Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Pertemuan Tidak sengaja


__ADS_3

Pagi harinya Raka terbangun terlebih dahulu. Dia bangun pukul 5 pagi dan langsung mandi. Dia berencana langsung pulang setelah berpamitan dengan Amel. Sehabis mandi, Raka mengirimkan pesan pada Amel untuk memberitahukan pada Amel kalau dirinya akan pulang.


Raka menunggu selama 10 menit, tapi belum ada balasan juga dari Amel. Rala memutuskan untuk keluar dari kamar. Dia berniat untuk menunggu di ruangan keluarga.


"Kau sudah ingin pulang?" tanya Rendi seraya berjalan mendekati Raka.


Raka menoleh pada Rendi. "Iyaa. Di mana Amel?" tanya Raka saat melihat Rendi datang sendiri.


"Dia sedang mandi." Rendi membaca pesan Raka di ponsel Amel sehingga dia tahu kalau Raka sedang menunggunya untuk berpamitan.


"Baiklah. Aku akan menunggunya," ucap Raka.


"Apa kau sudah menyelesaikan masalahmu dengan adikku?" Rendi tidak bermaksud untuk ikut campur masalah adiknya. Dia hanya ingin tahu saja bagaimana kelanjutan hubungan Raka dan adiknya.


Raka menghela napas panjang. "Aku tidak berdaya menghadapi adikmu. Dia tidak ingin menikah denganku, tapi juga tidak ingin mau melepaskan aku," ungkap Raka dengan wajah frustasi. "Aku tidak tau bagaimana lagi menghadapi adikmu."


Rendi menyunggingkan sudut bibirnya. "Kau harus bersikap tegas dengannya. Sebenarnya dia gampang sekali luluh jika kau tahu cara untuk menaklukannya," ungkap Rendi. "Tapi jika kau ragu dengannya. Lebih baik akhiri saja sebelum terlambat," nasehat Rendi.


Dalam hal ini dia berusaha untuk bersikap netral tanpa berpihak pada siapapun. "Aku akan menunggu keputusan adikmu. Jika dia tidak mau menikah denganku. Aku akan segera mengakhirinya dan menjauhinya."


Raka ingin memberikan kesempatan terakhir pada Sofi. Dia hanya tidak ingin menyesal nantinya karena sebenarnya dia juga masih sangat mencintai Sofi.


"Itu terserah padamu saja. Aku hanya ingin mengingatkan padamu. Jangan pernah mempermainkan adikku jika kalian kembali bersama."


Rendi mengatakan hal itu karena dia sempat mendengar cerita dari Amel kalau Raka berniat mengenalkan seorang wanita pada ibunya. Meskipun Rendi terlihat acuh pda adiknya, tapi sebenarnya dia sangat peduli dengan Sofi. Dia hanya tidak bisa menunjukkan rasa sayangnya kepada adiknya sehingga dia terkesan tidak peduli pada adiknya.


"Kau seharusnya tahu kalau aku tidak pernah mempermainkan wanita Ren. Bukankah itu alasannya kau mendukung hubunganku dengan Sofi karena kau yakin aku tidak akan pernah menyakiti adikmu," tebak Raka.


Rendi akui kalau yang dikatakan oleh Raka adalah benar adanya. Dia hanya ingin menegaskan kembali pada Raka agar Raka tidak macam-macam pada adiknya.


Rendi mendesis. "Ternyata kau tidak sebodoh yang aku kira."


Raka menatap sinis pada Rendi. "Kau sedang mengejekku atau justru memujiku?" Ucapan Rendi terasa ambigu di telinga Raka.


"Tentu saja aku sedang memujimu," ucap Rendi enteng.


Amel yang sudah selesai mandi langsung keluar dari kamarnya. Dia sudah melihat pesan dari sehingga dia langsung keluar mencari keberadaan Raka dan suaminya.


"Abang sudah mau pulang?" Amel berjalan ke arah Rendi lalu duduk di sampingnya.


"Iyaa. Abang harus ke kantor," jawab Raka.

__ADS_1


"Abang tidak mau sarapan dulu sambil menunggu Sofi bangun?" tawar Amel seraya menatap Raka.


Raka menggeleng. "Abang akan terlambat ke kantor nanti," tolak Raka.


"Apa kau yakin tidak ingin bertemu dengan calon istrimu dulu?" goda Rendi ketika melihat Raka sudah berdiri.


"Kak, jangan menggoda bang Raka," tegur Amel seraya memukul pelan paha suaminya.


"Aku berkata yang sebenarnya sayang. Raka sudah melamar Sofi tetapi belum mendapatkan jawaban dari Sofi."


Amel tercengang. "Benar bang?" tanya Amel antusias.


"Iyaa," jawab Raka singkat.


"Kau harus nasehati Sofi sayang agar dia tidak salah dalam mengambil keputusan," ucap Rendi pada Amel.


"Amel tidak mau ikut campur kak."


"Menasehati dan ikut campur berbeda sayang. Kau hanya perlu memberikan beberapa masukan untuknya," jelas Rendi.


"Baiklah. Aku akan berbicara dengan Sofi nanti."


"Kalau begitu abang pulang dulu," pamit Raka.


*****


Raka sedang melajukan mobilnya menuju sebuah restoran untuk bertemu dengan client bersama dengan Nita. Mereka akan membicarakan tentang kerjasama yang akan mereka jalin. "Apa benar ini tempatnya?" tanya Raka pada Nita yang duduk di sebelahnya.


Nita sedikit menurunkan kepalanya lalu membaca nama restorannya. "Iyaa benar. Lebih baik kita menunggu di dalam," ajak Nita seraya membuka pintu mobil.


Raka mengangguk lalu turun dari mobilnya. Mereka berdua berjalan masuk ke dalam restoran. Nita terlihat berbicara dengan pegawai restoran untuk menanyakan tentang meja yang sudah dia reservasi atas nama Raka. Setelah menyebutkan nama Raka, pegawai wanita lalu membawa Nita dan Raka menuju meja yang dimaksud.


Raka tertegun sesaat saat tidak sengaja menangkap sosok wanita yang selalu memenuhi pikirannya. Raka menatap dingin ke arah Sofi dan Willy saat dia berjalan melewati meja mereka.


Sofi yang melihat Raka melewatinya mejanya seketika langsung terperanjat. Dia tidak menyangka kalau akan bertemu dengan Raka di restoran tempatnya bertemu dengan Willy. "Raka," panggil Sofi dengan suara pelan.


Raka terlihat acuh, dia juga tidak menjawab panggilan Sofi dan terus berjalan menuju meja yang sudah dia pesan.


Sofi terus memandang ke arah Raka yang sudah duduk di sudut ruangan bersama dengan Nita. Nita sebenarnya tahu kalau Sofi adalah adik Rendi saat ia menghadiri pesta pernikahan Rendi. Hanya saja dia merasa sedikit aneh ketika melihat tatapan Sofi pada Raka apalagi tadi dia sempat memanggil Raka meskipun Raka tidak meresponnya.


"Bukankah itu laki-laki yang pernah menghajarku?" tanya Willy seraya memandang ke arah Raka.

__ADS_1


"Iyaa." Sofi tampak murung ketika melihat interaksi Raka dengan Nita yang terlihat sangat dekat. Nita adalah mantan Raka yang paling dicemburui Sofi dan beberapa kali menjadi bahan pertengkaran antara dirinya dan Raka. 


"Aku tidak menyangka bisa bertemu lagi dengannya. Sepertinya putus darimu dia bisa langsung dapat penggantimu," ucap Willy.


"Dia adalah sekertarisnya," terang Sofi. Dia masih terus memandang ke arah Raka dan Nita.


"Apa kau yakin dia mencintaimu? Aku lihat dia seperti acuh padamu."


Sofi sudah menceritakan pada Willy mengenai hubunganya dengan Raka. Hubungan Willy dan Sofi memang sudah membaik. Mereka sekarang berteman, itulah yang selama ini tertanam di benak Sofi, tapi tidak dengan Willy. Dia masih berniat untuk menjalin hubungan yang serius dengan Sofi. Dia sangat berharap perjodohan antara dia dan Sofi bisa berjalan dengan lancar hingga mereka bisa menikah.


Meskipun Sofi sudah mengatakan pada Willy kalau dirinya sudah tidak mencintainya lagi, tapi Willy terlihat tidak pantang menyerah. Dia tidak keberatan untuk dekat dengan Sofi sebagai teman untuk sekarang. Dia berpikir kalau lambat laun mungkin Sofi akan kembali lagi padanya kalau dia benar-benar bisa meyakinkan Sofi kalau dirinya sudah berubah dan tidak akan pernah menyakitinya lagi.


Sofi menunduk dengan wajah muram. "Dia pasti salah paham pada kita," ucap Sofi dengan suara pelan.


"Apa dia masih cemburu padaku?" tanya Willy seraya melirik sekilas pada Raka.


Raka terlihat sedang berbicara dengan serius dengan beberapa pria yang duduk di depannya.


"Iyaa. Padahal aku sudah menjelaskan padanya kalau kita hanya berteman sekarang. Aku juga sudah mengatakan  kalau aku tidak memiliki perasaan apapun padamu," ungkap Sofi seraya meminum jus ada yang di depannya.


"Kalau dia tidak mau kembali padamu. Aku dengan senang hati akan menerimamu, Sof." Meskipun Willy mengatakan hal tersebut sambil bergurau, tapi dalam hatinya dia mengatakan hal itu dengan sungguh-sungguh. Dia tidak lagi mau memaksakan kehendaknya pada Sofi. Dia berharap Sofi akan luluh nantinya.


Sofi menatap serius pada Willy. "Lebih baik kau mencari wanita lain, Will. Aku tidak akan bisa mencintaimu lagi karena hatiku sudah terisi penuh oleh Raka." Sofi sengaja mengatakan hal itu agar Willy tidak berharap lagi padanya.


"Tidak ada yang tahu bagaimana kedepannya Sof. Bisa saja kau akan menjadi istriku nantinya," gurau Willy lagi.


"Aku mengajakmu bertemu di sini karena aku ingin membicarakan mengenai perjodohan kita. Aku ingin membatalkan perjodohan kita, Will," ungkap Sofi.


Willy terlihat terkejut. "Kenapa tiba-tiba kau ingin membatalkan perjohohan kita?" tanya Willy dengan wajah penasaran.


"Raka sudah melamarku, Will. Aku berencana untuk menerima lamarannya. Aku akan segera menikah dengannya setelah aku membatalkan perjodohan kita," terang Sofi.


"Aku tidak bisa memutuskan begitu saja, Sof. Keluargamu harus langsung berbicara dengan orang tuaku." Willy berusaha menyembunyikan rasa kecewanya dari Sofi. Dia masih tidak menyangka kalau Sofi akan membatalkan perjodohan mereka dan memilih untuk menikah dengan pria lain.


"Iyaa, aku tahu. Setidaknya kau bisa membujuk orang tuanmu untuk membatalkan perjodohan kita saat keluargaku datang menemui orang tuamu," ucap Sofi.


"Apa kau akan sudah yakin dengan pilihanmu?" tanya Willy dengan wajah serius.


"Iyaa. Aku sangat mencintainya, Will."


Tanpa Sofi dan Willy tahu, sedari tadi Raka beberapa kali melirik ke arah mereka berdua dengan tatapan dingin.

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2