
"Turunlah." Rendi membuka pintu setelah mobilnya terparkir di restoran Jepang yang terkenal.
Amel mengangguk lalu mengikuti Rendi masuk ke dalam restoran. Karena bertepatan dengan jam makan siang, restoran untuk terlihat sangat ramai. Rendi memilih tempat duduk yang berada di dekat jendela kaca bening yang masuk kosong.
"Kakak mau pesan apa?" tanya Rendi ketika mereka sudah duduk.
"Sama saja dengan punya Kakak." Rendi mengangguk lalu kembali melihat ke buku menu.
Saat sedang memilih, ponsel Amel berbunyi. "Kau pesan saja makanan duluan. Aku angkat telpon dulu," ucap Rendi sambil berdiri.
Amel mengangguk dan terus menatap ke arah Rendi pergi. Dalam hatinya dia bertanya-tanya siapa yang menelpon Rendi sehingga dia harus menjauh darinya hanya untuk mengangkat telponnya.
Setelah Rendi tidak terlihat, Sepuluh menit berlalu, Rendi terlihat baru kembali ke mejanya.
"Kenapa kau belum memesan makanan?" Rendi terlihat terkejut saat melihat meja masih kosong, padahal dia sudah meminta Amel memesan duluan.
"Sekalian saja dengan Kakak," jawab Amel sambil tersenyum.
Rendi melihat jam tangan yang melingkar di tangan dirinya setelag itu dia memangil pramusaji. "Saya pesan 2 Black Angus Sirloin. Yang satu well done dan satu lagi medium well," jelas Rendi, "dan untuk minumannya Lime citrus soda dan fresh squeezed orange."
Pramusaji itu mengulangi lagi pesanan Rendi kemudian pergi. "Kamu kenapa diam saja dari tadi? Kamu nggak suka makan sama aku?" tanya Rendi sambil menatap Amel.
Amel mengangkat kepalanya. "Bukan gitu, Kak. Aku cuma nggak tau harus ngomong apa."
Sebenarnya dia bukannya tidak suka, tapi ini pertama kalinya dia makan di restoran lagi dengan Rendi setelah mereka berpisah. Dia hanya sedang teringat masa di mana Rendi mengajakanya makan di restoran saat mereka berpacaran dulu.
Rendi meneliti wajah Amel sejenak kemudian berkata, "Selama aku pergi. Kau pernah menjalin hubungan dengan siapa saja?"
Amel sedikit terkejut mendengar pertanyaan Rendi. "Tidak ada."
"Benarkah?"
"Iyaaa."
"Apa benar aku adalah cinta pertamamu?"
Wajah Amel memerah. Dia sebenarnya malu untuk mengakuinya. "Iyaa. Kakak tau dari mana?"
Rendi terlihat acuh tak acuh. "Kenan yang memberitahuku."
"Permisi." Seorang pramusaji datang membawa pesanan Rendi.
"Steak yang well done dan minuman fresh squeezed orange berikan padanya," ucap Rendi saat pramusaji itu ingin meletakkan makanan di meja.
"Baik." Pramusaji itu meletakkan sesuai permintaan Rendi.
"Terima kasih," ucap Rendi dan Amel bersamaan.
Pramusaji itu mengangguk lalu pergi.
Rendi mengeryit saat melihat Amel memandangi makanan di depannya tanpa menyentuhnya. "Kenapa kau diam saja? Apa kau tidak suka dengan makanannya?"
Amel mengangkat kepalanya. "Bukan seperti itu Kak. Ini ...." Amel menggantungkan ucapannya.
"Bukankah itu makanan kesukaanmu? Kau suka steak yang matang, kan?"
Yang dikatakan Rendi memang benar. Amel sangat suka makan steak. Setiap mereka berdua makan Steak, Amel selalu meminta tingkat kematangan well done, sementara Rendi medium well. Tetapi yang membuat Amel heran, dari mana Rendi bisa tahu sementara dia amensia.
"Dari mana kakak tahu kalau ini makanan kesukaanku?" Dia bahkan memesan minuman kesukaan Amel.
Rendi terdiam. Dia baru menyadari hal itu. Bagaimana bisa tahu mengenai makanan kesukaan Amel. "Aku hanya menebaknya." Alasan Rendi terkesan dibuat-buat.
"Apa kakak juga hanya asal memilih restoran ini?" tanya Amel dengan hati-hati.
__ADS_1
Restoran tempat mereka makan saat ini adalah restoran yang sering mereka kunjungi saat pacaran dulu.
"Saat melihat restoran ini, aku pikir restoran ini makanannya enak. Aku juga suka suasana di restoran ini," jawab Rendi asal. Sebenarnya dia juga tidak tahu kenapa dia memilih restoran ini, padahal banyak restoran terkenal di sekitar kantornya.
Selesai makan, Amel meminta segera di anatar ke kantor karena jam makan siang akan segera berakhir. Saat tiba di kantor, sudah ada Friska yang menunggu di ruang Kenan.
"Ren, kamu ke mana aja? Aku sudah menunggumu dari tadi." Friska menampilkan wajah cemberutnya.
"Maaf Kila, aku pergi makan siang tadi," jawab Rendi lembut. Dia kemudian duduk di samping Friska di sofa panjang ruangan Kenan.
"Kalian lebih baik pergi dari sini. Jangan menampilan kemesaraan kalian di sini," usir Kenan dengan wajah kesal.
Hari ini dia sudah dibuat kesal dengan tingkah Rendi. Saat tidak ada Friska, dia menempel pada Amel dan saat ada Friska dia melupakan Amel.
"Sayang, temani aku berbelanja ya? Bajuku sudah habis. Aku tidak memiliki baju ganti lagi," pinta Friska dengan manja.
Rencana awal, mereka memang hanya sebentar di Indonesia, sebab itu mereka hanya membawa pakian sedikit. "Baiklah. Ayo kita pergi."
Friska tersenyum senang lalu mengapit lengan Rendi. "Kamu memang yang terbaik."
"Kenan, kami pergi dulu."
"Pergi sana, jangan kembali lagi," jawab Kenan dengan wajah kesal.
Friska meneoleh pada Kenan sejenak. "Dia kenapa?"
Rendi menjawab dengan acuh tak acuh. "Mungkin karena terlalu lama menjomblo sehingga membuatnya uring-uringan."
Kenan yang mendengar itu langsung menyahut. "Aku jomblo juga karenamu. Karena mengurusi kehidupanmu."
Rendi terlihat tersenyum tipis melihat kekesalan Kenan padanya. "Jangan hiraukan dia. Lebih baik kita pergi."
Friska mengangguk dan berjalan keluar bersmaa dengan Rendi. Saat di luar dia bertemu tatapan dengan Amel. Langlahnya terhenti sebentar. Ketika melihat Mael memangdang ke arah tangan Friska yang mengapit lengannya seketika dia melepaskan tangan Friska.
"Kenapa sayang?" tanya Friska dengan heran. Rendi tiba-tiba melepaskan tangannya di hadapan Amel dan itu membuatnya merasan aneh. Rendi masih amnesia, tidak mungkin dia mengingat Amel.
Ketika Rendi akan melangkah, Friska tiba-tiba berkata, "Bukankah wanita yang pernah bertemu denganmu di parkiran restoran waktu itu?"
Rendi menoleh. "Iyaa. Dia bekerja di sini," jawab Rendi.
Friska tesenyum lalu berjalan ke arah Amel dan menampilkan wajah palsunya. "Ternyata dunia ini sempit. Kenalkan aku tunangan Rendi. Siapa namamu?"
Bela yang sedang berada di samping Amel, melirik tidak suka pada Friska. "Amelia. Itu namaku. Aku adalah mantan pacar Rendi."
Amel jelas tahu kalau Friska sengaja membuatnya cembur dan marah karena itu dia ingin membalasnya juga.
"Benarkah itu?" Friska menoleh pada Rendi yang berdiri tidak jauh darinya.
Rendi terdiam. Dia bingung harus menjawab apa. "Ayo pergi. Aku ada urusan jadi tidak bisa menemanimu lama-lama."
"Baiklah." Sebelum menyusul Rendi, Friska tersenyum pada Amel. Senyuman manis yang dibalut dengan kepalsuan. "Sampai jumpa lagi."
*********
"Kenapa kau diam saja dari tadi?" Devan yang sedang mengendari mobilnya seketika menoleh pada Amel saat melihatnya sedari tadi hanya menatap ke jendela luar tanpa berkata-kata.
Amel memalingkan wajahnya kepada Devan. "Aku hanya lelah bekerja seharian Kak."
"Apa ini ada hubungannya dengan Rendi? Kau belum menjelaskan apapun padaku Mel mengenai Rendi. Kenapa dia bisa ada di kantormu?"
"Aku akan menjelaskannya sesampai di rumah."
"Baiklah."
__ADS_1
Setibanya di rumah Raka, Amel mengganti bajunya lebih dulu sebelum berbicara lagi dengan Devan. Saat dia kembali ke ruang tamu, dia melihat Devan sedang mengobrol dengan Raka.
"Abang baru pulang?" tanya Amel sambil duduk di sampingnya.
Biasanya Raka lebih lama sampai rumah dibandingkan Amel karena kantor Raka lebih dekat dari rumahnya.
"Tadi nganterin Nita dulu ke rumahnya," jawab Raka.
"Abang balikan lagi sama Nita?"
Semenjak putus dengan Nita, hubungannya dengan Nita memang sempat renggang sebentar. Raka berusaha untuk menghindari Nita karena tidak mau kalau Nita terus mengharapkannya, tetapi melihat kegigihan Nita untuk menjalin hubungan baik dengannya membuatnya jadi luluh. Hubungan mereka berlanjut dengan hubungan pertemanan hingga sekarang.
"Nggak. Dia nggak bawa mobil. Kasihan juga kalau dia naik taksi," terang Raka. "abanh mandi dulu." Raka berdiri lalu berpamitan dengan Devan kemudian berjalan meninggalkan ruang tamu.
"Sekarang jelaskan padaku semuanya," ucap Devan setelah Raka tidak terlihat.
"Dia adalah pemilik dari perusahaan dari tempat aku bekerja, Kak." Amel sengaja tidak menceritakan pada Devan kalau Rendi mengalami Amnesia.
Devan mengeryit. "Bagaimana bisa? Dia sudah menghilang selama 5 tahun. Kenapa tiba-tiba dia kembali lagi? Apa jangan-jangan dia ingin kembali denganmu?" tebak Devan.
"Tidak Kak. Kak Rendi sudah tidak mencintaiku lagi," jawab Amel.
"Benarkah?" Devan tidak bisa begitu saja percaya dengan ucapan Amel.
"Iyaa Kak."
********
Esok harinya Rendi kembali datang ke perusahaannya. Waktu dia memasuki ruangan Kenan. Terlihat meja dan kursi baru sudah ada di ruangan Kenan yang letaknya tidak jauh dari meja Kenan.
"Ren, jangan bermain api. Kau bisa terbakar nanti," ucap Kenan pada Rendi ketika dia baru saja duduk di kursi barunya.
"Apa maksudmu?"
"Kau harus memilih salah satu dari mereka berdua. Kau tidak bisa menjalani hubungan dengan 2 wanita sekaligus."
Rendi mentandarkan tubuhnya di kursi lalu menatap malas pada Kenan. "Kalau kau masih mengantuk, lebih baik kau pulang dan tidur di rumah. Jangan mengingau tidak jelas di sini."
"Lalu apa maksudmu mendekati Amel? Kau ingin melihat dua wanita saling serang nanti?"
Kenan masih belum bisa menebak apa yang ada di pikiran Rendi. Dia tidak mau melepaskan Friska dan dia juga tidak mau menjauhi Amel.
"Aku hanya penasaran dengannya."
Kenan menghela napas. "Ren, aku mengenalmu dengan baik. Kau pasti mempunyai maksud lain terhadap Amel. Kau menyukai, kan?" tebak Kenan.
Rendi mencibir. "Jangan asal bicara. Aku hanya penasaran dengan masalaluku dengannya. Itu saja," elak Rendi.
Kenan menebak meskipun Rendi sedang Amnedia, tetapi perasaan cinta pada Amel masih tetap anda dan kembali muncul tanpa Rendi sadari setelah pertemuannua dengan Amel.
"Seharusnya kau sudah berhenti untuk mendekatinya kalau kau hanya penasaran. Aku sudah memberitahumu mengenai masa lalumu dengannya. Hubungan kalian hanya bertahan sebentar waktu itu dan itu hanya hubungan pacaran biasa. Seperti yang lainnya."
Rendi terdiam sesat. "Lalu kenapa aku tidak bisa menghilangkannya dari pikiranku? Mungkin saja ada yang terlewat olehmu yang hanya diketahui Amel dan aku."
Kenan menghela napas panjang. "Alasannya cuma satu yaitu cinta. Dia adalah wanita yang sangat kau cintai dulu. Itu sebabnya kau tidak bisa mengeyahkannya dari pikiranmu."
Sore harinya Amel masuk ke dalam ruanga Kenan untuk mengatarkan berkas untuk Kenan. Saat dia akan keluar Rendi menahannya. "Mel, kemari."
Kenan yang sedang sibuk dengan pekerjaannya, memilih untuk mengabaikan Rendi. "Ada apa, Kak?"
"Duduk di depanku." Rendi tidak juga mau menjelaskan pada Amel kenapa dia memanggilnya.
Setelah duduk, Amel terlihat menunggu Rendi berbicara, tetapi 5 menit berlalu Rendi hanya diam dan menatap wajahnya. "Kak, kenapa? Aku harus bekerja." Akhir Amel berbicara karena tidak tahan dengan tatapan Rendi yang seolah sedang membaca pikirannya.
__ADS_1
"Sebenarnya apa yang sudah kau lalukan padaku? Kenapa kau terus menggangguku?" Rendi terlihat menampilakn wakah seriusnya. Sudah beberapa hari ini dia selalu memimpikan Amel. Entah itu mimpi entah itu ingatannya yang hilang, dia juga tidak tahu.
Bersambung...