
Amel sedang membereskan barang-barang yang ada di meja kantornya saat ini. “Mel, lo mau ke mana?”
Bela baru saja masuk ke dalam ruangannya saat melihat Amel tampak meletakkan barang-barang di mejanya ke dalam kotak persegi panjang berwarna coklat yang berukurang sedang.
Amel memang sengaja datang pagi-pagi untuk membereskan barang-barangnya, karena hari ini dia harus memindahkan barang-barangnya ke meja barunya yang berada di lantai atas. Meja sekertaris yang mulai sekarang akan menjadi meja yang akan menemaninya melewati hari-hari melelahkan di kantor.
Amel menoleh saat mendengar suara Bela. “Mau pindah, Lo beresin juga barang-barang lo Bel, kita bakal pindah hari ini.”
Bela yang baru saja duduk di kursinya langsung menoleh cepat pada Amel. “Pindah? Pindah kemana?” ucap Bela dengan wajah terkejut.
Amel menghentikan gerakan tangannya, dengan tubuh yang duduk sambil membungkuk ke bawah dia menoleh pada Bela. “Kita akan pindah ke lantai paling atas, mulai sekarang gue bakal jadi seketraris Kenan dan lo jadi asisten gue.”
Amel memang belum memberitahu Bela tentang kepindahan mereka ke lantai atas. Banyak yang dia pikirkan sehingga membuatnya tidak fokus, ditambah lagi kemarin setelah dari rumah sakit, pikirannya tidak bisa lepas dari sosok yang dia liat kemarin.
Bela langsung tertawa sambil mendorong pelan tubuh Amel. “Jangan bercanda Mel, lo nggak lagi ngigaukan?”
Amel menghela napas. “Sori, kemarin gue lupa kasih tau lo, gara-gara banyak kejadian yang tak terduga yang terjadi kemarin” ucap
Amel merasa bersalah. “Jadi, Kenan ngangkat gue jadi sekertarisnya karena biar mudah ngawasin gue katanya, terus gue nggak mau pindah karena nggak mau pisah sama lo, jadi Kenan mindahin lo juga, biar bisa bantu kerjaan gue.”
Mata Bela membelalak. “Lo serius...?? Lo lagi nggak bohong, kan??” tanya Bela antusias dengan mulut yang terbuka lebar.
Amel meneggakkan tubuhnya lalu menatap Bela. “Ngapain juga sih gue bohong sama lo.”
Bela langsung berlari memeluk Amel. “Yaa ampuuun.. Lo emang dewi penolong gue! Beruntung banget gue punya temen kayak lo!” ucap Bela sambil melepaskan pelukannya lalu menatap Amel dengan wajah gembira.
“Apaan sih lo Bel. Seneng banget kayaknya,” ucap Amel sambil menatap aneh pada temannya.
Bela menarik kursi untuk duduk di depan Amel. “Lo tahu kan Mel untuk masuk ke perusahaan ini aja susah, seleksinya ketat banget. Udah gitu pelamarnya banyak lagi. Yang masuk di sini itu benar-benar orang pilihan. Bisa masuk ke perusahaan ini aja udah jadi prestasi yang membanggakan untuk gue, apalagi sekarang bisa jadi asisten, secara kita baru kerja setengah tahun looh.”
Amel tampak berpikir. “Iyaa benar, gue juga heran kenapa kita berdua bisa gampang banget ya lolos waktu seleksi. Lo tahu sendiri saingan kita dari kampus ternama yang ada di luar negri semua. Udah gitu yang lebih aneh lagi, lo kan nggak pernah ngelamar di sini, tapi kok lo bisa dipanggil interview? Apalagi sampe nyuruh ngajak gue kerja di sini.”
Bela menatap ke atas sejenak. “Iyaa, gue juga nggak tahu, waktu itu HRD kita cuma bilang suruh ngajak lo interview juga di sini karena mereka butuh beberapa orang”
Bela juga heran waktu tiba-tiba mendapatkan undangan interview dari HRD Reyland Group, sementara dia tidak pernah melamar di perusahaan itu, yang lebih aneh lagi mereka menyebutkan nama Amel juga, saat itu Bela berpikir kalau Amel yang melamar di perusahaan itu.
“Udalah, ngapain dipikirin, yang penting kita bisa kerja di perusahaan ini.”
Amel mengangguk-anggukan kepalanya. “Benar juga, di luar sana banyak yang mau kerja di sini tapi nggak bisa.”
“Mel, setelah gue pikir-pikir kayaknya pak Kenan suka sama lo deh. Buktinya dia langsung ngangkat lo jadi sekertarisnya, apalagi dia sampe ngangkat gue juga cuma karena lo nggak mau pisah sama gue. Perlakuannya juga beda sama lo, Mel.”
Amel tertawa kecil pada Bela. “Jangan ngaco Bel, dia kayak gitu karena dulu Rendi pernah nitip pesen sama Kenan untuk jaga gue kalau dia udah nggak ada. Dia cuma nepatin janjinya sama Rendi,” ucap Amel dengan wajah yang terlihat muram setelah menyebut nama Rendi.
__ADS_1
Bela memajukan kursinya dan menopang dagunya dengan tangan kirinya di meja kerja Amel yang tampak sudah kosong. “Masaa siih cuma karena itu?”
“Udaah jangan kebanyakan mikir, buruan beresin barang-barang lo! Habis itu kita ke atas untuk beresin barang-barang kita di sana, sebelum Kenan datang!” tutur Amel.
Bela tersenyum lebar. “Okee, mari kita beres-beres,” seru Bela dengan semangat.
Bela dan Amel melanjutkan kegiatan mereka, setelah semua barang mereka selesai di masukkan ke kotak. Mereka meminta beberapa OB untuk membantu mereka mengangkat barang mereka ke lantai paling atas.
Saat Bela dan Amel tiba di lantai atas, Bela dibuat terkagum-kagum dengan desain ruangan yang ada di sana. Bela tampak sangat senang bisa bekerja di lantai atas, karena di samping di sana tidak ramai, meja mereka juga luas. Fasiltas di sana juga lengkap.
Meja Bela dan Amel tepat berada di depan ruangan Kenan. Di lantai itu hanya ada ruangan Kenan, ruang tunggu untuk tamu penting, ruangan meeting khusus, toilet, pantry dan ruangan yang biasa digunakan Fadil.
Tepak pukul 7 pagi, Bela dan Amel selesai membereskan barang mereka. Saat ini mereka sedang duduk sambil mengobrol karena mereka belum mempunyai pekerjaan apapun. Mereka harus menunggu instruksi dari Kenan selaku CEO di perusaahn itu.
“Pagi kak Fadil,” sapa Amel dan Bela saat melihat Fadil tpak berjalan ke arah mereka.
Fadil tersenyum saat melihat Amel dan Bela tampak berdiri menyapa dirinya. “Pagi. Kalian udah dateng dari tadi?” tanya Fadil dengan senyuman tipisnya.
“Udaah kak, kita juga udah selesai beresin barang-barang kita,” jawab Amel. Bela hanya diam sambil menatap Fadil.
Fadil menganggukkan kepalanya. “Oke, kalau gitu. Selanjutnya tunggu pak Kenan datang, nanti semuanya akan dijelaskan langsung oleh pak Kenan,” tutur Fadil.
“Iyaa Kak,” jawab Amel dan Bela serempak sambil mengangguk.
“Masih ada yang harus saya kerjakan, saya ke ruangan saya dulu,” ucap Fadil sambil menatap Amel dan Bela bergantian.
Bela dan Amel tampak bermain ponsel merela karena tidak ada yang bisa kerjakan saat ini. Mereka harus menunggu Kenan dulu. Fadil keluar dari ruangannya setelah menyelesaikan pekerjaannya, dia berjalan ke arah lift dan turun ke lantai bawah.
Bela dan Amel menoleh saat mendengar langkah kaki yang mendekat ke arah mereka. “Selamat pagi, Pak,” sapa Amel dan Bela sambil menganggukkan kepala mereka saat melihat Kenan dan Fadil yang baru saja datang.
Kenan mengangguk, berhenti sebentar lalu melirik ke Bela sebentar kemudian beralih pada Amel. “Kalian bedua ikut ke ruangan saya sekarang,” perintah Kenan, kemudian dia masuk ke dalam ruangannya yang sudah dibuka oleh Fadil.
Amel dan Bela langsung berjalan mengikuti langkah Fadil dan Kenan masuk ke dalam ruangan Kenan.
Kenan tampak sudah duduk di sofa dengan kaki satu bertumpu dengan kaki lainnya sambil menatap Amel dan Bela yang sedang berdiri di tidak jauh darinya.
“Duduklah.” Kenan mengarahkan tangannya ke sofa kosong yang ada di depannya.
Amel dan Bela mengangguk kemudian duduk dengan canggung di depan Kenan. “Apa wajah saya terlihat menyeramkan di mata kalian? Santailah sedikit. Saya sudah jinak, tidak mungkin saya memakan kalian,” ucap Kenan dengan senyum aneh di wajahnya saat melihat wajah tegang dari mereka terutama wajah Bela.
Amel dan Bela saling melirik. “Maaf, Pak,” jawab Bela dan Amel serempak.
Kenan menatap Bela. “Siapa namamu?” tanya Kenan pada Bela.
__ADS_1
“Bela, Pak” jawan Bela sopan.
“Bela, mulai sekarang kamu akan membantu tugas Amel. Amel akan lebih sering menemani saya kalau ada meeting di luar, sementara kamu akan di kantor menghandle kerjaan yang lain. Nanti Fadil akan membagikan tugas kalian masing-masing.”
Bela menggangguk cepat. “Baik, Pak.”
Kenan menatap pada Amel. “Mel, jam 11 nanti kamu ikut saya. Kita akan meeting dengan klien di luar.”
Kenan beralih pada Fadil. “Dil, berikan berkas yang berkaitan dengan meeting kita kali ini kepada Amel,” perintah Kenan.
Fadil mengangguk. “Bai, Pak.” Fadil berjalan keluar dari ruangan Kenan untuk mengambil berkas yang dimaksud oleh Kenan.
Fadil kembali masuk ruangan setelah membawa berkas di tangan kanannya. Fadil berdiri di samping Kenan setelah memberikan berkas itu kepada Amel.
Kenan memadang Amel yang terlihat sedang memegang berkas itu di tangannya. “Pelajari dulu, kita akan berangkat jam 10 nanti.”
“Baik, Pak,”
“Kalian boleh keluar,” ucap Kenan sambil berdiri menuju meja kerja kerjanya.
Amel dan Bela berjalan keluar secara bersamaan, tidak lama kemudian Fadil menyusul keluar. Fadil berjalan ke ruangannya untuk mengambil tumpukkan berkas yang akan menjadi tugas Amel dan Bela mulai sekarang. Fadil tampak menjelaskan beberapa hal pada Bela dan Amel dengan wajah serius.
Fadil berjalan masuk kembali ke ruangan Kenan setelah selesai menjelaskan pekerjaan kepada Amel dan Bela.
“Apa sudah kamu temukan orang yang berbuat kasar pada Amel?” tanya Kenan tanpa menoleh pada Fadil. Dia sedang membolak-balikkan kertas yang ada di mejanya.
“Sudah, Pak,” jawab Fadil cepat.
Kenan menghentikan pekerjaannya lalu menatap Fadil. “Siapa?”
“Siska dan beberapa temannya, Pak”
“Bukankah, dia teman sekolahmu dulu? Berani sekali dia membuat Amel terluka.”
“Iyaa Pak. Dari dulu Siska memang tidak menyukai Amel karena Amel berpacaran dengan orang yang Siska sukai.”
“Siapa?”
“Rendi.”
Kenan geleng-geleng kepala. “Rendi benar-benar merepotkanku.”
“Biarkan saja dulu, aku akan menanganinya nanti. Aku akan membuat dia membayar apa yang sudah dia lakukan kepada Amel.”
__ADS_1
“Baik, Pak”
Bersambung....