Jauhkan tanganmu dariku!"


Terdengar suara pintu terbuka. "Aku hanya mengantarkan Kenan," ucap Rendi ketika melihat Raka baru saja membuka pintu.


"Masuklah dulu! Ada Sofi di dalam," ucap Raka sambil menatap Rendi dan Kenan secara bergantian.


Dahi Kenan mengerut. "Untuk apa Sofi berada di dalam? Kau tidur dengan Sofi...??" tanya Kenan dengan mata terbelalak.


Rendi memukul kembali kepala Kenan. "Berhenti memukul kepalaku? Aku bisa bodoh nanti!" ucap dengan wajah kesal.


"Kau memang sudah bodoh." Rendi dan Raka berjalan masuk ke dalam meninggalkan Kenan yang masih berada di depan pintu.


"Kak..!" sapa Sofi ketika melihat Rendi berjalan masuk bersama Raka.


Rendi duduk di sofa tepat di depan Sofi, semetara Raka duduk di sofa single di samping Sofi. "Kau sudah lama di sini?" tanya Rendi pada adiknya.


"Belum lama kak!" jawab Sofi pelan. "Kak Amel mana?" tanya Sofi saat tidak melihat Rendi hanya datang sendiri.


"Masih tidur," jawab Rendi singkat.


"Amel kelelahan karena terus digempur oleh kakakmu," timpal Kenan sambil duduk di samping Rendi. Seketika Sofi menoleh pada Kenan. "Kak Kenan," ucap Sofi spontan.


Rendi menatap tajam pada Kenan. "Aku akan merobek mulutmu, kalau kau masih banyak bicara!"

__ADS_1


"Lihat Sof, tatapan kakakmu itu, dia seolah ingin menelanku hidup-hidup," adu Kenan pada Sofi.


"Kak Kenan kenapa ada di sini?" Sofi hanya heran, karena seharusnya Kenan bekerja saat ini.


"Aku ingin melepas penat Sof, makanya ke sini, aku juga ingin cuci mata, siapa tahu saja aku bisa bertemu bule cantik di sini."


Sofi tersenyum tipis mendengar penuturan kakak sepupunya. "Jangan hanya cuci mata saja, tapi cuci juga otakmu, agar tidak selalu berpikiran hal kotor," ujar Rendi.


"Lebih baik kau pergi Ren! Kau hanya membuatku kesal saja..!" usir Kenan.


Rendi menatap tidak suka pada Kenan. "Bukankah kau bilang, kau lelah..? Masuklah ke kamarmu? Jangan mengganggu Sofi dan Raka!"


Kenan langsung menata Raka dan Sofi secara bergantian. "Memangnya ada apa dengan mereka?" Kenan yang tidak tahu kalau Raka dan Sofi pernah menjalin hubungan merasa heran mendengar perkataan Rendi.


Rendi menatap malas pada Kenan. "Selain bodoh, kau juga lamban."


Sofi dan Raka tampak hanya diam. Kenan tampak mengabaikan perkataan Rendi. Dia menatap Sofi dan Raka secara bergantian. “Ada hubungan apa sebenarnya kalian? Apa kalian berpacaran?”


“Ya,” jawab Sofi


“Tidak.” Jawab Raka.


Rendi hanya diam sambil menatap pada mereka. Mereka berdua menjawab secara serempak dengan jawaban yang berbeda, sehingga alis Kenan menyatu. “Iyaa atau tidak? Kenapa kalian menjawab dengan jawaban berbeda?”


“Tidak,” jawab Raka.


Kenan menatap mereka dengan jengah. Dia merasa dipermainkan oleh dua orang yang ada di depannya. Seketika tatapan Kenan berhenti kepada Raka. "Raka.. Aku tanya sekali lagi, jawab dengan benar. Apa kau berpacaran dengan adikku?” tanya Kenan dengan tatapan menyelidik.


Raka menatap balik Kenan. “Kami sudah putus!” Raka tidak berniat untuk berbohong pada Kenan terlebih lagi ada Rendi di depannya.


Sofi menoleh pada Raka. “Aku belum menyetujuinya, jadi kita masih memiliki hubungan.” Sofi tidak terima dengan jawaban Raka. Setelah selesai berbicara, Sofi melirik kakaknya diam-diam. Dia takut kakaknya akan marah. Dia sebenarnya ingin menyembuyikan masalahnya dan Raka, agar kakaknya tidak ikut campur dengan masalahnya.


“Raka, kau jangan main-main dengan adikku! Kalau kau menyakitinya, kau akan berhadapan dengannku.”


Sofi langsung menyela. “Kak, kami hanya salah paham.”


“Sofi diamlah! Aku sedang berbicara dengan Raka,” ucap Kenan tegas.


Sofi menelan ludahnya. Saat ini dia memilih untuk diam. Ada kakaknya dan Kenan di depan mereka, jika dia salah bicara sedikit saja. Bukan tidak mungkin, kalau kakaknya dan Kenan akan menghajar Raka.


“Aku akan menyelesaikan masalahku dengan Sofi,” ucap Raka sambil menatap Kenan yang terlihat menampilkan wajah seriusnya.


Rendi sudah tidak bisa diam lagi melihat perdebatan mereka. Rendi menatap Raka. “Raka, di mana kamar yang kosong?”

__ADS_1


“Kamar depan yang sebelan kanan?” jelas Raka sambil menunjuk ke dalam.


Rendi beralih menatap Kenan. “Apa kau dengar? Lebih baik kau masuk ke kamarmu dan jangan mengganggu mereka. Biarkan mereka menyelesaikan masalahnya. Aku juga harus kembali ke vilaku. Aku takut Amel akan mencariku nanti.” Rendi mulai berdiri.


“Kenapa aku harus terjebak di sini, di antara kalian semua?” ucap Kenan diiringi hembusan napas kasar.


Rendi menoleh pada Kenan. “Itu salahmu sendiri kenapa tidak laku.”


“Heeh Ren, sudah aku bilang bukannya aku tidak laku, tetapi aku belum menemukan wanita yang mampu menggetarkan hatiku.”


“Aku tidak peduli. Lebih baik kau masuk kamarmu, agar kau tidak terlihat menyedihkan.” Rendi mulai melangkah.


“Kau...”


“Tunggu Ren!” Raka menghentikan langkah Rendi. “Ada apa?” tanya Rendi heran.


Raka menatap Rendi. “Kenapa ponsel Amel tidak aktif?” Tadi Raka sempat menghubungi ponsel Amel beberapa kali tapi tidak tersambung.


“Mungkin ponselnya mati, atau habis batrai. Kenapa?”


“Deva, menelponku dan menanyakan kenapa ponsel Amel tidak aktif.”


Kenan langsung menoleh pada Raka. “Bedabah itu! Aku menelponnya beberapa kali hari ini, tapi tidak diangkat, tetapi dia malah dengan santainya menelpon Amel,” rutuk Kenan dengan wajah kesal.


Dia tampak geram setelah mendengar perkataan Raka. Padahal hari ini, dia sudah menghubungi Devan berkali-kali karena ingin berbicara dengan Friska. Nomor ponsel Friska tidak bisa dihubungi, sebab itulah Kenan menghubungi Devan.


“Untuk apa Devan menghubungi istriku?” Rendi yang tadinya berniat keluar, seketika langsung duduk kembali setelah mendengar nama Devan. Setiap kali dia mendengar nama Devan dia selalu merasa khawatir dan cemburu dengannya.


“Ada hal yang ingin dia sampaikan. Aku juga tidak tahu apa, karena Devan tidak memberitahuku. Dia hanya mengatakan untuk menyampaikan pada Amel agar segera menghubunginya,” jelas Raka.


Rendi tampak terdiam. “Lihatlah wajahmu yang penuh cemburu itu! membuatku ingin tertawa. Apa kau masih takut Devan membawa kabur Amel?” ejek Kenan ketika melihat wajah serius dari Rendi.


“Diamlah Kenan! Jangan memancing emosiku!” Sebenarnya yang dikatakan oleh Kenan benar adanya. Dia memang masih takut kalau Devan membawa pergi Amel. Kedekatan mereka di masalalu selalu sukses membuat Rendi merasa was-was. Mungkin kalau seandainya Rendi tidak dipertemukan lagi dengan Amel. Devanlah yang saat ini menjadi suaminya.


Melihat kegelisan Rendi, Raka membuka suaranya, “Ren, Devan adalah pria yang menepati janji. Dia tidak akan pernah melanggar janjinya, selagi kau tidak menyakiti Amel. Jadi, kau tidak perlu khawatir dengannya. Aku sudah mengenalnya lebih dari 5 tahun, cukup bagiku untuk bisa memahami karakternya. Kau tenang saja. Dia tidak akan berbuat di luar batasnya. Amel adalah istrimu saat ini, selagi dia bahagia, tidak alasan untuk dia merebutnya darimu. Kalau memang dia berniat mengambil Amel darimu, pasti dia sudah menikahi Amel saat itu.” Raka mengingatkan Rendi kembali kejadian saat Devan mengurung Amel di vilanya selama beberapa hari.


Wajah Rendi yang semula tegang, perlahan melunak setelah mendengar ucapan Raka.


“Apa yang dikatakan Raka benar Ren! Kau tidak perlu takut. Ada baiknya kau sampaikan pesannya pada Amel. Sekalian suruh Amel tanyakan tentang Ellen. Devan pasti memberitahu keberadaan Ellen jika Amel yang bertanya.”


Raka yang tidak mengerti arah pembicaraan Rendi dan Kenan hanya bisa diam. Dia tidak tahu siapa yang mereka maksud, Ellen terasa asing di telinganya. Dia tidak pernah mendengar nama itu.


“Baiklah. Aku kembali ke vilaku dulu.” Rendi berjalan kembali ke vilanya. Setelah kepergian Rendi, Kenan memutuskan untuk mengistirahatkan tubuhnya. “Aku akan ke kamarku dulu. Kalian selesaikanlah masalah kalian!”

__ADS_1


“Iyaa kak,” jawab Sofi pelan. Kenan berjalan menuju kamarnya.


Bersambung...


__ADS_2