
“Sofi ... awas kau ya!” teriak Rendi saat melihat adiknya berlari masuk ke dalam rumah, karena takut akan dimarahi oleh kakaknya.
Rendi sudah menangkap tubuh Amel yang terlihat panik karena tidak bisa berenang. “Tenang, jangan bergerak. Ada aku ada di sini. jmJangan takut,” ujar Rendi menenangkan Amel.
“Kakak jangan lepasin aku. Aku takut tenggelam. Aku nggak bisa berenang,” ucap Amel gugup.
Dia mengalungkan tangannya ke leher Rendi dan memeluk erat tubuh Rendi. Dia sebenarnya mempunyai trauma dengan air, oleh karena itu dia tidak pernah mau berenang lagi.
“Iyaa, nggak akan aku lepasin, tapi kamu jangan meluk aku terlalu erat,” ucap Rendi yang melihat Amel masih panik.
“Nggak. Nanti Kakak pasti bakal ngepasin aku. Aku takut ... aku pernah tenggelam waktu kecil. Aku ... aku takut, Kak,” ujar Amel dengan panik.
Rendi mengelus lembut rambut Amel. “Aku nggak akan ngelepasin kamu. Aku janji, tapi kamu lepasin dulu pelukan kamu. Aku bakal megang kamu supaya nggak tenggelam. Aku takut nggak bisa nahan diri kalau kamu terus meluk aku kayak gini,” bujuk Rendi.
"Nggak. Aku takut tenggelam nanti." Amel tidak mau melepaskan pelukannya, malah mempererat pelukan.
Rendi memejamkan mata sebentar lalu menghela napas panjang. "Kalau ku begini terus, itu sama saja menyiksaku, Mel."
Apa dia pikir aku bukan pria normal? Dia bahkan tidak merasa waspada sama sekali denganku. Untung saja akal sehatku masih bekerja. Dia benar-benar mengujiku, batin Rendi.
“Kakak harus janji dulu, nggak akan ngelepasin aku." Amel belum juha mau melepaskan pelukannya.
“Iyaa aku janji nggak bakal ngelepasin kamu,” ucap Rendi pasrah.
Amel melepaskan pelukannya secara perlahan dengan memegang kedua bahu Rendi. “Kamu nggak apa-apa?” Rendi menatap wajah Amel yang terlihat masih sediikit panik.
Amel mengangguk. “Aku cuma trauma, Kak. Aku pernah terpeleset dan hanyut di sungai waktu aku masih kecil, makanya aku panik karena Sofi tiba-tiba mendorongku tadi. Aku cuma kaget aja.”
Rendi mengusap lembut pipi Amel sambil tersenyum. “Tenang Mel, sekarang sudah baik-baik aja. Aku bakal marahin Sofi nanti karena sudah berani mendorong kamu.”
Amel menggeleng kuat sambil menatap Rendi. “Jangan, Kak. Sofi nggak tahu kalau aku punya trauma waktu kecil. Aku nggak apa-apa. Aku baik-baik saja.”
“Yaa sudah.. Ayok kita naek dulu.” Rendi memegang pinggang Amel dan membawanya ke tempat dangkal untuk naek ke atas.
“Kamu tunggu di sini.”
Rendi berlari mengambil handuk kimono untuk Amel. Rendi menutupi tubuh Amel dengan handuk kimono sambil mengarahkannya untuk berjalan mengikutinya.
__ADS_1
“Kamu harus bilas badanmu dulu. Aku akan ngambil pakaian ganti untuk kamu,” ucap Rendi setelah mereka sampai di depan ruang bilas yang dekat dengan kolam renang.
Amel mengangguk. ”Iyaa, Kak.” Amel masuk ke dalam dan membilas badannya. Rendi berjalan masuk ke dalam rumah, setelah memakai handuk kimono untuk mengambil baju ganti Amel.
10 menit kemudian Rendi kembali membawa pakaian untuk Amel setelah sebelumnya dia memarahi adiknya karena telah mendorong Amel. Sofi yang tidak tahu Amel mempunyai trauma menjadi merasa bersalah dan berniat meminta maaf nanti.
Rendi mengetuk pintu, dan memberikan baju untuk Amel. Sementara dia masuk ke ruang bilas sebelah untuk membersihkan tubuhnya juga. Rendi keluar terlebih dahulu. Dia sudah menunggu Amel di depan pintu. Setelah Amel selesai dia keluar dan melihat sudah ada Rendi di depannya. Mereka lalu berjalan masuk ke dalam rumah bersama.
“Isitrahatlah dulu. Rebahkan saja tubuhmu di tempat tidur. Aku mau keluar dulu," ucap Rendi setelah mereka sudah berada di dalam kamar Rendi.
“Iyaa, Kak.” Amel berjalan ke arah tempat tidur setelah melihat Rendi sudah keluar dari kamarnya.
Rendi kembali masuk ke kamarnya, setelah meninggalkan Amel selama 30 menit. Dia membawa makanan untuk Amel. Dia melihat Amel sudah terlelap di tempat tidur, mungkin karena lelah karena terlalu lama berenang dengan Sofi tadi.
Rendi mendekati tempat tidur, setelah meletakkan makanan di meja. Rendi mengusap lembut pipi putih Amel. Cukup lama dia memandangi wajah Amel.
“Bahkan waktu tidur pun kamu terlihat menggemaskan Mel. Aku benar-benar harus bisa menahan diri kalau berdekatan dengan kamu. Tiga bulan lagi aku bakal lulus, setelah itu akan meminta mama dan papa untuk mengadakan pertunangan kita. Sebelum itu aku akan minta ijin orangtuamu terlebih dulu. Aku harus mengikatmu dulu Mel,” ucap Rendi pelan.
Rendi membungkuk dan mengecup dahi Amel. “Aku cinta banget sama kamu Mel.” Rendi tersenyum lalu berjalan menuju Sofa.
Dia meyandarkan tubuhnya di sofa sambil fokus pada pada ponsel yang sedang dipegang. Rendi berniat menunggu Amel sampai bangun. Cukup lama Amel tertidur.
Amel bangun dari posisi tidurnya. “Maaf, Kak. Aku ketiduran.” Amel merapihkan tempat tidur dan berjalan mendekati Rendi.
“Makanlah dulu, tadi aku minta bi Minah untuk membuatkanmu makanan, tapi setelah sampai sini, kau malah sudah tertidur.”
“Kakak sudah makan?” Amel menatap Rendi tengah sibuk dengan ponselnya.
“Belum,” ucap Rendi singkat tanpa menoleh ke Amel.
“Kalau begitu, kita makan bersama.”
Rendi menoleh ke Amel. “Aku akan meminta bi Minah memanaskan makanannya dulu.” Rendi berdiri dan membawa nampan yang berisi makanan tadi.
Setelah makanan dipanaskan mereka makan bersama di dalam kamar. Rendi duduk bersebelahan dengan Amel. “Besok kamu berangkat ke sekolah jam berapa?” tanya Rendi setelah dia selesai makan.
“Aku biasa berangkat jam 6 kak, kenapa?” Amel melirik ke Rendi.
__ADS_1
“Besok kabari aku setelah kamu selesai bertemu dengan Devan.”
“Iyaa, Kak. Kakak kapan mai masuk sekolah?” tanya Amel saat melihat Rendi sudah selesai menenguk minumnya.
“Belum tau, tangan aku masih sakit, apalagi tadi terkena air kolam renang, terasa perih. Luka bekas jahitannya belum kering,” ucap Rendi sambil melihat ke tangannya.
“Apa kamu nggak ngerasa lupain sesuatu?” Rendi menatap mata Amel.
“Apa? Aku nggak merasa ngelupain sesuatu,” ujar Amel yang tampak berpikir.
“Hadiah untukku mana? Aku sudah menang.”
“Ooh, bukannya Kakak udah punya semuanya? Hadiah apalagi yang Kakak mau?” tanya dengan heran.
Rendi menatap Amel sebentar. “Ada sesuatu yang tidak aku miliki dan cumq kamu yang bisa memberikannya.”
Amel memandang wajah Rendi dengan tanda tanya besar. “Apa? Aku merasa nggam punya apa-apa?”
"Kalau kamu nggak tahu, biar aku aja yang ngambil sendiri.” Rendi meraih tubuh Amel lalu mengecup singkat bibirnya.
Amel hanya diam saat Rendi tiba-tiba menciumnya. Dia sedikit terkejut. “Kenapa Kakak ncium aku tiba-tiba?” tanya Amel dengan kesal ketika Rendi melepaskan ciumannya.
Rendi hanya tersenyum. “Aku cuma ngambil hadiah aku aja.”
“Tapi Kakak harus ijin aku dulu,” ujarnya dengan wajah cemberut.
“Yaa sudah kalau gitu, apa aku boleh cium kamu?” Rendi menatap iris hitam Amel.
“Kenapa baru ijin sekarang? Kakak kan udah cium aku tadi,” ujar Amel yang masih kesal dengan Rendi.
“Aku nggak meminta ijin yang tadi, tapi meminta ijin untuk yang ini.” Rendi mengecup singkat keninh Amel.
Amel langsung cemberut. "Kakaaak."
Rendi tersenyum tipis. “Besok, sepulang sekolah, temani aku ke suatu tempat,” ujar Rendi sambil melepaskan pelukannya.
“Kemana?”
__ADS_1
“Rahasia,” ujar Rendi tersenyum sambil mengacak-acak rambut Amel.
Bersambung...