
Amel hanya diam, dia berusaha menahan sakit di dadanya. "Amel permisi ke kamar mandi dulu, Kak" Amel melepaskan tangannya yang dipegang oleh Rendi dan langsung bangun dan berjalan ke kamar mandi.
Rendi hanya menatap Amel penuh tanda tanya, kemudian berjalan keluar kamar.
Amel menutup pintu kamar mandi sedikit keras. Dia duduk di belakang pintu dan menumpahkan rasa sakitnya dengan menangis. Air matanya tidak terbendung lagi. Pipinya sudah basah oleh air matanya setelah dia dengan susah payah menahannya. Sedari tadi dia mencoba tetap tegar agar terlihat baik-baiknya.
Aku tidak akan berharap lagi. Aku akan melupakanmu mulai sekarang, tapi biarkan aku menangis untuk terakhir kalinya supaya rasa sesak ini hilang dan aku bisa mengikhlaskanmu.
Setelah puas menangis Amel mencuci wajahnya. Dia melihat matanya sedikit bengkak dan memerah. Kemudian dia mengelap wajahnya dengan handuk kering. Setelah itu, Amel keluar dari kamar mandi dwn mengedarkan pandangannya mencari sosok Rendi, tapi dia tidak menemukannya.
Amel memutuskan untuk naik ke tempat tidur karena merasa lelah, apalagi dia habis menangis cukup lama. Dia ingin melupakan sejenak rasa sakit di hatinya dengan memejamkan mata dan mengusir segala macam pikiran yang membebaninya.
Rendi masih berada di dapur. Dia sengaja meminta bi Minah untuk membuatkan bubur dan beberapa makanan lainnya untuk Amel karena dia terlihat pucat.
Setelah cukup lama menunggu, akhirnya semua pesanannya sudah siap. Rendi langsung menuju kamar yang di tempati Amel. Saat memasuki kamar, dia melihat Amel sudah tertidur membelakanginya. Kemudian dia meletakkan makanan yang dia bawa di atas nakas.
Rendi kemudian berjalan ke sisi yang lain, supaya bisa melihat wajah Amel. Amel tertidur dengan selimut yang hampir menutup sebagian wajahnya, terlihat wajah dan hidungnya sedikit memerah, matanya seperti habis menagis.
Rendi heran kenapa tiba-tiba Amel jadi seperti itu, padahal sebelumnya dia baik-baik saja. Apa dia mempunyai masalah, pikir Rendi. Dia hanya duduk di samping Amel sambil terus memandangnya. Ada rasa khawatir melihat Amel seperti itu.
"Aku akan berusaha untuk membuatmu jatuh cinta padaku, tapi sepertinya agak sulit untuk menaklukanmu, Mel," ujar Rendi sambil mengusap wajah Amel.
Rendi merebahkan tubuhnya di samping Amel, memberikan sedikit jarak antara mereka, kemudian memiringkan badannya menghadap Amel. Rendi terus memandangi wajah polos Amel sambil berpikir.
Satu jam kemudian Amel terbangun dari tidurnya. Saat membuka matanya, dia melihat ada Rendi tepat berada di depannya sedang tertidur dengan memegang tangannya.
Ada perasaan senang saat melihat tangannya digengam oleh Rendi. Amel tersenyum lalu melepaskan tangannya. Dia masih terngiang ucapan Rendi tadi, hatinya kembali teriris, setiap kali mengingatnya.
Matanya terasa sedikit perih, mungkin karena terlalu banyak menangis tadi. Amel hanya diam memandang wajah Rendi. Ingin rasanya dia memeluk Rendi sekarang dan mengatakan kalau dia menyukai Rendi. Berharap Rendi bisa memiliki sedikit rasa terhadapnya, tapi Amel tidak mempunyai keberanian untuk mengatakannya.
Beberapa saat kemudian, Amel bergerak turun dari tempat tidur menuju kamar mandi lalu membasuh wajahnya. Matanya sedikit terlihat bengkak. Setelah menghela napas, dia kemudian membasahi handuk kecil dengan air hangat, lalu mengompres matanya. Dia melakukannya berapa kali, setelah itu, Amel pun keluar dari kamar mandi.
Ketika dia keluar kamar mandi, Amel melihat Rendi sudah bangun dan sedang bersandar di tempat tidur.
__ADS_1
"Kakak sudah bangun?" tanya Amel basa-basi.
"Iyaa, kamu habis ngapain?" tanya Rendi.
"Habis cuci muka." Amel berjalan ke tempat tidur lalu membuka ponselnya. Dilihatnya waktu sudah menujukkan pukul 8 malam.
"Kamu habis nangis?" Rendi memicingkan matanya saat melihat mata Amel sedikit bengkak.
"Nggak Kak. Tadi habis kena sabun waktu cuci muka, jadi sedikit perih," ucap Amel berbohong.
Rendi menatap tajam Amel karena dia tahu kalau Amel sedang berbohong. "Kalau ada masalah, kamu bisa cerita sama aku." Rendi sengaja mengatakan hal itu karena dia tidak bisa memaksa Amel untuk menceritakan apa yang membuatnya menangis.
"Iyaa, Kakak kenapa bisa tidur di sini?" Amel mengalihkan pandangannya sejenak ke Rendi.
"Tadi aku bawain kamu makanan buat kamu. Waktu aku sampai di sini, kamu udah tertidur. Tadinya aku mau nunggu kamu sampai bangun, tapi malah aku juga tertidur di sini," jelas Rendi.
"Apa mama Kakak sudah pulang?"
"Enggak tahu Aku dari tadi di sini, belum pernah keluar, kenapa?"
"Kamu makan dulu, nanti baru aku anter kamu pulang."
"Amel masih kenyang, Kak," bohong Amel. Padahal Amel tidak berselera makan.
"Kalau kamu enggak makan, kamu nggak boleh pulang." Rendi berjalan ke menghampiri Amel.
Melihat Rendi yang berada di sampingnya, Amel lalu menundukkan kepalanya. "Iyaa, Amel makan sedikit," ucap Amel pelan.
Rendi berdiri mengangkat makanan yang tadi dia bawa untuk Amel, kemudian menoleh. "Kamu mau tunggu di sini atau ikut aku ke bawah. Aku mau minta bi Minah untuk panasin makanannya."
"Amel ikut Kakak aja." Amel mengukuti Rendi dari belakang dan menuruni tangga menuju ruang makan.
Rendi meminta bi Minah untuk memanaskan kembali makanannya lalu dia duduk di meja makan bersama dengan Amel.
__ADS_1
Sedari tadi, Amel tampak diam saja sambil memainkan ponselnya. Rendi yang merasa diacuhkan langsung merebut ponsel Amel.
Seketika itu juga Amel mengalihkan pandangannya pada Rendi. "Kakak suka banget sih ngerebut handphone Amel." Amel menunjukkan wajah cemberutnya.
"Aku nggak suka kamu main handphone di depan aku," ucap Rendi acuh tak acuh.
"Aku kan nggak ganggu Kakak." Amel memainkan jari tangannya di atas meja.
"Tapi aku nggak suka kalau kamu mengacuhkan aku," ucap Rendi tanpa memandang Amel.
Amel menghela napas. "Terus Amel harus bagaimana?"
"Kamu bisa ajak aku ngobrol."
Amel menatap heran kepada Rendi. "Bukannya Kakak lebih suka diam?"
"Tergantung," jawab Rendi singkat.
Obrolan mereka terpotong saat bi Minah berjalan menghampiri mereka dengan membawa makanan. Setelah meletakkan makanan, bi Minah segera meninggalkan mereka berdua.
"Makan yang banyak. Badan kamu kurus banget kayak nggak pernaht pernah makan," ucap Rendi sambil menoleh kepada Amel.
"Kalau Amel gemuk, mana ada yang mau sama Amel nanti." Amel mulai menyendokkan makanan ke mulutnya.
"Aku mau," jawab Rendi spontan.
"Uhuuuk... Uhuuuk... Uhuuuk." Amel tersedak mendengar perkataan Rendi. Buru-buru dia mengambil minum yang disodorkan oleh Rendi.
Rendi menepuk-nepuk punggung Amel dengan pelan. "Kamu ini kayak anak kecil saja. Selalu aja tersedak." Setelah selesai minum, Amel kemudian menatap tajam ke Rendi, "Ini gara-gara ucapan Kakak jadi terkejut."
"Memang ada yang salah dengan ucapanku?" tanya Rendi dengan enteng.
"Jelas saja, ucapan kakak itu bisa membuat orang salah paham. Jadi jangan suka bercanda seperti itu."
__ADS_1
"Aku tidak bercanda. Memangnya kamu nggak mau sama aku?" Rendi menatap Amel dengan sorot mata yang serius.
Bersambung....