
Amel berjalan masuk keluar dari lift menuju kamar orang tua Rendi. Amel langsung menempelkan kartu aksesnya tanpa memencet bel terlebih dahulu. Dahi Amel mengeryit saat melihat kamar itu tampak kosong. Amel kembali berjalan keluar. Dia berpikir kalau Rendi pasti sudah berada di kamarnya saat ini, dikarenakan waktu sudah menunjukkan pukul 11 siang.
Amel menunggu beberapa saat setelah memencet bel kamar Rendi. Saat pintu terbuka Amel langsung ditarik dalam pelukan Rendi. "Kamu ke mana saja Mel? Aku kira kau marah padaku gara-gara semalam dan tidak akan kembali ke sini lagi," ucap Rendi sambil memeluk erat tubuh Amel.
"Aku hanya pulang sebentar, Kak. Aku tidak akan meninggalkan kakak,"
Rendi melepaskan pelukannya lalu menatap Amel. "Kenapa kau tidak bilang padaku! Kau membuat aku khawatir Mel."
"Tadi pagi aku sudah ke kamar orang tua kakak. Aku melihat kakak masih tertidur pulas, jadi aku tidak tega membangunkan kakak, jadi aku memutuskan untuk pergi sebentar."
Rendi menarik Amel masuk ke dalam kamarnya, setelah mendengar penjelasan Amel. "Apa yang terjadi? kakak habis minum dan merokok lagi?" tanya Amel dengan wajah terkejut saat melihat botol minum baru dan melihat asap rokok tebal dan bau khas tembakau yang masih tercium di kamarnya.
Rendi memeluk Amel kembali. "Maafkan aku. Aku pikir kau meninggalkan aku. Kau tidak ada saat aku bangun. Aku tidak bisa menghubungimu, ponselmu tidak aktif. Aku mencarimu di kamar Sofi tapi tidak ada. Sofi juga tidak mengangkat telponku. Aku tidak bisa berpikir tenang karena panik," ucap Rendi cepat dengan wajah bersalah
Amel melepaskan pelukan Rendi. "Ponselku mati kak. Sofi pergi denganku, mungkin Sofi tidak tahu kalau kakak menelponnya."
"Jangan pernah pergi seperti ini lagi Mel. setidaknya kau harus mengabariku atau meninggalkan pesan untukku, agar aku tidak panik," ucap Rendi sambil memegang bahu Amel.
Amel mengangguk. "Maafkan aku kak!" ucap Amel pelan. "Tapi ini terakhir kalinya aku melihat kakak menyentuh rokok dan minuman itu. Aku tidak akan memaafkan kakak lagi, jika kakak masih menyentuhnya, apapun alasannya nanti," tegas Amel dengan wajah serius.
"Aku janji tidak akan menyentuhnya lagi, asalkan kau tidak meninggalkan aku!"
Amek menatap Rendi dengan menyelidik. "Semenjak kapan kakak mulai merokok dan minum minuman beralkohol?" tanya Amel penasaran.
"Baru 2 hari yang lalu, aku belum pernah menyentuhnya sebelumnya. Aku frustasi saat kau menyuruhku untuk menjauhimu, apalagi setelah mendengar kau bertunangan dan akan segera menikah dengan Devan. Hanya dengan cara itu aku bisa melupakan rasa sakitku."
Amel menarik tangan Rendi untuk duduk di sofa. "Harusnya Kakak bertanya dulu kepadaku. Apa Kakak tau, semenjak kepergian Kakak, aku bahkan tidak pernah dekat dengan laki-laki lain, selain Raka dan Kak Evans. Aku tidak bisa melupakanmu Kak, alasan aku pindah ke rumah Raka adalah karena aku menunggumu. Hanya rumah Raka yang Kakak tahu. Aku takut jika aku pindah, Kakak tidak bisa menemukanku, jika suatu saat nanti Kakak mencariku, jadi aku memutuskan untuk pindah ke sana," ungkap Amel panjang lebar setelah mereka duduk bersebelahan di sofa.
Rendi menatap lekat mata Amel. Dia tidak menyangka kalau Amel menunggunya. Awalnya dia mengira kalau Amel sudah melupakannya. "Jangan pernah pergi dariku lagi, Mel. Aku bisa menggila kalau kau meninggalkanku. Apapun yang terjadi nanti, kau harus tetap di sampingku,"
Amel mengangguk dan tersenyum tipis. "Aku janji, Kak."
Rendi memeluk Amel. "Terima kasih Mel. Aku sangat mencintaimu."
Amel membalas pelukan Rendi. "Aku juga sangat mencintaimu, Kak."
Amel merasa senang, ternyata penantiannya selama ini tidak sia-sia. Dulu dia berpikir kalau Rendi tidak mau memaafkan dirinya. Dia berencana memulai hidup baru di kota lain jika Rendi tidak menginginkannya lagi.
Rendi melepaskan pelukannya. "Kau dari mana tadi?" tanya Rendi pelan.
__ADS_1
Amel mendongak menatap Rendi. "Aku pulang ke rumah Raka, Kak. Mama Tamara mencariku gara-gara aku pergi tidak berpamitan."
"Maafkan aku, ini semua karena salahku," ucap Rendi sambil mengelus pipi Amel.
"Mungkin kalau tidak ada peristiwa ini, kita belum tentu bisa kembali seperti saat ini," kata Amel lembut.
Rendi berdiri lalu menarik tangan Amel. "Lebih baik kita ke kamar orang tuaku. Aku akan meminta orang untuk membersihkan kamarku dulu." Kamar Rendi memang sangat berantakan, belum lagi asap tebal karena dia habis merokok dan tidak membuka jendela kamarnya.
Amel mengangguk, lalu mengikuti Rendi melangkah keluar dari kamarnya. Kamar orang tua Rendi tepat berada di sebelah kamar Sofi. "Masuklah," ucap Rendi setelah dia membuka kamar orang tuanya.
Amel menarik tangan Rendi sebelum mereka duduk di sofa. "Di mana kotak P3Knya kak?"
Rendi menoleh pada Amel. Dahinya mengeryit. "Untuk apa?"
"Aku harus mengobati lukamu, Kak."
Rendi menggeleng. "Nanti saja. Aku sangat merindukanmu," ucap Rendi menarik tangan
Amel saat dia sudah duduk di sofa panjang hingga terduduk di pangkuan Rendi. "Kak, lepaskan," ucap Amel saat Rendi sudah memeluk pinggangnya dari belakang. Wajahnya memerah dan jantungnya berdebar kencang.
"Sebentar saja Mel, biarkan seperti ini dulu. Aku tidak akan melakukan apa-apa," ucap Rendi sambil menyandarkan dagunya pada bahu Amel.
"Kau harus biasakan jika menjadi istriku nanti," ucap Rendi sambil melepaskan pelukannya. Rendi mengubah posisi duduk Amel menyamping . "Kapan kita ke rumah orang tuamu?" tanya Rendi sambil merapikan rambut yang ada di wajah Amel.
Amel menatap heran pada Rendi. "Untuk apa?"
Rendi tersenyum. "Tentu saja melamarmu. Aku akan meminta Jhon untuk melamarmu sebagai perwakilan dari keluargaku."
Amel sangat terkejut dengan perkataan Rendi. Dia tidak menyangka kalau Rendi akan melamarnya secepat itu.
"Tapi bagaimana kalau keluargamu tidak setuju kak?" tanya Amel dengan wajah cemas.
"Kau tenang saja, setelah ibumu setuju. Aku akan membawamu ke Jerman untuk menemui kedua orang tuaku. Kita akan langsung meminta restu mereka. Acara pertunangan resmi akan diadakan setelah orang tuaku setuju. Kita akan tinggal di sana sementara, sampai kita bisa meyakinkan orang tuaku dan mendapat restunya."
"Tapi bagaimana dengan pekerjaanku, Kak."
"Aku akan meminta Kenan untuk mengalihkan tugasmu pada Bela. Setelah kita menikah kau tidak boleh bekerja lagi."
"Tapi, Kak...."
__ADS_1
"Kau bisa menghidupi keluargamu dari hotel dan resort yang kau miliki," ucap Rendi lagi. Rendi tahu kalau Amel tidak akan mau menerima bantuan uang darinya, apalagi untuk keluarganya.
Dahi Amel mengeryit. "Aku sudah mengalihkan kepemilikan hotel dan resortku yang ada di Jepang menjadi milikmu. Kau tidak perlu khawatir mengenai keuangan untuk keluargamu," lanjut Rendi lagi sebelum Amel bertanya tentang maksud dari perkataannya.
Mata Amel terbelalak. "Aku tidak mau, Kak. Aku tidak berhak menerimanya. Bukankah itu pemberian oma dan opa, Kakak? Kenapa Kakak berikan padaku?" tanya Amel dengan wajah terkejut.
Rendi meraih wajah Amel. "Kalau kau menolaknya berarti kau tidak mencintaiku. Sudah lama aku mengalihkan kepemilikan Hotel dan Resort itu Mel. Aku tidak bisa merubahnya lagi. Itu sudah menjadi milikmu."
"Kakak tidak perlu melakukan itu. Aku tidak pantas menerimanya, Kak."
"Aku sudah melakukannya sebelum aku berangkat ke Amerika, Mel. Aku meminta Jhon untuk mengalihkannya karena saat itu, aku takut operasiku gagal. Aku hanya berjaga-jaga jika aku tidak bisa bangun lagi. Aku tidak mungkin meninggalkanmu begitu saja Mel. Aku tidak mau kau hidup susah setelah kepergianku."
Mata Amel berkaca-kaca. "Aku sudah menorehkan luka yang dalam waktu itu, tapi kenapa kakak masih memikirkan kehidupanku dan masa depanku kak. Aku merasa tidak pantas menerimanya, apalagi setelah perlakuan jahatku padamu," ucap Amel sambil menunduk. Terlihat air matanya mulai menetes di pipi.
Rendi meraih wajah Amel dan menghapus air matanya. "Kalau begitu, berikan hati dan seluruh hidupmu untukku, jika itu membuatmu merasa terbebani. Jangan pernah meninggalkan aku. Jangan sisakan ruang di hatimu untuk orang lain, cukup aku. Cintai aku sepenuh hati. Anggap saja itu sebagai balasannya. Walaupun aku tidak pernah mengharapkan balasan apapun darimu."
Amel menatap mata Rendi. "Tanpa kau minta, aku sudah memberikan seluruh hatiku untukmu kak!"
Rendi mengelus lembut pipi Amel. Dia meneliti setiap wajah Amel. "Terima kasih, Mel," ucap Rendi mengecup lembut kening Amel. "Bagaimana kalau akhir pekan ini kita mengunjungi ibumu. Aku akan meminta Jhon untuk meluangkan waktunya, tapi sebelum itu, kita harus membeli sesuatu dulu, nanti temani aku ya?"
"Membeli apa?" tanya Amel penasaran.
"Aku akan melamarmu, tidak mungkin aku tidak membawa apa-apa saat pergi ke rumahmu. Aku harus memilihnya sendiri," ucap Rendi yang masih mengelus pipi Amel.
"Kau tidak perlu melakukan itu kak. Ibuku tidak menilai ketulusan seseorang dari apa yang dia bawa," ucap Amel lembut.
Rendi menggeleng. "Tidak, aku harus tetap membawa sesuatu. Aku akan meminta anak gadisnya untuk hidup denganku. Aku akan mengambil sesuatu paling berharga darinya. Setidaknya aku harus menunjukkan ketulusanku pada ibumu. Aku tidak mau memberikan kesan buruk pada ibumu nanti!"
Amel tersenyum. "Kau manis sekali, Kak," ucapnya sambil mencubit pipi Rendi.
"Apa aku membuatmu terpesona?" goda Rendi saat melihat senyum hangat dari Amel.
"Tentu saja, siapa yang tidak akan terpesona saat mendengar perkataan seperti itu dari laki-laki tampan sepertimu. Kau bisa membuat hati wanita meleleh kalau mendengarnya."
"Kalau begitu, bagaimana kalau kita menikah secepatnya, minggu depan saja."
Amel memukul bahu Rendi lalu berdiri dari pangkuannya. "Jangan bercanda kak. Masih banyak yang harus kita lalukan untuk sampai ke tahap pernikahan. Kau tahu sendiri itu," ucap Amel yang sudah duduk di sebelah Rendi.
Rendi menghela napas. "Apa aku menculikmu saja kalau orang tuaku tidak setuju atau kita berikan cucu dulu pada mereka. Aku yakin mereka tidak akan bisa menolakmu lagi. Mereka pasti langsung merestui kita," ucap Rendi enteng sambil menampilkan wajah polos tanpa dosa.
__ADS_1
Bersambung...