Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Saling Menyakiti


__ADS_3

Amel berjalan dengan terburu-buru. Saat dia membuka pintu terlihat Rendi Dan Friska menoleh padanya. Friska tampak terkejut saat melihat kedatangan Devan. Sementara Rendi hanya diam menatap Amel yang berjalan ke arahnya bersama Devan.


“Kau lihat, bahkan dia berani membawa laki-laki itu ke sini Ren,” ucap Friska memanas-manasi Rendi.


Rendi tampak tidak merespon perkataan Friska. Ekpresinya saat ini sulit diartikan.


“Kak aku hanya makan dengan kak Evans di kantin tadi, karena aku belum makan siang.” jelas Amel saat dia sudah berada di samping Rendi dan bersebrangan dengan Friska. Sementara Devan tampak berdiri tidak jauh dari Amel.


Rendi melirik ke Devan yang tampak berdiri dengan santai. “Kenapa kau tidak bilang padaku jika kau datang ke sini bersamanya?” tanya Rendi saat melihat Amel tampak diam.


“Aku terburu-buru kak.”


“Kau jangan menyalahkan Amel karena datang bersamaku. Akulah yang memaksanya untuk mengantar dia ke sini,” timpal Devan saat melihat Rendi menatap tajam padanya.


“Aku tidak menyalahkannya, aku hanya bertanya!” ucap Rendi dengan nada tenang.


“Bersikap baiklah pada Amel, jika tidak, aku akan membawanya pergi dan kupastikan kau tidak akan pernah bertemu dengannya lagi!” ancam Devan sambil menatap Rendi dengan tatapan tajam.


Rahang Rendi mengeras saat mendengar perkataan Devan. “Sampai kapanpun aku tidak akan pernah melepaskan Amel, apalagi sampai bahagia dengan laki-laki lain! Aku tidak akan memberikan kesempatan sedikitpun padamu.”


“Kita lihat saja nanti! seberapa lama kau bisa mempertahankan Amel di sisimu.”


“Kak, sudah. Aku tidak ingin kalian bertengkar di sini,” ucap Amel sambil menatap Devan dan Rendi secara bergantian.


Ekpresi Devan melunak saat mendengar perkataan Amel. “Aku pulang dulu. Jangan lupa telpon aku kalau ada apa-apa,” ucap Devan saat melihat Amel berdiri mendekatinya.


“Iya kak, hati-hati di jalan.” Devan mengangguk dan berjalan keluar setelah mengelus kepala Amel sambil tersenyum.


“Kau lihat sendiri Rendi, dia bahkan berani bermesraan di depanmu.” ucap Friska saat melihat Devan sudah menghilang dari balik pintu. Dia sedikit terkejut saat melihat interkasi Amel dan Devan yang menurutnya sangat dekat.


“Diamlah Friska! Jangan ikut campur..Ini urusanku,” ucap Rendi dengan sedikit keras. Dia sedang menahan amarahnya saat mengingat peringatakan dari Devan tadi.

__ADS_1


Amel nampak berjalan mendekati Rendi dan dan duduk di sampingnya. “Kak, kata-kata kak Evans jangan kau masukkan ke hati. Dia bersikap seperti itu karena takut kakak akan marah padaku,” jelas Amel pelan saat mendengar suara Rendi yang sedikit tinggi tadi.


“Ren, lebih baik kau putus dengannya. Tidak ada gunanya kau membuang-buang waktumu dengan dia,” ucap Friska saat melihat Rendi hanya diam saja tidak merespon ucapan Amel.


“Kau tidak berhak ikut campur urusanku dengan kak Rendi. Kau hanyalah orang luar. Kau bukan-siapa-siapanya kak Rendi,” seru Amel dengan suara dingin saat mendengar perkataan Friska.


Friska tersenyum sinis. “Kau ini merasa di atas awan ya? Walaupun aku bukan pacarnya Rendi tapi aku adalah orang paling dekat dengannya. Aku tahu semua tentang Rendi, termasuk masalalu yang tidak diketahui oleh banyak orang. Kau bahkan tidak tahu apa-apa soal Rendi. Kau itu hanyalah pacar yang tidak dianggap,” ucap Friska dengan angkuh.


Wajah Amel memerah, dia tersulut emosi saat mendengar perkataan Friska. “Aku tidak peduli dengan masalalu kak Rendi. Yang yang terpenting adalah dia menyayangiku sekarang.”


“Aku benar-benar ingin tertawa. Apa kau berpikir kalau Rendi sangat mencintaimu. Selamanya kau tidak akan bisa menggantikan posisi wanita dari masalalu Rendi.”


Dada Amel bergemuruh, tubuhnya bergetar saat mendengar perkataan Friska. “Dia hanyalah wanita yang menjadi masalalu Rendi, sementara akulah yang akan menjadi masa depannya,” ucap Amel dengan tegas.


Rendi hanya diam. kepalanya tiba-tiba sakit saat mendengar perkataan Friska tadi, dia mencoba mengerjapkan matanya yang terlihat kabur.


Friska tertawa sinis. “Biarku perjelas sekarang, agar kau sadar diri dan tahu dimana tempatmu seharusnya. Supaya kau juga tahu kalau kau itu tidak berarti apa-apa untuk Rendi," jeda Friska memperhatikan wajah Amel yang terlihat tidak peduli dengannya.


"Aku bisa jamin.. Kau tidak tahu apapun tentang Rendi, bahkan kau pasti tidak tahu kalau Rendi sudah mempunyai tunangan," ucap Friska menatap remeh kepada Amel. Dia sengaja melontarkan berbagai macam pertanyaan, yang tidak akan bisa dijawab oleh Amel.


Bagai tersambar petir di siang bolong saat medengar perkataan terakhir Friska. Seketika wajah Amel menegang dan menjadi pucat. Hatinya sakit seperti tertusuk ribuan jarum. Badan Amel bergetar hebat, tangannya terasa kaku. Dia seperti tidak punya tenaga lagi untuk menopang tubuhnya. Dia memang tidak mengetahui apa-apa tentang Rendi. bahkan dai baru mengetahui kalau Rendi mempunya tunangan.


“Cukup Friska,” ucap Rendi menatap Friska dengan tajam.


Friska tidak menghiraukan perkataan Rendi. "Kau tidak tahukan apa-apakan? Kau bahkan tidak bisa menjawab 1 saja pertanyaanku. Wsal kau tahu, sampai kapanpun dia tidak akan pernah melupakan masalalunya itu," ucap Friska saat Amel tidak membalas lagi ucapannya.


"Kau masih belum mau berhenti Friska?"


“Aku hanya ingin memberitahu dia yang sebenarnya. Aku mengenalmu lebih dari siapapun Ren. Kalau kau memang serius dengannya, kau tidak akan menutupi apapun darinya, sekalipun itu hanya masalalumu. Setidaknya kau terbuka dengannya, dari dulu hanya aku yang tahu bagaimana kamu Ren. Jadi, seharusnya kamu tidak bersikap seperti ini kepadaku," ujar Friska menatap tajam pada Rendi.


“Friska Ellenia Agistie, aku bilang berhenti!” ucap Rendi dengan nada tinggi.

__ADS_1


Friska sedikit terkejut mendengar suara Rendi. “Akhirnya kau memanggil namaku dengan benar Ren,” ucap Friska tersenyum sinis.


Amel tampak terkejut saat Rendi memanggil Friska dengan nama Ellenia.


"Selagi aku masih ada, kamu harusnya bersikap baik kepadaku Ren, sebelum kau menyesal seperti dulu," ucapan Friska dengan tegas.


"Ellen aku bilang cukup! Aku tidak mau membahas masalaluku. Aku sudah menguburnya dalam-dalam. Kau tidak perlu memojokkan Amel seperti itu," ujar Rendi penuh penekanan. "Aku bersikap seperti ini, itu untuk kebaikanmu sendiri." Rendi berusaha menekan emosinya yang mulai menguasai dirinya.


"Kebaikan apa Ren? Kamu selalu menghindariku, bahkan kamu mengacuhkanku. Aku hanya ingin kita seperti dulu, bagaimana dengan janjimu dulu?" Friska memegang tangan Rendi.


"Maaf, aku tidak bisa," ujar Rendi singkat. Dia melepaskan tangannya dari genggaman Friska.


"Kalau begitu, aku juga tidak akan menyerah Ren. Aku tidak akan mundur selangkahpun?" ujar Friska marah.


"Pada akhirnya kamu yang akan merasakan sakit nantinya. Jangan salahkan aku kalau sampai itu terjadi." Rendi membuang wajahnya ke samping.


Berbagai macam pertanyaan muncul di benak Amel, pikirannya saat ini kacau. Dia berusaha mencerna setiap ucapan yang keluar dari mulut Rendi dan Friska.


"Aku tidak peduli. Kalau memang cuma itu yang bisa membuatmu kembali seperti dulu." Friska menghapus air mata yang jatuh di pipinya. Rendi hanya diam dan tidak menanggapi ucapan Friska.


"Kalau kau ingin aku pergi dari hidupmu, maka aku juga minta dia pergi dari hidupmu Ren. Kalau aku tidak bisa ada disisimu, makanya tidak ada satupun yang boleh ada di sisimu juga, termasuk dia. Aku tidak akan tinggal diam selagi dia masih ada di sisimu Ren."


Rendi menatap marah Friska. "Kau sakit Friska. Kau sudah gila!"


"Kamu yang membuat aku gila Ren. Kamu kira dulu aku tidak tertekan seperti dirimu? Seharusnya kamu memikirkan bagaimana perasaanku juga. Kehilangan orang yang sangat aku sayangi, hidupku juga hancur Ren sama sepertimu."


"Harus bagaimana lagi, aku menjelaskan agar kau mengerti." Rendi mengusap kasar wajahnya.


"Aku tidak akan mengerti dan tidak mau mengerti sebelum kau kembali seperti dulu."


"Apa kau ingin kita terus begini, saling menyakiti satu sama lain?" Rendi menatap Friska dengan tatapan sendu.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2