
Hari yang Rendi dan Amel nanti akhirnya tiba. Pesta pernikahan yang digelar secara mewah dan megah sukses membuat tamu yang datang berdecak kagum. Ballroom megah tempat pesta berlangsung di sulap menjadi bak istana. Dekorasinya dibuat semewah mungkin.
Saat memasuki ballroom mereka akan disunguhkan pemandangan dedaunan dan bunga-bunga serba putih yang cantik dan romantis.Sepasang angsa putih dan rusa putih menjadi penghias ketika baru saja memasuki ruangan resepsi.
Pada langit-langit ada hiasan gantung berupa bunga-bunga dan lampu chandilier yang akan memukau semua orang yang berada di sana. Sedangkan pada pelaminan, dekorasi bunga-bunga terlihat masih mendominasi tempat tersebut. Terdapat beberapa bunga sakura menghiasi sudut ruangan dan banyak taburan bunga disekeliling ruangan resepsi.
Rendi menatap Amel tanpa berkedip. Dia terpukau dengan penampilan Amel saat ini. Mata Rendi tidak beralih sedikitpun dari Amel. Gaun yang dikenakan Amel berwarna off-white bermodel off shoulder dengan detail aksen hiasan kristal swarovski yang berkilauan membuat kesan glamor dan mewah. Penampilan Amel bertambah sempurna saat mengenakan mahkota dan anting berlian kecil. Amel terlihat bak Putri Kerajaan.
Awalnya Rendi hanya berniat untuk melihat Amel sebentar. Dia ingin memastikan apakah Amel sudah siap atau belum, tetapi saat melihat Amel kecantikan Amel yang membuatnya terpukau. Rendi memutuskan untuk menghampirinya. Amel sedang sendirian di kamarnya karena ibunya sedang pergi dengan Lilian.
Rendi berjalan mendekati Amel yang sedang duduk di meja rias. Rendi menunduk dan melingkarkan tangannya di pinggang Amel lalu meletakkan dagunya di bahu Amel. “Kamu terlihat sempurna sekali malam ini sayang! Sangat cantik..! Aku jadi tidak rela kalau kau dilihat oleh laki-laki lain,” ucap Rendi sambil menatap bayangan dirinya dan Amel pada cermin yang ada di depan mereka.
Amel baru saja selesai dirias ketika Rendi masuk ke dalam kamarnya. Pagi hari sebelum acara resepsi dilakukan, Lilian meminta Amel untuk pergi ke hotelnya. Dia meminta Amel dan ibunya untuk menunggu di kamar yang sudah dipersiapakan untuknya sampai malam hari tiba, karena acara pernikahan mereka akan dilakukan pada pukul 7 malam. Sementara Bagas berada di kamar yang lain. Lilian juga melarang Rendi untuk menemui Amel sebelum mereka resmi menjadi suami istri.
Amel menoleh sedikit dan tersenyum pada Rendi. “Kau juga sangat tampan malam ini kak! Aku masih tidak percaya kalau kita akhirnya bisa menikah! Aku sangat senang kak,” ucap Amel sambil tersenyum bahagia.
“Aku juga bahagia sekali sayang! Ternyata perjuanganku tidak sia-sia. Aku berjanji akan membuatmu bahagia Mel,” ucap Rendi wajah senang.
“Terima kasih kak, karena kau tidak pernah lelah memperjuangkan aku. Aku sangat beruntung bisa menikah denganmu.”
“Kenapa waktu terasa berjalan sangat lambat?”
“Sabar kak, hanya dalam hitungan menit kita akan resmi menjadi suami istri.” Amel bergidik. “Geli kak,” ucap Amel saat Rendi mengecup bahu polos Amel.
“Aku sudah tidak sabar untuk memakan habis dirimu. Kau harus mempersiapkan dirimu untuk malam pertama kita. Jangan sampai kau kelelahan karena kita akan melewati malam yang panjang nanti,” ucap Rendi dengan senyum jahilnya. Lagi-lagi Rendi menggoda Amel dengan kata-kata frontalnya.
Amel menunduk malu sambil menggigit bibir bawahnya. “Jangan lakukan itu sayang. Aku takut tidak bisa menahan diriku dan langsung menerkammu saat ini juga,” ucap Rendi sambil membalikkan tubuh Amel.
“Aku tidak melakukan apa-apa kak,” ucap Amel dengan wajah malu.
__ADS_1
“Kau sedang menggodaku sayang.”
Amel mengangkat kepalanya. “Kapan aku menggodamu?” tanya Amel dengan wajah polos.
“Saat kau menggigit bibir bawahmu dan menampilkan wajah malu-malumu itu,” ucap Rendi menunjuk pada bibir tipis Amel.
“Aku melakukannya karena refleks kak.Lebih baik kakak keluar dari sini, sebentar lagi acara akan dimulai,” usir Amel sambil mendorong pelan tubuh Rendi. Rendi tersenyum. “Baiklah sayang. Setelah kau resmi menjadi istriku, kau tidak akan bisa lagi lari dariku Melm. Aku akan membuatmu tidak bisa tidur malam ini,” ucap Rendi dengan senyum liciknya.
“Berhenti menggodaku kak! Semenjak kapan kau menjadi mesum seperti ini,” pekik Amel. “Pergilah..! Mama akan marah kalau tahu kakak ke sini,” usir Amel dengan wajah yang sudah memerah.
Rendi mengecup singkat bibir Amel. “Jangan lupa persiapkan dirimu malam ini!” Rendi mengedipkan matanya sambil tersenyum jahil lalu berlalu meninggalkan Amel.
Amel menatap kesal pada Rendi yang terlihat senang sekali setelah berhasil menggodanya. Amel merasa wajahnya memanas dan jantungnya berdebar kencang saat membayangkan apa yang akan Rendi lakukan nanti. Dia memegang kedua pipinya sambil menggeleng-gelangkan kepalanya dengan cepat. Dia mencoba untuk mengusir pikiran tidak senonoh dari benaknya. Amel mengutuk Rendi yang sudah membuat pikirannya jadi tercemar.
Setelah Rendi dan Amel resmi menjadi suami istri. Senyum bahagia tidak pernah luntur dari wajah Rendi. Dia selalu tersenyum saat pesta pernikahannya berlangsung. Tangannya tidak hentinya menggenggam erat jemari Amel. Sesekali dia melirik pada Amel yang tampak tersenyum juga. Banyak tamu undangan wanita yang dibuat iri oleh penampilan Amel, apalagi dia bersanding dengan laki-laki yang sangat tampan dan berasal dari kalangan konglemerat.
Rendi menunduk sedikit dan berbisik pada Amel. “Kau tidak boleh tersenyum manis pada laki-laki lain sayang..! Kamu bisa membuat aku cemburu.” Rendi menjauhkan wajahnya dari Amel lalu menatap lurus ke depan. “Mereka tamu kita kak. Tidak mungkin aku menampilkan wajah kesalku pada mereka,” ucap Amel pelan tanpa menoleh pada Rendi.
Amel memukul bahu Rendi dan menatap tajam padanya. “Kau jangan gila kak..! Mereka bukan menatapku saja. Mereka menatap kita berdua. Lagi pula ini adalah pernikahan kita, wajar saja kita menjadi pusat perhatian semua orang.”
“Tetap saja. Kau adalah istriku. Kau itu milikku Mel. Aku tidak suka melihat mereka terus memandangmu.”
“Kenapa tidak sekalian kau kurung aku saja di kamar agar tidak ada yang dapat melihat aku, lalu kakak bisa berdiri di sini sendiri. Kakak bisa menyambut semua tamu sendirian,” ucap Amel dengan wajah kesal.
“Aku memang berencana mengurungmu selama 3 hari di kamar, ternyata kita sehati. Aku tidak menyangka pikiran kita sama sayang!”
“Kak, kau jangan bercanda..! Jangan membuat aku kesal di hari bahagia kita,” ucap Amel sambil melirik tajam pada Rendi.
“Makanya kau jangan tersenyum pada mereka. Kau hanya boleh tersenyum pada suamimu ini. Apa aku masih kurang tampan bagimu?”
__ADS_1
“Kenapa kau masih bertanya ka Apa kau tidak melihat bagaimana para wanita itu menatapmu. Air liur mereka bahkan hampir menetes karena mereka terpesona dengan ketampananmu. Mereka bahkan tidak berkedip saat menatapmu ke arahmu,” ucap Amel kesal.
Rendi tersenyum senang lalu mencubit lembut pipi Amel. “Apa kau cemburu?” tanya Rendi penasaran.
“Tentu saja..! Kau itu suamiku. Kalau mereka hanya menatapmu saja aku masih bisa mengerti, tetapi mereka bahkan terang-terangan memujimu di depanku,” ucap Amel sambil menatap gadis-gadis yang sedang menatap Rendi dengan tatapan memuja.
“Aku tidak peduli dengan mereka,” ucap Rendi dengan singkat.
“Mereka tadi mengatakan kalau aku tidak cocok menjadi istrimu. Membuatku kesal saja..!"
“Jangan pedulikan perkataan mereka sayang. Mereka hanya iri padamu..! Yang terpenting adalah aku sangat mencintaimu.”
Amel menoleh pada Rendi. "Kau benar-benar sudah menjadi suamiku, kan kak? Aku tidak bermimpikan?” tanya Amel sambil memegang wajah Rendi.
Rendi menangkat tangan Amel yang masih berada di wajahanya. “Apa aku harus membuktikan kalau aku benar sudah menjadi suamimu?” tanya Rendi tersenyum penuh makna.
Amel langsung menggeleng kuat. “Tidak perlu kak..! Aku sudah percaya,” ucap Amel dengan senyum kakunya.
Rendi merapatkan tubuhnya pada Amel. “Kenapa? Padahal aku sangat ingin membuktikannya?”
Amel mendorong tubuh Rendi. “Kak masih banyak orang di sini..! Jangan membuatku malu.”
“Ohh, jadi kau malu karena di sini banyak orang. Baiklah. Kita lakukan saja nanti di kamar setelah ini. Bukankah sebentar lagi kita akan beristirhat sambil mengganti baju?”
Amel bergidik ngeri. “Kak berhenti mencemari pikiranku dengan kata-kata mesum itu.”
Rendi tersenyum lebar melihat wajah malu Amel. “Kata-kata yang mana yang kau anggap mesum?”
“Sudahlah..! Lebih baik aku masuk ke kamar. Ini sudah waktunya untuk mengganti baju. Aku juga lelah,” ucap Amel sambil berjalan menuju mama mertuanya untuk berpamitan ke kamar. Setelah berpamitan dengan ibu dan Lilian. Amel dan Rendi berjalan menuju kamar Amel.
__ADS_1
Bersambung...