
“Tapi kenapa aku tidak mengenali wajah kakak saat pertama kali aku melihatmu di sekolah?” tanya Amel dengan wajah heran. Justru Amel langsung menyukai Rendi saat pertama kali melihatnya saat masa oreintasi siswa.
“Mungkin karena saat itu aku memakai topi dan kacamata hitam. Aku juga menutup kepalaku dengan penutup kepala jaket yang aku pakai.”
Amel mengangguk-angguk tanda mengerti. “Pantas saja aku tidak mengenali kakak. Lalu kenapa kakak tidak pernah menceritakan padaku soal kejadian itu?” Amel tidak pernah menyangka hal sepele yang pernah dia lakukan pada Rendi membuatnya jatuh cinta.
“Kau tidak pernah bertanya padaku. Itu sebabnya aku diam saja.” Rendi berpikir kalau Amel masih mengingat kejadian itu, sama halnya dengan dirinya yang masih mengingatnya sampai saat ini.
“Waktu itu sebelum kau pergi meninggalkan aku, aku sempat bertanya, kenapa kau memberikanku payungmu padaku, padahal kau juga membutuhkannya. Saat itu aku berkata kalau payungnya kau berikan padaku, kau bisa sakit bila terkena hujan. Lalu kau tersenyum lebar sambil berkata, "Pakai saja, aku sudah terbiasa hidup susah. Hanya hujan saja tidak akan membuatku sakit. Kau lebih membutuhkannya dari pada aku." Setelah itu kau berlari meninggalkan aku. Aku sempat berdiri mematung menatapmu hingga bayanganmu menghilang dalam derasnya hujan.”
“Oohh aku baru ingat. Saat itu aku baru saja selesai ujian sekolah. Aku memutuskan untuk pergi ke taman untuk menghilangkan stress karena ujian, lalu sedang apa kakak di sana?”
“Aku sedang menenangkan diriku di taman itu. Aku marah dengan kedua orang tuaku yang memaksaku untuk pindah ke Indonesia saat itu.”
“Jadi kakak menyesal pindah ke Indonesia?”
“Tentu saja tidak sayang! Awalnya aku memang marah dengan kedua orang tuaku, tetapi gara-gara bertemu denganmu saat itu, aku jadi berubah pikiran. Aku ingin mengenalmu lebih jauh. Justru aku sangat bersyukur karena orang tuaku membawaku ke Indonesia, jika saat itu mereka tidak membawaku ke sini. Mungkin kita tidak akan bertemu.”
“Mungkin saja kakak sudah menikah dengan Friska.” Amel mengalihkan pandangannya ke bawah.
Rendi tersenyum tipis saat mendengar perkataan istrinya. “Kau tidak perlu lagi cemburu dengan Friska sayang! Sudah aku bilang aku hanya mencintaimu.”
“Iyaa, aku tahu kak,” ucap Amel pelan.
“Tidurlah sebentar, setelah itu aku akan mengantarmu bertemu dengan teman-temanmu.” Rendi memeluk tubuh istrinya lagi.
“Aku ingin mengirim pesan pada temanku dulu Kak, aku takut mereka akan menunggu.” Amel meraih ponsel yang ada di atas nakas. Dia terpaksa memundurkan pertemuan mereka pada pukul 12 siang. Dia tidak bisa lagi seenaknya seperti dulu. Dia harus mendapatkan ijin dari Rendi dulu sebelum melakukan sesuatu.
Sebenarnya Rendi tidak pernah melarangnya untuk melakuakn apapun yang dia inginkan hanya saja Amel tidak mau melakukan apapun tanpa sepengatahuan dan ijin dari suaminya.
******
Tepat pukul 11 siang, Amel sudah bersiap untuk bertemu dengan teman-temannya. Dia sedang menunggu Rendi untuk mengantarnya ke Mall yang mereka sepakati untuk bertemu.
“Apa kau sudah siap?” tanya Rendi, saat melihat Amel sudah duduk di sofa. Amel mengangguk. “Sudah kak.” Mereka kemudian berjalan ke bawah menuju parkiran mobil.
__ADS_1
Rendi langsung memarkirkan mobilnya di parkiran bawah mall tersebut. Rendi mengantar Amel sampai bertemu dengan temannya.
“Amel...!” teriak Lisa saat melihat Amel tampak sedang mendegarkan pandangannya mencari keberadaan mereka. Amel berjalan mendekati teman-temannya sambil tersenyum.
“Siang kak,” sapa mereka serempak saat melihat Rendi berhenti tepat di depan mereka. “Siang, bagaimana kabar kalian?” tanya Rendi basa-basi.
“Baik kak,” jawab mereka serempak. Mereka tampak tersenyum canggung. Baru kali ini Rendi menyapa langsung mereka. Mereka terlihat menatap wajah Rendi tanpa berkedip.
“Silahkan duduk kak,” ucap Bela. “Tidak usah. Aku hanya mengantarkan Amel saja. Aku akan langsung pulang,” tolak Rendi. Dia kemudian beralih pada menatap Amel. “Aku pulang dulu sayang. Kabari aku kalau kau sudah mau pulang.” Teman-teman Amel seketika saling lirik saat mendengar panggilan Rendi terhadap Amel.
Amel mengangguk. “Iyaa kak!” Rendi kemudian beralih menatap teman-teman Amel. “Aku permisi dulu, kalian bersenang-senanglah.”
“Baik kak,” jawab mereka serempak. Rendi berjalan meniggalkan mereka setelah mengecup kening Amel. Mereka semua menatap kepergian Rendi.
“Astgaaa Amel, gue nggak nyangka kak Rendi bisa seromantis itu. bikin gue meleh aja,” ucap Olive ketika Rendi sudah tidak terlihat lagi.
“Iyaa, apalagi waktu dia bilang sayang, gue langsung berdebar-debar tau nggak. Serasa dia lagi bilang sayang ke gue,” timpal Lisa dengan wajah bersinar.
“Sadar Lis..! Itu laki orang.. Jangan kebanyakan mimpi,” seru Bela membuyarkan khayalan Lisa.
Amel tersenyum melihat tingkah konyol para sahabatnya. “Lo ini ganggu kesenangan gue aja,” cetus Lisa dengan wajah kesal.
“Kalaupun ada yang kayak kak Rendi, nggak bakal mau sama lo Lis,” cetus Olive.
Lisa menatap sengit Olive. “Bilang aja lo syirik sama gue.”
“Sudah-sudah. Kenapa kalian jadi bertengkar,” ucap Amel menengahi.
Olive mendekatkan tubuhnya pada Amel. “Kenapa lo tiba-tiba mengubah jam ketemuan kita? Apa lo lagi buat ponakan buat kita tadi?” tanya Olive penasaran.
Wajah Amel langsung memerah. Dia tidak menyangka kalau Olive akan melontarkan pertanyaan seperti itu. “Lo ini Liv, malah nanya gitu. Lo nggak liat muka Amel jadi merah gitu?” ucap Lisa cepat. “Memangnya benar Mel?”
Olive langsung menoyor kepala Lisa. “Apaan sih lo Liv!” ucap Lisa ketus sambil merapikan rambutnya. “Pertanyaan lo sama gue apa bedanya?” Amel hanya diam. Dia bingung harus menjawab apa.
“Kalau gue jadi lo Mel, gue bakal ngurung kak Rendi selama seminggu di kamar,” sambung Olvie lagi.
__ADS_1
“Gue ngga segila lo kali Liv,” jawab Amel.
“Lo mah terlalu bar-bar Liv,” timpal Bela.
“Cowok kayak kak Rendi sayang kalau disia-siain. Ngebayangin punya suami kayak kak Rendi bikin pengen cepet-cepet nikah.”
“Kayak ada aja yang mau sama lo Liv,” seru Lisa.
“Mel, buruan bikinin ponakan buat kita dong!” pinta Bela dengan antusias.
“Gue juga nggak sabar nie Mel. Gue penasaran banget, kayak rupa anak lo sama kak Rendi nanti,” timpal Olive
“Gue yakin pasti sempurna. Bibit dari kak Rendi kan bibit unggul, liat aja adek kak Rendi cantik banget,” lanjut Lisa.
“Jadi menurut lo bibit dari Amel nggak bagus?” cetus Bela.
“Bagus juga, cuma kalau digabungin sama bibit dari kak Rendi, pasti jadi lebih sempurna.”
“Gue juga berharap anak gue nanti mirip kak Rendi. Jangan mirip gue," cetus Amel.
“Nggak ada salahnya kali Mel, kalau mirip sama lo. Lo itu cantik Mel, cuma lo aja kurang percaya diri aja,” ucap Bela.
“Tapi gue lebih suka kalau anak gue nanti mirip kak Rendi. Semoga kecerdasan kak Rendi nurun juga ke anak gue nanti.”
Rendi merupakan siswa terpandai di sekolahnya. Bahkan dia berada urutan pertama dengan nilai tertinggi di seluruh sekolah setiap tahunnya. Saat kuliah di luar negeri juga, dia lulus dengan predikat Summa Cum Laude dengan nilai IPK 3.95, dia berada di urutan teratas juga saat wisuda.
“Gimana kalau anak lo nanti jodohin sama anak gue? Nggak bisa dapet bapaknya, dapet anaknya pun jadi,” gurau Lisa.
“Ngarep lu lis,” timpal Olive.
“Emangnya lo nggak mau?” tanya Lisa.
“Maulaah,” jawan Olive cepat.
“Kalian ini kenapa berantem terus sih, pusing gue dengernya,” seru Bela.
__ADS_1
“Mel, gimana rasannya jadi Nyonya Rendi?” tanya Lisa penasaran.
Bersambung..