Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Membawa Amel Pergi


__ADS_3

Rendi duduk di tepi ranjang menunggu Amel sadar. Dia memegang tangan Amel sambil menatapnya. “Kamu sudah bangun?” tanya Rendi saat melihat Amel membuka matanya. Amel bangun dari tidurnya lalu duduk bersandar pada sandaran kepala tempat tidur.


Amel mengedarkan pandangannya ke seluruh kamar. “Kak Evans mana?”


Rendi terdiam, tubuhnya terasa kaku untuk beberapa saat. Rendi tidak menyangka orang yang pertama kali dicari oleh Amel saat dia sadar adalah Devan. Padahal dialah sangat mengkhawatirkannya.


Amel turun dari tempat tidur karena tidak kunjung mendapatkan jawaban dari Rendi.  “Kamu mau kemana?” Rendi menahan tangan Amel.


“Aku mau mencari kak Evans.” Amel berdiri lalu melangkah keluar dari kamar.


Rendi masih diam mematung. Perasaannya hancur saat Amel tampak tidak memperdulikannya.


Amel terus berjalan sambil memanggil nama Devan. “Aku di sini,” jawab Devan saat melihat Amel tampak panik mencarinya.


Amel menoleh ke sumber suara lalu berjalan menghampiri Devan yang tengah berdiri di ruang tamu. “Apa Kakak baik-baik saja?” tanya Amel sambil memegang wajah Devan.


Devan mengangguk. “Aku tidak apa-apa,” jawab Devan sambil membimbing Amel untuk duduk di sofa.


“Rendi mana?” tanya Devan saat melihat Amel hanya keluar sendiri dari kamar.


“Mungkin dia masih di kamar,” jawab Amel acuh tak acuh. Dia memegang luka di wajah Devan. “Aku akan mengobati luka Kakak dulu,” ucap Amel sambil berdiri.


Devan meraih tangan Amel untuk menghentikannya. “Tidak usah, nanti aku akan mengobatinya sendiri,” ucap Devan lembut. “Ada yang ingin aku bicarakan padamu.”


Dahi Amel mengerut. “Duduklah,” ucap Devan saat melihat Amel tampak memandang heran padanya.


Devan menghembuskan napas panjang sebelum berbicara. “Pulanglah bersama Rendi,” ucap Devan pelan.


Amel menggeleng. “Aku tidak mau.” Amel membuang wajahnya ke samping.


“Bukankah kau sangat mencintainya? Aku sudah bilang akan melepasmu, Mel. Kau bisa menikah dengannya. Aku akan memenuhi janjiku padamu sekarang." Devan berusaha membujuk Amel agar mau menuruti perkataannya.


“Dia sudah berjanji untuk mendapatkan restu dari orang tuanya dan Friska. Dia juga sudah berjanji tidak akan menyakitimu.”


Devan berusaha meredam gejolak yang ada di dadanya. Dalam lubuk hati terdalamnya, sebenarnya dia tidak sanggup melihat Amel bahagia dengan orang lain.


Amel kemudian menggengam tangan Devan. “Aku akan ikut kakak tinggal di Singapore. Ada Friska di sampingnya. Dia akan baik-baik saja, tanpa aku.” Tiba-tiba saja Amel merasa takut ditinggalkan oleh Devan.


Amel tidak menyadari kalau Rendi sedang berdiri tidak jauh darinya. kata-kata Amel menghujam tepat di jantungnya.


Devan mengelus pipi Amel dengan tatapan rumit. “Kau tidak akan bahagia hidup bersamaku, Mel. Kau tidak mencintaiku. Hiduplah bahagia dengan Rendi.”


Mata Amel berkaca-kaca. “Apa Kakak akan meninggalkan aku seperti dulu? Saat aku sangat membutuhkan Kakak berada di sampingku.”


“Dengarkan aku, Mel. Aku hanya butuh waktu untuk menata kembali hidupku. Ini tidak mudah bagiku. Sangat berat Mel untukku melepasmu pada orang lain. Kalau kau bersikap seperti ini, aku bisa saja berubah pikiran dan membawamu pergi bersamaku,” ucap Devan dengan wajah sedih.

__ADS_1


“Kalau Kakak pergi, aku juga akan pergi. Aku tidak punya siapa-siapa lagi selain dirimu dan Raka, Kak,” ucap Amel dengan air mata yang sudah menetes di pipinya.


“Bukankah masih ada Rendi. Dia sangat mencintaimu. Kau pasti akan bahagia hidup bersamanya. Dia sudah datang untuk menjemputmu.”


Amel menggeleng. “Dia tidak mencintaiku, Kak. Hatinya sudah terbagi. Cintanya bukan untukku lagi.” Air matanya kembali mengalir ketika teringat saat Rendi meninggalkan dirinya untuk menemui Friska.


Rendi melangkah mendekati Amel. “Mel, aku minta maaf soal waktu itu. Aku tidak punya pilihan lain. Aku tidak mencintainya. Aku terpaksa menemuinya karena kondisinya sedang tidak stabil.”


Devan menoleh sejenak pada Rendi lalu menoleh pada Amel tampak acuh tak acuh pada Rendi dan enggan menatapnya. “Aku sudah melakukan tugasku sebagai kakakmu, Mel. Selanjutnya biar Rendi yang menjagamu. Pulanglah bersamanya,” ucap Devan lembut saat melihat Amel tampak diam saja.


Rendi kemudian duduk di sebelah Amel. “Kalian bicaralah dulu. Aku akan ke kamar,” ucap Devan sambil berdiri.


Saat dia akan melangkah, Devan menoleh pada saat Amel menarik ujung lengan bajunya. “Selesaikan dulu masalah kalian berdua. Setelah itu, terserah padamu, Mel. Aku akan membawamu pergi jika memang kau tidak ingin kembali padanya.” Devan melangkahkan kakinya menuju kamarnya setelah selesai berbicara.


Rendi pindah duduk di depan Amel saat Devan sudah tidak ada. “Mel, apa kau tidak mencintaiku lagi?” tanyq Rendi sambil memegang tangan Amel. “Apa kau benar-benar akan menikah dengannya dan pergi meninggalkan aku?” tanya Rendi kembali dengan wajah cemas.


“Ikutlah pulang bersamaku. Orang tuaku sudah menunggu. Kita akan meminta restu kepada mereka. Kita akan menikah besok Mel,” mohon Rendi. “Aku tidak bisa kehilanganmu, Mel. Tolonh berikan aku kesempatan sekali lagi,” ucap Rendi lagi saat melihat Amel hanya diam saja.


Amel menatap Rendi dengan wajah datar. “Kak, sepertinya kita memang tidak ditakdirkan untuk hidup bersama. Selalu saja ada rintangan yang datang menghampiri kita. Aku juga sudah lelah. Selama ini orang yang selalu ada di samping Kakak adalah Friska, begitupun aku, orang yang selalu ada di sampingku adalah kak Evans."


Rendi menggeleng kuat. “Aku akan menjauhi Friska jika memang itu kemaunmu. Aku tidak akan pernah menemuinya lagi apapun yang terjadi padanya. Aku lebih baik kehilangan dia dari pada harus kehilanganmi,” ucap Rendi dengan cepat.


“Kak, aku tidak mau membuatmu menyesal nanti, lebih baik kau urus saja Friska. Dia lebih membutuhkanmu saat ini.”


Melihat Amel diam saja, Rendi bertanya lagi, “Mel, jawab pertanyaanku! Apa kau sungguh akan menikah dengannya?” desak Rendi sambil memegang kedua bahu Amel.


Amel menitikkan air mata tanpa berkata apa-apa. Karena tidak tahan dengan sikap Amel yang hanya diam tanpa menjawab pertanyaannya, Rendi kembali berkata, “Kalau kau tetap diam, aku anggap kau setuju menikah dengannya,” ucap Rendi sambil melepaskan tangannya dari bahu Amel.


“Kali ini kau yang sudah menghianatiku, Mel. Kau tidur dengannya disaat kau masih berstatus sebagai kekasihku. Aku  memaafkanmu dan mencoba menerimamu, tapi kau malah menolakku. Kau sudah menghancurkan semua harapanku, Mel.” ucap Rendi dengan wajah kecewa.


Amel langsung mendongak menatap Rendi. “Siapa yang mengatakan kalau aku sudah tidur dengan kak Evans?” tanya Amel dengan tatapan menyelidik.


“Devan,” jawab Rendi singkat.


Amel langsung berdiri. “Aku harus menemui kak Evans.”


Rendi langsung menahan Amel saat dia akan melangkah. “Aku sudah tahu semuanya Mel. Aku akan menerima apapun keadaanmu, asalkan kau mau menikah denganki.”


Amel langsung menoleh pada Rendi. “Apa maksud Kakak?”


Rendi mengangkat kepalanya. “Kalau kau mau membatalkan pernikahanmu dengan Devan. Aku akan menikahimu walaupun kau tidak suci lagi. Aku tidak mempermasalahkan soal itu, Mel. Bahkan jika ternyata nanti kau hamil anak Devan, aku akan menerimanya. Aku akan menjadi ayah yang baik untuknya.”


Amel menggelengkan kepalanya. “Kau sudah gila, Kak,” ucap Amel dengan tatapan tidak percaya.


“Aku akan lebih gila lagi kalau kau meninggalkan aku dan menikah dengan Devan. Aku sudah tidak bisa berpikir jernih. Aku tidak sanggup melihatmu bahagia dengan laki-laki lain, Mel. Aku sangat mecintaimu. Aku rela melakukan apapun untukmu.” Rendi memegang tangan Amel. “Tolong berikan aku kesempatan untuk membahagianmu, Mel."

__ADS_1


Amel kembali duduk. Dia menatap lekat mata Rendi. “Kak, kau salah paham dengan kami. Aku harus menemui kak Evans dulu. Biar dia yang menjelaskan semuanya."


"Aku tidak keberatan dengan semua yang sudah terjadi dengan kalian," ucap Rendi tenang. "Menikahlah denganku, Mel. Aku janji tidak akan menyakitimu lagi."


"Kau harus meminta maaf dengan kak Evans, Kak. Kau sudah melukainya. Dia mengorbankan dirinya hanya untuk membuatku bahagia, tapi kau malah memukulnya."


Kemarahan Rendi kembali naik saat Amel membela Devan. "Dia memang pantas untuk aku pukul. Dia harusnya bersyukur dia masih hidup sampai sekarang. Kalau kau tidak pingsan aku pasti sudah menghabisinya."


"Kak, Kenapa kau jadi seperti ini? Aku tidak akan pernah memaafkanmu jika sampai kau melukainya lagi."


Rendi tertegun mendengar ucapan Amel. "Apa kau sudah mulai mencintainya, Mel? Kau bahkan terus membelanya. Hatimu yang sudah terbagi, bukan aku. Sepertinya kau sudah mencintainya.”


"Tidak Kak, sudah aku bilang aku tidak mencintainya."


"Lalu kenapa kau mau menikah dengannya? Apa dia memaksamu?" tanya Rendi dengan tatapan menyelidik.


Amel menggeleng kuat. "Dia tidak memaksaku, Kak."


"Jadi itu kemauanmu sendiri?" tanya Rendi dengan tatapan kecewa.


Amel berdiri. "Maaf Kak, aku tidak bisa menjawabnya. Aku akan menemui kak Evans dulu, ” ucap Amel sembil berjalan menuju kamar menyusul Devan.


Rendi bangun dari duduknya dan mengejar Amel. “Sekarang kau harus ikut aku dulu untuk menemui orang tuaku. Aku akan meminta Devan untuk menyusul nanti. Aku tidak punya banyak waktu, Mel,” ucap Rendi sambil menarik Amel keluar dari villa Devan.


Di depan pintu sudah berdiri banyak pengawal yang di sewa oleh Rendi dan Kenan.


“Kita pulang sekarang,” ucap Rendi pada Kenan sambil terus menarik Amel menuju mobilnya. “Tapi Kak, aku harus menemui Kak Evans dulu, dia akan mencariku nanti,” ucap Amel sambil menahan tangan Rendi supaya berhenti menarik tangannya.


Rendi menoleh sejenak pada Amel. “Kau bisa menelponnya nanti menggunakan ponselku,” ucap Rendi lagi. Dia membuka pintu mobil dan memasukkan Amel ke tempat duduk belakang. Rendi menoleh pada Kenan. “Kau duduk di depan!”


Kenan mengangguk. Mobil Rendi melaju meninggalkan villa Devan.


Rendi memberikan ponselnya pada Amel untuk menghubungi Devan. “Halo Kak, ini aku. Rendi membawaku pergi.”


Devan diam sejenak saat mendengar nada panik dari Amel. “Tidak apa-apa aku akan menyusulmu. Kau ikutlah dengannya dulu. Aku akan menemuimu nanti, masih ada yang harus aku urus,” Devan berusaha untuk menenangkan Amel.


“Tapi Kak....”


“Percaya padaku, Mel. Semua akan baik-baik saja. Ikuti saja permintaan Rendi. Aku harus menjemput ibumu dan adikmu untuk menemuimu nanti,” ucap Devan dengan suara lembut.


“Baiklah. Kau harus menemuiku,” pinta Amel.


“Aku pasti menemuimu nanti,” ucap Devan sebelum dia mengakhiri panggilan telponnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2