
Rendi meraih dagu Amel dengan cepat, menempelkan bibir mereka berdua kemudian menggerakkan bibirnya dengan pelan dan penuh kelembutan dan dibalas juga oleh Amel dengan menggerakan bibirnya mengikuti gerakan bibir Rendi dan perlahan tangannya melingkar di pinggang Rendi dengan mata terpejam.
Pagutan mereka terus berlanjut hingga Rendi meraih tengkuk Amel, memeluk tubuh istrinya menggunakan tangan satu lagi dan mulai mendesak masuk ke dalam mulutnya setelah itu mengabsen setiap bagian di dalam rongga mulut istrinya.
Napas yang semula beraturan berubah menjadi kasar dan berat. Beberapa kali Amel terlihat hampir kehabisan napas jika tidak diingatkan oleh Rendi untuk mengambil napas. Perlahan Rendi mengarahkan Amel ke tempat tidur lalu membaringkan tubuh Amel ke ranjang tanpa melepaskan pagutan mereka sedikit pun.
Amel sedari tadi hanya mengikuti gerakan Rendi dan tidak menyadari untuk sesaat kalau Rendi sudah berada di atasnya. Setelah Amel berbaring, Rendi mulai menjelajahi leher putih istrinya dan langsung membuat tubuh Amel meremang dan dia juga merasakan sensasi seperti tergelitik saat Rendi mencium lehernya.
Sentuhan lembut dari Rendi membuat Amel membuat Amel melayang. Rendi terus menjelajahi tubuh istrinya dengan tangan yang mulai bergerak membuka pakaian di tubuh dirinya dan Amel, sementara bibirnya menelusuri leher istrinya hingga meninggalkan beberapa bekas merah.
Rendi kemudian menelusuri belakang telinga Amel. Karena merasa tergelitik membuat Amel tidak bisa menahan lagi suaranya. Satu lenguhan lolos di bibir tipis Amel. Rendi yang mendengar itu, membuatnya bertambah semangat.
Rendi menghentikan sejenak aksinya setelah tubuh mereka polos. "Mel, apa aku boleh melakukannya sekarang?" tanya Rendi dengan tatapan penuh gairah.
Amel mengangguk pelan. "Iya, Kak."
"Mungkin akan sakit. Kau harus menahannya sebentar."
"Iyaa." Meskipun Amel mengangguk sambil tersenyum tetap saja tidak bisa menyembunyikan sorot mata ketakutan dalam sorot matanya.
Rendi kemudian mencium kening Amel. "Aku akan melakukannya dengan hati-hati."
Perlahan Rendi mulai mendesak masuk ke tubuh Amel dan seketika itu juga dia menjerit sambil menahan sakit yang luar biasa pada intinya. Rendi yang tega melihat Amel kesakitan seketika menghentikannya sejenak sambil melu*mat bibir istrinya sebentar.
Setelah beberapa saat, Rendi memulainya lagi, karena kesulitan menembusnya, Rendi menghentakkan tubuhnya dan Amel langsung menjerit Rendi berhasil menyatukan tubuh mereka. Tubuh Amel bergetar hebat saat Rendi berhasil memasukinya.
__ADS_1
“Maafkan aku sayang,” ucap Rendi sambil mengecup kening Amel berkali-kali saat melihatnya tampak menjerit kesakitan dan menarik kuat seprai di sampingnya.
Amel berusaha tersenyum, kemudian memegang wajah Rendi. “Tidak apa-apa, Kak." Amel tersenyum sambil memegang wajah Rendi yang terlihat sedang mengkhawatirkan dirinya dengan wajah bersalah.
Setelah merasa Amel sudah tidak kesakitan lagi, Rendi mulai menggerakkan tubuhnya dan melakukan dengan pelan agar Amel tidak merasa kesakitan. Sakit luar biasa yang Amel rasakan tadi mulai tergantikan dengan oleh rasa nikmat. Rendi terus memacu tubuh istrinya dengan tempo yang beraturan.
Desah napas mereka berdua saling bersahutan dan suara lenguhan makin sering terdengar di kamar pengantin mereka dalam waktu yang lama hingga tubuh Rendi bergetar hebat ketika pertama kalinya dia berhasil menyemburkan semua benihnya ke dalam rahim Amel.
Rendi mengatur napasnya yang terengah-engah sambil menatap wajah istrinya yang berada di bawahnya dengan senyum bahagia sambil menahan tubuhnya di atas Amel menggunakan kedua tangannya agar bobot tubuhnya tidak membebani istrinya.
“Terima kasih sayang karena sudah menjaga dirimu sampai kita menikah,” ucap Rendi sambil mengecup kening istrinya.
Tangan Amel terulur untuk mengusap keringat di wajah Rendi, kemudian mengelus lembut pipi suaminya sambil tersenyum. “Iya kak.”
Rendi kembali mengecup kening istrinya kemudian ikut berbaring di samping Amel, menarik tangannya kemudian memeluk erat tubuh istrinya. “Sekarang kau sudah menjadi milikku seutuhnya Mel, jadi selamanya kau hanya boleh mencintaiku,” ucap Rendi dengan suara serak.
Amel mengagguk. “Sakit sekali, Kak.”
“Maafkan aku sayang. Harusnya aku berhenti tadi,” ucap Rendi dengan rasa bersalah.
“Tidak apa-apa.” Amel tersenyum lalu membenamkan wajahnya di dada suaminya.
Rendi kemudian menarik selimut untuk menutupi tubuh polos mereka. “Tidurlah sayang, kau pasti lelah,” ucap Rendi lembut.
Amel mengangguk dan kemudian memejamkan matanya. Dia memang sangat lelah saat ini, apalagi sekarang sudah menunjukkan pukul 2 pagi. Rendi kemudian mengelus kepala Amel supaya dia cepat tertidur. Setelah napasnya mulai teratur, Rendi memutuskan untuk memejamkan matanya.
__ADS_1
Beberapa jam kemudian, Rendi berusaha memejamkan matanya kembali setelah dia terbangun untuk kedua kalinya. Rendi akhirnya memuruskan untuk membuka matanya saja. Dia menatap jam dinding yang menunjukka pukul 3 pagi, kemudian menunduk melihat Amel masih terlelap di dalam pelukannya.
Rendi memandang wajah Amel yang tampak tertidur pulas, kemudian dia mendekatkan wajahnya, mengecup kening Ame lalu mengelus lembut pipi istrinya. Merasakan ada yang menyentuh wajahnya, perlahan Amel membuka matanya dan melihat suaminya ternyata belum tidur.
Amel tersenyum saat melihat wajah tampan suaminya. “Kenapa Kakak tidak tidur?” tanya Amel dengan suara serak.
Rendi mengecup bibir istrinya. “Aku tidak bisa tidur sayang.”
Amel memegang wajah Rendi dengan tatapan heran. “Apa ada yang sedang Kakak pikirkan?”
Rendi menggeleng pelan sambil tersenyum tipis. “Tidak ada, Sayang.” Rendi mempererat pelukannya lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher Amel. “Tubuhmu wangi sekali sayang,” ucap Rendi sambil terus mengendus wangi tubuh Amel.
Tangannya tidak tinggal diam mulai bergerak liar di tubuh Amel. Perlahan bibir menelusuri leher belakang istrinya lalu memberikan tanda merah. Karena merasa lelah, Amel hanya membiarkan suaminya melakukan yang dia inginkan.
Sesekali Amel memejamkan matanya saat merasakan sensasi geli dan tersengat listrik. Setelah puas berselancar di leher istrinya, Rendi beralih bagian lainnya.
Suara lenguhan berhasil lolos dari mulut Amel dan seketika Rendi menghentikan aksinya kemudian menatap Amel penuh gairah. “Aku sangat menginginkanmu, Mel,” ucap Rendi dengan suara berat. “Apa boleh?” Rendi menunggu persetujuan istrinya untuk melakukannya lagi.
Amel mengangguk pelan. "Iyaa," jawab Amel malu-malu. Meskipun dia sempat merasakan sakit, tidak bisa dipungkiri kalau Amel juga menginginkannya, apalagi saat melihat tubuh suaminya yang sangat menggoda, Amel tak kuasa untuk menolak saat suaminya meminta ijin untuk melakukannya lagi.
Rendi langsung tersenyum setelah mendapatkan lampu hijau dari Amel. Tanpa menunggu lama dia melanjutkan aksinya untuk meluapkan hasratnya yang sudah membumbung tinggi.
Mereka kembali melakukannya, tetapi kali ini yang terdengar dari mulut Amel hanya lenguhan nikmat. Tidak seperti saat pertama kali mereka melakukannya. Ketika sudah mencapai puncaknya, Rendi kembali menyemburkan benihnya pada rahim Amel. Setelah itu, dia memeluk tubuh istrinya setelah pergulatan mereka selesai.
Mereka memutuskan untuk kembali tidur karena waktu masih menunjukkan pukul 4 pagi. Tidak butuh waktu lama Amel langsung tertidur. Dia merasa sangat lelah. Dia sudah tidak mempunyai tenaga lagi karena Rendi melakukannya selama lebih dari 1 jam lamanya.
__ADS_1
“Aku harap ke depannya kita akan selalu hidup bahagia, Mel. Aku juga berharap agar benihku cepat tumbuh di dalam rahimmu,” gumam Rendi sebelum dia ikut memejamkan matanya.
Bersambung...