
Setelah mengatakan itu, Rendi tampak terdiam lagi, pikiran kembali pada kejadian masalalunya bersama Friska dan kejadian yang terjadi beberapa tahun lalu, penyebab cidera otak berat yang dialami oleh Rendi dan alasannya tidak bisa melupakan masalalunya itu sampai sekarang.
Flashback
Friskila Ellenia Agistie adalah saudara kembar dari Friska Ellenia Agistie. Kelahiran mereka hanya berjarak 5 menit. Friskila lahir lebih dulu dari pada Friska, yang berarti Friskila lebih tua dari pada Friska. Mereka terlahir kembar indentik, hanya sifat dan karakter mereka saja yang membedakannya.
Sedikit sulit untuk membedakan mereka, tetapi berbeda dengan Rendi, dikarenakan kedekatan mereka dari kecil membuatnya dengan mudah mengenali mereka. Orang terdekat Friska biasa memanggilnya dengan nama tengahnya, yaitu Ellen, sementara Friskila biasa dipanggil dengan nama Kila.
Sejak kecil Friska, Rendi, dan Friskila tumbuh bersama, mereka sangat dekat satu sama lain. Hubungan mereka semakin dekat sampai mereka beranjak remaja. Hingga suatu hari, kabar mengejutkan datang dari orang tua mereka.
Kabar tentang perjodohan Rendi dan Friskila.
Itulah awal dari merenggangnya hubungan kakak-beradik itu.
Keluarganya dan keluarga Rendi memang sudah lama membuat kesepakatan untuk menjodohkan anak mereka. Mereka memutuskan untuk mengadakan acara pertunangan terlebih dahulu untuk mengikat hubungan Rendi dan Friskila. Kabar pertunangan itu sukses membuat Friska seperti tersambar petir di siang bolong.
Bagaimana tidak, dia sudah lebih dulu menyukai Rendi dari pada saudara kembarnya. Dia sempat tidak terima dengan keputusan orang tuanya itu. Saat Friska ingin mengatakan perasaannya pada kakaknya bahwa dia mencintai Rendi dan ingin menggantikan kakaknya dalam perjodohan itu.
Pil pahit kembali ditelan Friska. Kakaknya terlebih dulu menceritakan perasaannya pada Friska. Friskila mengatakan kalau dia sangat bahagia bisa dijodohkan dengan Rendi karena memang dari dulu dia memiliki perasaan terhadap Rendi.
Dia sudah lama menunggu kesempatan untuk bisa bersama dengan Rendi. Belum pernah dia merasa mengingkan suatu hal, seperti menginginkan untuk hidup bersama Rendi.
Saat itu Friska hanya diam mendengarkan pengakuan dari kakaknya. Tidak pernah terpikirkan olehnya kalau kakaknya juga menyukai Rendi karena selama ini tidak terlihat bahwa dia memilki perasaan terhadap Rendi.
Melihat wajah bahagia kakaknya dia tidak jadi mengungkapkan perasaanya dan memilih untuk diam, apalagi saat mengingat perlakuan berbeda Rendi pada Friskila. Friska merasa kalau Rendi juga memiliki perasaan yang sama terhadap kakaknya. Perlahan Friska mundur, dan memutuskan untuk membuang perasaannya pada Rendi.
__ADS_1
Dulu, sebelum perjodohan itu, Friska bahkan pernah mengutarakan perasaanya pada Rendi langsung, tetapi Rendi mengatakan kalau dia tidak mempunyai perasaan apa-apa terhadap Friska. Rendi mengatakan kalau perasaannya sayangnya pada Friska hanya sebatas perasaan sayang antara kakak dan adik. Rendi tidak mengatakan kalau dia sudah menyukai orang lain.
Awalnya, Friska tidak menyerah untuk mendekati Rendi, karena merasa kalau Rendi hanya butuh waktu untuk bisa menyukainya. Dia terus berusaha segala cara untuk membuat Rendi jatuh cinta padanya. Sikap baik yang selama ini Rendi tujukan untuk Friska, justru disalah artikan oleh Friska. Mulai saat itu, Rendi terlihat sedikit menjaga jarak darinya.
Kisah tragis Rendi dimulai saat dirinya terlibat kecelakaan hebat bersama dengan Friskila ketika Rendi masih tinggal di Jerman. Saat itu mereka dalam perjalan ke suatu tempat. Kejadian itu terjadi saat Rendi 2.5 tahun lalu. Saat itu Rendi memaksa Friskila untuk pergi menemaninya ke salah satu acara ulang tahun temannya.
Naas, sebelum mencapai tempat tujuannya, mobil yang ditumpangi Rendi dan Friskila mengalami kecelakaan hebat. Mobil Rendi terlempar beberapa meter akibat ditabrak oleh bis besar yang melaju dengan kecepatan tinggi. Mobil Rendi mengalami kerusakaan parah, terlihat bagian depanmya ringsek dengan posisi terbalik.
Semua orang berpikir kalau orang di dalam mobil itu, pasti tidak akan selamat saat melihat kondisi mobil yang rusak parah. Sopir yang membawa mobil Rendi langsung tewas di tempat. Sementara Rendi dan Friskila berusaha di keluarkan oleh orang-orang yang berada di lokasi kejadian karena takut mobil akan terbakar, mereka melihat ada sedikit percikan api di bawah mobil yang terbalik itu.
Rendi saat itu masih setengah sadar melihat Friskila sudah tergeletak tidak berdaya di sampingnya berlumuran darah, sama seperti dirinya. Friskila hanya menatap Rendi dengan tatapan tidak berdaya. Rendi berusaha untuk menggerakkan tangannya untuk menggapai tangan Friskila.
Dia mengumpulkan sisa tenaganya agar bisa menggeser sedikit tubuhnya. Setelah berhasil menggeser tubuhnya sedikit, Friskila meraih tangan Rendi dan menggenggamnya kuat tangannya, seraya mengeluarkan beberapa kata dari mulutnya.
Setelah selesai mengucapkan beberapa kata, Dengan mata berkaca-kaca Friskila tersenyum pada Rendi tidak lama kemudian matanya tertutup, dan genggaman tangan Frsikila melemah. Terlihat air mata keluar dari sudut mata Frikila sesaat sebelum menutup mata.
Setelah operasi Rendi mengalami koma beberapa bulan. Semua keluarga Rendi terpukul dengan keadaan Rendi saat itu. Setelah sadar untuk pertama kalinya, dia masih tidak menyadari apa yang terjadi dengan Friskila. Dia berpikir kalau Friskila selamat seperti dirinya. Semua sepakat untuk menyembunyikan dulu, melihat kondisi Rendi yang masih belum stabil.
Seminggu setelah bangun dari koma, Rendi mendapati kabar mengejutkan, kabar tentang meninggalnya Friskila. Seketika dia langsung pingsan saat mendekat kabar tersebut. Kejadian kecelakaan yang merenggut nyawa Friskila menjadi pukulan berat untuk Rendi.
Dia tidak henti-hentinya menyalahkan dirinya atas kematian Friskila. Bukan tanpa alasan Rendi bersikap seperti itu, karena dirinyalah yang memaksa Friskila saat itu untuk pergi dengannya. Rendi selalu berpikir kalau dia tidak mengajak Friskila saat itu, semuanya tidak ada terjadi. Friskila pasti masih hidup sampai sekarang. Rasa bersalah yang menghinggapi pikirannya, membuat emosi Rendi tidak stabil.
Semenjak saat itu Rendi mengalami depresi berat, Rendi mengalami gangguan stress pasca trauma atau biasa di sebut PTSD. Rendi berkali-kali pingsan saat mengetahui berita kematian Friskila.
Dia bahkan pernah berniat untuk bunuh diri. Dia selalu berteriak histeris saat mengingat kejadian kecelakaan tersebut, Dia sering mengamuk dan membanting semua barang-barang yang ada di sekitarnya. Orang tuanya bahkan mendatangkan psikiater untuk mengobati trauma yang diderita Rendi.
__ADS_1
Semenjak dia mengalami depresi, Rendi sudah tidak melakukan aktifitas seperti seperti orang normal lainnya. Dia mengurung diri di kamarnya dan tidak pernah keluar sama sekali.
Friska yang saat itu juga terpukul dengan kepergian saudara kembarnya, hanya bisa memberikan semangat untuk Rendi.
Hatinya juga sakit saat melihat Rendi begitu terpukul dengan kepergian kakaknya. Saat Rendi terpuruk, Friska selalu berada di dekatnya. Friska dengan sabar menemani Rendi melalui hari-harinya. Dengan kehadiran Friska di sisinya menjadi obat tersendiri untuk Rendi. Lambat laun Rendi mulai membuka diri dengan kehidupan luar, dia mulai menjalani kehidupan seperti semula.
Setelah Rendi pulih, keluarganya memutuskan untuk pindah ke indonesia. Supaya Rendi bisa menjalani kehidupan baru lagi. Hari demi hari Rendi lewati seperti biasa.
Perubahan sikap Friska terjadi ketika dia mengutarakan lagi perasaanya kepada Rendi. Dia pikir setelah kepergian Friskila, Rendi bisa mencintainya karena selama ini hanya dialah yang selalu berada di samping Rendi.
Dia juga merasa lebih mudah mendapatkan cinta Rendi karena kemiripan antara dia dan kakaknya, tetapi ternyata dugaannya salah. Rendi menolaknya lagi dengan alasan yang masih sama, kalau dia tidak mencintai Friska. Awalnya Friska berpikir mungkin Rendi masih membutuhkan waktu untuk membuka hatinya setelah kepergian Friskila. Tetapi dugaanya salah lagi.
Puncak kemarahan Friska muncul saat Rendi mengatakan padanya kalau dia sudah mempunyai pacar. Awalnya Friska mengira kalau Rendi hanya pura-pura berpacaran dengan orang lain untuk membuatnya berhenti berharap danĀ menyerah untuk mengejar Rendi.
Friska kembali meradang saat Rendi mengenalkan Amel sebagai pacarnya, saat pertemuan dia dengan Amel di sebuah toko kue. Mulai saat itu, Itu adalah awal kebencian Friska kepada Amel. Dia merasa Amel tidak pantas menjadi pacar dengan Rendi. Dia berniat menjauhkan Amel dengan Rendi dengan segala cara.
Friska yang tidak terima karena Rendi lebih memilih orang lain dari pada dia, menyimpan perasaan dendam pada Amel. Dia merasa selama ini hanya dia orang yang pantas untuk Rendi. Di samping dia memiliki wajah yang sama dengan kakaknya, mereka juga sudah saling mengenal dari kecil.
Dia merasa kalau Rendi bisa mencintainya seperti dia mencintai kakaknya dulu, apalagi, dia sudah menemani Rendi melewati masa-masa kelam dalam hidupnya dulu. Dia merasa lebih berhak dari pada orang lain. Friska berniat menggantikan kakaknya sebagai tunangan Rendi.
Tanpa Friska tahu kalau justru wajahnyalah yang membuat Rendi tidak bisa hidup dengan tenang selama ini. Bayang-bayang kematian Friskila saat itu tergambar jelas saat dia menatap wajah Friska. Rendi tidak bisa melupakan kejadian itu sampai sekarang. Perasaan kehilangan dan rasa bersalah terus menghantuinya.
Sebenarnya Rendi pernah mencoba untuk membuka perasaanya untuk Friska, tetapi entah mengapa dia tidak bisa mencintai Friska. Perasaan sayang yang ada di dalam dirinya bukan perasaan sayang kepada lawan jenis, melainkan perasaan sayang kakak terhadap adiknya.
Saat Rendi menjelaskan kepada Friska, bukannya menerima Friska justru makin menjadi. Rendi memutuskan untuk menjauhi Frsika. Dia tidak ingin perasaan Friska semakin dalam padanya. Dia takut Friska akan terluka jika suatu saat Rendi sudah menemukan orang yang dia cintai. Dia takut Friska tidak bisa menerima kenyataan kalau Rendi tidak bisa bersamanya.
__ADS_1
Flashback Off.