
Sofi dan Amel langsung mengalihkan pandangan mereka ke arah depan setelah mendengar langkah kaki. Rendi dan Raka terlihat berjalan sejajar ke arah mereka. Waktu sudah menunjukkan pukul 8 malam, mereka baru saja selesai berbicara. Entah apa yang mereka bicarakan yang pasti Amel dan Sofi tidak bisa menebak hanya dari melihat ekpresi wajah mereka berdua.
Rendi berjalan menghampiri istrinya, sementara Raka berdiri di dekat tempat duduk Sofi. "Sayang," panggil Rendi. "Ayo kita makam malam." Rendi mengulurkan tangannya pada Amel.
Amel tersenyum seraya menyambut uluran tangan Rendi. "Kita mau makan malam di mana?"
"Kau saja yang pilih ingin makan di mana." Rendi mulai berjalan menuju pintu seraya merangkul pinggang istrinya dari belakang, sementara Raka dan Sofi mengikuti dari belakang. "Sof, lepaskan tanganmu," ucap Raka ketika melihat Sofi mengaitkan tangan kanannya di lengannya seraya terus berjalan mengikuti Rendi dan Amel.
Sofi tampak acuh. Dia justru tersenyum. "Kau seharusnya romantis seperti kakakku. Lihat mereka terlihat sangat mesra," ucap seraya terus menatap ke arah kakaknya dan Amel.
Raka menghembuskan napas pelan. "Mereka itu suami istri Sofi. Wajar saja mereka bersikap begitu," jelas Raka dengan wajah frustasi.
Sofi menoleh pada Raka. "Bukankah kita juga akan menikah nanti." Sofi terlihat tanpa beban saat mengatakan hal itu. Seolah hal itu benar akan terjadi.
Raka menggelengkan kepalanya seraya menghembuskan napas. "Kita bahkan tidak memiliki hubungan Sofi, bagaimana bisa kita menikah?"
"Apa yang kalian lakukan? Kenapa kalian jalannya lambat sekali," gerutu Rendi dengan wajah datar. Dia merasa kesal saat melihat Raka dan Sofi masih tertinggal jauh di belakang mereka, sementara dirinya dan Amel sudah berdiri di depan lift.
Sofi tersenyum lebar. "Kami sedang membicarakan masa depan," jawab Sofi enteng. Raka sedang malas untuk meladeni Sofi akhirnya da memilih untuk diam. Sofi kemudian menarik lengan Raka agar berjalan lebih cepat. Raka terlihat pasrah mengikuti langkah Sofi karena dia juga sedang tidak ingin berdebat.
"Masa depan dengan siapa? Dengan Willy atau Mike?" Rendi sengaja mengatakan hal itu karena ingin mengerjai adiknya.
"Kakaaaak," teriak Sofi dengan wajah marah dan tatapan permusuhan.
Rendi tersenyum. "Kenapa? Apakah ada yang salah perkataanku?" tanya Rendi acuh.
Napas Sofi terlihat mulai tidak beraturan karena mulai terpancing emosinya. "Jangan berani-beraninya membawa nama mereka," ancam Sofi, "aku tidak memiliki hubungan apapun dengan mereka. Ingat itu!"
Sofi hanya takut kalau Raka salah paham lagi terhadapnya seperti saat itu. Hubungannya dengan Raka sudah mulai mencair. Dia tidak mau kalau sampai hubungan mereka kembali menjadi kaku dan dingin.
Rendi dan Amel terlihat melangkah masuk ke dalam lift yang baru saja terbuka, diikuti Sofi dan Raka di belakangnnya. "Benarkah? Bukankah perjodohanmu dengan Wil..." Sofi langsung mendekati kakaknya dan membekap mulutnya agar dia tidak meneruskan perkataannya.
"Jangan macam-macam kak. Aku akan memberitahukan pada kak Amel nama gadis yang dekat dengan kakak selama di Jerman," ancam Sofi. Dia sengaja berbisik di telinga kakaknya. supaya Amel tidak bisa mendengarnya.
Rendi langsung menghempaskan tangan adiknya dengan sorot mata kesal. "Jangan mengarang cerita. Aku tidak pernah dekat dengan siapapun selain dengan Ellen," balas Rendi dengan suara sangat pelan.
"Aku tahu, tapi aku akan membuat kak Amel cemburu dengan menceritakan gadis-gadis yang menyukaimu dan memberitahukan bagaimana nekatnya mereka ketika mendekatimu dulu. Aku bahkan akan mengundang mereka semua ke acara pernikahanmu kalau kau berani mengungkit tentang perjodohanku di depan Raka," ancam Sofi dengan tatapan mengerikan.
Sofi tidak bisa membayangkan apa yang ada dipikiran Raka jika sampai dia tahu mengenai perjodohannya. Dia tidak ingin kalau Raka berpikir macam-macam tentangnya. Padahal tanpa sepengetahuan Sofi, Rendi sudah terlebih dahulu memberitahukan pada Raka.
"Sofi, jangan berani-beraninya kau mengundang mereka. Aku tidak mau mereka membuat kekacauan di acara pesta pernikahanku."
__ADS_1
"Maka dari itu, tutup mulut, Kak," bisik Sofi lagi.
Amel hanya menggelngkan kepalanya melihat kelakukan Rendi dan Sofi, sementara Raka masih terlihat hanya diam seraya menatap heran pada adik-kakak yang sedang berada di depannya dengan tingkah konyol mereka berdua.
"Ting...." Lift terbuka. Mereka berempat melangkah menuju parkiran. Rendi dan Raka mengendarai mobil mereka masing-masing menuju restoran yang Amel inginkan.
Di dalam perjalanan menuju restoran, Sofi tidak hentinya bertanya pada Raka, tentang apa saja yang dia bicarakan pada kakaknya. Raka hanya menjawabnya dengan mengatakan kalau yang mereka bicarakan hanya urusan bisnis. Tentu saja Sofi tidak mempercayainya. Sofi terlihat sedikit kesal karena dia sudah melakukan berbagai macam cara, tapi tetap saja Raka tidak mau memberitahunya.
Begitu pun dengan Amel, sama seperti Sofi, dia juga berusaha mencari tahu, apa yang mereka bicarakan sehingga dirinya dan Sofi tidak boleh mendengarnya. Berbeda dengan Raka yang tidak memberitahunya, Rendi justru dengan jujur menjawab semua pertanyaan istrinya, dengan syarat jangan memberitahu Sofi tentunya.
Mereka langsung masuk dan memesan makanan setibanya di restoran yang sering di datangi Amel dan Rendi.
"Aku permisi ke toilet dulu," ucap Raka seraya berdiri.
"Aku juga." Sofi mengikuti langkah Raka dari belakang. Rendi terlihat acuh, sementara Amel tersenyum melihat tingkah adik iparnya yang selalu mengekori Raka, sejak mereka keluar dari apartemen.
Sofi mengejar langkah Raka. "Tunggu Raka. Kenapa kau berjalan cepat sekali?" Sofi berusaha berjalan sejajar dengan Raka.
"Apa kau ingin mau ke toilet pria bersamaku?" tanya Raka dengan acuh seraya terus berjalan. Dia terlihat tidak menghiraukan Sofi yang tampak kesulitan menyamai langkah kakinya.
Sofi memanyunkan mulutnya. "Aku juga mau ke toilet wanita," elak Sofi.
"Kalau begitu jangan ikuti aku." Raka langsung berbelok riri ke arah toilet pria, sementara langkah Sofi berhenti sejenak untuk menoleh ke arah Raka berbelok, setelah itu, dia juga berbelok ke arah kanan menuju tolilet wanita.
Raka langsung menoleh ke sumber suara. "Angel, sedang apa kau di sini?" tanya Raka setelah melihat orang yang tadi memanggil namanya.
"Tentu saja makan. Ini kan restoran Raka," ucap Angel seraya tersenyum manis pada Raka. Angel adalah mantan kekasih Raka sebelum Nita.
"Aku tahu, tapi bukankah kau sedang berada di luar negeri?"
"Dari mana kau tahu aku sedang berada di luar negeri? Apa kau diam-diam mencari tahu tentangku?" selidik Angel dengan tatapan menyipit seraya tersenyum menggoda.
Raka tampak malas meladeninya. "Kau itu salah satu model ternama. Tentu saja beritamu ada di mana-mana. Aku tidak berminat pada kehidupan pribadimu," jelas Raka dengan wajah malas.
Angela dan Nita adalah musuh bebuyutan saat mereka sekolah bahkan sampai sekarang pun mereka selalu berdebat jika bertemu. Lebih tepatnya Angel yang selalu mencari gara-gara pada Nita karena Nita bisa lebih dekat dengan Raka dibandingkan dirinya. Yaa.. Angel masih berusaha mendapatkan hati Raka kembali, meskipun sudah ditolak berkali-kali oleh Raka.
Wajah Angel langsung kecewa. "Aku kira karena kau masih mencintaiku," ucap Angel dengan suara pelan.
"Aku tidak pernah mencintaimu, Angel. Kau juga tahu itu," ralat Raka.
Raka memang tidak pernah mencintai Angel, meskipun mereka pernah berpacaran saat SMA. Saat itu, Angel yang menyatakan perasaannya pada Raka terlebih dahulu, dan dia terus saja mengejar Raka sampai cintanya diterima.
__ADS_1
Angel langsung mengapit tangan Raka. "Kau masih saja dingin terhadapku, bagaimana pun kita pernah menjalin hubungan. Tidak bisakah sedikit lembut padaku?" pinta Angel dengan manja.
Raka mulai jengah. Meskipun Angel cantik, tetapi Raka tidak suka dengan sikap manja dan sikap angkuhnya. Mungkin karena terlahir dari keluarga kaya membuatnya seperti itu.
"Jangan sentuh aku, Angel. Perhatikan sikapmu. Ini adalah tempat umum." Raka berusaha untuk menepis tangan Angel tapi tidak bisa karena dipegang erat oleh Angel. Raka tidak ingin mengundang perhatian orang lain, sebab itu, dia tidak menepis dengan kuat tangan Angel saat angel mengapit tangannya.
Sofi yang baru saja selesai dengan urusannya, segera berjalan ke arah mejanya. Sofi berhenti melangkah ketika melihat Raka sedang bersama seseoarng. Dia sempat tertegun sesaat ketika melihat pemandangan di depannya. Seorang wanita dengan tubuh tinggi, berambut panjang dan berwajah cantik sedang mengapit lengan Raka dengan begitu intim.
Raka dan yang menyadari Sofi sedang memandang ke arahnya sempat terdiam seraya menatapnya. "Dia siapa? Apa kau mengenal gadis itu?" tanya Angela saat menyadari kalau Raka sedang menatap seorang wanita yang juga sedang berdiri menatap ke arah mereka.
Sofi meremas ujung dressnya saat menyadari kalau Raka tidak menjawab pertanyaan dari wanita yang ada di sampingnya. Sofi menduga kalau wanita tersebut mungkin yang dimaksud oleh ibu Raka yang ingin dikenalkan oleh Raka sebagai calon istrinya saat melihat keintiman mereka saat ini.
Sofi akhirnya berjalan seraya menunduk melewati Raka dan wanita tersebut. "Tunggu." Raka mencekal tangan kiri Sofi ketika dia melewatinya. Raka melepaskan pegangan Angel yang mulai merenggang karena terkejut saat Raka memegang tangan wanita yang baru saja melewati mereka.
Raka kemudian berdiri di samping Sofi, lalu merangkul bahunya. "Kau mau ke mana sayang?" tanya Raka seraya menatap wajah Sofi yang terlihat sangat terkejut.
"Sayang?" Angel mengulangi perkataan Raka. Dia seolah tidak percaya dengan apa yang baru saja dia dengar dari mulut dari Raka.
Raka beralih menatap Angel seraya tersenyum. "Kenalkan, ini adalah calon tunanganku." Mata Sofi langsung terbelalak. Dia tidak menyangka kalau Raka akan menariknya, merangkulnya, bahkan mengenalkan pada wanita yang ada di depannya sebagai calon tunagangannya.
Angel melipat kedua tangannya di depan dadanya. "Raka, kau tidak bisa menipuku. Aku tahu kalau kau melakukan itu supaya aku menyerah padamu, kan?" Raka memang sudah sering kali mengatakan pada Angel kalau dirinya sudah memiliki kekasih agar Angela berhenti untuk mengganggunya.
Raka menatap malas pada Angela. "Terserah padamu, mau percaya atau tidak. Kau tunggu saja undangan pernikahan dari kami tahun ini," ucap Rala acuh. Sofi terlihat diam saja, dia tidak ingin ikut campur dengan urusan Raka, meskipun saat ini, Raka melibatkan dirinya.
Angela tersenyum sinis. "Aku tidak akan menyerah begitu saja, Raka. Kau belum menikah, itu berarti kau masih milik semua orang," ucap Angela dengan wajah angkuh.
"Terserah padamu," ucap Raka acuh. "Ayo sayang kita pergi." Raka mengajak Sofi untuk pergi meninggalkan Angel secepat mungkin.
Angel terus menatap ke arah kepergian Raka. Diam-diam dia mengikuti Raka dari belakang. Dia ingin melihat ke mana perginya pujaan hatinya tersebut.
"Kalian ke mana saja? Kenapa lama sekali?" tanya Rendi ketika melihat kedatangan Raka dan adiknya.
"Tadi bertemu teman," jawab Raka singkat.
Amel langsung melayangkan pertanyaan pada Raka. "Siapa bang?" tanya Amel penasaran. Amel menduga telah terjadi sesuatu ketika melihat ekspresi wjaah Raka.
"Angel." Raka dan Sofi duduk di tempat duduk mereka masing-masing.
Rendi melirik ke arah adiknya, lalu beralih menatap Raka sebentar. "Apa kau habis mempertemukan adikku dengan saingannya?" tanya Rendi dengan nada mengejek. Rendi bisa tahu hal itu, hanya dengan melihat ekspresi wajahnya dan setelah Raka menyebutkan nama wanita lain dari mulutnya.
"Kak, berhenti mengolok mereka," sela Amel ketika melihat Sofi yang sedari tadi hanya diam. "Lebih baik kita makan." Amel merasa tidak enak pada Sofi karena sudah bertanya mengenai siapa yang ditemui Raka tadi membuat suasana menjadi tidak enak.
__ADS_1
Bersambung