
Lilian tampak berdiri, dia berjalan menuju pintu Ruang ICU yang tertutup. Mereka semua larut dalam pikiran masing-masing tidak ada satupun dari mereka bersuara. 30 menit berlalu, tidak ada satupun dokter yang keluar dari ruang ICU.
Tidak berselang lama, pintu terbuka. “Jhon bagaimana keadaan Rendi?” Lilian langsung bertanya, saat dokter Jhon baru saja membuka pintu.
“Rendi belum sadar, Dokter masih memeriksanya. Kami akan melakukan pemeriksaan lanjutan. Ini akan memakan waktu agak lama. Sementara kalian tunggulah di atas,” sarab dokter Jhon saat melihat kecemasan dan khawatir di wajah mereka.
“Baiklah, kabari kami jika Rendi sudah sadar,” ucap Lilian berlalu saat melihat anggukan dari dokter Jhon.
Mereka bertiga meninggalkan ruang ICU menuju ruang perawatan VVIP yang berada di lantai atas.
“Lebih baik kita makan dulu. Baru setelah itu kita istirahat,” ucap Lilian sambil menuju sofa yang berada tepat di depan ranjang pasien.
Mereka mengisi perut mereka dengan diam. Amel tampak hanya memakan sedikit makanannya, tidak berbeda dengan Lilian. Hanya Sofi yang tampak menghabiskan makanannya.
“Maa..Apa Mama sudah memberitahu papa tentang keadaan kakak?” tanya Sofi setelah dia selesai makan.
“Sudaah, papa belum bisa pulang, urusan bisnisnya belum selesai. Ada sedikit masalah dengan perusaahan yang ada di sana,” ucap Lilian setelah meneguk air putih yang ada di tanganya.
“Bagaimana kalau kak Rendi tidak sadar juga Ma? Sofi takut kak Rendi koma lagi seperti dulu,” ujar Sofi dengan mata berkaca-kaca.
Amel langsung menoleh ke samping, saat mendengar perkataan Sofi. Tubuhnya bergetar dan tangannya terasa mati rasa. “Koma? Maksudnya apa Sof?” ucap Amel dengan nada suara bergetar.
Mama Rendi yang melihat wajah pucat Amel karena mendengar kata-kata anaknya, langsung menoleh ke Sofi. “Kamu jangan bicara sembarang Sofi. Kakak kamu itu kuat,” seru Lilian.
“Sofi cuma takut Ma,” ucap Sofi dengan suara serak. Rasa takut terlukis jelas di wajahnya.
“Kamu lebih baik istrirahat. Jangan mengatakan hal-hal yang tidak-tidak,” ujar Lilian menatap tajam anaknya.
“Maaf Ma,” ucap Sofi langsung berdiri dan tidur di ranjang yang disediakan untuk keluarga pasien. Dia takut mamanya bertambah marah, jika dia membantahnya.
Mama Lilian beralih pada Amel. “Kamu jangan dengerin kata-kata Sofi Mel. Dia suka asal kalau bicara,” ujar Lilian mencoba menenangkan Amel yang terlihat seperti orang linglung.
“Apa benar kak Rendi pernah koma?” tanya Amel dengan hati-hati.
Wajah Lilian menegang saat mendengar pertanyaan Amel. “Iyaa benar, dulu Rendi pernah koma selama beberapa bulan, tapi kamu tidak usah khawatir. Kejadian itu sudah lama. Rendi akan baik-baik saja sekarang," ucap Lilian dengan wajah dibuat setenang mungkin.
__ADS_1
“Mama mau keluar dulu. Kamu tunggu di sini bersama Sofi. Ada yang mau mama urus di bawah,” ucap Lilian sambil berdiri. Lilian kemudian berjalan keluar kamar saat melihat Amel mengangguk.
Amel menutup wajahnya dengan kedua tangan. Terlihat tubuhnya bergetar, sayup-sayup terdengar suara isak tangis Amel. Sofi hanya diam menatap Amel yang terlihat terguncang setelah mengetahui kalau Rendi pernah koma sebelumnya. Ada rasa bersalah saat dia tidak sengaja mengatakannya, dia hanya panik sehingga tanpa sadar berkata seperti itu kepada mamanya.
Setelah lelah menangis, Amel tampak tertidur di sofa. Dia tidak menyadari kalau Lilian sudah masuk dari tadi. “Sof.. bangun,” ucap lilian seraya mengguncang tubuh anaknya yang masih terlelap.
“Kenapa Ma?” ucap Sofi saat melihat mamanya tampak berada di samping tempat tidurnya. Waktu sudah menunjukan pukul 8 malam. Dia tertidur selama satu jam.
“Kakak kamu sudah sadar. Kamu mau ikut mama nggak ke bawah?” tanya Lilian yang sudah mulai berjalan menuju pintu.
“Terus kak Amel bagaimana Ma?” tanya Sofi saat dia melihat Amel tertidur pulas di sofa.
Lilian berhenti dan menoleh ke Sofi “Biarkan saja dulu. Di bawah ada Friska. Mama takut mereka berdebat, jika mereka bertemu lagi. Tunggu Friska selesai menjenguk kakak kamu, baru kamu ke sini lagi bangunin Amel,” titah Lilian.
Sofi kemuduan turun dari tempat tidur. “Iya Ma,” ucap Sofi sambil menyusul mamanya yang terlihat sudah sampai di depan pintu. Sofi berjalan dengan cepat dan menutup pintu.
Amel terbangun saat mendengar pintu tertutup sedikit keras. Dia mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, tapi tidak melihat siapapun di kamar itu. Dia kemudian berjalan cepat ke bawah.
“Sof tunggu!” teriak Amel yang berhasil menyusul Sofi yang baru saja keluar dari lift saat dia menuju ke ruang ICU.
“Apa kak Rendi sudah sadar tante?” tanya Amel dengan napas yang terengah-engah. Amel membungkuk mencoba mengatur napasnya.
Lilian mengangguk. “Iyaa, ayook kita masuk bersama,” ajak Lilian.
Amel tampak diam mematung saat mendengar Rendi sudah sadar. “Amel di sini aja. Tante masuk aja sama Sofi duluan,” ujar Amel dengan senyuman kaku di wajahnya.
Dahi Lilian mengerut. “Kenapa? Apa kamu nggak mau melihat Rendi?”
“Amel akan melihat kak Rendi nanti tante. Amel mau menangkan diri dulu,” kilah Amel.
Lilian mengangguk. “Baiklah. Mama masuk dulu sama Sofi. Kamu di sini saja. Jangan kemana-mana,” pinta Lilian berjalan masuk ke ruang ICU bersama dengan Sofi saat melihat Amel mengangguk.
******
“Amel kemana Ma? kenapa dia tidak ikut bersama Mama?” tanya Rendi saat melihat mamanya masuk bersama Sofi.
__ADS_1
Rendi tampak bersandar dengan bantal dengan sandaran kepala yang dibuat sedikit tinggi, agar Rendi bisa bersandar dengan nyaman.
Lilian duduk di kursi samping Rendi. “Sepertinya dia masih syok karena kejadian yang menimpa kamu. Dia terus saja menangis, bahkan dia tidak mau beranjak dari sini saat kamu belum sadar.”
"Friska mana?" tanya Lilian mengalihkan pembicaraan.
"Sudah pulang. Dia ada urusan penting katanya," terang Rendi sambil menatap mamanya.
“Rendi mau ketemu Amel Ma,” pinta Rendi dengan nada yang masih lemah.
“Iyaa, nanti Mama akan panggilkan Amel, tapi Mama mau bertanya dulu sama kamu. Kenapa kamu bisa tiba-tiba pingsan?” Lilian menatap anaknya dengan tatapan menyelidik.
Rendi mengalihkan pandangannya. “Rendi cuma kecapekan Ma. Belakangan ini Rendi kurang tidur,” ucap Rendi berbohong.
“Kamu jangan bohong sama Mama Ren,” seru Lilian. “Apa kamu merasakan gejala yang seperti dulu?” tanya Lilian lagi
“Tidak Ma. Rendi hanya kesulitan tidur, jadi kurang istirahat. Rendi juga sedikit tidak enak badan hari ini, makanya Rendi pingsan.”
“Kamu tidak akan bisa menyembunyikan apa-apa dari Mama. Saat hasil pemeriksaan kamu keluar, kamu tidak akan bisa mengelak lagi,” ujar Lilian dengan nada tegas. “Jika terbukti keadaan kamu semakin parah, terpaksa mama harus bawa kamu ke rumah sakit yang dulu pernah menanganimu.”
“Tapi Ma..Rendi masih mau di sini Ma. Rendi akan pergi tapi nanti, setelah Rendi menyelesaikan urusan di sini. Bahkan Rendi belum ujian sekolah. Rendi juga tidak bisa meninggalkan Amel begitu saja.”
“Apa kamu berencana mati di sini? Jika kamu tidak setuju, mama akan bawa kamu secara paksa!”
Rendi merasa tidak bisa mengelak lagi. “Apa bedanya kalau Rendi ke sana Ma. Apa ada jaminan Rendi akan tetap hidup, jika Rendi berobat ke sana sekarang? Mama sendiri tahu, keberhasilan operasi kali ini, lebih besar kemungkinan Rendi tidak bisa diselamatkan. Rendi tidak mau mati di meja operasi tanpa berpamitan dulu pada Amel,” ucap Rendi dengan raut wajah putus asa.
“Semua tidak seperti dulu Ren. Di amerika pengetahuan di bidang kedokteran sudah sangat maju. Di sana ada rumah sakit terbaik di seluruh dunia. Mama yakin kamu pasti bisa sepenuhya sembuh ”
“Rendi tidak akan pergi sebelum urusan Rendi di sini selesai Rendi hanya takut tidak bisa kembali ke sini lagi, jika Rendi pergi sekarang. Yolong kasih Rendi waktu Ma,” mohon Rendi.
Sofi melirik ibu dan kakaknya yang sedang berdebat. Ada raut kecemasan di mata kakaknya, sementara mamanya terlihat menahan amarahnya.
“Kamu jangan menguji kesabaran Mama Ren! Papa kamu sudah mulai berkonsultasi dengan dokter di sana, termasuk Bianca. Rumah sakit itu adalah rumah sakit tempat Bianca bekerja sekarang. Dia sudah meminta papa kamu untuk membawa kamu ke sana.”
Sofi hanya diam tanpa berkata apa-apa, dia tidak bisa ikut campur saat melihat ketegangan di antara kakak dan mamanya.
__ADS_1
Bersambung...