Cinta Untuk Dia

Cinta Untuk Dia
Keinginan Devan (Sesion 2)


__ADS_3

Devan terus saja memperhatikan Amel yang terlihat diam saja. Wajahnya tampak murung setelah pulang dari kantor. "Kamu kenapa?" Devan menoleh sekilas pada Amel yang sedang menatap keluar jendela mobil.


Amel menoleh dan langsung bertatapan dengan mata Devan. "Nggak apa-apa, Kak." Amel dengan senyuman paksa, setelah itu dia menatap lurus ke depan.


Devan tahu kalau saat ini Amel sedang menyembunyikan sesuatu darinya, tetapi dia tidak ingin memaksa Amel untuk bercerita. Dia akan menunggu sampai Amel siap untuk menceritakan kepadanya.


"Bagaimana kalau mampir ke rumahku, Vania selalu mencari kamu. Sudah lama kamu tidak datang ke rumah."


Wajah Amel sedikit berubah ada senyum tipis yang terukir di wajah mungilnya. "Iyaa Kak, aku juga sudah kangen sama Vania."


"Kamu cuma kangen sama Vania, nggak kangen sama aku?" tanya Devan dengan wajah yang dibuat sedih.


"Tiap hari kitakan selalu ketemu Kak, beda sama Vania."


Devan tertawa kecil. "Tapi aku selalu kangen dengamu, walaupun kita bertemu setiap hari. Apa kita menikah tahun ini saja supaya aku bisa melihatmu terus?"


Amel langsung menoleh. "Jangan bercanda Kak," ucap Amel dengan wajah cemberut.


"Aku serius Mel, Aku sudah terlalu lama menunggu. Aku punya batas kesabaran. Aku sudah memberimu banyak waktu," ucap Devan dengan wajah serius.


Amel tampak diam. "Ak-ku...."


Melihat keraguan pada Amel Devan langsung berkata, "Pikirkan baik-baik, kita bisa melakukan pertunangan terlebih dahulu kalau kamu tidak ingin menikah tahun ini. Kalau kamu setuju, aku akan langsung menemui ibumu untuk melamarmu."


"Aku akan pikirkan dulu."


Devan tersenyum dan mengacak lembut rambut Amel setelah mendengar perkataannya. Dia kembali fokus menatap ke depan. Tidak ada pembicaraan lagi setelah Devan mengatakan itu sampai mereka tiba di kediaman orang tua Devan.


"Kak Nora lagi apa?" tanya Amel saat melihat kakak perempuan Devan sedang berada di dapur.


Nora menoleh dan tersenyum saat melihat Amel sudah berdiri di belakangnya. "Lagi nyiapin makanan untuk Vania," jawab Nora lembut.


"Kamu tumben pulang kerja langsung ke sini?"


Amel berdiri di samping Nora. "Iya Kak, kang..."


"Amel kangen sama aku, Kak," sela Devan yang sudah berdiri tidak jauh dari mereka.


Mereka menoleh bersama. "Kamu ini, kalau Amel nggak ke sini, kamu juga jarang datang ke rumah ini."


Devan memang sudah lama tidak tinggal di rumah orang tuanya. Dia memilih tinggal di salah satu apartemen mewah miliknya, karena jaraknya dekat dengan kantornya.


Devan menggulung lengan kemejanya. "Aku lagi banyak kerjaan Kak di kantor, aku juga harus mengurus yang lain."


Nora berjalan keluar dari dapur bersama dengan Amel, setelah selesai mengambilkan makanan untuk anaknya.


"Aku ke kamar dulu," pamit Devan pada Amel saat mereka semua sudah berada di ruang keluarga.


Devan berjalan menuju kamarnya saat melihat anggukan dari Amel. Sementara Nora sedang ke kamarnya untuk membangunkan Vania yang masih belum bangun dari tidurnya.


"Vaniaaa, keponakan aunty yang paling cantik, baru bangun ya," pekik Amel saat melihat Vania tengah digendong oleh Nora.

__ADS_1


Matanya terlihat sedang meneliti wajah Amel. Vania tersenyum lebar saat Amel menjulurkan tangan untuk menggendong Vania.


Vania adalah anak dari kakak Devan yang berusia 1 tahun. Setelah Devan memutuskan untuk tinggal di apartemennya, Nora pindah ke kediaman orangtuanya supaya ada yang menjaga ayahnya.


Nora kemudian duduk di sebelah Amel sambil menyuapi anaknya yang sedang berada di pangkuan Amel. Kesedihan Amel hilang sejenak saat dirinya bermain dengan Vania. Senyum dan tawa renyah dari Vania membuat Amel senang. Dia sangat gemas dengan Vania.


Selesai menyuapi anaknya makan, Nora berjalan ke dapur meletakkan piring kemudian berjalan ke ruang keluarga lagi dan duduk bersebrangan dengan Amel. Nora tersenyum saat melihat Amel sedang bermain dengan anaknya hingga suara tawanya terdengar nyaring di rumah itu.


Amel menoleh sekilas ketika merasakan ada pergerakan di sampingnya. "Kakak uda mandi?" tanya Amel saat melihat Devan sudah duduk bersandar di sampingnya dengan baju yang sudah diganti.


"Belum," geleng Devan sambil memperhatikan Amel yang sedang mengajak Vania bicara. Walaupun Vania belum bisa bicara, tetapi dia merespon ucapan Amel dengan senyuman lebar, mata, gerakan kaki, dan tangannya.


"Kamuu lucu bangeet siih sayang, jadi pengen bawa pulang," ucap Amel sambil memegang lembut kedua pipi chubby Vania.


Devan merapatkan tubuhnya ke Amel dan berucap di telinganya, "Kita bisa membuat anak yang lebih lucu dari Vania kalau kamu mau," ucap Devan pelan dengan seyum tipis dibibirnya.


Gerakan Amel langsung berhenti saat mendengar perkataan Devan. Nora lalu melemparkan bantal sofa dengan kuat kepada Devan. Tentu saja perkataan Devan masih bisa didengar oleh kakaknya.


"Jangan bicara sembarangan Van. Kalian harus menikah dulu jika ingin membuat anak," ucap Nora dengan nada tinggi sambil menatap tajam adiknya.


Devan tersenyum lebar. "Aku hanya menawarkan bantuan Kak. Aku dengan suka rela memberikan benihku untuknya agar mendapatkan bayi yang lebih lucu dari Vania."


Amel pura-pura tidak mendengar ucapan Devan. Dia sibuk bermain dengan Vania, padahal wajahnya sudah memerah akibat perkataan frontal Devan tadi.


Nora memandang malas pada adiknya. "Itu adalah kemauanmu bukan kemauan Amel. Kalau kamu sudah tidak sabar ingin mempunyai anak, cepatlah menikah."


"Aku sudah siap untuk menikah, tetapi Amel belum mau, dia sudah menolakku berkali-kali. Mungkin karena aku kurang tampan jadi Amel tidak mau denganku," ucap Devan santai.


Amel langsung menoleh. "Kapan aku menolak Kakak? Kakak jangan bicara yang tidak-tidak." Amel salah tingkah setelah dia sempat bertatapan dengan mata Devan. Amel merasa tidak enak dengan Nora saat Devan mengatakan itu.


"Ak-Aku.. Aku baru saja lulus kuliah kak. Lagi pula, aku baru bekerja beberapa bulan. Aku masih ingin mengejar impianku dulu," jawab terbata-bata.


Amel sendiri sebenarnya tidak yakin dengan jawabannya itu. Dia hanya memberikan alasan agar Devan tidak bertanya lagi.


Devan memandang Amel cukup lama. "Kalau begitu, aku akan menunggumu asalkan kamu mau menikah denganku," ucap Devan dengan wajah serius.


Sepertinya kamu belum bisa melupakannya Mel. Butuh waktu berapa lama lagi agar kamu bisa membuka hatimu untukku? Tidakkah cukup 5 tahun ini aku bersamamu? Apakah pengorbananku selama ini tidak cukup bagimu, untuk bisa mempertimbangkan aku? Maafkan aku Mel, tapi kali ini, aku tidak bisa melepaskanmu, batin Devan.


"Kamu tidak boleh mendesak Amel buru-buru untuk menikah denganmu. Dia masih muda. Biarkan dia menikmati masa mudanya dulu," timpal Nora saat melihat Amel tampak salah tingkah.


"Aku hanya takut dia jatuh cinta pada orang lain Kak. Aku tidak rela kalau dia menikah dengan laki-laki lain."


Nora menaikkan sudut bibirnya. "Jangan terlalu posesif dengannya kalau kalian berjodoh, tetap akan bersama nanti, walaupun tidak tahu kapan waktunya."


"Itu karena aku sangat mencintainya, Kak."


Devan menoleh pada Amel, "Jangan menciumnya terus, nanti dia jadi terbiasa denganmu. Lebih baik kamu menciumku. Aku tidak mau berbagi kasih sayang dengannya nanti. Kamu hanya boleh menciumku saja."


"Aku hanya gemas dengan Vania Kak," jawab Amel tanpa menoleh pada Devan


"Kamu bahkan cemburu dengan anak kecil, kurangi sifat jelekmu itu. Amel tidak akan suka dengan sifat kekanak-kanakanmu," timpal Nora

__ADS_1


Devan langsung merubah posisi duduknya menghadap Amel. "Benarkah itu, Mel?"


Amel menoleh pada Devan. "Kakak tidak boleh cemburu dengan Vania. Dia hanya anak kecil, Kak."


"Aku hanya tidak mau kamu mengabaikanku nanti."


Nora menampilkan wajah jengahnya. "Berhenti bicara omong kosong Van," ujar Nora dengan malas.


Amel hanya menggeleng mendengar ucapan Devan. Mereka lalu berjalan menuju ruang makan untuk makan malam bersama, setelah itu, dilanjutkan mengobrol sampai pukul 8 malam.


Setelah Vania tertidur, Nora membawanya ke kamar dan meminta pada pengasuhnya untuk menjaga Vania sebentar. Amel dan Nora berbincang seru, sesekali mereka tertawa kecil. Sementara Devan pamit pergi ke kamarnya.


Amel melangkah ke kamar Devan setelah selesai mengobrol dengan Nora. Dia berniat untuk meminta Devan mengantarnya pulang.


"Kaaaak," panggil Amel setelah dia mengetuk pintu kamar Devan berkali-kali, tidak ada sahutan dari dalam. Amel mencoba mengetuk lagi, tetapi belum ada sahutan juga.


"Kak, aku masuk ya?" pekik Amel lagi.


Setelah menunggu beberapa akhirnya Amel membuka pintu Devan. Dia mengedarkan pandangannya saat tidak menemukan Devan di kamarnya.nKemudia dia masuk ke dalam kamar Devan dan berjalan menuju balkon untuk mencari keberadaan Devan.


Amel berjalan masuk lagi saat tidak menemukan Devan. Tiba-tiba pintu kamar mandi terbuka. Amel langsung menoleh. "Kakaaaak!" pekik Amel, "kenapa tidak memakai baju?" tanya Amel saat melihat Devan keluar dari kamar mandi hanya mengenakan handuk yang melilit pinggangnya.


"Aku tidak tahu kalau kau di sini."


"Maaf Kak, tadi aku sudah mengetuk pintu berkali-kali dan sudah memanggilmu juga, tetapi tidak ada jawaban, jadi aku langsung masuk ke kamarmu," ucap Amel cepat, setelah itu Amel langsung berbalik dan ingin meninggalkan kamar Devan.


"Kamu mau ke mana?" Langkah Amel terhenti saat tangannya ditahan oleh Devan.


Amel tidak berani bergerak karena Devan sudah berjalan mendekat dan tepat berada belakangnya. "Ak-aku mau..Aku mau keluar. Kakak bisa memakai baju dulu," jawab Amel terbata-bata, jantungnya sudah berdetak sangat kencang.


Devan membalikkan tubuh Amel supaya menghadapnya. "Kenapa kamu masih malu? Bukankah saat kita menikah nanti kamu juga akan sering melihat tubuhku seperti ini?"


Amel gugup, dia tidak berani menatap Devan dan hanya bisa menunduk. "Berhenti menggodaku Kak!"


Devan meraih dagu Amel, tatapan mereka bertemu. Devan menatap bibir merah Amel sejenak lalu dia memiringkan sedikit kepalanya dan mendekati wajah Amel.


Amel menahan nafas dan memejamkan matanya kuat-kuat saat melihat wajah Devan semakin dekat dengan wajahnya. Tinggal satu centi lagi bibir mereka akan menempel, hembusan napas Devan pun terasa di wajah Amel.


Devan menjauhkan wajahnya, kemudian mencium pucuk kepala Amel. "Buka matamu." Devan menatap Amel yang terlihat mulai membuka matanya.


Amel tampak bingung sesaat. Dia berpikir kalau tadi Devan akan mencium bibirnya. Tetapi, setelah menunggu beberapa saat, dia tidak merasakan apa-apa. Dia hanya merasa Devan menyentuh pucuk kepalanya.


Devan memberikan jarak pada mereka. "Kenapa menutup mata? Kamu tidak takut aku berbuat sesuatu padamu?" tanya Devan menatap lekat mata Amel.


Wajah Amel memerah. Dia merutuki kebodohannya yang refleks menutup matanya karena takut Devan menciumnya. "Kakak yakin Kakak tidak mungkin melakukan sesuatu yang buruk padaku. Dari dulu Kakak selalu menjagaku," jawab Amel saat melihat Devan berjalan menuju lemari pakaian.


Devan keluar lagi dari ruang ganti setelah memakai baju, kemudian berjalan ke arah Amel. "Itu dulu, beda dengan sekarang Mel, kamu sudah dewasa, apalagi aku laki-laki normal. Jangan terlalu percaya padaku. Kamu tidak boleh seperti tadi. Kamu harus tetap waspada denganku," ucap Devan yang sudah berhenti tepat di depan Amel.


Amel tersenyum tipis. "Kita sudah saling mengenal dari kecil. Aku mengetahui semua sifat Kakak. Aku mengenal Kakak lebih dari siapapun. Kau bukan tipe orang yang berprilaku buruk. Aku yakin kau tidak akan berbuat apa-apa padaku." Devan menghela nafas panjang saat mendengar ucapan Amel.


Andai kamu tahu Mel, selama ini aku berusaha mati-matian untuk tidak menyentuhmu. Aku berusaha keras mengendalikan diriku karena aku ingin menjagamu sampai kita menikah nanti. Semua itu tidaklah mudah bagiku.

__ADS_1


Devan mengacak-acak rambut Amel. "Sudah malam, aku akan mengantarmu pulang." Devan melangkah keluar kamar diikuti oleh Amel.


Bersambung....


__ADS_2