
"Tidak bisakah kalau hanya aku yang ada di sampingmu?"
Amel mengerutkan keningnya mendengar pertanyaan Rendi. Kata-kata Rendi tampak ambigu di telinganya. Kalau mau artikan, Amel akan menganggap kalau Rendi memiliki perasaan padanya, tetapi sekali lagi dia tidak mau terlalu berharap karena takut sakit hati.
"Kalau nanti Kakak udah punya pacar sungguhan, Kakak nggak akan butuh aku lagi. Kita akan punya kehidupan masing-masing."
Amel berusaha menahan perasaan sakitnya saat mengatakan hal itu. Jauh di lubuk hatinya paling dalam, dia sangat berharap kalau dia bisa menjadi pacar sungguhan Rendi.
"Aku sudah pernah bilang kalau aku nggak akan mengakhiri hubungan ini, jadi kamu harus tetap ada di sampingku"
Apa maksudnya berkata seperti itu? Apa dia mau buat aku kayak orang bodoh yang terus berada di sampingnya sementara dia menyukai orang lain?
Amel rasanya ingin meledak ketika mendengar perkataan Rendi. Kenapa bisa dia seegois itu dan tidak memikirkan perasaannya sama sekali.
"Kita cuma pura-pura pacaran, Kak. Kakak nggak bisa seperti ini." Amel berusaha menahan kemarahannya.
"Kamu yang selama ini menganggapnya seperti itu, bukan aku."
Apa dia menganggap aku pacarnya sungguhan? Wtau aku yang salah mengartikan kata-katanya?
"Apa maksud Kakak?" tanya Amel heran. Dia hanya ingin memastikan kalau masud dari perkataan Rendi sama seperti apa yang ada di pikirannya.
"Aku tidak pernah main-main dalam menjalani suatu hubungan. Sama seperti saat ini," ucap Rendi serius, "sudah malam. Masuklah. Aku juga harus pulang." Rendi mengacak-acak rambut Amel sebelum pergi.
Amel tidak menjawab karena masih mencerna kata-kata Rendi barusan. Dia hanya menatap mobil Rendi yang sudah menjauh.
Setelah mobil tidak terlihat lagi, Amel masuk ke dalam. Besok adalah hari senin, dia harus mempersiapkan semua keperluan sekolahnya dan tidak boleh terlambat upacara lagi.
*****
Pagi ini Amel sudah berada di sekolah, dia sedang duduk di dalam kelasnya dan mencoba menghubungi Raka karena mereka janjian akan bertemu hari ini di sekolah. Amel terus menelpon Raka, tapi tidak diangkat. Akhirnya Amel memutuskan untuk mengirim pesan singkat kepada Raka.
Ketika Amel sedang menunggu balasan dari Raka, Amel menatap layar ponselnya dan tersenyum saat melihat foto Rendi yang terlihat tampan saat dia tertidur. Amel mengambilnya diam-diam saat di rumah Rendi kemarin.
Triiiiiing.... Bunyi pesan masuk.
Raka memberitahu Amel kalau dia tidak bisa masuk sekolah hari ini. Orang tuanya melarangnya pergi sekolah. Amel kemudian membalasnya dan menanyakan keadaan Raka.
__ADS_1
Mereka terus berbalas pesan sampai akhirnya mereka memutuskan untuk bertemu di rumah Raka karena Raka tidak diijinkan untuk pergi kemana-mana oleh ibunya dan Amel pun setuju untuk ke rumah Raka.
Amel dan keluarga Raka memang sudah akrab dari dulu. Raka sering kali mengajak Amel ke rumahnya. Orang tua Raka jiga sangat baik kepada Amel. Mungkin karena mereka tidak mempunyai anak perempuan dan hanya memiliki satu anak sehingga mereka memperlakukan Amel dengan sangat baik.
Sebenarnya orang tua Raka ingin mempunyai 1 anak lagi dulu, tapi karena kondisi rahim ibunya yang lemah membuatnya susah untuk hamil lagi. Padahal, ibu Raka sangat menginginkan anak perempuan waktu itu.
Saat bel masuk sekolah berbunyi, ada satu pesan masuk yang berasal dari Rendi yang menanyakan apakah Amel sibuk hari ini, tapi belum sempat dia membalas, gurunya sudah masuk ke kelas. Amel memutuskan untuk membalasnya nanti.
Saat ini Amel sudah berada di kantin sekolah bersama teman-temannya dan menikmati makanan mereka sambil mengobrol.
"Mel, Raka ke mana? 5umben nggak masuk sekolah?" tanya Olive sambil mengunyah makanannya.
"Lagi sakit," jawab Amel singkat.
"Sakit apa?" Lisa menoleh ke Amel.
"Sakit hati mungkin," ujar Amel bercanda.
Dia tidak mungkin mengatakan yang sebenarnya pada sahabatnya. Mereka pasti akan mencecarnya dengan berbagai macam pertanyaan kalau tahu Rendi dan Raka berkelahi karena salah paham.
"Model Raka kayak gitu mana bisa sakit hati Mel. Putus satu tumbuh seribu." Olive dan Lisa terkekeh mendengar ucapan Bela.
"Tapi kalau gue perhatiin dari tadi, gue juga belom pernah liat kak Rendi hari ini," ujar Bela.
"Iyaa bener. Biasanya tiap upacara kita bisa memandang wajah tampannya yang bersinar saat terkena sinar matahari," sahut Olvie sambil tesenyum genit.
"Kayaknya kak Rendi nggak masuk sekolah juga. Dari tadi nggak kelihatan ada di barisan kelasnya saat upacara tadi," ucap Bela lagi.
"Sekolah ini hampa kalau mereka tidak ada. Kita nggak bisa cuci mata." Olive menimpali lagi.
"Kenapa mereka bisa nggak masuk di hari yang sama ya? Jangan-jangan mereka berdua janjian?" Lisa tertawa membayangkan perkataannya.
Amel bungkam karena dia tidak tahu harus berkata apa. Biasanya dia akan langsung merespon kalau sudah membahas Rendi. Semua sahabatnya diam-diam merasa heran saat memperhatikan Amel yang tampak banyam melamun.
"Mel, kenapa dari tadi diem aja?" tanya Bela dengan heran. Semua sahabatnya juga sedang menatap ke Amel.
Amel mengangkat wajahnya dan memandang ketiga sahabatnya.
__ADS_1
Dia ingin cerita pada mereka, tapi waktunya belum tepat. "Nggak apa-apa, cuma lagi nggak enak badan," ujar Amel bohong.
"Belakangan ini lo sering diem. Lo ada masalah Mel?" tanya Lisa.
"Nggak, mungkin bawaan lagi PMS, jadi males mau ngapa-ngapain." Amel mengambil ponsel di sakunya karena baru ingat kalau dia belum membalas pesan dari Rendi.
Amel pun segera membalas pesan Rendi dan mengatakan kalau hari ini dia akan berbicara dengan Raka untuk meluruskan kesalah pahaman mereka. Setelah selesai membalas pesan Rendi, Amel memasukkan lagi ponselnya lagi ke sakuya.
"Masuk kelas yuk, sebentar waktu istirahat habis," ajak Amel kepada sahabatnya. mereka kemudian berjalan bersama menuju kelasnya.
**
Sementara di tempat lain, Rendi sedang berada di kamarnya dengan perasaan gelisah. Moodnya sedang tidak baik dan dia sedikit kesal karena Amel baru membalas pesan yang dia kirim tadi pagi. Ada perasaan cemburu saat dia tahu kalau Amel akan bertemu dengan Raka sepulang sekolah.
Dia tidak bisa membiarkan Amel terus berdekatan dengan Raka, apalagi Raka yang mempunyai perasaan terhadap Amel.
Rendi kemudian membuka ponselnya lagi lalu mengirimkan pesan kepada Amel dan menanyakan jam berapa dia akan bertemu dengan Raka.
Rendi terus saja berjalan bolak-balik di kamarnya, menunggu balasan dari Amel.
Rendi heran, kenapa Amel belum juga membalas pesannya, padahal ini sudah waktunya pulang sekolah.
Rendi memutuskan untuk menelpon Amel, tapi saat tersambung, Amel tidak juga menjawab telponnya. Rendi mencoba berapa kali, tapi tidak diangkat. Rendi akhirnya melemparkan ponselnya ke tempat tidur kemudian keluar dari kamarnya.
********
Amel sedang berjalan keluar gerbang sekolahnya dan berencana untuk ke rumah Raka setelah berpamitan dengan ketiga sahabatnya. Setelah sampai pintu gerbang, Amel membuka ponselnya untuk memesan ojek online untuk ke rumah Raka.
Amel melihat ada pesan masuk dari Rendi. Saat akan membalasnya, ada seseorang yang memanggil namanya. Amel pun menoleh ke sumber suara dan ternyata supir keluarga Raka sudah menunggunya di samping sekolah.
Amel kemudian menghampiri supir Raka. "Pak Didi kok bisa di sini?" tanya Amel pada supir Raka.
"Den Raka tadi minta bapak buat jemput Non Amel." Pak Didi membuka pintu belakang mobil. "Silahkan Non."
"Maaf ya Pak Didi udah ngerepotin." ujar Amel tidak enak hati.
"Ini sudah menjadi tugas saya Non."
__ADS_1
Amel tersenyum lalu masuk ke dalam mobil. Tidak lama kemudian mobil pun melaju meninggalkan sekolahnya.
Bersambung...