Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Ijin dari Rendi


__ADS_3

Nita berdiri dari tempat duduknya, kemudian pindah duduk di samping Amel. Nita memeluk Amel. "Makasih Mel, lo uda mau bantu gue."


Amel mengangguk dan mengelus punggung Nita, memberikan sedikit ketenangan untuknya.


"Kalau gitu, kita pesen makan dulu. Gue yakin dengan keadaan lo yang seperti ini, pasti lo belum makan." Amel melepaskan pelukannya.


Nita menghapus sisa air matanya. "Gue lagi nggak selera makan Mel. Gue bener-bener nggak bisa mikir apa-apa selain Raka. Gue sayang banget sama dia Mel." Terlihat air matanya kembali keluar.


"Kalau lo terus kayak gini, lo bisa sakit. Lo ngerugiin diri sendiri namanya." Amel merapikan rambut Nita yang terlihat berantakan.


"Gue nggak bisa tenang sebelum ketemu sama Raka Mel " Beberapa kali terlihat pandangan kosong di mata Nita.


"Iya, gue bakal bantu lo, tapi lo harus makan dulu. Lo harus paksa makan, walaupun lo lagi nggak selera makan."


Amel mencoba membujuk Nita. Dia tidak menyangka, cewek yang biasanya ceria, terlihat menyedihkan saat diputuskan oleh Raka. Padahal, dengan wajah seperti dia, tidak sulit untuk mencari pengganti Raka. Dia juga termasuk salah satu murid populer di sekolah dan banyak juga yang menyukainya.


Melihat Nita yang hanya diam, Amel memegang bahunya. "Gue pesenin makanan ya?" Amel menatap Nita dari samping.


Nita menggangguk. Dia akhirnya mau setelah dibujuk oleh Amel. Amel lalu memesan makanan. Setelah itu mengetik sesuatu di ponselnya. Mereka makan dengan tenang. Amel memandang Nita yang tampak tidak selara makan. Dia hanya mengaduk-aduk makanannya, tanpa memakannya.


"Nit, kenapa nggak dimakan?" Amel membuyarkan lamunan Nita.


Nita menoleh. "Iya ini baru mau makan." Nita mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.


Setelah mereka selesai makan, mereka berjalan keluar. "Gue habis ini langsung mau nemuin Raka. Semoga dia mau dengerin kata-kata gue." Amel berhenti tepat di depan cafe di sebelah mobil hitam yang sedang terparkir.


"Iyaa, makasih ya Mel uda mau bantu gue," ujar Nita memegang lengan Amel.


"Iyaa, lo hati-hati pulangnya. Jangan suka ngelamun ya? Kalau ada apa hubungin gue aja."


Nita mengangguk dan melambaikan tangan. Amel mengambil ponselnya dan mengetikkan sesuatu. Setelah itu dia berjalan menuju kosnya untuk berganti pakaian dulu sebelum ke rumah Raka. Amel berhenti tidak jauh dari cafe tadi, saat ponselnya bergetar terus. Dia melihat Rendi yang menelpon. Amel langsung mengangkat telponnya.


HP Amel   : "Halo Kak "


HP Rendi  : "Kamu uda selesai ketemu sama temen kamu?"

__ADS_1


HP Amel   : "Udah kak, ini mau pulang ganti baju, terus mau ke rumah Raka."


HP Rendi   : "Kamu ngapain ke rumah Raka? Kenapa nggak ijin dulu sama aku, kalau mau ke sana?"


HP Amel    : "Ada perlu kak..penting!"


HP Rendi   : "Aku sudah pernah bilang, kamu harus ijin dulu, kalau mau ketemu cowok lain, apalagi Raka."


Hp Amel   : "Iyaa, Amel takut kalau bilang sama kakak, nanti kakak marah lagi kayak kejadian waktu itu."


HP Rendi  : "Aku bakal lebih marah, kalau kamu diam-diam ketemu sama Raka. Aku nggak ngelarang kamu buat ketemu Raka, karena aku tahu kamu sangat dekat sama dia, tapi kamu harus bilang sama aku dulu.


HP Amel   : "Iyaa, maaf kak, Amel benar-benar harus ketemu sama Raka kak, ada hal penting yang harus Amel bicarain sama Raka."


HP Rendi   : "Kamu harus kasih tahu aku dulu, hal penting apa, yang mau kamu bicarain sama Raka"


HP Amel   : "Raka mutusin Nita, dan Nita minta bantuan Amel buat ngebujuk Raka untuk ketemuan sama dia, karena semenjak putus Raka menghindar dari Nita. Dia tidak merespon pesan dan telpon Nita sama sekali"


HP Rendi   : "Apa kamu tahu alasan kenapa Raka mutusin Nita?"


HP Rendi  : "Sepertinya aku tahu kenapa Raka tiba-tiba mutusin Nita"


HP Amel   : "Darimana kakak tahu? Amel saja tidak tahu" ucap Amel dengan polos.


HP Rendi   : "Itu karena kamu tidak peka, ini cuma dugaan saja, tapi aku yakin kalau dugaan aku ini benar"


HP Amel   : "Emang dugaan kakak apa?"


HP Rendi   : "Rahasia, aku tidak akan memberitahumu"


HP Amel    : "Yaa sudah, Amel akan bertanya langsung sama Raka"


HP Rendi   : "Aku yakin.. dia tidak akan memberitahumu yang sebenarnya"


HP Amel   : "Kenapa? selama ini Raka tidak pernah menyembunyikan apapun dari Amel."

__ADS_1


HP Rendi   : "Itu dulu, tapi tidak kali ini. Dia tidak akan berani berkata yang sebenarnya"


HP Amel   : "Sepertinya kakak lebih tahu Raka dari pada Amel, apa kakak sekarang dekat dengan Raka?"


HP Rendi  : "Aku ini laki-laki, sedikit banyaknya aku tahu yang ada dipikirin Raka."


HP Amel   : "Terserah kakak saja, jadi Amel boleh ke rumah Rakakan hari ini?"


HP Rendi   : "Iyaa, tapi besok kamu harus ke sini, karena aku belum bisa masuk sekolah, lukaku masih belum sembuh."


HP Amel   : "Iyaa kak, kalau Amel tidak lupa"


HP Rendi   : "Kamu jangan buat aku marah Mel!"


HP Amel    : "Amel hanya bercanda kak" Amel tertawa.


HP Rendi   : "Aku nggak akan ijinin kamu ketemu Raka lagi, kalau kamu sampai tidak ke sini besok!"


HP Amel   : "Kakak nggak bisa dong ngelarang aku ketemu sama Raka, kakakkan uda janji nggak bakal ngelarang aku ketemu sama dia."


HP Rendi  : "Semua tergantung sama sikap kamu, kalau kamu jujur aku akan ijinkan"


HP Amel : "Iyaa kak, kedepannya Amel akan jujur sama kakak. Jangan lupa makan siang ya kak! nanti Amel kabarin kalau uda selesai bicara dengan Raka"


HP Rendi : "Iyaa, kamu hati-hati di jalan, kalau ada apa-apa, telpon aku!"


HP Amel : "Love you kak" ucap Amel spontan


HP Rendi : "Kamu ngomong apa? aku nggak denger, suara kamu kecil banget."


HP Amel : "Kalau kakak tidak dengar, ya sudah..tidak ada siaran ulang"


HP Rendi : "Love you too sayang" Rendi memutuskan sambungan telponnya. Senyum tipis terukir di wajah tampannya. Jantung Rendi berdegub kencang saat mendengar perkataan Amel tadi, ini pertama kalinya, Amel bicara seperti itu di telpon.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2