Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Perubahan Raka


__ADS_3

"Bahkan untuk sekedar berkencan saja aku tidak bisa karena terlalu sibuk mengurus kehidupanmu."


Sofi terkekeh mendengar ocehan Kenan. Sementara Rendi tampak acuh. "Anggap saja itu hukuman bagimu karena sudah pernah membuatku hampir saja..."


"Iyaa..Iyaa aku tau. Kau tidak perlu membahasnya lagi. Membuatku kesal saja. Setidaknya kau mengasihaniku. Hidupku menyedihkan karenamu," tutur Kenan sambil menyandarkan tubuhnya di sofa.


"Apa kau jatuh miskin?"


"Hey, kau menyumpahiku jatuh miskin?" teriak Kenan dengan wajah kesal.


"Aku hanya bertanya, jika kau tidak jatuh miskin, untuk apa aku mengasihani pewaris dari Merlion Group yang memiliki segalanya," ucap Rendi acuh.


"Aku bisa mati muda karena kakakmu Sof," ucap Kenan sambil menatap kesal pada Rendi.


Sofi kembali terkekeh. "Hai Mel, bagaimana kabarmu?" tanya Kenan ketika melihat Amel berjalan ke ruang keluarga.


Amel menatap Kenan. "Baik Kenan."


"Jangan sok akrab dengan istriku," ucap Rendi dengan wajah tidak suka.


Kenan mendengus. "Dia itu masih sekertarisku," balas Kenan tak mau kalah.


Amel memang belum resmi mengundurkan diri dari perusahan milik suaminya, jadi statusnya masih pegawai perusahaan Rendi dan tak lain sebagai sekertaris Kenan.


Sebenarnya Rendi sudah menyuruh Amel untuk membuat surat pengunduran diri, tetapi belum Amel buat karena dia selalu saja lupa.


Amel kemudian meletakkan nampan yang berisi minuman dingin, buah yang sudah dipotong dan beberapa camilan di atas meja.


"Kak Ameeel," teriak Sofi sambil menghambur memeluk kakak iparnya setelah Amel selesai meletakkan nampannya. "Sofi kangen sekali dengan kak Amel," ucap Sofi dengan wajah senang ketika dia sudah melepaskan pelukannya.


"Kak Amel juga kangen sama kamu," ucap Amel sambil tersenyum.


Amel kemudian duduk di samping Rendi, sementara Sofi di samping Kenan. "Kenapa tidak mengabari kak Amel, kalau kau pulang hari ini Sof, kan bisa kami jemput."


"Sofi sudah memberitahu kak Rendi, tapi tidak di balas," sungut Sofi.


Amel kemudian menoleh pada suaminya. "Aku belum membuka ponsel sayang," timpal Rendi ketika melihat tatapan istrinya yang seolah meminta penjelasan darinya.


"Bilang saja kau sengaja," sela Kenan. "Suamimu ini, tidak suka dengan kedantangan kami Mel," adu Kenan. "Lihat saja wajahnya sedari tadi cemberut.


"Jika kau jadi aku, apakah kau akan bahagia jika ada yang mengganggu hari indahmu. Kami ini pengantin baru, butuh privasi. Kami hanya ingin menikmati waktu berdua. Tidak mau diganggu oleh siapapun, apalagi orang itu kau," ucap Rendi acuh.


"Kak Amel..Boleh ya Sofi tinggal di sini," tanya Sofi dengan wajah memohon.


"Tidak boleh," tolak Rendi cepat.


"Kak, kasian Sofi. Biarkan dia tinggal di sini," bujuk Amel sambil memegang lengan suaminya.


"Dia bisa tinggal di hotel sayang atau di apartemennya. Ada Kenan yang akan mengawasinya," terang Rendi.


"Aku tidak setuju kalau Sofi tinggal sendiri kak. Biarkan dia tinggal di sini," pinta Amel.


"Tuuuh kan, kak Amel saja tidak keberatan," sela Sofi.


"Tapi sayang, dia akan menggangguku kita nanti."


"Aku tidak akan menganggu kak. Aku janji," timpal Sofi.


Melihat Rendi diam, Amel lalu berkata, "Kak, kasihan Sofi kak. Dia adik kakak satu-satu, harusnya kakak yang menjaganya, menggantikan orang tua kakak."


Rendi menoleh pada adiknya. "Baiklah, tapi kau harus mengurus dirimu sendiri. Jangan pernah merepotkan Amel," ucap Rendi dengan tegas.


"Iyaa, kakak tenang saja," ucap Sofi cepat.


"Kenan akan mengawasimu mulai sekarang karena untuk kedepannya kakak akan lebih banyak memperhatikan istri kakak," jelas Rendi.


"Kak, jangan begitu, kasihan Kenan," sela Amel.

__ADS_1


"Tidak apa-apa, lagi pula Sofi adalah adikku. Aku tidak keberatan untuk menjaga dan mengawasinya," ujar Kenan santai.


"Tapi kami sudah sering merepotkanmu Kenan. Aku tidak enak," ucap Amel pelan.


"Aku sudah terbiasa direpotkan oleh Rendi, Mel. Aku sudah tidak kaget. Kau tidak perlu sungkan padaku."


Tidak lama kemudian ponsel Amel berbunyi. "Dari siapa?" tanya Rendi ketika Amel sedang menatap layar ponselnya. "Mama Tamara," jawab Amel singkat.


"Kalau begitu aku angkat dulu kak." Rendi langsung mengangguk, sementara Sofi tampak sedikit penasaran.


Beberapa menit kemudian, Amel mengakhiri panggilan telponnya. "Ada apa sayang?" tanya Rendi.


"Mama Tamara memintaku untuk ke rumanya," terang Amel. "Apa aku boleh ke sana kak?" 


Rendi tampak berpikir sejenak. "Aku akan mengantarmu ke sana," jawab Rendi menyetujui.


"Tidak perlu kak. Aku akan ke sana dengan Sofi. Mama Tamara ingin bertemu dengan Sofi juga kak," tolak Amel cepat. "Lagi pula masih ada Kenan di sini. Tidak mungkin kakak meninggalkannya."


"Haaaah..Bertemu denganku?" tunjuk Sofi pada dirinya sendiri dengan wajah terkejut.


"Iyaaa Sof. Temani kak Amel ke sana ya?" pinta Amel lembut.


Sofi tampak ragu, masalahnya dia takut bertemu dengan Raka. Hubungan mereka memburuk setelah kejadian di Bali. Mereka tidak pernah berhubungan lagi semenjak mereka putus.


"Apa ada Raka di sana kak?" tanya Sofi dengan suara pelan.


"Tidak ada. Bang Raka sedang pergi keluar kota," jawab Amel.


"Baiklah kalau begitu." Akhirnya Sofi setuju karena dia tidak enak untuk menolak ajakan Amel.


"Kami pergi berdua ya kak?" ijin Amel lagi.


"Baiklah..Tapi kabari aku jika kau sudah sampai di sana," ujar Rendi sambil menatap istrinya.


"Iyaa kak."


Tamara berjalan dengan langkah cepat dan wajah sumringah saat mendengar suara bel berbunyi. Dia yakin kalau yang datang adalah Amel dan Sofi karena sebelum berangkat, Amel sudah mengabari ibu Raka, kalau dirinya sedang dalam perjalanan menuju rumahnya.


Amel dan Sofi menuju rumah Raka dengan naik taksi. "Maa," sapa Amel ketika melihat ibu Raka yag membuka pintu.


"Amel, Sofi," pekik Tamara seraya memeluk mereka satu persatu dengan wajah yang terlihat sangat senang. "Masuk sayang," ajak Ibu Raka seraya mengapit kedua lengan perempuan yang sudah dianggap sebagai anaknya untuk berjlan masuk ke dalam rumahnya.


Mereka bertiga langsung duduk di ruang keluarga. "Bi, tolong bawakn minum dan camilan ke sini," teriak Ibu Tamara dengan suara agak keras.


"Iya Nyonya."


Sofi tampak melirik sekitarnya. Dia tampak masih merasa canggung berada di rumah mantan kekasihnya. "Bagaimana kabar kalian sayang," tanya Ibu Raka dengan lembut sambil menatap kedua perempuan yang ada di depannya.


"Amel baik Ma."


"Sofi juga baik Ma," ucap Sofi dengan senyum kakunya.


"Mel, kamu terlihat lebih cantik setelah menikah. Wajahmu terlihat lebih berseri," puji Ibu Raka. Dia bisa melihat perbedaan Amel sebelum menikah dan setelah menikah. Terlihat sangat Jelas kalau sekarang Amel tampak lebih terlihat cerah.


"Mungkin karena Amel merasa bahagia setelah menikah dengan kak Rendi Ma. Dia memperlakukan Amel dengan baik," ungkap Amel seraya tersenyum.


"Syukurlah Mel. Mama ikut bahagia mendengarnya." 


"Bang Raka, kapan pulang Ma?" Setika pertanyaam Amel membuat tubuh Sofi menengang.


"Mama juga nggak tahu Mel, pesan mama belum dibalas," jawab Ibu Raka dengan wajah pasrah. "Belakangan ini sikap Raka sedikit aneh. Dia sering pulang malam dan terlihat lebih pendiam semejak kepulangannya dari Bali," ungkap ibu Raka dengan wajah sedih.


"Permisi Nyonya." Seorang wanita paruh baya datang dengan membawa nampan yang berisi minuman dan camilan. Setelah meletakkannya di atas meja, wanita paruh baya tersebut langsung meninggalkan ruangan keluarga.


"Diminum sayang," ucap Ibu Raka lembut.


"Iya Ma," jawab Sofi dan Amel kompak.

__ADS_1


"Memangnya bang Raka kenapa Ma?"


Sebenarnya, Amel menduga kalau perubahan Raka berhubungan dengan Sofi. Pasalnya, dia sempat melihat Raka dan Sofi berdebat saat berada di Bali. Walaupun Sofi tidak bercerita dengannya, tapi Amel tahu, kalau diantara mereka berdua ada sedang ada masalah.


"Mama juga tidak tahu Mel. Setiap mama tanya, Raka hanya diam, terkadang dia jawab sedang lelah," papar Ibu Raka.


"Mungkin bang Raka lagi banyak masalah di kantor Ma," ujar Amel menenangkan.


Ibu Raka tampak menghela napas panjang. "Entahlah Mel. Tidak biasanya dia seperti itu," ucap Ibu Raka dengan wajah pasrah. "Mama tidak tahu apa sebenarnya terjadi padanya. Kemarin tiba-tiba dia bilang ingin mengenalkan mama pada seseorang."


"Seseorang? Maksudnya Ma?" tanya Amel dengan alis yang saling bertautan.


"Sepertinya dia ingin mengenalkan calonnya pada mama," jawab Ibu Raka dengan hati-hati seraya melirik sekilas pada Sofi.


Amel langsung menoleh pada Sofi sebentar, lalu beralih menatap ibu Raka. "Siapa Ma?" tanya Amel penasaran.


"Mama juga tidakk tahu. Dia bilang akan membawanya minggu ini untuk dikenalkan dengan mama," ungkap Ibu Raka.


Sementara Sofi yang mendengar hal itu, wajah langsung berubah pias dan tubuhnya membeku. Rasa perih menjalar di sekitar dadanya.


"Tapi, setahu Amel Raka tidak dekat dengan siapapun Ma," papar Amel.


Semenjak Amel menikah, Raka memang sudah jarang bercerita dengan Amel. Walapun begitu, Amel tahu, kalau Raka sempat menjalin hubungan dengan Sofi meskipun kini sudah berakhir.


"Iyaa, itu karena mama mendesaknya untuk segera menikah. Beberapa kali mama memintanya untuk berkenalan dengan anak teman mama. Dia terus menolak, sampai akhirnya dia bilang akan membawa calonnya pada mama," terang Ibu Raka, "tapi waktu mama lihat wajahnya sepertinya dia tidak bahagia sama sekali. Dia seperti sedang memiliki masalah berat," sambung Ibu Raka.


Sebenarnya Ibu Raka berharap kalau anaknya bisa berjodoh dengan Sofi. Setelah kepulangan raka dari Bali, ibunya pernah meminta Raka untuk mendekati Sofi, tetapi langsung ditolak oleh Raka. Wajah Raka bahkan terlihat dingin saat ibunya membahas Sofi.


Mulai dari situ, ibu Raka sudah tidak pernah membahas Sofi lagi, melainkan ibunya ingin mengenalkan Raka pada beberapa anak gadis dari temannya, tapi langsung ditolak kembali oleh Raka.


Sofi meremas kuat tangannya. Matanya tampak sudah berkaca-kaca. Dia berusaha keras menahan air matanya yang akan jatuh. "Nanti Amel akan bicara dengan bang Raka," usul Amel.


"Iyaa, coba Amel ajak bicara dia. Biasanya dia akan lebih terbuka kalau sama kamu Mel."


"Iyaa Ma."


Obrolan mereka terus berlanjut hingga 3 jam lamanya. Mereka tidak lagi membahas masalah Raka. Berbagai hal mereka bahas, terutama rencana resepsi pernikahan Amel yang akan di gelar di Jerman nantinya.


"Kak Amel bawa charger nggak?" tanya Sofi ketika melihat ponselnya mati.


"Nggak Sof," jawab Amel cepat.


"Ambil aja di kamar Raka, Sof," timpal Ibu Raka. "Dia biasanya punya cadangan charger di kamarnya."


Sofi tampak ragu untuk mengambil di kamar Raka. "Tapi Maa..."


"Nggak apa-apa, masuk aja. Rakanya lagi nggak ada."


"Iyaa, Sof..Ambil aja di kamar bang Raka," timpal Amel, "Kak Amel juga mau ke taman ke belakang sama mama," jelas Amel sambil berdiri.


"Iyaa, kami tunggu di belakang ya, Sof," ujar Ibu Raka sambil berjalan diikuti oleh Amel di belakangnya. Ibu Raka menghentikan langkah kakinya. "Kamu tahu, kan kamar Raka yang mana?" tanya Ibu Raka sambil menoleh pada Sofi.


"Iyaa Ma," jawab Sofi cepat.


Amel pernah menunjukkan kamar Raka, saat mereka berkunjung ke rumah Raka dulu. Akhirnya Sofi memutuskan untuk ke kamar Raka. Dia berpikir untuk apa dia takut, tooh orangnya juga tidak ada. Dengan langkah cepat, Sofi berjalan menaiki tangga menuju kamar Raka.


Sofi membuka pintu Raka dengan hati-hati. Dia mengendarkan pandangannya ke dalam kamar Raka sebentar, lalu setelah itu dia masuk.


Sofi mulai mencari di mana letak chargernya. Dia lupa menanyakan pada ibu Raka di mana biasanya Raka menaruh chargernya. Cukup lama Sofi mencari tapi belum juga menemukannya, hingga terdengar suara pintu terbuka.


"Apa yang kau lakukan di kamarku?" Sofi yang sedang menunduk menatap ke dalam laci nakas samping tempat tidur Raka langsung terdiam. Tubuhnya menegang saat mendengar suara yang sangat dikenalnya.


Sofi langsug berdiri tegak, lalu membalikkan badannya. Dia terkejut ketika melihat sudah ada yang Raka di depannya. "Aku.."


Bersambung...


Bantu berikan dukungan untuk author dengan cara Komen, Vote, Favorite dan Like setiap bab ya. Kasih hadiah juga boleh..Dukungan kalian sangat berarti bagi Author. Terima Kasih..

__ADS_1


__ADS_2