
Sudah 5 hari berlalu semenjak Rendi dan Amel pindah ke apartemen Rendi. Selama itu pula mereka hanya berada di apartemen. Mereka benar-benar memanfaatkan waktu mereka berdua.
Untuk makanan, Rendi menyuruh koki hotelnya untuk memasak untuknya dan menyuruh pegawai hotel untuk mengantarkan 3 kali setiap hari harinya. Terkadang jika ada makanan yang tiba-tiba diinginkan Amel, Rendi yang akan keluar membelinya, atau dia akan memesan layanan antar.
"Sayang, kau sedang apa?" Rendi mendekati Amel yang terlihat sedang berada di dapur.
Amel menoleh sejenak pada Rendi yang sedang berjalan ke arahnya. "Memotong buah kak," jawab Amel seraya memotong buah mangga yang ada di tangannya.
Rendi kemudian memeluk Amel dari belakang. "Lain kali, beli saja buah-buahan yang sudah dipotong sayang agar lebih praktis," saran Rendi sambil memeperhatikan istrinya yang masih serius memotong buah, kali ini buah naga yang ada di tangannya.
"Lebih segar jika baru dikupas Kak. Lagi pula, aku tidak memiliki pekerjaan," ucap Amel.
Rendi memang melarangnya untuk melakukan pekerjaan apapun. semua sudah ada yang mengerjakannya. Makanan disiapkan oleh koki hotelnya.
Rendi juga menyuruh seseorang untuk membelikan bahan makanan dan camilan setiap 2 hari sekali atas permintaan Amel, agar sewaktu-waktu, jika dia ingin memasak atau membuat sesuatu, dia tidak perlu repot-repot berbelanja.
Sementara untuk pakaian di laundry. Untuk tugas membersihkan apartemen, Rendi menyewa jasa bersih-bersih yang akan datang setiap pagi dan akan pulang jika pekerjaan sudah selesai.
Bahkan untuk sekedar untuk merapikan kamar saja, Rendi melarang Amel untuk melakukannya. Dengan alasan, takut Amel kelelahan, padahal Amel tidak pernah melakukan pekerjaan apapun sepanjang hari.
"Aku tidak mau kau lelah sayang," ucap Rendi sambil meletakkan dagunya di bahu Amel.
"Hanya mengupas buah tidak akan membuatku lelah kak. Aku terbiasa melakukan semua pekerjaan rumah sejak aku kecil. Hal seperti ini, tidak apa-apanya dibandingkan dengan apa yang aku lakukan dulu," terang Amel sambil tersenyum.
"Justru karena itu sayang, karena kau sudah menikah denganku, aku akan memperlakukanmu dengan baik dan membuatmu hidup dengan nyaman. Tidak akan kubiarkan kau menderita seperti waktu kau kecil. Aku tidak mau kau mengenang masa-masa sulitmu lagi."
Hati Rendi terasa perih ketika mengingat masa sulit Amel yang pernah Amel ceritakan padanya. Dia bahkan tidak pernah melihat langsung bagaimana Amel melalui masa sulitnya, tetapi dia merasakan perasaannya tidak nyaman jika mengingat hal itu.
__ADS_1
Amel meletakkan pisau setelah selesai memotong buah. Dia kemudian membalikkan badannya menghadap Rendi dan mendongakkan kepala menatap suaminya.
"Aku sangat bahagia karena bisa menikah denganmu kak. Terima kasih untuk semuanya," ucap Amel sambil memeluk suaminya.
"Ting.Tong." Terdengar suara bel yang terus berbunyi.
Amel kemudian melepaskan pelukannya. "Aku akan membukanya," ucap Rendi, dan langsung dijawab dengan anggukan oleh Amel. Rendi kemudian berjalan menuju pintu.
"Kau.. Sedang apa kau di sini?" tanya Rendi dengan dahi mengerutq dan alis terangkat satu.
"Minggir kak. Aku mau masuk," ucap Sofi sambil menggeser tubuh Rendi seraya berjalan masuk ke dalam dengan membawa koper miliknya.
"Hey Ren, bagaimana kabarmu?" sapa Kenan dengan tersenyum lebar.
"Tadinya baik, sekarang menjadi buruk dengan kedatangan kalian," ucap Rendi sambil menatap malas pada Kenan.
Rendi kemudian menyusul adik dan sepupunya. "Kalian berdua, kenapa selalu mengganggu kami? Apa kalian tidak bisa, menjauh sementara waktu dan tidak menampakkan wajah kalian di hadapanku dan Amel?" Rendi menatap kesal pada adiknya dan Kenan yang tampa duduk dengan santai di ruang keluarga.
"Apa kakak tidak baca pesanku? Aku sudah memberitahukan pada kakak lewat pesan kalau hari ini aku pulang ke Jakarta," ucap Sofi seraya menatap kakaknya.
"Aku tahu kalau kalian akan pulang hari ini, tapi yang aku tanyakan untuk apa kau ke sini?" tanya Rendi dengan wajah kesal.
Dia kemudian duduk di depan adiknya dan Kenan. "Aku sudah bilang pada mama, akan tinggal di sini, dan mama mengijinkan aku tinggal dengan kakak," jawab Sofi dengan wajah acuh.
Keluarga Rendi dan Amel sudah kembali dari Bali hari ini. Amel dan adiknya langsung menuju apartemen Rendi yang berada di dekat hotelnya, sementara orang tua Rendi menginap di hotel mereka.
Hanya Sofi yang berniat untuk tinggal di apartemen Rendi. Sebelum kembali ke Jakarta, Sofi sudah mengabarkan pada Rendi, kalau dirnya akan tinggal bersama dengannya. Hanya saja Rendi belum membuka pesan dari adiknya, sehingga membuatnya heran saat adiknya tiba-tiba muncul dengan membawa koper besar.
__ADS_1
Sebenarnya Sofi sudah pernah mengatakan pada Rendi, kalau dirinya akan tinggal dengan kakakya setelah kakaknya menikah. Dia tidak ingin kembali ke Jerman lagi, tetapi saat itu Rendi belum menyetujui permintaan adiknya untuk tinggal bersamanya. Rendi menyarakankan adiknya untuk tinggal di hotel, tetapi langsung ditolak oleh Sofi.
"Kau seharusnya meminta ijin padaku dulu. Ini adalah apartemenku, bukan milik mama, jadi kau harus mendapatkan persetujuanku dulu," balas Rendi.
"Aku sudah meminta ijin pada kak Amel 2 hari yang lalu, dan kak Amel tidak keberatan sama sekali," ucap Sofi tidak mau kalah.
Rendi menghembuskan napas kasar. "Kak, siapa yang datang?" teriak Amel dari arah dapur. Dia baru saja membuat jus jeruk untuk mereka berdua dan menyiapakn beberapa camilan.
"Bukan..."
"Sofi kak," teriak Sofi sebelum Rendi menyelesaikan ucapanya.
Rendi langsung menatap tajam adiknya. "Lebih baik kau pergi setelah ini. Jangan mengatakan omong kosong pada Amek. Tinggal lah di hotel atau di apartemenmu sendiri," perintah Rendi dengan tatapan mengintimidasi.
"Tidak mau," ujar Sofi dengan wajah acuh.
"Ren, kau ini kakak macam apa? Teganya kau menyuruh Sofi untuk tinggal sendiri. Dia itu adikmu, bukan orang lain. Tidak akan ada yang mengawasinya jika dia tinggal sendir.i. Bagaiama kalai sesuatu terjadi padanya," sela Kenan sambil menatap Rendi.
Sofi langsung mengapit tangan Kenan. "Kak Kenan memang paling baik dan paling mengerti aku," ucap Sofi tersenyum senang. "Tidak seperti kak Rendi. Selalu memperlakukan aku seperti adik tiri," ucap Sofi seraya menatap sebal pada kakaknya.
Rendi seolah tidak perduli dengan perkataan adiknya. Dia beralih menatap Kenan. "Kau juga kakaknya. Kau bisa mengawasinya. Apalagi kau belum menikah. Waktumu lebih banyak menganggur. Dari pada waktumu terbuang sia-sia, lebih baik kau awasi Sofi."
"Menganggur kau bilang? Aku mengurusi 2 perusahaan besar sekaligus, perusahaanmu dan perusahaanku. Kau bilang aku menganggur? Aku tidak gila saja sudah bagus Ren. Sebelum kau menikah dengan Amel kau sudah merampas hampir seluruh waktuku untuk mengurus perusahaan dan urusan pribadimu. Kau jangan berlagak Amnesia," cetus Kenan dengan wajah kesal.
"Bahkan untuk sekedar berkencan saja aku tidak bisa karena terlalu sibuk mengurus kehidupanmu."
Bersambung..
__ADS_1
Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..