
"Semua tergantung bagaimana sikapmu kepadaku Ren! kamu jangan lupa, perjanjian antara keluarga kita, tidak bisa dibatalkan."
"Tentu saja perjanjian itu sudah tidak berlaku, kau sendiri harusnya tau alasanya."
"Tentu saja aku tahu, tapi kamu jangan lupa kalau aku masih ada Ren. Dulu, aku hanya bisa diam tanpa bisa berbuat apa-apa, tapi tidak kali ini. Sekeras apapun kau berusaha menjauhiku, semakin keras juga aku memperjuangkanmu."
"Cukup Ellen! Aku tidak mau membahas masalah ini di sini!"
"Kenapa? Apa kau takut dia tahu yang sebenarnya?" Friska menatap Amel.
"Aku punya batas kesabaran Friska. Kau jangan mengujiku, aku tidak akan tinggal diam, kalau kau sampai menyeret Amel ke dalam masalah kita apalagi kalau kau sampai menyakitinya."
Friska tertawa mengejek. "Apa yang akan kau lakukan, kalau aku memberitahu dia semuanya? Apa kau akan menyakitiku? Apa kau yakin bisa melakukannya?"
"Aku akui, aku tidak bisa menyakitimu. Aku tidak akan sanggup melakukannya, tapi aku berjanji tidak akan pernah mau bertemu denganmu lagi, jika kau melibatkan Amel dalam masalah ini. Kau tidak bisa gunakan kelemahanku, untuk menekanku terus. Sekeras apapun kau berusaha, aku tetap tidak bisa mencintaimu. Aku sudah mencintai Amel, kau harusnya sadar itu. Kita tidak akan bisa kembali seperti dulu, kecuali kau merubah perasaanmu itu!"
"Apa tidak ada sedikitpun rasa cinta untukku Ren?" air mata Friska keluar dengan sendirinya.
"Tidak ada, sekarang di hatiku cuma ada Amel. Aku sangat mencintai dia!"
"Kau bohong Rendi..!!" teriak Friska sambil berdiri.
"Aku berkata yang sebenarnya, kau harus bisa menerima kenyataan ini Ellen," tatap Rendi pada Friska yang tampak marah.
”Apa kau benar-benar ingin melihat hidupku hancur Ren?” tanya Friska tersenyum miring.
“Apa maksudmu?”
“Apa perlu aku membuatmu menyesal seumur hidup, karena telah mengabaikan aku?” Rendi terkejut mendengar perkataan Friska.
“Elllen, kau jangan gila!” teriak Rendi saat tahu maksud dari perkataan Friska.
Friska menaikkan alisnya. “Kenapa? Apa kau takut sekarang? Kau tidak akan pernah bisa melupakan aku Ren. Kau tahu sendiri alasannya. Kalau aku menghancurkan hidupku sendiri, kau tidak akan pernah bisa memaafkan dirimu sendiri.”
“Ellen, dengarkan aku! Aku memang menyayangimu tapi aku tidak mencintaimu. Aku mencintai Amel! Aku hanya tidak ingin kau terluka. Tolong mengerti posisiku. Aku tidak bisa bersamamu Ellen. Aku bisa memberikan apapun padamu, tapi tidak dengan hatiku!”
“Cukup Ren! kuberi kau waktu untuk berpikir. Sebelum aku keluar negri kau harus sudah memutuskan. Kau pilih aku atau dia?” ujar Friska sambil menatap Rendi dengan dingin kemudian beralih menatap tajam Amel yang tampak terdiam dari tadi.
“Friska..! Friska..! Ellen! Ellenia!!” teriak Rendi saat melihat Friska sudah berjalan keluar dengan cepat tanpa menghiraukan panggilannya.
Rendi menghela napas panjang, setelah itu dia menoleh pada Amel yang terlihat diam saja dengan tatapan kosong. “Mel, aku bisa jelaskan semuanya!” ucap Rendi memegang tangan Amel.
__ADS_1
“Apa benar semua yang dikatakan Friska tadi? Ooh aku lupa, maksudku Ellenia, Apa benar semua yang dikatakan Ellen?” ucap Amel tertunduk sambil tertawa sinis tanpa menoleh pada Rendi.
“Ini tidak seperti yang kau pikirkan Mel!” ucap Rendi berusaha menenangkan Amel.
“Selama ini kau terus saja melarangku berdekatan dengan laki-laki lain, bahkan dengan Raka sekalipun. Kau selalu marah denganku jika ada yang mendekatiku. Kau bahkan memintaku berjanji untuk menikah denganmu! tapi apa sekarang yang aku dapat? Kau bahkan sudah mempunyai tunangan! Kau menghianatiku kak!” ucap Amel dengan mata berkaca-kaca.
“Aku tahu, ini salahku karena tidak menceritakan semuanya dari awal, tapi semuanya tidak seperti yang kau pikirkan. Aku bisa jelaskan semuanya.”
“Apalagi yang akan kau jelaskan kak? semuanya sudah jelas!” ujar Amel memalingkan wajahnya.
“Bagaimana, kalau aku bilang, aku tidak pernah menghianatimu? apa kau percaya padaku?” tanya Rendi dengan suara pelan.
“Apa kau berencana untuk terus membodohiku kak?” tanya Amel dengan air mata yang menggenang di matanya.
“Aku memang sudah bertunangan tapi...” ucapan Rendi menggantung.
“Tapi apa? Apa aku berencana mencampakkan aku setelah kau bosan padaku?”
“Bukan seperti itu Mel! Pertunanganku sudah batal. Bahkan, sebelum kau masuk ke dalam hidupku!”
“Apa wanita itu yang tidak bisa kakak lupakan sampai saat ini?” tanya Amel dengan suara bergetar. Amel berusaha untuk menahan air matanya agar tidak jatuh.
“Lalu apa alasan kakak tidak bisa melupakan wanita itu sampai sekarang?” Amel menatap Rendi dengan air mata yang sudah jatuh ke pipinya.
“Baiklah kalau kakak masih tidak mau menceritakan semuanya! Aku yang akan mundur!! Hubungan kita sampai di sini..! Kakak bisa memilih untuk bersama Friska atau dengan mantan tunangan kakak itu!” ucap Amel marah sambil berdiri dan menghempaskan tangan Rendi dengan kuat.
“Mel tunggu dulu..! Ameel.. Tunggu.. Berhenti Mel.. Ameeel..!!” teriak Rendi, saat melihat Amel sudah berjalan pergi meninggalkannya. Rendi terlihat terus saja memanggil nama Amel.
Rendi mengusap wajahnya dengan kasar saat Amel sudah tidak terlihat lagi. “Aaaarrrrgagghhh..!!” teriak Rendi dengan emosi sambil melemparkan gelas yang ada di samping tempat tidurnya ke lantai hingga pecah berkeping-keping. Dia kemudian membuang apapun yang ada di dekatnya termasuk ponselnya.
“Ada apa ini?” tanya Bianca saat melihat barang-barang berantakan dan pecahan kaca yang sudah berserakan di lantai.
“Kak, tolong aku! tolong lepaskan infusan ini! Aku harus keluar menyusul Amel,” ucap Rendi saat melihat Bianca dan Jhon masuk bersama tidak lama setelah kepergian Amel.
“Jelaskan dulu ada apa?” tanya dokter Bianca menatap Rendi dengan alis menyatu.
“Amel salah paham tentang hubunganku dengan Ellen. Ellen memberitahu Amel mengenai pertunanganku yang dulu! Dia juga menyinggung sedikit masalaluku kak! Tolong aku kak! Bantu aku! Kakak juga bisa bantu aku jelaskan padanya! atau Jhon, kau juga mengetahui kejadian sebenarnyakan? Tolong bantu aku kak! Kalau tidak, dia akan meninggalkan aku! Aku tidak bisa membiarkannya pergi begitu saja! Biarkan aku pergi sekarang! cepat kak lepaskan infus di tanganku!” ucap Rendi dengan wajah panik sambil memegang kepalanya yang mulai sakit lagi.
Rendi mengangkat kepalanya saat dokter Bianca dan dokter Jhon tidak merespon perkataannya.
“Kenapa kalian diam saja kak..!! Apa kalian tidak ingin membantuku..? Kak tolong aku, cepat lepaskan infusannya..! Tolong kaaak..!!"
__ADS_1
Melihat mereka masih diam, Rendi berhenti sejenak dan menatap tajam pada dokter Jhon dan dokter Bianca. "Aku tidak akan pernah mau melakukan pengobatan apapun lagi, jika sampai dia benar-benar meninggalkan aku! Maka dari itu, bantu aku jelaskan padanya sekarang..! Sebelum semuanya terlambat," ucap Rendi penuh penekanan.
Rendi terus saja berteriak. "Ayoo kak temani aku..! Cepat bantu aku..!! Apa kalian tidak dengar..?? Apa kalian tuli..?? Aku bilang ayoo kita pergi menemui Amel..!! Cepat kaaak..!! Kaaakk toloong akuu kaaaaakk..!!!” teriak Rendi histeris, saat melihat dokter Jhon dan dokter Bianca diam saja, tidak menanggapi perkataannya.
Bianca memberi isyarat pada Jhon untuk memegang tubuh Rendi, saat melihat Rendi tidak bisa mengendalikan dirinya.
“Apa yang kau lakukan! Cepat lepaskan aku..!! Aku akan menghajarmu, jika kau tidak membiarkan aku pergi sekarang Jhon..!! Aku bilang lepas..!! Kak Bianca tolong aku kak..!! Aku harus menyusul Amel..! Aku harus menjelaskan yang sebenarnya kak..!! Cepat lepaskan aku..!! Dia sudah salah paham kak..! Aku tidak mau dia meninggalkan aku..!! Aku tidak bisa membiarkannya pergi dari hidupku..!!” teriak Rendi yang terus memberontak saat tubuhnya dipegangi oleh Jhon. Terlihat darah mulai naik pada selang infus Rendi, karena terlalu banyak menggerakkan tangannya.
Rendi terus meronta. “Aku bilang lepaskan aku Jhon..!! Lepaskan..!! cepat lepaskan akuu..!!! Apa kau tidak dengar haaaahhh..!!!” teriak Rendi histeris. Dokter Jhon tidak berkata apa-apa. Dia hanya berusaha menahan tubuh Rendi agar tidak bisa bergerak.
“Maaf kakak Ren,” ucap Bianca dengan wajah iba, saat menyuntikkan obat penenang pada Rendi.
Rendi mencoba untuk melepaskan diri dari dokter Jhon. Rendi tampak panik saat melihat dokter Bianca menyuntikkan sesuatu pada tangannya yang sedang di infus.
“Ap..Apa yang kau masukkan ke dalam tubuhku kak..?? Kau me ....” Ucapan Rendi terpotong saat dia sudah ambruk tidak sadarkan diri.
Setelah merasa Rendi sudah tidak bergerak lagi, dokter Jhon kemudian membaringkan tubuh Rendi ke ranjang pasien. Dia membenarkan posisi tidur Rendi. Setelah itu dokter Jhon mencoba membenarkan selang infus Rendi yang terlihat ada garis memanjang berwarna merah. Setelah mengeluarkan darah yang ada di selang infus Rendi. Dia mengatur kembali kecepatan tetesan cairan infusnya.
“Sepertinya keadaanya makin parah. Bukankah, aku sudah pernah memperingatkan pada kalian semua, kalau tidak ada yang boleh mengungkit kejadian dulu? Apa Ellen sudah gila..?? Dia benar-benar bisa membunuh Rendi kali ini,” ucap Biaca dengan emosi.
“Aku sudah pernah memperingatkan Friska juga, tapi sepertinya dia tidak mendengar peringatanku.”
“Apa saja yang sudah Ellen ungkit sehingga membuat Rendi jadi begini? Aku lihat pacar Rendi membawa pengaruh besar terhadap hidupnya. Aku seperti melihat diri Rendi yang dulu! Aku tidak menyangka jika dia bisa seperti ini lagi.”
“Kurasa, kali ini, dampaknya akan lebih besar dari pada dulu."
“Benar, kondisinya makin memburuk ditambah lagi psikisnya juga terguncang karena kebodohan Ellen. Kita harus segera membawanya ke Amerika Jhon," ucap Bianca tegas.
“Tapi, kita juga tidak bisa melakukan operasi dengan kondisi seperti ini. Kau lihat sendiri hasil dari CT Scannya, terlalu beresiko jika kita tetap melakukan operasi saat ini. Kemungkinan untuk dia bisa selamat sangat kecil Bianca.”
“Kita bisa melakukan dengan metode lain dulu, sampai memungkinkan untuk mengoperasinya, yang terpenting kita harus segera membawanya ke rumah sakitku! Pengobatan di sana lebih baik dari pada di sini!”
“Bagaimana kalau dia tidak setuju?” tanya dokter Jhon sambil menatap dokter Bianca.
“Kita akan membawa paksa dia. Papanya sudah mengatakan padaku, untuk membawanya dengan segala cara, jika dia tetap menolak. Kau hanya perlu mengurus semua dokumennya, serta membawa semua rekam medisnya yang ada di sini!” ucap Bianca sambil menatap Rendi dengan tatapan iba.
“Bailklah, lebih baik kita keluar. Biarkan dia istirahat. Aku akan meminta perawat laki-laki untuk berjaga di sini. Aku juga akan meminta beberapa sekuriti untuk berjaga di depan pintu. Aku takut dia akan kabur nanti.”
“Iyaa,” ucap dokter Bianca sambil berjalan keluar ruangan mengikuti langkah dokter Jhon.
Bersambung...
__ADS_1